Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Garis Dua?


__ADS_3

Seperti yang di katakan Tuan Diki. Suri dan Sky harus menemui Dokter kandungan.


Selepas sarapan bersama. Suri pamit untuk bersiap. Sky mengikuti Suri dari belakang.


Sikap lembut Sky terhadap Suri tak luput dari perhatikan Tuan Diki dan Nyonya Rose. Juga Tristan. Ketiganya menatap kepergian Sky dan Suri dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda.


Nyonya Rose dan Tristan menyertakan senyuman bahagia karena Sky sudah sangat berubah menjadi lebih baik. Suri benar-benar penawar untuk Sky si pemarah. Sedangkan Tuan Diki menatap dengan wajah dingin. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Hingga tak merasa senang melihat keharmonisan kedua anaknya itu.


Tristan tak sengaja melihat bagaimana Papanya memperlihatkan wajah dingin.


"Papa?"


Tuan Diki segara tersadar. Melirik kearah Tristan.


"Kenapa Tristan?"


Tristan menggelengkan kepala.


"Papa terlihat sakit!" Nyonya Rose bertanya santai sembari mengambil satu potong buah yang sudah di tata di atas piring keramik. Salah satu piring kesukaannya.


Spontan Tuan Diki meraba wajahnya.


"Memangnya, iya?" Tanya balik Tuan Diki dengan wajah polos


Tristan dan Nyonya Rose menggelengkan kepala. Kembali fokus dengan piring mereka masing-masing.


Kembali suasana menjadi hening. Tristan bergantian melirik kedua orangtuanya.


Tuan Diki sibuk menyeruput secangkir kopi hangat dengan mata tertuju pada lembaran koran. Sedangkan Nyonya Rose juga sibuk melahap buah kiwi kegemarannya.


Tristan berdehem tapi tidak memancing perhatian kedua orangtuanya. Untuk itu, Tristan bersuara.


"Pa, Kenapa Papa meminta Sky dan Suri untuk tidak segera mempunyai anak!"


Uhuk-uhuk... Tuan Diki melipat koran. Serangan di tenggorokannya menyengat tubuhnya. Ucapan Tristan seakan sengatan lebah yang membabi buta.


Dari mana dia tau.


Tuan Diki ketar-ketir. Apalagi sang istri tengah menatapnya lekat seolah meminta jawaban.


"Tristan? Apa yang kamu katakan? Papa tidak mengerti." Kata Tuan Diki dengan wajah tegang. Berusaha mengelak fakta yang sudah di ketahui Tristan.


.


Kemarin ketika Sky dan Suri di minta menghadap. Tristan diam-diam mengikuti langkah kedua adiknya sampai masuk kedalam ruang kerja Sang Papa. Di sana Tristan harus berjuang melawan kedua penjaga yang selalu siaga. Tapi Tristan memberi ancaman kepada kedua penjaga itu. Sampai Keduanya mengalah.


Tristan membuka sedikit pintu ruang kerja Tuan Diki. Mendengarkan dengan seksama apa yang tengah di bicarakan ketiganya.


Sontak wajahnya kaku seketika. Tuan Diki meminta kedua adiknya untuk tidak segera mempunyai momongan.


.


"Pa? Apa maksudnya? Mama butuh penjelasan?" Nyonya Rose menuntut.


Keadaan menjadi lebih mencekam. Tuan Diki dan Nyonya Rose beradu argument. Dan Tristan yang memulai masih belum bersuara.


Tuan Diki menghela napas. Melirik tajam sang putra sulung. "Tristan benar?"


Tiba-tiba saja. Tuan Diki bersuara lantang tapi tidak sampai mengganggu pendengaran orang-orang yang ada di dalam mansion.


Sontak kening Nyonya Rose dan Tristan mengkerut. Keduanya menatap Tuan Diki penuh curiga.


"Jelaskan, Pa?"


Tuan Diki mengangguk kecil.


Tristan dan Nyonya Rose menunggu.


"Mama peramal-


"Stop, Pa? Jangan lagi membahas tentang Mama peramal. Sudah cukup." Nyonya Rose menggebrak meja makan. Tak ingin penjelasan lebih lanjut lagi dari sang suami.


Tapi Tristan penasaran bersuara.


"Kenapa dengan Mama peramal? Kali ini apa yang di katakan Mama peramal?"


