
"Saya permisi, Nona." Si pelayan membungkuk di ambang pintu kamar. Undur diri tanpa bisa mengangkat kepala. Berjalan meninggalkan area kamar Sky bersama para pelayan lain.
Raut wajah si pelayan terlihat murung. Mungkin merasa malu setelah kejadian tadi.
Kenapa aku mengatakan itu.
'Nona, haruskan kami menemani anda!'
Kalimat yang mampu membuat bibirnya kering.
Pelayan yang mengekor di belakang tubuh si kepala pelayan saling pukul sembari menahan tawa. Merasa lucu dengan apa yang di lakukannya.
.
"Memangnya aku anak kecil harus di temani segala." Gumam Suri bernada jengkel. Berjalan cepat, naik ke atas ranjang setelah mengunci pintu kamar. Duduk di samping Sky yang masih menutup mata. Dengan sadar mengambil wadah berisi air hangat dan handuk kecil untuk mengompres.
Sebelum itu Suri meletakan tangan di kening Sky. Mengecek apa panasnya masih belum turun juga.
"Panas!" Kata Suri khawatir. Kemudian meraih kotak obat dimana termometer digital ada di sana.
Suri langsung menghidupkan alat pendeteksi suhu itu. Meletakkannya di ketiak Sky dengan hati-hati. Sambil menunggu Suri membersihkan luka lebam di wajah Sky. Suri begitu cekatan merawat Sky yang masih belum sadar.
Tit...tit... Suara termometer berbunyi.
Suri menariknya pelan. Menatap angka di depannya.
39.
Gumamnya tak percaya. Itu suhu panas yang lumayan tinggi.
Suri terus mengompres Sky. Mengabaikan dirinya yang juga terluka dan waktu.
Pukul 04 dini hari. Suri masih terjaga. Cekatan mengompres Sky.
Suri dapat tersenyum lega ketika suhu tubuh Sky berangsur turun.
Suri mengompres, Suri mengecek suhu tubuh Sky. Terus berulang sampai matahari mulai menyingsing.
Dalam keadaan setengah mengantuk Suri tak hentinya merawat Sky. Kepala ia tahan di kedua lutut yang sengaja ia jadikan penahan. Sering sekali kepala Suri oleng karena terlalu mengantuk. Menguap mungkin sudah ratusan sampai tak dapat di hitung banyaknya.
Tanpa sadar kepalanya terjatuh tepat di pundak Sky dengan satu tangan menempel di kening Sky, menekan handuk berisi air hangat itu.
Aku lelah.
Matanya perlahan tertutup, dan Suri akhirnya tertidur pulas. Pemandangan yang luar biasa bagi siapa saja yang melihatnya.
.
.
Di rumah sakit.
Daren membuka mata, segera bangkit dari tidurnya. Melangkah menghampiri ranjang perawatan di mana Jason terbaring di sana.
Ia tersenyum kecut. Melakukan peregangan otot yang terasa kaku.
Setelah itu Daren menepuk pundak Jason. Tak ada respon. Daren mengguncang tubun Jason.
"Jason! Aku pergi!" Kata Daren.
"Mmm.." Jason mulai membuka mata. Merasa terganggu dengan suara sang sahabat. Menatap Daren yang ada di samping ranjang.
"Aku pulang, ya!" Lagi Daren pamit.
Jason yang sudah merasa lebih baik. Malah menyibak selimut. Segera turun dari ranjang perawatan. Dan mengangguk.
"Aku ikut? Aku juga sudah selesai menginap di sini!" Sahut Jason tanpa melihat wajah datar Daren.
"Kenapa aku bisa berteman dengan kalian!" Daren menggerutu. Tatapan matanya seolah mencibir Jason dan Sky.
Tapi Jason acuh.
"Bisa kita pergi! Aku-
__ADS_1
Tiba-tiba Jason terdiam! Matanya berkeliaran tak karuan.
Melihat itu Daren mengerutkan kening. Merasa aneh dengan tingkah Jason.
"Apa?" Tanya Daren penasaran.
Jason menggelengkan kepala cepat. Terus mengerang dan mencaci diri sendiri.
"Sial! Sial!"
"Tidak bicara, aku hajar kamu!" Seru Daren marah. Perut laparnya datang menyapa. Tapi kini wajah Jason yang murung membuatnya kebingungan.
Jason menepuk pundak Daren. Menatapnya lekat.
"My Black Feng!" Seru Jason lemas.
Daren seketika menghela napas.
Yang di maksud Jason adalah mobil hitamnya.
Si mobil hitam yang sekarang namanya terungkap. Tengah sendirian di arena balap. Bodynya terselimuti embun pagi yang dingin.
Membuat Jason berlari segera.
"Tunggu aku." Jason berlari keluar ruang perawatan meninggalkan Daren sendirian.
"Dia benar-benar gila!"
.
.
Para pelayan kembali lagi turun. Pintu kamar Sky masih di kunci menandakan penghuninya masih terlelap.
