Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Sesuai Keinginan


__ADS_3

"Aku pergi dulu!"


Sky memandang Suri dari dalam mobil. Menatapnya lama. Wajahnya terlihat lesu dan tak bersemangat. Jelas karena Sky sudah melibatkan Suri kedalam adu balap mobil kali ini. Dan Sky tidak memberi tau Suri.


"Aku yakin. Aku yang akan menang!" Sky bergumam sembari terus menatap Suri yang mana tengah berdiri di depan teras bersama kedua pelayan.


Tidak akan aku biarkan mereka menang.


Batin Sky yakin. Kali ini dirinya yang akan menang. Apapun akan Sky lakukan demi bisa mengalahkan kedua sahabatnya. Karena kalau sampai kalah maka Suri harus bersama salah satu dari kedua sahabatnya. Kalau tidak bersama Daren, ya, pasti Jason yang akan bersama Suri.


Mengingat itu kepala Sky menggeleng. Tangannya mengepal kuat karena ulahnya sendiri. Sky harus memenangkan pertandingan kali ini.


Suri sendiri mulai kesal karena Sky tak kunjung pergi. Kakinya sudah pegal dan mulai kedinginan. Malam datang bersama udara sejuk membuat tubuh Suri sedikit menggigil. Dress selutut Suri kenakan karena memang rasanya nyaman.


"Kenapa dia belum pergi juga!" Samar mulut Suri komat-kamit. Berusaha tersenyum lepas kearah Sky yang masih belum juga pergi.


'Dia aneh. Kenapa dia masih diam saja. Cepatlah pergi. Aku sudah kedinginan.'


Batin Suri Mencaci. Terus tersenyum di saat Sky memandangnya tanpa alasan.


Di belakang Suri kedua pelayan saling tatap. Melihat Sky yang tak kunjung pergi padahal tadi mengatakan akan pergi.


"Apa Tuan Sky, tidak ingin meninggalkan Nona Suri?" Bisiknya. Membuat temannya balas berbisik.


"Mungkin saja! Akhir-akhir ini Tuan Sky jarang membuat onar! Tuan Sky mungkin sudah mulai nyaman bersama Nona Suri."


Keduanya mengangguk bersamaan. Masih betah memperhatikan Sky yang enggan pergi.


"Sky! Hati-hati." Teriak Suri. Yang sebenarnya itu adalah perintah agar Sky segera pergi dan membiarkan dirinya bersantai.


Cepat pergi. Aku sudah pegal.


Sky menyeringai lebar. Segera setelahnya membuka pintu mobil. Berjalan menghampiri Suri.


Sontak Suri dan kedua pelayan mengerutkan dahi melihat Sky keluar dari dalam mobil.


"Sky-


Sky menarik tengkuk Suri. Segera mengecup bibirnya yang dingin dan basah.


Kedua pelayan menunduk seketika. Perlahan mundur untuk menyingkir dari area panas itu.


Suri membulatkan kedua mata tak percaya ketika Sky menyerang bibirnya.


"Mmmtt...Sk-


Suri memberontak kecil. Tapi Sky segera menghadang. Di depan teras keduanya berciuman tanpa alasan Sky melakukannya.


Di tengah ciuman tanpa gairah itu, Sky menarik bibirnya. Menatap Suri dengan wajah segar.


"Ini adalah jimat keberuntungan untuk ku!" Bisik Sky setengah tersenyum.


.


.


Di arena balap yang sama. Jason dan Daren menunggu kedatangan Sky bersama riuhnya para mahasiswa dan mahasiswi. Suara gaduh yang sama seperti waktu itu. Hanya saja kali ini Tak ada Suri.


Melodi dan Gengnya semakin bersemangat. Membuat semua mahasiswa yang di undang menggila. Di tambah cuaca di malam itu begitu cerah. Awan nampak cerah bertabur bintang di sana. Seolah menyaksikan pertandingan yang sebentar lagi akan di langsungkan.


Jason dan Daren menunggu kedatangan Sky yang katanya masih di perjalanan. Menunggu dengan jantung yang terus berdetak tak karuan. Adu balap mobil yang akan menorehkan sejarah bagi ketiganya.


Bayang-bayang Sky akan memberikan Suri kepada siap saja yang menang membuat batin kedua pria tampan itu berkecamuk.


Daren jelas tidak ingin menang, karena menang bukan pilihan yang baik untuk malam ini.


"Enggak, aku harus tetap Sportif. Menang atau kalah aku harus maju." Gumam Daren setengah hati. Berusaha melirik ke kanan di mana mobil Jason berada.


"Kenapa kamu sangat ingin menang, Jason? Tidak mungkin kamu menginginkan Suri!"


Satu hari sebelum perlombaan. Daren dan Jason melakukan percakapan cukup intens di telepon.


"Kali ini bantu aku menang Daren! Buat Sky terkecoh, dengan begitu dia akan kalah! Sky tipikal orang yang mudah panik. Jadi kita harus bekerja sama untuk itu. Anggap saja kekalahannya kali ini adalah hadiah, karena Sky sudah membuat aku terbaring di ranjang perawatan."


