
Tok...tok..tok..
Para pelayan kabin mengetuk satu persatu pintu kamar para mahasiswa yang mana tengah beristirahat setelah makan malam dan berpesta di kamar mereka masing-masing.
"Nona Suri dan Nona Melodi menghilang!"
Semua mahasiswa dan mahasiswi menganga tak percaya setelah mendapat kabar itu.
Saat ini mereka tengah berkumpul di lantai tiga kapal pesiar. Saling berdekatan satu sama lain mengingat udara semakin dingin.
Tamara tak hentinya menangis di dalam pelukan Lolita dan kedua sahabatnya. Sedangkan yang lain hanya terdiam tanpa bisa bersuara. Mereka ketakutan manakala Sky dan Jason tengah bersiap-siap untuk pergi mencari Suri dan Melodi.
Keputusan yang di ambil adalah, Sky dan Jason di bantu dua awak kapal akan turun menggunakan speedboat yang memang sudah di sediakan di kapal pesiar.
Tak ada waktu bagi Sky untuk berpikir, mengingat lautan tengah dalam kondisi tenang. Pasti itu akan memudahkan mencari keberadaan Istrinya. Berharap perahu karet yang membawa keduanya masih berada tidak jauh dari tubuh Kapal pesiar. Walaupun kemungkinan kecil. Semua area bodi kapal sudah di telusuri dan tak ada tanda-tanda perahu karet itu.
Tuhan, bantu aku menemukan istriku.
Sky berdoa dalam hati penuh harap. Bersiap-siap untuk turun dari kapal pesiar.
Jason yang bersedia membantu mencari Suri dan Melodi, sudah mendarat terlebih dahulu di atas Speedboat bersama satu awak kapal. Jason menunggu Sky yang tengah bersiap-siap turun.
Jason menahan hawa dingin yang menusuk tulangnya. Mantel yang di pakai tak mampu menghalangi sejuknya udara dingin mematikan itu. Suhu saat ini Mines 26 Celcius. Suhu yang mampu membuat peredaran darah menjadi beku. Beruntung mereka mengenakan pakaian hangat.
Daren sendiri di minta Sky untuk mengawasi para mahasiswa dan membantu dosen. Daren tak menolak karena dirinya juga tidak ingin pergi ke tengah lautan mengingat bagaimana dinginnya cuaca di tengah malam itu. Daren bukan pengecut tapi lebih baik menjaga para mahasiswa dari pada harus turun ke bawah sana.
Sky perlahan-lahan turun menggunakan tali yang di khususkan untuk keadaan darurat,
Para mahasiswa mendekati bibir kapal tak terkecuali Daren.
Mata mereka menyaksikan bagaimana Speedboat membawa Sky dan Jason.
"Semoga Melodi bisa di temukan!" Tamara dan ketiga teman wanitanya berdoa bersama di ikuti para mahasiswa yang lain.
Daren yang mendengar doa mereka berdecak kesal.
"Kalian hanya mendoakan Melodi! Cih... Suri juga hilang bersama Melodi! Seharusnya kalian juga mendoakan dia!" Seru Daren marah. Berlalu pergi meninggalkan para mahasiswa membawa wajah ketus.
.
.
Speedboat melaju membelah lautan memercikan air asin yang bersuhu dingin.
Sky, Jason, dan satu awak kapal memperhatikan dengan seksama hamparan laut yang nampak sunyi lagi gelap. Berharap perahu karet yang membawa Suri dan Melodi tidak jauh dari mereka..
Tapi Entah mengapa. Tidak ada tanda-tanda benda berwarna merah itu.
"Di mana kalian!" Gumam Jason penuh ke khawatiran. Sesekali melirik Sky yang ada di depannya.
Sky tak mengenal lelah. Matanya terus berkeliaran bebas mencari sang istri yang saat ini entah ada di mana.
"Suriiii!" Sky berteriak. "Surii!" Berteriak lagi.
"Suriii!" Jason ikut berteriak. Meletakan kedua tangan di permukaan mulut guna mengumpulkan suara lebih nyaring.
"Surii!" Sky dan Jason terus memanggil nama Suri di tengah gelapnya lautan.
Speedboat itu terus melaju meninggalkan kapal pesiar.
__ADS_1
"Di mana mereka!" Kata Sky lirih. Terus menatap lautan yang nampak kosong.
Tiba-tiba Speedboat berhenti melaju.
Sky yang asik mencari keberadaan istrinya melirik si awak kapal dengan wajah memerah.
"Apa yang kau lakukan? Hidupkan lagi cepat." Bentak Sky. Berjalan menghampiri si awak kapal yang bertugas mengendalikan benda mengapung itu.
Mencengkram erat mantelnya. "Mau ku bunuh kau, hah?"
Jason dan satu awak kapal lainnya segera menarik tubuh Sky.
"Sky, hentikan." Pinta Jason.
"Tuan Sky, jarak kita terlalu jauh dengan kapal pesiar. Kita akan tersesat kalau terus-
"Aku tidak perduli!" Sky menyeret di pria ketakutan itu ke bibir speedboat bersiap menceburkan dirinya.
