
Waktu yang di janjikan Suri untuk mempertemukan Sky dengan Queen putri mereka tiba.
Suri dan Queen turun dari pesawat yang membawa mereka tanpa di temani Nyonya Nena, Nyonya Luna tak bisa di tinggal adalah alasan utama. Mengharukan Suri pergi berdua saja dengan Queen. Tanpa merasakan takut atau gelisah Suri melenggang mengandeng sang putri menuju mobil hitam yang ada di ujung jalan bandara.
Kedua penjaga ku akan menjemput kalian. Mobil hitam ku, ku pastikan berada di sebrang jalan.
Pesan Sky ketika waktu sudah semakin dekat untuk Suri kembali ke negaranya.
Sky tak nampak di sana. Hanya ada dua pria bertubuh tinggi yang Suri lihat.
'Aku akan menjemputmu dan putriku.'
'Tidak, aku tidak menginginkan itu. Tunggu kami di rumah utama'.
Suri mengingat potongan percakapan via email dengan Sky sembari berjalan bersama Queen.
"Itu mobilnya?" terheran Suri manakala dua pria berjas hitam menghampirinya. Kesan tegas terlihat dari wajah mereka yang kaku. Tapi wajah mereka tak asing lagi bagi Suri.
"Nona Suri!" sapa salah satu pria sembari membungkuk di ikuti temannya.
Suri hanya menatap datar dengan pemandangan di depannya.
Perlakuan ini tak asing bagiku.Tapi itu dulu, Sekarang aku merasa aneh.
"Mom!" Queen menarik tangan Suri yang di genggamannya. sehingga Suri menolah ke arah sang putri.
Suri menundukkan kepala. Menatap Queen dengan senyuman manis. "Mereka orang baik sayang, kamu tidak usah khawatir."
"Di mana Papa?" tanya Queen setengah merengek. Seingatnya, ketika teman-temannya bersama ayah mereka. Mereka akan mendapatkan pelukan atau kecupan.
Suri tersenyum samar. Sedikit membungkukkan tubuh supaya bisa sejajar dengan Queen.
"Ada? " jawab Suri.
Queen celingukan. "Di mana?"
"Kita ikut om-om itu dulu ya sayang, nanti Queen bisa ketemu Papa."
Queen menatap kedua pria di depannya penuh tanya. Tapi gadis mungil itu hanya mengangguk saja tanpa bertanya lagi.
"Mari Nona." satu pria itu bergegas menarik koper yang di bawa Suri.
"Tidak usah, biar-
"Ini sudah tugas saya Nona, mohon anda mengerti." katanya, seakan meminta Suri untuk patuh.
Akhirnya Suri membiarkan kopernya di bawa kedua pria utusan Sky.
"Mari Nona!"
Suri dan Queen berjalan terlebih dahulu. Dirinya mengenang masa-masa itu. Masa di mana menjadi Nyonya muda Batara yang di hormati.
Kedua penjaga yang berjalan di belakang Suri dan Queen menatap Queen dalam tugas mereka. Memperhatikan bagaimana gadis mungil itu. Sekilas tadi mata mereka melihat wajah Queen, cantik dan persisi seperti tuan muda mereka. Tak salah lagi ini adalah putri tuan Sky, pikir mereka.
Dalam langkah yang di penuhi kebimbangan. Suri memerhatikan sekitar bandara. Menelisik apakah nanti dirinya sanggup bertemu kembali dengan keluarga Barata dan Sky.
Apa yang aku pikirkan? lakukan saja, jangan kecewakan Queen yang sudah sangat antusias bertemu dengan Papanya. Suri, tenangkan diri dan hatimu. Tujuan mu hanya untuk mempertemukan Queen saja. Hanya itu.
Suri bergumam dalam hati. Menarik napas dan berusaha tenang sampai mereka masuk kedalam mobil dan meninggalkan bandara.
Queen yang sedari awal antusias kini terlelap di pangkuan ibunya. Gadis kecil itu melewatkan pemandangan kota sang ibu yang indah nan moderen.
