
Tak terasa hari kembali gelap.
Suara garpu dan sendok berdentang merdu di ruang makan.
Suri begitu lahap menyantap semua hidangan yang di sajikan bak manusia kelaparan.
Sky menatap sang istri heran. Tak terkecuali Tuan Diki dan Nyonya Rose. Tristan nampak absen. Kursinya kosong melompong tak berpenghuni. Katanya ia tengah sibuk di kamar dengan beberapa urusan penting.
Sekedar informasi. Tristan juga mempunyai kesibukan dengan pekerjaan. Ia di percaya sang Papa untuk menjadi wakil ketua di bagian keuangan di perusahaan Batara. Dengan kemampuan yang di milikinya. Tristan tidak sepenuhnya hidup seperti manusia yang tidak berguna.
Intinya begini. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Jika dirinya cacat secara fisik tapi mungkin ada kelebihan yakni. Tristan handal dalam ilmu ekonomi dan sekarang dirinya perlihatkan dan sudah terbukti mampu mengemban tugas dari sang Papa. Tuan Diki juga berharap suatu saat nanti. Tristan bisa menjadi pemegang perusahaan Batara mendampingi adiknya.
Ini bukan tidak adil. Tapi memang secara fisik Sky lebih mumpuni untuk menggantikan posisi Tuan Diki nantinya. Seorang pemimpin besar harus sehat secara rohani dan jasmani. Dan semua ada di Sky. Tristan yang berhati lembut mengiyakan keputusan Tuan Diki dan itu juga sudah tertulis di dalam surat wasiat.
.
Kembali ke meja makan.
Nyonya Rose spontan menyodorkan segelas air ke samping sang menantu.
"Minum Suri!" katanya. Tersenyum canggung Melihat kerakusannya..
Suri menelan makanan yang ia kunyah cepat. Segera menyambar gelas pemberian Mama mertua. Lagi-lagi Suri rakus? Dirinya meneguk air itu sampai habis.
"Ah... Segarnya." gelas kosong itu Suri letakan pelan sembari mengusap mulutnya yang kotor.
Tuan Diki melirik Sky seolah memintanya untuk bersuara.
Sky berdehem.
"Hei! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sky ragu-ragu.
Suri yang tengah mengunyah menoleh kearah Sky sambil mengangguk yakin.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya lapar saja." Suri menjawab dengan mulut penuh.
"Stop, Suri berhenti makan! Kamu bisa sakit!" Nyonya Rose dengan tega mengambil piring Suri.
Suri terpaku melihat perlakuan yang di berikan. Dirinya belum sadar kalau apa yang di lakukan mengundang keluarga curiga.
.
"Kamu makan seperti orang kesurupan!" kata Sky ketus. Dirinya menghakimi Suri yang duduk di sofa kamar.
Sky langsung membawa Suri ke kamar untuk mengintrogasi-nya. Suri yang masih lapar terus memberontak tapi kekuatan tarikan Sky membuat Suri mengalah.
Suri mengulum bibirnya rapat. Rasa lapar membuat Suri sedikit kehilangan akal.
Dirinya tidak berpikir kalau sikapnya akan membuat Sky curiga tentang kehamilannya.
Sky mendesah dan berdecak kesal. Dengan menarik napas ia duduk di samping Suri yang menunduk.
Perlahan. Sky menarik tangan Suri. Ia genggam sembari Mengusapnya lembut.
"Ada apa Suri? Akhir-akhir ini sikapmu lain? Sudah tiga hari kamu bertingkah aneh! Makan seperti tadi! Bertingkah seperti orang kelaparan? Kamu makan seperti orang yang tidak makan satu Minggu!" fakta yang di katakan Sky benar-benar menyentak Suri. Dirinya mendongak menatap Sky yang ada di sampingnya.
"Tiga hari? Aku makan seperti ini?" kata Suri malu-malu lagi tak percaya.
Sky mengangguk. "Apa kamu baik-baik saja?"
Sky bertanya dengan wajah khawatir. Sky juga mengelus kepala Suri. Perasaan cinta setiap harinya semakin tumbuh. Tapi sekarang sang istri bertingkah aneh.
"Kalau kamu ada masalah cerita padaku!"
Suri memalingkan wajah. Ia menutup mata merasakan penyesalan yang luar biasa.
Kenapa aku bisa lupa? Tiga hari aku seperti ini? Makan lahap tidak seperti biasanya. Apa Sky, papa dan mama curiga padaku.
Gumam Suri dalam hati. Tiba-tiba dirinya di landa kepanikan atas perbuatannya sendiri yang tidak di sadari.
Dengan perjuangan Suri tersenyum sembari menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja. Mungkin karena aku tengah datang bulan jadi aku seperti ini!"
__ADS_1
Suri berdalih demikian. Sky menyunggingkan senyuman tak percaya mendengar pembelaan Suri.
"Sungguh?" tanya Sky lagi. Ia membelai punggung Suri kali ini.
Suri mengangguk penuh semangat. Menyamarkan wajah kakunya.
"Mmm....Aku baru tau itu." Sky menatap asal kamar. Seolah berpikir apa benar jika wanita yang tengah datang bulan akan makan banyak dan rakus?
Suri yang kalap. Langsung berdiri.