"Tuan jangan, ampuni saya." Kata si pria malang itu.
"Sky, dia benar! Kalau kita terus maju kita akan terseret. Kalau kita tersesat, Kita tidak akan berhasil menemukan Suri." Jason menarik tubuh si awak kapal dan mendorong Sky agar menjauhi bibir speedboat.
"Kita harus berpikir jernih. Tenangkan dirimu!" Jason mendudukkan Sky. Memberikan air untuk menenangkan kemarahan sang sahabat.
Sky meneguk air itu sampai habis. matanya yang memerah menatap Jason dingin.
"Istriku berada di tengah lautan! Bisa kamu bayangkan bagaimana posisiku saat ini?" Sky sedikit mendorong tubuh Jason sampai Jason tersungkur.
Jason menghela napas panjang. Mengangguk pelan kearah Sky.
"Dia akan baik-baik saja. Percaya padaku. Setelah matahari terbit kita akan langsung mencari Suri lagi."
Pada akhirnya Sky tidak bisa melawan. Dirinya pasrah ketika speedboat kembali berbalik.
.
.
Perahu yang membawa mereka terombang-ambing di tengah lautan yang entah akan mendaratkan mereka di mana.
.
Matahari mulai terbit di tengah lautan.
Suara deburan ombak dan air laut yang memercik dengan semangat menyentuh tubuh Suri dan Melodi.
Tubuh Melodi mulai bergerak di dalam dekapan Suri. Mengendus aroma rambut yang menumpuk di atas permukaan hidungnya. Spontan menjulurkan lidah. Mengecap rasa asin yang menjijikkan.
"Asin!" Kata Melodi pelan. Tanpa sadar Melodi terus mengecap rambut Suri. Rasa asin membuatnya sedikit nyaman.
Suri sendiri mulai membuka mata yang terasa berat. Mengerang ketika kepalanya tiba-tiba nyeri. Suri belum sepenuhnya sadar.
"Argh.. Kepalaku!"
Suri mengerang hebat yang mana membuat mata Melodi terbuka juga.
Mata keduanya beradu. Sama-sama terdiam dengan kedipan mata cepat.
"Kau!" Seru Melodi. Sedikit melirik area yang terlihat asing.
__ADS_1
"Melodi, kenapa kamu tidur di ranjang ku?" Suri balik bertanya. Perlahan-lahan meregangkan tubuhnya. Buru-buru menyingkirkan tangan yang sedari malam melingkar di tubuh Melodi.
Melodi juga bergegas menyingkirkan tangannya dari tubuh Suri.
"Kenapa-" Melodi terdiam sesaat.
Suri mematung tanpa kata. Matanya berkeliling melihat-lihat sekitar.
"Di mana kamarku?" Suri celingukan.
Melodi masih sibuk melamun. Mencoba mengingat kejadian semalam.
'Ayo turun!'
'Kasian dia sendirian!'
Beberapa potongan kejadian semalam memenuhi otak keduanya. Melongo bersama tanpa bisa bergerak. Sampai tiba di mana Dinginnya air laut menerjang tubuh mereka.
Di rasa ingat, Suri dan Melodi saling tatap membawa wajah murung.
Sama-sama menggelengkan kepala cepat.
"Aaaaaaaaaaa...."
Suri dan melodi berteriak ketakutan. Tanpa sadar saling menjauhi diri masing-masing.
"Semalam!" Seru Suri. Menutup mulut saking terkejutnya.
Bagaimana bisa dirinya melompat dari atas kapal pesiar yang mana dirinya tidak bisa berenang. Dan sekarang entah ada di mana.
"Kau! Suri, kita di mana?" Melodi mulai menangis. Kebingungan sekaligus takut. Karena berada di tempat yang asing. Tak ada kapal pesiar sejauh mata memandang.
"Kita ada di mana?" Tanya Melodi lagi.
Di depan mereka ada pantai kecil yang di kelilingi pohon kelapa. Tanaman di sekitarnya nampak lebat terlihat. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Terasa menyeramkan. Yang terdengar hanya suara deburan ombak yang tenang.
"Kau bertanya padaku? Aku juga tidak tau kita ada di mana? Semalam kita mabuk!"
"Suri, aku takut..Hiks...hiks ...hiks ..Aku takut.." Melodi menjadi lemah. Dirinya menarik Suri. Ia genggam tangan musuhnya itu erat.
"Kita harus berpikir jernih agar bisa pulang." Suri menenangkan Melodi, walaupun di lubuk hatinya. Ia juga merasakan takut teramat besar.
Kedua wanita muda itu menatap sekitar pulau yang asing dengan wajah ketakutan.
"Suri, kita pulang aja! Aku takut." Melodi merengek bak anak kecil.
Suri mengangguk.
"Kita pulang saja! Ini sepertinya pulau yang tak berpenghuni!"
Mendengar itu Melodi semakin merapatkan tubuhnya.
"Ayo, Suri!"
Keduanya berbalik bersamaan.
Melongo tak percaya melihat hamparan laut yang indah.
"Bagaimana caranya kita pulang?" Kata Melodi lemas.
__ADS_1
Suri menjawab tak kalah lemas.
"Aku tidak tau."