
Suri segera merebahkan tubuhnya dan tak lupa menarik selimut selepas membersihkan diri dan berganti baju.
"Rasanya aku lelah sekali." Suri bergumam tanpa ekspresi wajah. Ia menatap kosong Kilauan lampu yang berada di balik gorden itu. Pikiran terbagi memikirkan banyak hal bahkan perhelatan pernikahan beberapa bulan lalu ikut terlibat membuat dadanya sesak.
Sekarang aku dan Sky akan berpisah. Sebentar lagi.
Tanpa sadar air mata membasahi bola matanya. Suri menutupnya rapat. "Jangan menangis Suri. Jangan menangis."
Biarkan ini terjadi. Mungkin aku bisa bahagia seperti dulu. Membesarkan kamu tanpa Sky di sisiku.
Dalam keheningan malam Suri terisak seperti biasa sembari mendekap erat perutnya seakan meminta pegangan kepada si janin yang masih berbentuk gumpalan darah itu.
"Papa, Suri rindu."
.
Langkah kaki berirama lembut mendekati kamar tamu di mana Suri berada di dalamnya.
Satu dari mereka membuka pintu kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu. Lalu keduanya masuk dengan hati-hati.
"Nona Suri sudah tidur!" bisik satu pelayan yang membawa nampan berisi potongan buah-buahan segar yang tadi dirinya janjikan.
Temannya mengangguk di ambang pintu kamar sebagai jawaban.
Tak...Nampan di letakkan di atas meja.
Si pelayan berjalan mundur perlahan tak ingin menimbulkan suara.
"Ayo kita keluar. Jangan sampai Nona Suri mendengar suara kita."
Keduanya berjalan keluar kamar dengan mengendap-endap. Menutup pintu setelahnya begitu pelan.
"Ayo kita matikan semua lampu." usul satu pelayan yang di jawab anggukan dari temannya.
Keduanya mulai mematikan beberapa saklar di bantu beberapa pelayan lainnya mengingat waktu sudah mulai larut. Itu artinya mereka akan beristirahat memulihkan tenaga yang terkuras setiap harinya.
.
Sementara itu. Di dalam pesawat.
Nyonya Rose terlelap di samping Tristan yang masih terjaga. Dirinya melamun seorang diri. Wajahnya yang lesu tak bisa berbohong kalau otaknya terus memikirkan berbagai hal.
Tak jauh dari mereka lima orang ajudan beristirahat dengan tenang tanpa melihat si tuan muda terjaga sendirian.
Tristan menghela napas cukup dalam. Melirik sang Mama dengan ekor mata di barengi senyuman hambar.
Dalam benaknya Tristan berucap.
Tristan tidak akan mengecewakan Mama. Walaupun nantinya Tristan harus bersikap seperti Sky. Tapi Mama harus tau ini adalah Tristan yang sebenarnya. Maafkan Tristan karena harus melakukan ini.
Mimik wajah Tristan berubah menjadi garang dan dingin.
"Peramal itu salah! Semua ucapannya tentang ku dan hidup ku meleset! Kau tak tau siapa aku dan bagaimana aku sekarang!" bibirnya menyuarakan Kalimat yang mana tidak akan ada yang mendengar suara tanpa nada itu. Yang terlihat hanya wajah dingin dan kepalan tangan.
"Tuan?"
Dari arah belakang kursi satu sosok pria berjas menyadarkan Tristan.
Tristan menoleh untuk sesaat. "Katakan."
"Semua sudah beres."
Tristan mengukir senyum merekah.
.
Di depan gerbang.
Para penjaga ketar-ketir mana kala rombongan mobil bertengger di ambang gerbang.
"Itu tuan Sky? Apa yang harus kita lakukan?" seru para penjaga ketika klakson terus di gempur.
"Buka!" teriak Sky tak sabar.
Penjaga di depan gerbang saling tatap.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Haruskah kita memberi tau Nyonya besar!"
Sebelum penjaga itu menghubungi Nyonya Rose. Sky keluar dari dalam mobil dengan wajah garang dan tubuh yang sempoyongan.
"Buka! Atau aku bunuh kalian semua!"