Nyonya Rose memalingkan wajah. Menahan tangis yang lebih besar.


"Mama tidak ingin lagi berurusan dengan Mama peramal lagi, Pa." Katanya tak suka. Sudah cukup meminta bantuan ketika Suri dan Melodi menghilang. Urusan keluarga yang bersifat pribadi jangan di usik apapun itu.


Tapi sepertinya. Peran Mama peramal dalam keluarga Barata amat besar pengaruhnya. Mama peramal seakan menjadi hantu dalam kehidupan keluarganya.


"Semua sudah di atur. Ma! Kamu harus menerima itu." Seru Tuan Diki lirih.

__ADS_1


"Tidak. Mama tidak ingin mendengar apapun." Nyonya Rose yang marah segera meninggalkan ruang makan.


Tristan dan tuan Diki menatap kepergian sang Nyonya Barata sesaat. Sebelum akhirnya Tristan kembali fokus dengan Tuan Diki.


Penjelasan dari sang Papa belum keluar.


"Pa?" Tristan menegur sang papa guna mengingkatkan.


Tuan Diki menghela napas lagi berat. Sekarang dirinya harus menghadapi Tristan si pelaku utama.


"Sky dan Suri tidak boleh mempunyai anak untuk tiga tahun ke depan!" Tuan Diki menjelaskan dengan wajah murung.


"Tapi kenapa? Kenapa mereka tidak-


"Keluarga kita akan ada yang mati, Tristan!"


"Apa? Mati?" Seru Trisna tak percaya. Kepalanya menggeleng cepat berteman tawa yang menggelegar.


"Papa sekarang lebih percaya dengan takhayul ketimbang dunia nyata." Kata Tristan seolah memaki sang Papa yang sekarang nampak lain.


Kepulangan Suri satu Minggu silam mempertemukan kembali Tuan Diki dan Mama peramal. Sampai akhirnya ia menanyakan kelangsungan keluarga Barata.


Di titik dimana Mama peramal mengungkapkan hal yang mampu membuat tubuh Tuan Diki goyah kala itu.


'Jangan sampai Sky dan Suri mempunyai keturunan. Dalam waktu tiga tahun ini. Kalau sampai Suri hamil. Maka keluarga Barata akan kehilangan anggota keluarga Barata lainnya.


Kalimat itu terus terngiang di dalam ingatan Tuan Diki. Dan benar-benar mengganggu aktifitas sehari-hari. Untuk itu mau tak mau. Sky dan Suri harus di beri tahu. Suka tidak suka. Keputusan menunda kehamilan selama tiga tahun lamanya harus di lakukan. Kalau tidak maka anggota Barata akan kehilangan seseorang yang di cintai, entah siapa itu?


"Papa percaya, dan keputusan Papa tidak bisa di rubah." Dengan marah Tuan Diki berdiri. Melenggang pergi meninggalkan Tristan di ruang makan.


Tristan menghela napas berat. Merenung dengan perubahan sang Papa yang kini menjadi lain..


"Kenapa Papa percaya hal seperti itu? Sudah cukup Sky saja Pa. Jangan lagi."


.


Sementara itu. Sky dan Suri baru sampai di rumah sakit yang di katakan Tuan Diki.


Keduanya pergi ke dokter berdua saja tanpa di temani Tuan Diki atau Nyonya Rose.


Entah apa yang terjadi. Tapi ketika Suri dan Sky melewati ruang keluarga tak ada siapapun di sana. Hanya ada Trisna saja.


"Kalian pergi saja. Papa dan Mama tidak bisa di ganggu." Ucap Tristan acuh. Dirinya sengaja menatap televisi atau lebih tepatnya menghindari kecurigaan kedua adiknya itu.


.


Sky memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah sakit.


"Kamu ga ikut?" Suri merengek manja.


Sky menggeleng cepat. "Aku ingin pergi. Tapi-


Suri membungkap mulut Sky segera menggunakan bibirnya.


Sky terperanjat. Membiarkan Suri mengecup bibirnya.


Setelahnya Suri membuka pintu mobil.


"Katakan kepada Jason dan Daren. Untuk tidak membuat kamu sibuk." Desis Suri manja. Lalu ia berlari meninggalkan Sky yang tersenyum penuh arti.


"Dia benar-benar luar biasa." Gumam Sky. Ia teringat sesuatu. Segera Sky keluar dari dalam mobil.