Kata Jason kemarin sore. Kemenangan kali ini harus terjadi. Dengan begitu Jason akan memang. Ingin memberi pelajaran kepada Sky karena sudah membuatnya kesakitan, dan yang kedua karena Sky begitu mudah menyeret Suri kedalamnya.


"Apa kamu yakin, Sky akan kalah? Kali ini aku mempunyai firasat kurang baik, Jason."


Daren menjawab. Kala itu dirinya ketakutan.


"Ingat Suri, dia akan marah kalau sampai tau Sky sudah menyeretnya kedalam hal ini." Lanjut Daren.


Jason mengangguk.


"Aku hanya ingin tau saja. Bagaimana reaksi Sky kalau aku menang dan dia kalah!"


Mengingat itu nyali Daren sedikit menciut.


"Astaga. Aku benci di seret kedalam masalah ini." Daren bersandar penuh kebingungan. Tapi tidak waktu untuknya mundur.


Apalagi cahaya lain datang dari arah belakang.


Sorak-sorai para penonton semakin menggila.


"Sky, datang! Skyyyy..."


Teriak para penonton.


Daren dan Jason menatap datar kedatangan Sky, yang mana angin ikut menyambut kedatangannya. Ketegangan semakin mencekik Jason yang ingin menang. Sedangkan Daren terus bergumam tak karuan.


Huftt ..Jason menarik napas. Melirik ke arah mobil Sky yang kini berada di samping mobil miliknya.


Kaca mobil Jason buka. Di ikuti kaca mobil Sky yang kini terbuka, menampakan si pemilik kendaraan itu begitu tampan dan gagah.

__ADS_1


Tatapan mata kedua pria tampan itu bertemu. Mengirimkan pesan untuk satu sama lain. Malam ini persahabatan mereka seakan tak terlihat. Baik Jason dan Sky seperti musuh saja.


"Hey. Sky! Jangan biarkan aku menang!" Teriak Jason, seolah memberi peringatan kepada Sky.


Sky tertawa girang mendengar suara Jason.


"Jason! Apa perutmu masih sakit? Hati-hati, nanti kamu merasakan kram!" Balik Sky memberi peringatan.


Tangan Jason meremas stir mobil. Tersenyum datar dan mulai memalingkan wajah sembari menutup kaca mobil.


"Lihat saja. Sky," Jason bergumam kesal. Ingin segera melaju kencang dan mengalahkan Sky.


"Tidak akan aku biarkan kamu menang!" Wajah Sky kembali galak dan bengis. Tapi ketika wajah Suri datang hatinya kembali tenang. Apalagi adegan tadi membuat senyuman mengukir jelas.


"Dia memberiku semangat rupanya." Kata Sky sumringah.


Tak lama. Satu sosok yang sama berdiri di depan garis Star, Mengacungkan bendera ke atas langit.


Ketiga mobil mengerang marah ingin segera melaju.


Para penonton menjadi diam. Menunggu bendera di kibarkan alih-alih pistol.


"Apa kali ini, Sky akan menang?" Bisik-bisik para penonton yang menyaksikan adegan menegangkan itu.


"Jason, pasti menang." Suara lain terdengar.


"Sky, yang akan menang kali ini, firasat ku mengatakan dia akan menang."


"Tidak, tidak. Kali ini Daren yang akan menang seperti kemarin."


Para penonton riuh, sedikit abu mulut menyuarakan jagoan masing-masing.


"Kita taruhan."


Yang lain sibuk membuat taruhan di saat bendera siap di kibarkan.


"Are you ready?" Teriak dia pemegang bendera.


"Redy."


Sky, Jason dan Daren menyuarakan kalimat yang sama sembari bersiap meluncur.


"One, Two, Three. Go."


Bendera berkibar gagah.


Mobil meluncur bebas.


"Ayo, Sky."


"Daren, jangan mau kalah."


"Jason, kumohon kali ini kamu harus menang."


Melodi dan para geng, tak lupa penonton yang lain segera berlari untuk melihat lebih dekat. Tempat layar besar menjadi tujuan mereka.


Sky tak ingin kalah dari Jason atau Daren. Gas di injak lebih kuat. Mensejajarkan kendaraannya di samping mobil Jason.


"Aku harus menang!" Kata Sky. Terus berkonsentrasi menatap jalan berkelok di depan. Wajah Suri seolah menjadi penyemangat bagi Sky.


Jason tak tinggal diam. Terus menaikan laju mobil untuk bisa meninggalkan Sky yang ada di samping.


"Sial, Daren!" Jason mengutuk Daren yang sengaja melambatkan laju mobilnya. Ini jelas tak sesuai rencana.


"Pengecut!" Seru Jason. Kembali fokus menatap jalan.


Jauh dari mobil Sky dan Jason. Mobil Daren mulai melambat. Membiarkan kedua sahabatnya bertanding tanpa dirinya.


"Aku tidak ingin membuat masalah! Aku mundur." Kata Daren lemas. Perlahan-lahan menginjak gas.


