
Sky menatap datar Dokter Kamla yang tengah duduk di hadapannya. Melirik dengan wajah penuh tanya lagi dingin.
Selepas sarapan Sky mengajak Dokter Kamla untuk duduk di ruang tamu tanpa memberi tahu Tristan dan Nyonya Rose. Bagi Sky kedatangan Dokter Kamla bukan untuk menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya Tuan Diki sang papa melainkan ada hal lain. Sky menyakini itu ketika Dokter Kamla di tanya apa ini ada hubungannya dengan Suri? Kepala menunduk Dokter Kamla mengangguk membenarkan.
Sky masih enggan bertanya kepada Dokter Kamla prihal kedatangannya sepagi buta dan di waktu yang tidak tepat.
Dokter Kamla yang sibuk menunduk tanpa tau harus berbuat apa. Dengan gugup membuka tas yang di bawa. Ia mengeluarkan satu buah map berwarna merah muda.
Sky menatapnya lekat apa yang di lakukan Dokter Kamla.
"Apa itu?" Suara Sky memacah keheningan. Pandangan tertuju pada lembaran kertas merah muda yang tersimpan di atas meja.
"Itu milik Nona Suri. Tuan." jawab Dokter Kamla ragu-ragu. Tubuhnya meringkuk di tempat duduknya. Mendengar suara Sky yang datar seakan mencekiknya padahal Sky hanya bertanya.
"Milik Suri?" tanya Sky lagi. Padahal dirinya sudah menebak maksud kedatangan Dokter Kamla.
Dokter Kamla mengangguk membenarkan. "Saya ingin mengatakan yang sebenarnya Tuan!"
Sky menarik satu alisnya sembari menyambar map milik Suri yang mana seingatnya sudah ia lihat bersama keluarga. Ada mending Tuan Diki Waktu itu. Semua masih terekam jelas di ingatan. Tapi sekarang Dokter Kamla datang dengan map yang lain. Ini jelas ada yang tidak beres pikir Sky.
Sky mulai membuka map. Membacanya dengan wajah tenang. Hati-hati menelisik setiap angka di sana sampai menjadi kalimat yang mampu menyentak batin.
"Saya ingin meminta maaf kepada anda dan keluarga, saya sudah merahasiakan ini dari anda."
Penjelasan dokter Kamla sama sekali tak di hiraukan Sky. Dirinya sibuk membaca setiap kalimat yang ada di kertas putih itu. Tangan Sky yang bergetar menghempas map hingga isinya tercecer ke sembarang setelahnya.
"Omong kosong!" bentak Sky menggelegar. Para pelayan yang mendengar menghentikan pekerjaan saking terkejutnya.
Dokter Kamla yang jelas ada di sana lebih terkejut lagi. Tubuhnya yang kaku kini bergetar hebat.
"Jadi dia hamil! dan kalian merahasiakan ini dari ku dan keluarga ku?" Sky bangkit. Suaranya memekik. Ia menatap tajam dokter Kamla yang asik menunduk dengan tangisan. Napasnya bergemuruh merasakan marah teramat besar.
"Maafkan saya Tuan! ini semua-
"Penjaga!" Sky berteriak memanggil penjaga tanpa memberduli Dokter Kamla yang memohon ampun di kakinya.
Salah satu pelayan tidak jauh dari kejadian berinisiatif menaiki lift untuk memberi tahu Nyonya Rose.
Ia berlari untuk mendekati kamar Nyonya Rose. Sesampainya di lantai atas si pelayan langsung mendekati daun pintu kamar sang majikan.
Tok...tok...Tok...."Nyonya!"
.
Tak lama pintu kamar yang di maksud terbuka.
Nyonya Rose menyembul dari balik pintu kamar yang mana selalu tertutup lima hari terakhir ini.
Si pelayan membungkuk hormat. Menunduk takut tanpa ingin menatap wajah pecat Nyonya Rose.
"Ada apa?" tanya Nyonya Rose tak berselera.
"Itu Nyonya!"
__ADS_1
.
Hiks...hiks...."Ampun Tuan! Ampuni saya." Dokter Kamla tetap memohon di akhir perjuangannya. Para penjaga yang berjumlah tiga orang memaksanya keluar mansion.
Sky acuh. Dirinya sibuk dengan kemarahan yang memuncak. Rahangnya mengeras terlihat dan siap mengajar dokter Kamla kalau dia laki-laki mungkin Dokter Kamla sudah terbaring dengan luka atau terkapar tak bernyawa. Tapi Sky berusaha mengontrol emosinya itu. Saat ini pikirannya tertuju pada Suri yang tak ada di sana.
"Aku butuh penjelasan!" Sky melenggang pergi meninggalkan Dokter Kamla yang masih meraung.
Sky melangkah untuk menaiki lift di sana ada Nyonya Rose.
"Sky ada apa?" tanya Nyonya Rose khawatir. Wajahnya yang masih sembab membuat Sky luluh. Kemarahannya hilang seketika.