Berhasil! Gerbang di buka. Deretan mobil masuk kedalam rumah tanpa ada yang mencegah. Bahkan ancaman yang menakutkan yang di arahkan kepada para penjaga membuat mereka menunduk takut. Salah satu ancamannya adalah tidak memberi tau Nyonya Rose dan Tristan kalau Sky datang ke mansion.
Sky meneguk air mineral terlebih dahulu. Matanya menatap nanar jendela kamar yang mana menampakan Kilauan lampu.
"Suri."
Lalu Sky keluar dengan pengawalan.
Di dalam mansion semua pelayan yang tengah beristirahat lari tunggang-langgang setelah mendapatkan informasi bahwa Sky datang ke mansion padahal malam semakin larut. Mereka berbaris dengan keadaan tubuh yang lemah dan mata sayu.
"Selamat datang Tuan Sky." Para pelayan membungkuk hormat ketika Sky terlihat.
"Kalian masih menyambut ku rupanya."
Sky berjalan melewati para pelayan yang berjajar. Menelisik area mansion yang megah.
"Apa Suri sudah tidur?"
Para pelayan saling tatap kebingungan. Pesan yang di berikan Nyonya Rose tak bisa di bantah.
"Jaga Suri. Jangan sampai Sky mengganggunya. Awasi mansion dan beri tau segera kalau Sky datang dengan niat tidak baik."
Kepala pelayan mendekat penuh keputusasaan. Berdiri di hadapan Sky yang menakutkan. Aura yang selama ini tenang kini sirna berganti menjadi menyeramkan seperti dulu di mana Sky masih tinggal di mansion.
Pria cukup tua itu membungkuk. "Apa yang anda butuhkan Tuan? Saya siap melayani Anda."
Sky menatap dingin si kepala pelayan itu.
"Bisakah kau menyingkirkan dari hadapanku?" ucapnya tegas.
Tubuh si kepala pelayan menciut saja rasanya. Tapi dirinya berusaha tenang.
"Maafkan saya tuan. Kami di minta Nyonya besar untuk menjaga Nona Suri."
Kepala pelayan segara menghadang. "Maafkan saya tuan."
Sky naik pitam dengan sikap si kepala pelayan.
"Aku bisa saja membunuhmu saat ini juga, tapi aku sedang mabuk! dan aku lelah. Menyingkir dan enyah-lah."
Ajudan yang mengawal Sky maju untuk menjadi perisai. Menghalangi si kepala pelayan yang diam di tempatnya.
Tanpa memikirkan peringatan. Sky membuka pintu kamar membawa wajah berseri dan penuh semangat.
Hati-hati Sky menutup pintu kamar. Dirinya bertingkah layaknya maling yang akan mencuri.
Setelah masuk. Sky melangkah menghampiri ranjang. Di mana Suri tengah terlelap dalam tidurnya.
Sky tersenyum meremehkan. Kepalanya sedikit miring mengikuti kemana tubuh Suri berada.
"Dalam keadaan tidur pun kamu selalu cantik Suri." ucapnya penuh kekaguman.
Cukup lama Sky berdiri di ambang ranjang. Lalu Sky mundur perlahan. Ia masuk kedalam kamar mandi dan sibuk di sana.
.
Di luar kamar. Kepala pelayan berusaha berbicara dengan para ajudan.
"Pikirkan kalau Nyonya besar tau hal ini."
"Tuan Sky yang berkuasa jadi di mana kau memihak?" jawab salah satu ajudan begitu galak.
Kepala pelayan menghela napas berat. Ia melirik pintu kamar yang kini tertutup rapat. Memikirkan apa yang sedang terjadi di dalam.
"Bagaimana kalau Tuan Sky menyakiti Nona Suri?" ucap si kepala pelayan lirih.
Para ajudan terdiam. Mereka bukan tidak perduli tapi Sky akan melakukan apa saja kepada mereka yang berani menghalangi. Kepergian Nyonya Rose dan Tristan ke lain negara adalah kesempatan emas yang tidak bisa di siakan.
.
__ADS_1
Sky sudah nampak segar. Dirinya membuka jas dan membiarkan kemeja hitamnya dengan kancing di bagian atas terbuka memperlihatkan dadanya yang putih tanpa noda. Berjalan menghampiri ranjang dengan rambut sedikit basah.
