
Suri mengerutkan dahi tak percaya. Matanya mulai berkaca-kaca hampir saja meloloskan buliran bening di pipinya. Tapi Suri tahan. Dirinya tidak ingin terlihat lemah di hadapan Sky.
Yang Suri lakukan hanya diam sembari menunduk tak berdaya.
"Maaf!" kata Suri singkat lagi lirih. Tangannya mengepal kuat menahan kemarahan atas ucapan Sky yang menuduhnya seorang pembunuh.
Satu lagi, Suri merasa lucu ketika kata maaf terlontar santai seolah dirinya seorang pelaku pembunuhan.
Aku percaya ini sebuah takdir. Kepergian Papaku dan Papa Sky adalah kehendak Tuhan bukan karena ucapan Mama peramal.
Suri membatin. Menenangkan diri atas Sky yang masih berkeliaran mengelilinginya bak ular yang melilit tubuhnya. Begitu sesak dan tak nyaman.
Jelas bukan ini yang Suri harapkan. Kedatangan Sky tak seperti bayangan ketika melihat mobil spot miliknya mendarat di halaman rumah.
"Apa mau mu?" tanya Suri dengan kepala masih menunduk.
Sky menyunggingkan senyuman. "Kau tanya apa mau ku?"
.
Dari kejauhan, Nyonya Nena berdiri di ambang pintu utama, menatap sedih sang putri yang tengah di hakimi. Dirinya sulit untuk mendekat tak bisa membela Suri. Kakinya tak bergerak seperti di rantai saja rasanya.
"Maafkan Mama, sayang, Mama tidak bisa membelamu!"
Aku tau apa yang membawa Sky sampai ke sini. Kehamilan Suri pasti tidak akan di terima Sky setelah ucapan Mama peramal. Suri, kenapa kamu begitu kuat Nak? Mama malu sayang. Mama malu dengan diri Mama yang tidak bisa membelamu.
Batin Nyonya Nena terpuruk dengan keadaan. Keadaan di mana dirinya di minta Suri untuk tidak ikut campur jika sewaktu nanti Sky datang dan menghakiminya atas kehamilannya. Mungkin sekarang waktunya Suri membela diri atas Sky yang meminta penjelasan. Penjelasan tentang kehamilannya dan meninggalnya Tuan Chris dan Tuan Diki pastinya.
Suri sudah memberi tahu kehamilannya kepada Nyonya Nena ketika tuan Chris meninggal tiga hari setelah menghadiri pemakaman Tuan Diki sang mertua. Apakah Nyonya Nena terkejut? Iya, wanita paruh baya itu sangat terkejut. Ingin menghakimi Suri karena dirinya juga sedikit percaya dengan ucapan Mama peramal. Tapi dirinya tak kuasa menghakimi sang putri atas kehamilannya.
'Kepergian Papamu dan Papa Sky yang mendadak adalah takdir dari Tuhan, bukan ramalan Mama peramal.'
Ucapan Nyonya Nena kala itu di hadapan Suri. Suri terisak karena Mamanya mau menjadi pendengar yang baik. Mau menerima keadaannya saat ini.
Tapi bukan hanya itu. Nyonya Nena juga memberi tahukan tentang rahasia Tuan Chris, tentang hubungannya dengan Mama kandung Suri yang tidak lain Kakak kandungnya sendiri. Nyonya Luna. Di mana pernikahan keduanya sudah berakhir ketika Tuan Chris mempersuntingnya. Suri terkejut tak percaya. Menangis sejadi-jadinya di hadapan Nyonya Nena yang juga ikut menangis. Awalnya Suri menolak penjelasan itu tapi setelah ia tau alasan mending tuan Chris melakukan itu Suri mengerti. Semua sudah terjadi dan tidak bisa di putar ulang. Sekarang waktunya saling menguatkan dan menghadapi Sky. Untuk itu Nyonya Nena melangkah dengan percaya diri.