Semalam Suri berpesan. Kepada para pelayan terkhusus ketiga pelayan wanita yang bertugas membantu pasangan suami istri itu bersiap.
'Jangan masuk kalau kami belum bangun!'
Sementara para pelayan sibuk di luar kamar.
Suri masih terlelap di pundak Sky. Saking mengantuk. Mulut Suri sampai menganga. Mengeluarkan suara sedikit bising.
Krrroookkk....Kroookkkk..
Tubuh Sky mulai bergerak. Di susul kelopak mata yang mengerjap berat.
Suara merdu Suri membuat Sky menoleh. Meringis karena pundaknya terasa kaku dan kebas. Suri sudah menjadikan pundaknya bantal.
Dia tidur.
Pikir Sky. Mengangkat kepala perlahan. Melirik Suri yang tertidur dengan mulut terbuka.
Sky tersenyum datar. Merasa lucu dengan wajah Suri.
Sky meraba keningnya. Bersentuhan langsung dengan tangan Suri yang tengah menahan handuk.
Sky baru sadar kalau dirinya pasti demam. Apalagi melihat ada handuk sedikit basah dan beberapa obat yang berserakan di atas meja.
Apa dia sudah merawat ku?
Tanya batin Sky. Menatap Suri lekat dengan jantung berdebar-debar.
.
.
Tit....tit....tit...
Klakson mobil berdering nyaring.
Para pelayan bergegas membuka gerbang utama. Membungkuk ketika mobil itu masuk.
Mobil berhenti cepat. Para pelayan langsung membuka pintu mobil.
__ADS_1
Membungkuk hormat. "Selamat datang Nyonya-
"Bagaimana keadaan Sky? Apa dia masih demam?"
"Kenapa kalian semua tidak langsung memberi tahu saya!"
Kalian pikir kalian siapa?"
"Di mana, Sky?"
"Mana, Suri?"
"Apa Dokter sudah datang?"
Rentetan pertanyaan dari Nyonya Rose membuat para pelayan ketar-ketir. Terus mengekor di belakangnya.
Tuan Diki dan Tristan tertinggal jauh di belakang sang Nyonya besar.
Mereka di hubungi kepala pelayan sekitar jam 5 dini hari. Jarak dari rumah dan letak hotel Tuan Diki tidak terlalu jauh. Jadi esok paginya langsung meluncur pulang.
Sky tidak pernah sakit! Tidak pernah. Dan sekarang Sky demam! Astaga.
Suri tidak bisa menjaga Sky. Kehadiran Suri malah membuat Sky dalam bahaya. Bagaimana bisa setelah bersama Suri, Sky sakit! Sky tidak pernah sakit.
Nyonya Rose terus berbicara tentang Suri di sepanjang jalan. Membuat Tuan Diki dan Tristan hanya mampu mendengarkan tanpa bisa menjawab semua ocehan sang Nyonya besar.
"Pa, Mungkin Sakitnya Sky adalah awal yang baik!" Kata Tristan. Menoleh kearah sang ayah yang senantiasa mendampingi.
Mungkin Sky sakit untuk membuang semua energi negatif dalam hidupnya. Suri adalah gadis yang tepat untuk Sky. Aku bisa melihat bagaimana Suri memperlakukan Sky.
Batin Tristan yakin. Selama tiga Minggu terakhir. Suri sudah tahan menerima perlakuan buruk Sky. Secara tidak langsung menjadi pawang untuk seorang Sky.
Ketika Sky kalap. Suri dengan mudah meredakan emosi Sky.
Tristan mengingat betul. Tristan mungkin cuek dan terlihat tak perduli. Tapi dirinya senantiasa mengawasi gerak-gerik pasangan muda itu.
Tuan Diki mengusap keningnya. Menghela napas berat.
"Semoga saja."
.
Di kamar.
Sky mulai berasa tak nyaman. Tubuhnya yang memar kembali perih walaupun demamnya sudah tamat.
Ragu-ragu Sky mengguncang tubuh Suri.
"Suri! Bangun. Suri!"
Suri yang kelelahan malah mengalungkan tangannya ke leher Sky. alih-alih membuka mata.
Sky menghela napas pelan.
"Bagaimana-
Brak....Suara pintu di buka paksa terdengar.
Si pelayan bertubuh kekar mendobrak pintu kamar Sky! Astaga..
Nyonya Rose berdiri di ambang pintu.
"Sky-
"Mama!" Seru Sky. Terkejut ketika sang Mama masuk dengan cara memalukan.
Nyonya Rose langsung menutup mata dan berbalik.
"Astaga. Mereka-
Suri yang masih bermanja di alam mimpi langsung bangun. Bangkit dari tidurnya dan menatap asal kamar dengan mata setengah terpejam.
"Maling! Mana maling!" Suri bersuara lantang. Tanpa tau apa yang terjadi di sana.
__ADS_1