"Suri! Beri tau aku kalau ada sesuatu!" Sky berteriak.


Suri berbalik. Mengangguk kearah Sky dengan tangan ia simpan di atas kening.


"Siap Bos!"


Sky kembali menggelengkan kepala melihat tingkah lucu Suri.


.


Di dalam gedung rumah sakit. Suri di tuntun dua perawat untuk masuk kedalam ruang pemeriksaan khusus kandungan.


Semua sudah di atur. Suri bak boneka yang harus patuh kemana dirinya di minta berjalan.


"Nona Suri, anda sendirian?" Satu Suster bertanya dengan gugup.


Biasanya seorang anggota keluarga Barata atau orang konglomerat lainnya akan di kawal beberapa pengawal yang siap siaga menjaga sang majikan. Tapi Suri datang ke rumah sakit seorang diri tanpa di temani siapapun.


Suri tersenyum ketir mendapati jawab itu di berikan padanya..


Sembari berjalan Suri menjawab.

__ADS_1


"Mereka lelah! Jadi saya tidak ingin mereka ikut."


Perbincangan itu terhenti ketika mereka tiba di ruang pemeriksaan.


"Selamat pagi, Dokter." Suri menyapa Dokter perempuan. Usianya masih sangat muda. Mungkin selisih lima tahun dengannya.


"Pagi, Dokter." Suri membungkuk setelah dokter muda itu membungkuk terlebih dahulu kearahnya.


Satu Suster menggeser kursi untuk Suri duduk.


"Tidak perlu! Saya bisa sendiri!"


"Tidak apa-apa Nona, silakan." Kata si suster sopan.


Suri mengangguk patuh. Duduk tenang di depan dokter.


"Kamla! Nama saya Kamla!" Si dokter memperkenalkan diri sebagai pembuka.


Suri mengangguk lagi. " Anda mungkin sudah tau nama saya."


Suri Tersenyum malu.


Dokter Kamla mengangguk membenarkan.


Siapa yang tidak mengenal anda di kota ini.


Dokter Kamla berdehem untuk menetralisir kecanggungan.


Suster yang lain maju memberikan berkas berlapis map berwarna putih.


"Nona Suri, saya di tugaskan Tuan Diki-


"Saya tau Dokter. Jadi mari lakukan sekarang." Suri memangkas kalimat Dokter Kamla.


"Mari, Nona." Dokter Kamla berdiri di ikuti Suri.


Satu ranjang besi terbaik menjadi tujuan Keduanya.


Suri berbaring saat di minta Dokter Kamla.


Wawancara di mulai. Pertanyaan biasa tentang wanita tengah di terangkan Dokter Kamla.


Sampai di mana Dokter Kamla menanyakan satu pertanyaan.


"Anda sudah menstruasi bulan ini, Nona?"


Suri termenung sejenak. "Saya tidak ingat, Dok."


Suri menjawab ragu-ragu.


Dokter Kamla mengangguk. Pemeriksaan terus di lakukan.


"Suster? Tolong siapkan testpack!"


Suster mengangguk patuh. Segera pergi untuk mengambilkan pesanan Dokter Kamla.


Suri yang tengah berbaring mengerutkan kening ketika alat pendeteksi kehamilan di sebut.


"Saya Hamil?" Tanya Suri spontan.


Dokter Kamla malah tersenyum.


Di saat harinya diliputi perasaan bimbang. Suster datang dengan beda di satu tangannya.


"Ini, Dok."


Dokter Kamla menerima benda yang di bawa si suster.


"Ini hanya untuk memastikan saja. Nona."


Suri menatap benda yang di sodorkan dokter Kamla kearahnya.


Dengan perasaan kalut. Suri menerima testpack itu. Setelahnya beranjak bangun dan berjalan ke dalam kamar mandi di ruangan itu.


5 menit lamanya Suri di dalam kamar mandi.


Alat pendeteksi kehamilan ia angkat dari dalam botol bening berisikan air kebenaran.


Garis Dua!


"Astaga!" Mulut Suri menganga tak percaya melihat garis Dua di sana.


Aku hamil? A-Aku hamil.

__ADS_1


Tubuhnya oleng saking terkejutnya. Testpack itu terjatuh ke lantai. sampai mengundang pendengaran dokter Kamla dan dua suster di luar ruangan.


__ADS_2