"Jangan hakimi putri ku!" lantang Nyonya Nena berbicara. Membuat mereka yang berkumpul di ruang keluarga menoleh tak terkecuali Sky dan Suri.
Suri mengangkat kepala. Tersenyum samar melihat sang Mama berlari untuk membelanya.
Sky sendiri hanya menatap datar kedatangan Nyonya Nena dan juga suara lantangnya yang jelas memihak Suri.
"Mama jangan ikut campur." seru Sky memberi peringatan.
Nyonya Nena langsung berdiri di depan tubuh Suri yang kaku. Menatap Sky penuh keberanian, mengabaikan sang menantu yang berkuasa. Suri mesti di bela dan di lindungi dari amukan Sky yang tidak beralasan.
Kepala berat Nyonya Nena menggeleng ke arah Sky sembari tersenyum sinis.
"Jangan panggil aku Mama, kalau kamu Berani menyakiti putriku." katanya penuh ancaman.
Suri berkaca-kaca di buatnya. Menatap punggung sang Mama yang lantang membelanya.
__ADS_1
"Mama." seru Suri tak bersuara.
"Ingat Sky!" tangan Nyonya Nena yang bergetar menunjuk Sky. "Apa yang telah terjadi bukan salah Suri dan cucuku! Ini takdir Tuhan."
Suri menarik tangan Nyonya Nena. Memberi isyarat padanya untuk diam.
"Ma!"
Nyonya Nena menghempaskan tangan Suri.
"Diam, Suri!" suara Nyonya Nena memekik tanpa mengalihkan pandangan.
Suri diam pada akhirnya. Membiarkan Nyonya Nena menyuarakan isi hatinya.
Kalimatnya ia lanjutkan setelah menghela napas. "Setelah kamu tau Suri hamil anak mu sendiri, apa yang akan kamu lakukan? Katakan! Kamu ingin menceraikannya? Lakukan?"
Sky terkejut di buatnya. Suri pun, Keduanya menatap Nyonya Nena dengan mata membulat.
"Dari awal, saya yang salah. Saya yang meminta papanya Suri untuk pergi ke universitas Barata, Saya juga yang memanipulasi semuanya agar Suri menikah dengan kamu. Hiks...hiks....Saya yang salah. Kalau kamu mau menyalahkan atas meninggalnya Tuan Diki. salahkan saya. Jangan putri dan cucu saya. Hiks...hiks...."
Seketika Nyonya Nena ambruk di hadapan Sky. Menangis tersedu di sana membawa penyesalan yang tiada akhir. "Papa...hiks...hiks...Maafkan Mama..."
Suri ikut menangis. Dirinya bergegas memeluk tubuh bergetar Nyonya Nena.
"Ma, hiks...hiks...Jangan katakan itu...Ini semua bukan salah Mama..Hiks....hiks...."
Keduanya berpelukan di hadapan dua orang kepercayaan Sky dan Dokter Kamla yang mana sedari awal terus menangis.
Sky mengepalkan tangan. Menunduk melihat Suri yang menangis. Hatinya semakin dingin alih-alih bersimpati. Entahlah dirinya masih di Landa kemarahan dan sakit hati. Karena Suri tidak jujur atas kehamilannya. Sky menjadi mati rasa.
Dengan wajah dingin. Sky menarik tangan Suri yang melingkar di tubuh Nyonya Nena. Ia angkat sampai Suri terperanjat di buatnya.
"Sky, lepas." Suri meringis sakit.
Pandangan keduanya bertemu. Sky nampak bengis memberi sinar kemarahan. Tapi Suri berani menatap balik manik sang suami yang tengah kalap dengan hatinya.
Di sini Suri sadar. Kalau laki-laki yang ada di hadapan adalah monster.
Apa sekarang kamu akan membunuhku.
Nyonya Nena bergegas bangkit. Menarik Suri agar di lepas Sky, tapi dua orang kepercayaan Sky berlari untuk menenangkan Nyonya Nena.
