
Dokter Kamla memberikan air hangat dan Suri menerimanya. Langsung meneguknya sampai habis.
Suri sudah mulai tenang setelah mendengar penjelasan dari Dokter Kamla.
Dengan mata sembab. Suri menatap Dokter Kamla yang ada di sampingnya.
"Kenapa saya bisa hamil? Maksud saya. Selama ini saya tidak merasakan apa-apa! Tubuh saya normal dan sehat! Saya tidak mual dokter?" Kata Suri menjelaskan.
Dokter Kamla malah tersenyum melihat Suri yang polos.
Kenapa anda begitu polos Nona.
Dokter Kamla berucap dalam hati. Dirinya malah terhibur melihat ketakutan Suri alih-alih bersimpati.
Padahal di depan mereka ada rintangan yang amat sulit untuk di taklukkan.
Melihat Suri sudah mulai tenang. Dokter Kamla kembali duduk di kursinya.
Dokter Kamla melirik kedua suster meminta untuknya mendekat.
Kedua suster patuh mendekat. Berdiri di sisi kiri kanan Suri.
"Kalian berdua adalah orang yang paling saya percaya. Jadi saya minta untuk kalian tidak membocorkan kehamilan Nona Suri kepada siapapun. Kalian tau sendiri bukan bagaimana Tuan Diki?" tutur Dokter Kamla menjelaskan.
Kedua suster saling tatap. Setelahnya bersamaan mengangguk.
"Kami mengerti Dokter."
Dokter Kamla tersenyum dan juga mengangguk. "Silakan kalian kembali bekerja." Lanjutnya.
Kedua suster membungkuk kearah Suri dan Dokter Kamla. Lalu mereka keluar dari ruang pemeriksaan meninggalkan Suri dan Dokter Kamla.
.
Setelah pembicaraan yang serius lagi rahasia. Suri meninggalkan rumah sakit.
Di ambang gerbang rumah sakit. Suri berdiri. Menatap kosong jalan raya yang padat. Dirinya linglung entah harus kemana dan berbuat apa.
Masker dan kacamata yang menutupi wajahnya basah akibat air mata dan keringat. Suri kebingungan. Dirinya bak orang gila yang tak tau harus berbuat apa. Berdiri di ambang gerbang rumah sakit adalah pilihan terbaiknya saat ini.
Kenapa aku harus hamil. Aku masih muda dan aku masih ingin kuliah. Aku ingin menjadi dokter yang hebat suatu saat nanti. Tapi sekarang.
Suri mengepalkan tangannya kuat sampai suara Isak tangis kembali terdengar. Beban yang di pukul terlalu berat.
Papa dan Sky tidak akan menerima kehamilan ku ini! Aku harus apa.
.
Sementara itu. Jason dan Daren bersandar penuh lelah. Curhatan Sky membuat keduanya terdiam. Bingung harus menanggapi dengan cara seperti apa.
Sky sama bingungnya. Sandaran kursi lebih nyaman untuk saat ini.
"Terus kamu percaya?" tanya Daren. Menyeruput secangkir kopi hangat untuk membuang rasa jenuh yang di ciptakan.
Curhatan Sky sudah membuat minat keduanya tentang menyusun skripsi hilang dengan sekejap. Daren dan Jason lebih tertarik mendengar dan melihat wajah Sky yang murung.
Sky menghela napas berat. Lalu kepalanya menggeleng pelan.
"Aku tidak tau." Ucap Sky penuh kebingungan.
Jason mengangguk-anggukkan kepalanya seperti mengerti situasi yang di hadapi Sky.
"Aku tidak tau apa saran ku ini baik untuk mu dan Suri." Jason melirik Sky sesaat sebelum ia melanjutkan kalimatnya.
Daren diam memperhatikan.
"Apa?" tanya Sky tak bertenaga.
Jason melanjutkan. "Sebagainya kamu dan Suri mendengarkan ucapan-
"Aish... Ayolah Jason." Daren mengerang karena tak setuju dengan pendapat konyol Jason.