"Selamat datang Nona, maaf tadi kami lupa menyambut Anda dan putri Anda." ucap salah satu penjaga sebagai kata pembuka mengingat keadaan terasa canggung.
Suri menatap sekilas pemilik suara sembari tersenyum tipis. "Saya merasa aneh bisa kembali menginjakkan kaki di kota ini."
Sudah empat tahun melarikan diri dan memilih tinggal di kota orang membuat Suri terheran-heran lagi merasa aneh. Hatinya yang dulu di penuhi rasa takut kini berubah menjadi perasaan bahagia. Seakan tidak percaya bisa kembali datang ke kotanya. Seolah hatinya sudah berdamai dengan masa itu.
Satu pria yang tengah mengemudi melirik ke arah Queen yang terlelap lewat kaca spion di atas kepalanya.
"Nona? Apakah itu putri tuan Sky?" tanyanya dengan wajah kaku takut salah berbicara, dirinya tau kalau Suri akan datang membawa seseorang yang sudah di pastikan bahwa itu adalah putri tuanya. Hanya saja hatinya ingin menyakinkan walaupun itu terdengar lancang.
"Maafkan saya Nona, kalau ucapan saya membuat Anda tak nyaman." sambungnya tidak enak.
Suri tersenyum sembari mengangguk. "Tak apa," Suri menyahut sambil mengusap kepala Queen yang di kepang dan sedikit berantakan.
"Iya, gadis cantik ini adalah putri Sky."
Kedua penjaga mengangguk lega. Sepertinya Suri tidak mempermasalahkan prihal pertanyaan yang baru saja di lontarkan.
"Keluarga Barata sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anda dan putri anda Nona, Terutama-
"Terutama!" sambung Suri, menatap belakang tubuh kedua penjaga yang ada di depan kemudi.
"Tuan Sky, Nona." ucapnya tanpa keraguan.
.
Itu benar, Sky terlihat sangat antusias, dirinya yang tampan berdiri tak tenang di depan teras. Sedari tadi melihat dan bertanya kepada para penjaga gerbang, apakah sudah ada tanda-tanda mobil hitam itu datang. Gelengan kepala yang disertai wajah ketakutan melintasi matanya. sungguh melelahkan untuk menunggu.
"Kenapa mereka lama sekali?" Sky bergumam sendiri, terus berjalan bak setrikaan dengan mata mengarah ke halaman. Tak tenang jelas di perlihatkan Sky yang terkenal semena-mena itu.
Dari dalam rumah, Tristan berjalan menghampiri membawa senyuman seakan menertawakan bagaimana adiknya bertingkah.
Terlihat Tristan sudah bisa hidup normal, berjalan dengan kedua kaki tanpa bantuan kursi roda yang awalnya disertai kepura-puraan.
"Sky? Apa yang kamu lakukan?" tanya Tristan santai, padahal dirinya sudah sangat ingin tertawa sekencang-kencangnya. Tapi sepertinya itu bukan ide yang baik.
Sky menoleh kearah sang kakak sekilas.
"Tidak ada?" sahutnya asal, jelas itu membuat Tristan tertawa kecil.
Tristan menepuk pundak Sky. Memintanya untuk tidak mondar-mandir lagi.
Sky menghela napas berat, wajahnya nampak gugup. "Apa terlihat jelas?"
Yang di maksud Sky adalah. Apakah dirinya terlihat gugup dan tak bisa santai.
__ADS_1
Tristan terpaksa mengangguk.
"Tenangkan dirimu, mereka akan sampai. mungkin sebentar lagi." seru Tristan guna menenangkan Sky yang tengah di landa kepanikan. "Masuklah, tunggu mereka di dalam saja." sambung Tristan sembari menarik tangan Sky.
"Tapi-
"Sudahlah, menunggu di dalam saja." Tristan menarik tangan Sky. Menyeretnya masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan bagaimana Sky yang melawan.
.