"Tidak ada apa-apa Ma,"
Sky merangkul sang Mama untuk masuk kembali kedalam lift. Sky merasa Mamanya tidak perlu tau akan hal ini. Tentang Suri yang hamil.
Aku harus memastikan ini sebelum mengambil keputusan.
.
Sementara itu. Suri baru saja turun dari dalam mobil bersama Nyonya Nena. Keduanya menatap nanar bangunan dengan pasien di luarnya.
"Ayo sayang." ajak Nyonya Nena sembari merentangkan tangannya ke arah Suri.
Suri mengangguk. Keduanya berjalan masuk melewati para kerumunan manusia yang bertingkah layaknya anak kecil.
Di dalam kamar yang sama. Suri dan Nyonya Nena berdiri di belakang tubuh wanita. Wanita itu menunduk dengan rambut sedikit kusut.
Suri terisak bersama Nyonya Nena. Tak tau harus berbuat apa melihat keadaan yang ada.
"Sayang!" Nyonya Nena mengelus punggung Suri meminta untuk melangkah.
Suri melangkah pelan menghampiri sang Mama yang diam saja bak patung itu.
"Suri tidak pernah seberat ini menemui Mama. hiks..hiks..." Tangannya yang bergetar mengelus punggung tangan Nyonya Luna menumpahkan segala kesedihan yang mendera.
Nyonya Nena menyusul. Ia terkesiap ambruk di samping Suri yang menangis.
"Kak, kami datang. Hiks...hiks...Segeralah sembuh kak..Hiks...hiks...Suri membutuhkan kamu. hiks... hiks...." tangis Nyonya Nena pecah di sana.
Nyonya Luna yang melamun mengedipkan mata. Mengangkat kepala. Bergantian melirik dua wanita beda usia itu kosong.
"Suri! Nena!"
Suri dan Nyonya Nena mengangguk dengan linangan air mata.
"Iya Ma. ini Suri! Hiks..."
"Kak." Nyonya Nena tersenyum bahagia mendengar suara sang kakak yang kini memanggil namanya.
Nyonya Luna lantas tersenyum. "Apa kalian tidak membawa putri kecilku?
Seketika Suri dan Nyonya Nena menangis. Melihat tak ada perubahan atas kesembuhan Nyonya Luna.
__ADS_1
Bagaimana Suri memberi tahu Mama kalau Papa sudah pergi.
Melihat sang Mama tidak bisa di ajak bicara Suri dan Nyonya Nena mengurungkan niatnya untuk memberi kabar tentang meninggalkannya Tuan Chris.
Kunjungan yang sudah di pastikan di penuhi air mata itu berakhir. Suri mengajak Nyonya Nena untuk pulang karena tak kuasa melihat keadaan Nyonya Luna yang semakin memburuk saja.
.
Mobil yang membawa Suri dan Nyonya Nena terhenti di ambang gerbang rumah.
Pak supir menoleh ke belakang.
"Maaf Nyonya sepertinya ada tamu!" kata pak Supri.
Suri dan Nyonya Nena menoleh ke luar jendela mobil. Benar saja ada tiga mobil di pekarangan rumah. Salah satu mobil yang terparkir di sana Suri mengenalnya.
"Sky!" pikir Suri. Tanpa sadar bibirnya tertarik. Kedatangan Sky sedikit meringankan kesedihan yang terus menerus menghantui pikirannya.
Tanpa menunggu mobil masuk Suri berlari di susul Nyonya Nena.
"Sky!" Suri berteriak di sepanjang jalan. Ingin segera memeluk Sky suami tampannya..
Sudah lima hari berpisah dan itu sangat menyiksa. Tak ada kabar membuat rindu menggelembung di hati Suri.
.
Di dalam rumah.
Sky duduk angkuh tanpa meminta izin si pemilik rumah. Tak masalah lagi pula ini rumah istrinya.
Lamanya menunggu bersama dua laki-laki dan satu perempuan. Pelayan di rumah orang tua Suri berkata.
"Nona Suri sudah tiba Tuan," laporan si pelayan membuat Sky menyunggingkan senyum dingin.
Benar adanya. Suri masuk kedalam rumah dengan langkah cepat.
"Sky!" Suri tersenyum sumringah. Merentangkan tangan siap menghampiri Sky di sana.
"Stop!" pinta Sky datar.
Suri mematung segera di dekat Sky. Tawanya yang lepas perlahan memudar.
Di tengah kebingungan dan rasa malu. Suri melirik tiga orang lainnya. Matanya yang sembab membulat ketika melihat sosok dokter Kamla di sana.
"Dokter Kamla!" Suri tak percaya. Dirinya mundur perlahan setelah menyadari keberadaan Dokter Kamla.
Dokter Kamla menunduk. Tak kuasa mengangkat kepala atau sekedar menatap Suri sekilas.
Maafkan saya Nona.
Sky bangkit. Melangkah menghampiri Suri yang mematung membawa wajah bengis.
Jelas Suri ketakutan. Tubuhnya meringkuk karena bingung apalagi Sky mendekati telinganya dan berbisik.
__ADS_1
"Pembunuh!"