"Dua putaran lagi"


Para penonton memprediksi. Melihat keduanya unggul, bisa di katakan seri. Sedangkan Daren Begitu santai membawa mobil mahalnya. Membuat para pendukungnya beralih. Sky dan Jason adalah pusat mereka saat ini.


.


.


Di saat Sky dan Jason balapan.


Di rumah, atau lebih tepatnya di kamar. Suri tengah asik menonton film kesukaannya. Tapi sebelum dirinya bisa bersantai. Terlebih dahulu tadi Suri menghubungi Tuan Chris yang kecewa karena dirinya tak jadi datang. Tapi pria patuh baya itu sudah kembali ceria pun Nyonya Nena. Suara Suri mampu menjadi obat bagi keduanya.


Suri juga berjanji besok akan datang ke rumah sang ayah setelah pulang kuliah.


Suri begitu fokus menatap tv besar itu. Tersenyum malu ketika aktor kesayangannya tengah bersama wanita.


"Luar biasa! Kenapa kamu ganteng banget." Kata Suri malu-malu. Seolah dirinya yang di tatap si aktor tampan itu.


Suri tidak mengingat Sky. Dirinya benar-benar rileks seorang diri. Cemilan yang di siapkan pelayan memenuhi meja.


Ini adalah pengalaman pertama bagi Suri bisa tenang di rumah sang mertua. Yang saat ini masih belum pulang.


Sampai adegan intim terjadi.


Si aktor mulai menarik tengkuk si lawan mainnya. Saling tatap sebelum akhirnya adegan yang di tunggu datang.


Suri menutup mata karena malu melihat aktor kesayangannya beradegan ciuman.


"Astaga, aku benci-


Tiba-tiba saja Suri teringat Sky, beserta adegan ciuman yang tadi mereka lakukan.


"Astaga, Suri," Kepala Suri menggeleng cepat. menenggelamkan kepalanya kedalam tumpukan bantal.

__ADS_1


"Dia mengatakan jimat?" Suri mengingat kata-kata Sky.


"Ini adalah jimat keberuntungan untuk ku."


Suri menggigit bibirnya. Tanpa sadar tersenyum ketika Sky mengecup bibirnya begitu lembut.


Tapi Suri kembali memasang wajah datar. Seolah mengutuk otaknya.


"Lihat, karenanya aku jadi tak fokus."


.


.


"Ayo Sky, lebih cepat!"


"Jason, kumohon."


"Jason."


"Sky."


Sorak-sorai kembali bergemuruh. Pasalnya putaran terakhir di depan mata. Kiranya siapa yang menang akan segera terungkap.


Para penonton semakin tegang. Mereka yang melakukan taruhan di landa Dejavu karenanya.


Daren yang kini ada di tepi jalan arena balap menyaksikan pertandingan sengit itu. Berharap Sky yang akan menang.


"Bagaimanapun, Sky harus menang. Suri tidak boleh lagi sakit hati karena ini semua."


Sementara itu, mobil Jason dan Sky sama-sama muncul. Mendekati garis finis.


Bendera siap di kibar kembali. Semua mata tertuju kepada Mobil Sky dan Jason yang datang bersamaan.


"Mereka datang!"


Para penonton riuh di buatnya.


"Tidak akan aku biarkan Jason, Menang." Seru Sky di saat dirinya berkonsentrasi.


Bendera di angkat...


Husss......


"Hore.."


"Yes.. Apa aku bilang, dia pasti yang akan menang."


Para penonton bersorak kegirangan ketika jagoan mereka menang.


"Sial.. Argh...Sial...."


Seseorang di dalam mobil mengerang marah. Karena sudah kalah dalam balapan.


.


.


Di mansion.


Tok...tok...." Nona Suri."


Suara pelayan terdengar.


Suri yang mendengar itu segera bangkit. Berjalan ke arah pintu yang sengaja di kunci.


Pintu di buka.


Si pelayan membungkuk.


"Maaf, Nona, mengangguk waktu istirahat Anda." Kata si pelayan tak enak. Apalagi melihat wajah datar Suri.


"Kenapa? Apa Sky mengamuk lagi?" Tanya Suri tak sadar.


Astaga. Dia kan tidak ada di rumah.


Suri baru ingat Sky pergi balapan bersama kedua sahabatnya.


"Tidak Nona. Tuan Sky tidak-


Tangan Suri mengibas kearah si pelayan.


"Iya Saya tau. Maaf."


"Kalau Sky belum pulang! Terus kenapa kamu ganggu saya?" Tanya Suri sedikit kesal.


"Mari Nona, ikut saya!"


"Hah! Memangnya mau ke mana?"


.


.


"Jangan lupa transfer."


"Iya tau. Kenapa sih Sky, kalah lagi? Argh.."


Percakapan para penonton yang melakukan taruhan terdengar jelas. Sebagian dari mereka kebingungan kenapa Sky bisa kalah.


"Argh...Sial." Sky memukul stir mobil begitu kuat.


Sedangkan Jason tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Sudah ku katakan, kamu pasti kalah."


Hahaha....


__ADS_2