Di ruang tengah, Nyonya Rose duduk bersama Dokter Kamla yang mana sebentar lagi akan menjadi menantunya. Tampak nyaman Nyonya Rose berbincang dengan Dokter Kamla.
Salah satunya perbincangan tentang Suri yang akan datang membawa putri Sky. Pewaris tahta Barata Company.
"Seperti apa wajahnya? Rasanya seperti mimpi." gumam Nyonya Rose berhias senyuman penuh rasa bahagia.
Satu Minggu yang lalu, Sky datang ke mansion membawa kabar yang amat menghebohkan. Bagaimana tidak, Suri yang menghilang kini muncul membawa kabar gembira, Sky mengatakan Suri akan kembali ke negaranya bersama sang cucu yang di nanti. Hari itu Nyonya Rose seperti bunga layu yang di sinari air hujan. Kabar kedatangan Suri dan cucunya sungguh membuatnya segar kembali.
Dokter Kamla mengangguk saja, sebenarnya di lubuk hati terdalamnya menyimpan perasaan takut dan tertekan. Rasa bersalah sebenarnya lebih mendominasi. Tapi Nyonya Rose memberikan maaf atas rahasia itu, sungguh Nyonya besar yang berhati mulia.
Sejujurnya aku merasa beruntung bisa bertemu keluarga Barata, kebaikan dan ketulusan Nyonya besar atas kesalahan ku malah membuat aku malu, malu karena Nyonya besar mau memberiku maaf. Kamla, jangan lagi kecewakan keluarga Barata. Cukup Sky saja yang membencimu.
Diam-diam Nyonya Rose memperhatikan bagaimana Dokter Kamla yang melamun. Tanpa menegur. Tangan lembut Nyonya Rose menarik dan mengusap pergelangan tangan si calon menantu.
"Kenapa Nak?" tanya Nyonya Rose.
Jelas Dokter Kamla tersentak. "Tante." serunya berbarengan dengan gelengan kepala.
Nyonya Rose tersenyum. Mengerti apa yang tengah di pikiran wanita muda di depan matanya.
"Kalau yang saat ini Nak Kamla pikiran adalah Sky, Tante berharap Nak Kamla bisa kuat, mungkin benar Sky marah karena nak Kamla tidak jujur pada awalnya. Tapi Tante mengerti, mari berharap Sky bisa membuka pikirannya dan bisa berdamai dengan keadaan. Jujur, Tante tidak bisa membujuk anak itu. Sebenarnya tidak ada yang bisa membujuknya kecuali Suri! Tapi itu dulu, sekarang keadaannya berbeda. Sky malah semakin jauh dari kami." wajah cantik yang tadi berbunga kini nampak layu kembali.
Dokter Kamla merenung, karenanya Nyonya besar di Landa kesedihan.
Kamla apa yang kamu lakukan.
"Tidak Tante, saya sudah siap menerima semua akibatnya, Tante jangan sedih lagi. Saya percaya Sky akan mengerti, tidak sekarang mungkin nanti. Saya akan baik-baik saja. Karena saya tidak sendiri, ada Tante dan Tristan, saya akan menebus kesalahan saya."
Nyonya Rose mengangguk penuh rasa haru. Memeluk erat tubuh Dokter Kamla yang mana berusaha kuat.
"Tidak salah Tante memilih kamu Nak."
"Terimakasih, Tante."
"Kak."
"Ayo Sky."
Sayup-sayup terdengar suara ribut dari depan. Pelukan penuh haru disudahi.
"Ada apa ini? Loh Kak? Kenapa kamu tarik-tarik tangan adikmu?" terheran Nyonya Rose, melihat Tristan menyeret Sky bak anak kecil yang nakal.
Sky menghempas tangan Tristan dengan wajah ketus.
Dokter Kamla menunduk takut. Sky memberinya tatapan tajam yang cukup mengintimidasi. Terlihat jelas kehadiran dokter Kamla masih belum di terima Sky sepertinya.