"Aku ingin tidur." katanya sembari berlari masuk kedalam kamar mandi.
Sky mengerutkan kening tanda kebingungan.
"Dia aneh!"
.
Malam harinya pukul 2 dini hari.
Suri terbangun. Ia menahan perutnya yang berdentang.
Astaga! Kenapa jam segini aku kelaparan.
Tanya batin Suri yang sebenarnya sudah dua hari dirinya terbangun di tengah malam. Tapi kali ini perutnya minta di isi Makanan berat. Lain kemarin malam. Cemilan di dalam lemari yang tersaji di dalam kamar lebih dari cukup. Tapi sekarang nampaknya lain.
Suri duduk di tengah kegelapan kamar. Melirik Sky yang ada di samping dengan wajah resah gelisah.
Bagaimana kalau dia bangun.
Suri terus berpikir di tengah malam.
Lima belas menit kemudian. Ia merangkak meninggalkan ranjang. Mengendap-endap mendekati daun pintu kamar.
Tapi baru saja tangannya siap menyentuh pegangan pintu.
Byar ... Kamar yang gelap kini terang benderang .
Suri yang sudah tertangkap basah segera berbalik. Tersenyum manis melihat Sky yang saat ini tengah duduk di atas ranjang.
Kenapa dia bangun.
"Mau kemana?" Sky balik bertanya. Beberapa kali Sky mengucek matanya yang mengantuk.
Pergerakan Suri yang nyata membuat Sky terbangun. Hingga menangkap basah sang istri yang akan keluar kamar.
Suri bukannya menjawab ia malah berjalan menghampiri ranjang. Duduk setengahnya di bibir ranjang..
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, Suri?"
"Aku, aku?"
"Aku apa?" Sky merubah posisi duduknya. Ia menghadap Suri yang tengah kebingungan.
"Kenapa? Kamu lapar lagi?"
Suri awalnya terdiam tak memberi respon.
Tapi perutnya berdentang yang kali ini di dengar oleh Sky.
Sky tersenyum sembari melirik area perut Suri. Dengan sengaja Sky mengusapnya.
"Kamu lapar?"
Suri membulatkan kedua matanya. Menegang tubuhnya merasakan sentuhan Sky yang begitu intim.
"Ayo. Aku antar kamu keluar."
Sky yang masih mengantuk menggandeng Suri untuk keluar kamar bersama.
Sky kenapa kamu begitu baik. Sky yang dulu kini tidak lagi aku melihatnya. Kamu sudah berubah. Tapi bagaimana kalau kamu tau aku sedang hamil! Apa kamu tetap akan baik padaku.
__ADS_1
.
.
Tok...tok...tok..
"Nona Suri!" Ketukan dari luar dan juga suara panggilan dari pelayan menyadarkan Suri yang mana tengah menyantap buah-buahan di atas ranjang. Sampai beberapa sari buah bercecer di atas seprai.
"Iya." Suri berteriak. Ia berlari untuk membukakan pintu sambil menyeka bibirnya yang belepotan.
Pintu di buka.
Si pelayan membungkuk.
"Kenapa?"
"Nyonya Rose meminta anda untuk turun Nona."
Suri mengangguk mengiyakan. Ia menutup pintu kamar lalu mengikuti langkah si pelayan.
Ada apa ya?
.
Di taman Nyonya Rose baru selesai memetik bunga. Kakinya melenggang masuk kedalam rumah bersama satu pelayan yang mana membawa hasil bunga yang di petiknya.
"Ma!" Suri menyapa sang Mama mertua.
Senyuman manis di perlihatkan Nyonya Rose padanya.
"Duduk Nak." Titahnya.
Suri duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
Nyonya Rose menghampiri Suri bersama si pelayan.
"Letakan di sana." titah Nyonya Rose kepada si pelayan.
Pelayan mengangguk. Ia meletakan keranjang berisi aneka bunga segar.
"Saya permisi Nyonya. Nona." Si pelayan membungkuk dan perlahan undur diri.
"Kenapa Ma?" tanya Suri penasaran. Dirinya di minta menghadap di saat ia tengah menikmati sensasi manisnya buah-buahan segar.
Sambil menarik tangkai bunga. Nyonya Rose bersuara.
"Mama dan Papa akan pergi berlibur. Kamu dan Sky mau ikut?"
"Hah? Berlibur?"
Nyonya Rose mengangguk.
Kemana Ma?" tanya Suri lagi. Ia sedikit tertarik dengan pembicaraan kali ini.
"Mama ingin ke Hawai."
"Hawai!"
"Iya, kamu mau ikut?"
"Suri-
"Tidak Ma! Kami mau di rumah saja."
Tiba-tiba Sky datang mengagetkan keduanya.
Suri dan Nyonya Rose melirik ke arah Sky.
"Kamu yakin sayang?" Nyonya Rose menggoda sang putra tercinta.
Sky mengangguk yakin. Ia merangkul Suri yang kikuk.
__ADS_1
"Aku ingin di rumah saja. Menghabiskan waktu bersama Suri. Mama ajak saja Kak Tristan dia sepertinya butuh liburan." Sky memberi usul yang mampu membuat Nyonya Rose termenung.
"Mmm....Bukan ide buruk juga. Nanti Mama tanya Kakak mu."