Matanya tak lepas dari Suri yang masih terlelap tanpa menyadari keberadaan dirinya di sana.
"Suri, ini aku suami mu." gumam Sky. Ia segera naik ke atas ranjang penuh kehati-hatian, menyibak selimut lalu masuk kedalamnya.
Dengan tidak waras Sky mengendus aroma tubuh Suri. "Kau selalu wangi." Katanya. Terus mengendus aroma tubuh Suri sampai tangannya mengelus rambut dan pipi Suri.
Merasa geli. Tubuh Suri menggeliat tapi Sky tak sadar. Suri terus menggeliat di susul kelopak mata yang terbuka.
Siapa.
Suri segera menoleh kearah sosok pria yang membelai pipinya. Alangkah terkejutnya Suri Melihat Sky berada di samping tubuhnya.
"Sky? Apa yang kamu lakukan?" Suri yang masih terkejut langsung mendorong Sky.
Sky tersenyum penuh ketenangan walaupun Suri sudah mendorong tubuhnya.
"Keluar! Aku bilang keluar." Suri berteriak sambil meringsek mundur untuk turun sari ranjang.
Sky tak tinggal diam Dirinya lekas menarik tangan Suri dan menindihnya.
Sssuuuu. "Jangan berteriak. Ini sudah malam." Sky menarik kedua tangan Suri menyimpannya di atas kepala sang istri.
Suri mencaci dengan tatapan mata. "Kau monster! Selamanya kau akan tetap menjadi monster!"
Hahahaha..."Aku seperti ini karena dirimu! Ingat satu hal kau adalah milik ku."
Dan Sky melancarkan aksinya. Setiap aktivitas menyenangkan itu Suri berteriak.
.
Semua orang yang ada di luar kamar mendengar jelas suara teriakan Suri yang menyayat hati.
"Kalian dengar itu? Apa kalian mendengarnya?" sentak kepala pelayan.
"Tuan Sky masih suaminya Nona Suri bukan? Jadi anda diam saja."
.
Hiks...hiks...."Sky lepaskan aku. Lepaskan aku! Hiks...hiks...."
Sky tak mendengar. Dirinya sudah di kuasai nafsu yang mana tak ada belas kasihan atas rengekan dan tangis Suri. Di bawah kekuasaan Suri mengerang keras.
"Aaaaaaaa....Skyyy!" Suri menjerit hebat. Benda keras yang sudah lama tak di rasakan kini menembus dan merobek lapisan kulit kenyal di sana.
Sky mendesah berat menelusuri inci tubuh Suri yang polos. Baju piyama di robeknya dengan membabi buta. Kewarasan Sky bukan hanya di kuasai nafsu semata tapi minuman keras juga ikut berperan sampai Suri menjadi pelampiasan.
"Tolong aku Hiks....hiks.... tolong-
Bibir Suri di kunci segera dengan bibir Sky yang basah dan hangat.
"Diam." kata Sky lembut.
Hiks...hiks..."Sakit.. hiks... hiks...Jangan sakit Anak ku Sky. aku mohon.. Hiks..."
Sky bukannya menurut dirinya terus menggempur pertahanan Suri yang memabukkan.
Malam yang di inginkan Sky terus berlanjut. Di luar kamar penjaga dan kepala pelayan masih betah berdiri tanpa ingin pergi. Mereka berusaha acuh dengan suara ******* dan teriakan yang di barengi tangisan dari Suri tapi naluri mereka meminta untuk tetap diam di tempat.
.
"Ah..ah...ah..." Sky mendesah. sedangkan Suri sunyi sepi.
Sky yang sibuk maju mundur. Terkesima manakala di area bawah terasa lebih hangat.
"Suri apa kamu-"
Sky mengira Suri mengompol. Untuk memastikan ia mengangkat tubuh. Menengok kearah bawah. Matanya yang sedikit kabur karena masih di kuasai pengaruh minuman keras itu memfokuskan perhatian di mana ada warna merah di alat kelaminnnya.
"Darah!" pikir Sky. Dia dengan terpaksa melepas sang junior dan menatap Suri.
"Suri? ada darah?"
Tapi Suri tak merespon. Matanya terpejam rapat.
__ADS_1
"Suri? Suri? ada darah?"