Nyonya Rose dan Dokter Kamla menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang di ungkapkan Tristan.
Yang di bicarakan hanya duduk diam. Wajahnya di tekuk karena malu sudah tertangkap basah.
Dalam diamnya. Sky menatap ketiga orang yang duduk di depannya. Aneh rasanya, hatinya menjadi damai, tentram. Mungkin kah benar, Sky sudah berdamai dengan keadaan?
"Tenangkan dirimu Sky, mereka sebentar lagi sampai."
Seperti yang di ucapkan Nyonya Rose, mobil hitam melenggang masuk kedalam mansion. Melewati para penjaga yang berjajar sambil membungkuk hormat.
Suri yang terjaga celingukan memperhatikan sekitar mansion yang masih tetap sama. Jantung berdebar kencang, tenggorokan tiba-tiba terasa kerontang, tangannya yang berkeringat mencari botol air mineral. Air putih di teguk nya, meminumnya sampai habis tak bersisa.
Astaga, aku seperti mimpi rasanya bisa melihat rumah ini lagi.
Batinnya bergumam. tiba-tiba mengingat masa-masa itu. Masa dirinya menjadi bagian keluarga Barata yang terhormat.
Kedua penjaga turun bersamaan. Mundur perlahan untuk membuka pintu mobil.
"Nona."
Suri tersentak melihat penjaga membuka pintu mobil.
"Mari Nona!" ajak si penjaga.
Suri mengangguk kikuk. Setelahnya mengusap pipi Queen.
"Queen, bangun sayang."
Mata Queen yang terpejam nikmat perlahan terbuka. Memandang Suri yang tersenyum kepadanya.
"Mom."
"Kita sudah sampai."
.
"Nyonya, Tuan Sky."
Suara pelayan menarik perhatian mereka yang mana tengah berkumpul di ruang tengah.
"Kenapa?" tanya Nyonya Rose.
Si pelayan mengatur napas. Tangan terangkat mengarah kebagian pintu utama. "Nona Suri sudah sampai."
Sky segera bangkit. Jantung berdebar amat kencang. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas.
Nyonya Rose tersenyum sumringah. Bangkit lalu berjalan mengandeng Sky yang mematung.
"Sky, ayo kita sambut mereka."
Sky tak memberi respon apapun. Dirinya berjalan seperti mayat hidup saja. Di belakang Tristan mengikuti bersama Dokter Kamla.
__ADS_1
Dokter Kamla menunduk tanpa kata. Perasaan bersalah dan bimbang menguasai dirinya.
Tristan yang ada di samping tubuhnya mengusap kepala sang calon istri.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Dokter Kamla menoleh.
"Ada apa?" sekali lagi Tristan bertanya.
Dokter Kamla menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa." elak Dokter Kamla yang mana langsung merubah ekspresi wajahnya.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan, hanya saja aku tidak akan bertanya lebih dalam. Lupakan itu untuk sekarang, Suri dan keponakanku menunggu di depan."
Dokter Kamla mengangguk. "Maafkan aku."
.
Apakah benar itu dirimu Suri, rasanya seperti mimpi aku bisa bertemu dan melihat mu lagi. Apalagi putri kita datang bersamamu.
Sky kalut dalam batinnya. Melupakan langkah yang semakin dekat dengan pintu utama.
Pintu utama yang besar di pandang Suri. Queen celingukan memperhatikan sekitar mansion yang luar biasa besar lagi mewah. gadis kecil itu menganga dalam diam, menggenggam tangan Suri kuat. Sampai Suri menunduk menatap tangannya yang di genggaman sang putri..
"Sayang, semua baik-baik saja?" tanya Suri.
"Mom, benar Papa tinggal di gedung ini?" Queen balik bertanya begitu polosnya.
Suri mengangguk. "Kenapa? Apa Queen merasa tidak nyaman?"
Queen menggelengkan kepala. "Gedung ini besar sekali."
"Itu benar, rumah ini besar sekali."
