Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Kepergian Sang Pewaris


__ADS_3

Sky ketakutan melihat darah dan Suri yang tak sadarkan diri.


"Suri? Suri? bangunlah? Suri?" Sky segera menyelimuti tubuh polos Suri dengan wajah panik.


"Pelayan? Pelayan?"


.


"Hah! Tuan Sky." Kepala pelayan dan para ajudan berlari menuju kamar setelah suara teriakan Sky terdengar.


Pintu di buka. "Tuan-


Mereka yang masuk membulatkan mata melihat Sky yang sibuk memaki baju sedangkan Suri terbaring dengan tumpukan selimut. Yang membuat mereka terkesima adalah darah segar yang mewarnai selimut.


"Nona!" Para pelayan wanita berlari bersama kepala pelayan mendekati ranjang.


"Astaga! Darah? Nona?"


Semua panik karenanya.


"Bawa Nona cepat." Kepala pelayan menoleh kearah para ajudan. "Nona Suri harus di larikan ke rumah sakit segera." katanya.


Sky yang ada di sana langsung berlari bersama para ajudan. "Jangan sentuh Suri."


Dengan wajah panik. Sky mengangkat Suri yang mana darah segar semakin banyak.


.


Sesampainya di rumah sakit. Suri langsung di bawa ke dalam ruang IGD untuk mendapatkan penanganan.


Dokter Kamla yang dari awal menjadi dokter kandungan Suri terjun ke ruangan besar itu setelah di beri tahu kalau pasien yang baru saja datang adalah Nona muda Suri.


"Ya Tuhan ku, Nona Suri?" Dokter Kamla yang baru saja tiba terkejut bukan main melihat Suri terkapar di ranjang dengan kondisi begitu mengerikan.


"Apa yang terjadi Tuan?"


Sky menjadi objek pertama yang di tanyai Dokter Kamla.


Sky menggeleng kikuk. Wajahnya jelas panik itu yang di lihat Dokter Kamla.


Darah ini tidak bisa berhenti.

__ADS_1


"Suster-"


Sky yang ketakutan menggenggam tangan Suri yang tak berdaya.


"Suri, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku." seru Sky. Dirinya menangis tanpa memperdulikan dokter Kamla dan beberapa suster.


Dokter Kamla menatap Sky cukup intens.


"Tuan? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Sky tersedu tak merespon pertanyaan Dokter Kamla.


Jangan-jangan.


Pikiran Dokter Kamla mendorong dirinya untuk bertanya sekali lagi.


"Tuan? apa anda memaksa Nona Suri untuk-


"Jangan katakan apapun? Selamatkan Suri." sela Sky dengan berlinang air mata. "Lakukan tugas mu Dokter Kamla." Seketika wajahnya yang menyedihkan berubah dingin memberi tatapan mengintimidasi.


Dokter Kamla yang sudah mengetahui kenapa Suri pingsan dan darah yang keluar dari area itu mengangguk patuh.


"Tuan Sky. Saya mohon keluar sekarang." Dokter Kamla melirik salah satu suster, memberi aba-aba untuknya membawa Sky keluar ruangan.


Sky mengibas tangan si suster tak suka. Dirinya keluar tanpa kata meninggalkan Suri pada akhirnya.


"Selamatkan Suri." ucap Sky lirih. Sebelum dirinya keluar ruangan.


Kepala dokter Kamla mengangguk kemudian. Dokter Kamla kembali memeriksa Suri yang masih tak sadarkan diri.


Dalam keadaan sedikit panik karena darah enggan berhenti. Dokter Kamla membatin.


Nona, saya akan menolong anda semampu saya. Anda jangan khawatir .


.


Sky terkulai di kursi tunggu ruang IGD. Dirinya mengacak-acak rambut dan mengutuk perbuatannya yang sudah menyebabkan Suri masuk rumah sakit.


Dalam keadaan kalut Sky melirik dalam tubuh. Di sana masih ada bercak darah yang mulai mengering. Hal itu membuat Sky membenci dirinya sendiri.


Bagaimana kalau Suri kenapa-kenapa? Pikiran yang menakutkan itu terus menghantui.

__ADS_1


Satu jam lamanya Sky menunggu bersama para ajudan yang siap siaga di dekatnya. Sedangkan kepala pelayan tertahan di mansion. Dirinya sibuk menghubungi Nyonya Rose yang mana tak bisa di kontak mengingat rombongan masih berada di dalam pesawat.


.


"Tuan?" Dari ambang pintu ruang IGD kepala dokter Kamla menyembul setelah sekian jam tak terlihat.


Sky bergegas bangun dan menghampiri Dokter Kamla.


"Bagaimana keadaan Suri?" tanya Sky harap-harap cemas.


Dokter Kamla meneguk ludahnya kasar melihat wajah Sky yang panik.


Dengan membuka pintu ruangan Dokter Kamla berkata. "Nona Suri sudah sad-


Sky meluncur kedalam tanpa memperdulikan Dokter Kamal dan ucapnya yang menggantung.


.


Sky berlari menuju ranjang perawatan di mana Suri berada.


"Suri?" panggil Sky sumringah. Sky tersenyum lega melihat Suri sudah sadar.


Suri yang berlinang air mata. Melirik Sky yang berdiri di samping ranjang.


Tanpa di duga Suri menggerakkan tangannya.


Plak....Suara gesekan telapak tangan Suri dan pipi Sky menggema memenuhi ruangan.


"Kau sudah membunuhnya! Kau pembunuh Sky." Lalu Suri menangis sejadi-jadinya.


Sky mundur perlahan mendapati kenyataan tentang si janin.


"Aku- Aku." Sky terbata-bata dan tak tau harus berkata apa. Suara tangisan Suri membuatnya linglung.


"Mulai saat ini aku mengubur namamu dari hidup ku. Mengenalmu adalah sebuah kutukan untuk ku." Suri berceloteh yang mana semakin membuat Sky lemah.


Sky tersungkur dengan wajah pucat.


"Tidak, tidak. Ini hanya mimpi?"


Hiks....hiks...."Kamu membunuhnya Sky. Kamu pembunuh."

__ADS_1


.


Tiga tahun kemudian.


__ADS_2