"Sky lepaskan putriku! Lepaskan!" pinta Nyonya Nena. Terus menarik Suri yang mematung.
"Nyonya. Hentikan!"
Kedua pria berdasi itu menarik Nyonya Nena agar menjauh dari Suri.
"Lepaskan. Jangan menyentuh Nona kami!" seru salah satu pria itu.
Nyonya Nena menoleh ke arah si pria membawa wajah marah. "Dia putriku! dia putriku!"
__ADS_1
Kedua pria itu menggeleng kompak. "Sudah bukan lagi."
"Tidak!" teriak Nyonya Nena di saat dirinya di seret menjauh.
Dokter Kamla yang ada di situasi mencekam itu hanya menunduk sembari menutup telinga. Dirinya sibuk menangis alih-alih membela Suri atau Nyonya Nena.
"Aku tidak ingin terlibat. Aku tidak ingin terlibat!" bibir Dokter Kamla komat-kamit memberi sugesti agar dirinya diam dan tidak ikut campur.
Pikirkan nasib mu sendiri Kamla! jangan pikirkan orang lain.
Suara tangisan dan teriakan Nyonya Nena menggema di dalam rumah. Tapi tidak ada yang membela. Suri tak mampu mendekati sang Mama dan memeluknya. Sky mencengkram tangannya kuat melebihi borgol.
"Lepaskan aku Sky. Tinggalkan tempat ini. Aku tidak akan meminta apapun dari kamu. Aku dan Mama akan pergi jauh dari hidup kamu. Aku janji."
Sky tertawa. Hahahaha...Hahaha...
"Apa kau bilang? Lepaskan aku? Katakan sekali lagi!" seru Sky dengan nada suara melengking.
Suri tersentak lalu kembali menangis. "Jangan sakiti Mama ku. Aku mohon."
Kelemahan ku adalah menghadapi Sky.
"Aku mohon. Jangan sakiti Mama."
Sky mengangguk dan berkata. "Lepaskan Mama Nena!"
Kedua pria berdasi mengangguk patuh segera melepaskan Nyonya Nena, tapi mereka menghadang supaya Nyonya Nena tidak mendekat.
Suri menatap sendu sang Mama yang sudah pucat karena terlalu banyak menangis.
"Sky. Aku mohon lepaskan aku! Kamu boleh pergi dan melupakan semuanya aku dan Mamaku janji akan tutup mulut atas apapun itu." Suri beralih menatap Sky dengan berlinang air mata, meminta pengampunan dan pasrah jika Sky ingin meninggalkannya.
Sky merenung sejenak. Tapi tangannya masih membelit pergelangan Suri yang kini memerah.
Lamanya ia berpikir. Sky tersenyum dingin.
"Tidak!" satu kalimat singkat menggema.
Suri mengerutkan dahi. "A-apa! Ke-kenapa?"
Sebelum memberi jawaban. Sky menarik Suri sampai mengenai dadanya.
"Kita ini suami istri! Kamu juga tengah mengandung anakku! Jadi untuk apa aku meninggalkan kamu! Kamu harus pulang dan menjadi istri yang baik."
Seketika Sky menarik Suri lalu menyeretnya.
"Sky? Tidak...Tidak Sky. Hiks...hiks...lepaskan aku." Suri memberontak. "Mama...Mama." Suri meminta pertolongan.
Nyonya Nena menangis melihat Sky menyeret Suri tersayang.
"Suri..Hiks...hiks....Suri."
__ADS_1
"Kalian minta beberapa penjaga untuk datang dan menjaga rumah ini. Pastikan Nyonya Nena tetap di dalam rumah. aku belum selesai. Dan untuk Dokter Kamla jangan biarkan dia lolos aku juga belum selesai. "
Setelah memberi perintah dan kepala kedua pria berdasi mengangguk patuh. Sky keluar rumah dengan masih menyeret Suri.