Dulu aku pun berpikir seperti itu, rumah ini seperti istana bagiku. Dan mungkin itu yang saat ini Queen pikirkan.
Gumam batin Suri dengan wajah sendu. Merasa belum bisa membuat putri kecilnya bahagia selama ini.
Di saat bersamaan. Langkah Nyonya Rose yang berjalan bersama Sky melewati pintu utama. Pandangan tertuju pada dua makhluk Tuhan yang tengah berdiri saling berpegangan tangan.
"Ya Tuhan." decit Nyonya Rose, tak percaya melihat Suri dan gadis cantik di sampingnya.
"Suri!" panggil Nyonya Rose,
Suri menoleh begitupun Queen.
"Mama?"
Nyonya Rose segera berlari.
Suri yang sudah berlinang air mata. Melangkah bersama Queen..
"Syukurlah Nak, Mama masih bisa melihat kamu." Nyonya Rose memeluk Suri dan Queen. Wanita paruh baya itu menangis sejadinya merasa bahagia melihat Suri datang.
"Cucuku." kini Nyonya Rose beralih memeluk Queen, mengecupnya secara serakah.
"Namanya Queen, Ma." Suri bersuara dengan mengusap linangan air mata.
"Queen cucuku. Kamu cantik sekali sayang."
Queen menangis, merasa bahagia karena bisa melihat sang nenek yang selama ini di ceritakan Suri ibunya.
Tristan dan Dokter Kamla menghampiri Suri lalu bergantian memeluk Suri.
"Apa kabar Suri?" tanya Tristan di saat pelukan.
"Suri baik Kak, Kakak sudah bisa berjalan sekarang?" Suri nampak tak percaya dengan Tristan yang kini berdiri kokoh tanpa kursi rodanya.
Tristan memperlihatkan dirinya yang kini berdiri dengan sedikit kesombongan. "Seperti inilah sekarang." katanya bangga di barengi tawa..
Suri dan dokter Kamla ikut tertawa, sampai keduanya berpelukan juga.
"Apa kabar dokter?"
"Aku baik Nona Suri, anda apa kabar?" tanya balik Dokter Kamla.
"Aku baik."
Di ambang pintu utama ada seseorang yang bahkan untuk melangkah pun rasanya berat. Hanya kedua mata dan bibir yang berekspresi saja.
Suri dan Queen sama-sama melirik kearah si pria tampan yang mana Queen dan Suri tersenyum.
"Papa?" ucap Queen, Kakinya berlari meninggalkan sang nenek dan pamannya.
Queen berteriak lagi. "Papa!"
Sky merentangkan kedua tangan. Menyambut sang putri.
Hap.. Queen mendarat di tubuh Sky yang harum.
"Papa, Queen rindu." Queen menangis tersedu di dalam pelukan Sky. Sosok ayah yang bahkan belum pernah di kenalnya kini ada dalam pelukan. Mungkin ini mimpi yang menjadi kenyataan bagi Queen.
Sky yang masih tak percaya memeluk erat buah hatinya tanpa membuka suara.
Dari kejauhan, Nyonya Rose dan Tristan ikut menangis. Ibu dan anak itu mengingat bagaimana selama ini Sky yang kehilangan arah. Hidupnya tertekan dan penuh penyesalan, Perjuangan untuk bangkit terasa sulit. Sampai akhirnya penantian ini datang dan menerangi hidup Sky.
Nyonya Rose menarik tangan Suri. "Terimakasih Suri, kamu sudah membawa kebahagiaan untuk Sky. Mama ucapkan terimakasih."
Suri mengangguk dengan linangan air mata. "Maafkan Suri, ma, selama ini Suri sudah menghilang dan tidak memberi kabar apapun tentang Queen."
Nyonya Rose menggelengkan kepala. "Mama mengerti,"
"Pa, Queen sangat merindukan Papa."
Sky mengusap air matanya sebelum menatap sang putri.
"Papa juga sangat merindukan kamu, putriku."
__ADS_1