Sky tertawa garing di bangkunya.
"Kau sama saja dengan papaku." Desis Sky seolah mencibir Jason.
"Tidak, tidak. Dengarkan aku dulu." Jason masih kekeh dengan ucapannya yang di tentang kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Apa? Apa?" Daren yang paling sibuk menentang keras ucapan Jason yang sebenarnya tak dibutuhkan.
Sky malah asik merenung. Melihat itu Jason kembali bersuara.
"Kamu ingat dengan ucapan Mama peramal waktu kita menyelamatkan Suri dan Melodi!"
Daren yang sibuk menentang seketika diam.
Sky melirik Jason membawa wajah kebingungan atas ucapan Jason barusan.
Daren yang mengetahui fakta itu segera mengangkat kedua tangan. Dirinya tidak ingin terlibat kedalam perbincangan Jason dan Sky.
"Mungkin ada benarnya. Kamu dan Suri harus menunda momongan!" Jason melanjutkan. "Aku juga pernah mendengar dari segelintir orang. Ketika ada Anggota keluarga baru yang masuk kedalam keluarga kita. Maka kita juga akan kehilangan anggota keluarga kita yang lain. Ini sudah hukum alam. Dan akan terjadi kapanpun itu."
Mendengar itu. Sky spontan tertawa membuat Jason dan Daren menatapnya bingung.
Hahahaha..."Aku tidak percaya dengan hal seperti itu."
"Tapi kamu yang sudah memercikan air suci di sepanjang lautan." Jason mengungkit kejadian di mana mereka menyelamatkan Suri dan Melodi dari pulau.
"Kamu percaya akan hal itu. Aku dapat melihatnya." tambah Jason penuh percaya diri.
Sky mengerang hebat akan fakta itu. Dirinya yang marah segera melipat laptop dan beranjak pergi.
Tanpa pamit Sky keluar cafe meninggalkan Jason dan Daren.
"Gila! Jason sudah gila!" Gumam Sky marah atas ucapan Jason yang memang benar adanya.
Sky segera menghidupkan mesin mobil. Membawa mobil dengan kecepatan tinggi menembus jalan raya.
Di dalam mobil Sky merogok ponsel miliknya yang ia simpan di dalam tas.
.
Daren menghela napas panjang. Menggelengkan kepala kearah Jason yang kini sibuk meneguk kopi dingin miliknya.
"Kenapa dia begitu marah!" Daren menyeletuk.
"Mungkin dia ingin segera punya anak!" sahut Jason asal.
"Oh iya. Tentang pulau. Kamu belum cerita padaku. Bagaimana kamu dan Sky bisa membawa pulang Suri dan Melodi-
"Aish... Bodoh!" Pekik Jason kesal. Tanpa alasan dirinya memaki angin.
"Jason? Kau mau kemana?" tanya Daren bingung. Melihat Jason yang kini bangkit dan berlari dengan tergesa-gesa.
"Jason? Jason?"
Panggilan dari Daren tak di hiraukan Jason. Kakinya terus berlari keluar cafe seperti orang yang tengah di kejar maling.
"Sial. Dia pasti menunggu!" Keluh Jason sembari masuk kedalam mobil dan segera menghidupkan mesin mobilnya.
.
Di sebrang jalan kampus Barata. Sebuah mobil hitam terparkir santai di sana.
Si pemilik kendaraan terus mengerang kesal dan mengutuk seseorang.
Paper bag yang di atas pangkuannya sudah lusuh terlihat. Menunggu adalah ujian yang sangat menyebalkan jadi untuk menghilangkan kepenatan. Tangannya yang lembut itu memukul dan meremas paper bag sampai lusuh dan kusut mungkin barang di dalamnya juga ikut kusut.
"Astaga, di mana dia?" Gumamnya marah. Sesekali melirik ponsel dan jalanan.
Hampir satu jam menunggu. Orang yang di tunggu tak kunjung datang. Bisa saja dirinya menelepon orang yang di nanti tapi gengsi terlalu besar.
