Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Curiga.


__ADS_3

Satu Minggu berlalu.


Suri membuka mata sembari tersenyum ceria. Berbarengan dengannya. Melodi pun demikian.


Di pagi itu keduanya membuka hari dengan kenyamanan yang hampir tiga belas hari tak di rasakan. Berkhayal pun rasanya sulit. Tapi sekarang keduanya tidur di atas ranjang dengan kasur empuk. Mandi air hangat beraroma sabun kesukaan. Pergi ke dokter gigi dan kecantikan seperti yang di harapkan.


Catatan mereka di atas batu menjadi kenyataan.


Pulang dengan selamat. Pergi ke dokter gigi dan Dokter kecantikan. Makan makanan lezat. Minum air mineral. Menghindari air kelapa untuk beberapa bulan kemudian.


Melodi menulis itu sambil tertawa saking tak percayanya. Di susul Suri yang terpingkal-pingkal ketika air kelapa menjadi minuman yang mungkin akan mereka hindari beberapa bulan mendatang.


Keluarga Suri dan Melodi melakukan konprensi pers setelah tiga hari mereka di temukan. Itu permintaan Tuan Diki yang terhormat.


Suri dan Melodi duduk bersebelahan di depan awak media yang menunggu dengan silaunya jepretan kamera. Di sisi kiri kanan mereka orang menemani.


Tuan Chris dan Nyonya Nena. Bergantian memberi suara. Mengucapkan terimakasih dan rasa syukur atas semua yang sudah membantu terutama rasa terimakasih kepada Sky dan Jason yang pada saat itu ikut menemani..


Sama halnya dengan orang tua Suri. Tuan Rian, ayah Melodi pun berpidato singkat. Mengucapkan terimakasih kepada tim SAR dan juga kepada Jason dan Sky.


"Berkat kalian putri saya bisa kembali pulang dengan selamat. "


Cuplikan pidato Tuan Rian yang singkat.


Suri dan Melodi hanya diam mendengarkan orang tua mereka berbicara meladeni awak media. Tak ada sesi wawancara dengan Suri dan Melodi. Itu permintaan Sky. Tugas Suri dan Melodi hanya muncul di hadapan publik yang penasaran dengan keadaan keduanya.


Terasa asing dan sedikit aneh. Itu yang di rasakan Suri dan Melodi kala itu.


.


Di kamar yang sama. Suri Christabel Jocelyn berguling manja di atas ranjang. Menghirup aroma kamar sang suami yang maskulin.


"Aroma yang selalu aku rindukan." Bisik nya seraya terus berguling asal.


Pukul sembilan pagi. Suri baru bangun dan di kamar sudah tidak ada siapapun. Sky yang tampan itu pergi ke kampus karena harus segera menyelesaikan tugas sebelum dirinya lulus.

__ADS_1


Jason dan Daren datang ke kediaman Tuan Diki. Untuk menemui Sky dan Suri. Kedua pria tampan itu menanyakan kabar Suri yang sudah sangat baik. Kulit putihnya yang terbakar dan sedikit gosong lagi kering kini berubah ke asalnya. Dan juga kesehatannya juga sudah kembali normal.


Kedatangan Jason dan Daren ke rumah tuan Diki bukan hanya untuk menanyakan kabar Suri saja. Tapi ada hal lain. skripsi yang membabi buta sulitnya membuat keduanya harus menemui Sky. Meminta saran darinya. Karena Sky sedikit ahli di bidang ekonomi dan bisnis. Ya anggaplah Sky mentor yang mempu memberikan sedikit informasi untuk menyempurnakan skripsi keduanya.


Untuk itu Sky jadi lebih sibuk. Suri tak ingin mengganggu. Karena dirinya tau itu adalah hal yang penting.


Skripsi adalah jantungnya para mahasiswa dan mahasiswi yang siap menyelesaikan pendidikan mereka. Itu berlaku untuk Sky.


Sky Antony Barata akan di tugaskan menjadi pemegang perusahaan Batara Company menggantikan posisi Tristan yang masih asik duduk di kursi roda ketika nanti Tuan Diki pensiun dan mengalihkan semua kuasa atas Barata Company kepada kedua putranya. Terlebih kepada Sky yang memang lebih bisa di andalkan.


Mengingat itu Suri termenung. Dirinya menikahi pria yang tampan lagi berharga. Pria dari keluarga konglomerat di kotanya.


"Apa aku sanggup jika suatu saat nanti kamu membuang ku?" Gumam Suri lirih. Tiba-tiba hatinya merasakan sakit tanpa sebab. Memikirkan Sky yang akan menjadi penguasa Batara Company membuat Suri sedikit bimbing.


Aku takut kamu bosan dan jenuh dengan ku! Tidak, tidak. Aku harus memenangkan hatinya.


Seketika Suri bangun sembari memegang dadanya.


"Bukannya dia pernah mengatakan cinta? Di kapal pesiar!"


.


Satu pelayan seperti biasa segera membuka pintu mobil.


"Tuan Sky."


Sky keluar segera membawa wajah kusut. Berjalan melewati pelayan yang masih membungkuk.


Suri beranjak bangun dari duduknya di depan teras Mansion. Ketika Sky datang.


"Sky!" Panggil Suri lembut sembari menebar senyum merekah.


Sky mengerutkan kening ketika melihat Suri menyambut kedatangannya dengan wajah berbunga.


Ada apa dengan dia! Tumben.

__ADS_1


Batin Sky kebingungan. Berjalan penuh curiga.


Suri semakin tersenyum penuh arti. Menghampiri Sky.


"Kamu capek?" Tanya Suri tak seperti biasanya. Mengalungkan tangannya manja.


Sky mengangguk datar.


Apa dia kesurupan.


Sky ketakutan ketika Suri tiba-tiba berubah.


"Ayo, masuk." Ajak Suri.


Sky segera berhenti berjalan. Suri ikut berhenti.


"Kenapa?" Tanya Suri bingung.


Sky masih belum bersuara. Dirinya malah menatap Suri lekat.


"Kamu sakit?" Tanya Sky. Spontan meletakan tangannya di kening Suri.


Hangat. Suhu normal.


Itu yang di rasakan tangan Sky.


Sebelum Suri bersuara. Tuan Diki datang dari dalam mansion.


"Sky, Suri. Ikut Papa. Ada yang ingin Papa sampaikan!" Setelahnya. Tuan Diki melenggang masuk kembali.


Suri dan Sky saling tatap. Merasa heran dengan tingkah sang Papa.


"Kira-kira apa yang mau Papa katakan?" Tanya Suri kepada Sky.


Sky malah mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


"Kita temui saja.."


__ADS_2