Marah. Kesal terus memancingnya. Tak bisa terus diam tanpa kepastian. Dirinya keluar dari dalam mobil. Menatap lalu lintas dan perlahan menyebrang.
"Permisi."
Satu pria di depan gerbang kampus Barata menunduk kearahnya.
"Selamat pagi Nona." Sapa si penjaga.
"Pagi."
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya si penjaga itu sopan.
"Ini Pak. Saya mau titip ini untuk Jason!"
__ADS_1
Paper bag berpindah tangan.
"Baik, Nona Melodi!"
.
Suri sengaja matikan ponselnya. Hal itulah yang membuat Sky tak dapat menghubungi sang istri.
Sky mendesah kesal. karena Suri tak dapat di hubungi.
"Apa dia masih di rumah sakit?" Sky berpikir bahwa Suri masih di rumah sakit. Pada akhirnya ia meluncur ke sana.
.
Suri berjalan tanpa ingin menaiki kendaraan apapun. Dirinya seperti manusia yang kehilangan arah.
Kehamilan yang tak di inginkan seakan menertawakan dirinya. Suri bahkan tidak ingin menatap atau menyentuh perut ratanya.
Hiks....hiks...."Kenapa..."
'Papa ingin kalian untuk tidak memikirkan tentang anak untuk tiga tahun ke depan.'
'Nona, saya akan memberikan pil KB ini. Anda tidak perlu meminumnya. Untuk sementara waktu anda harus berbohong. Kita akan mengulur waktu. Menghadapi tuan Diki saya perlu berpikir matang-matang. Jika saja beliau tau anda hamil. Mungkin bayi anda akan di gugurkan!'
"Tidak, tidak..Hiks..hiks ... Aku tidak ingin Papa melakukan itu."
Suri yang kebingungan terus berjalan menyusuri pinggiran jalan kota. Beruntung masker dan kacamata hitam menutupi wajahnya. Kalau tidak mungkin berita di media akan penuh dengan kabar kesendirian si Nona Suri di jalan tanpa ada yang mengawal.
Dari kejauhan. Mobil hitam mulai menepi. Mendekati Suri yang linglung.
Tid...tid..
Suara klakson mobil menyentak Suri.
Suri menoleh ke belakang. Menatap datar mobil hitam itu.
Perlahan-lahan kaca mobil terbuka.
Suri terpaku menatap sosok yang tidak asing itu. Pun orang yang ada didalam mobil.
"Suri?" panggilnya tak percaya.
Suri segera berbalik untuk menyeka air matanya. Setelahnya Suri kembali ke tempatnya semula.
"Melodi?" Sapa Suri semangat. Dirinya berusaha menahan tangis yang tadi tumpah ruah.
Jangan sampai dia melihat aku seperti ini.
"Kamu dari mana? tanya Suri sebagai pengalihan.
Melodi yang kebingungan membuka pintu mobil. "Masuklah."
Suri ragu untuk masuk. Tapi tak ada alasan juga untuknya terus berjalan.
Akhirnya Suri mengangguk dan masuk ke mobil Melodi.
Di dalam mobil. Suri dan Melodi berpelukan. Melepas rasa rindu. Walaupun rasanya terasa canggung.
"Kamu apa kabar?" tanya Suri antusias.
Melodi menjawab. "Seperti yang kamu lihat."
Suri Tersenyum sembari menatap Melodi yang masih sama cantiknya.
Obrolan yang di barengi rasa canggung itu terus berlangsung sampai Melodi menepi di depan rumah orang tua Suri.
"Kamu ikut masuk ya?" ajak Suri yang tengah membuka pintu mobil.
Melodi merenung sejenak. Tapi dirinya perlu bertanya banyak kepada Suri.
Kenapa dia sendirian di jalanan. Tanpa Sky atau pengawal.
Batin Melodi penasaran. Dirinya mengangguk pada akhirnya.
.
.
__ADS_1