Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Lemotnya istri gw


__ADS_3

"Ka, di sana ada yang mengetuk." menunjuk sebelah kaca.


"Heuuump. Seseorang siapa Cla?" lirih Fandi. berlaga bego masih menatap bibir Clara.


Terlihat tipis bibir itu membuat Fandi salfok dan tergoda. "Kenapa gue baru nyadar kalau Clara punya bibir yang tipis dan seksi." batin bergejolak.


Clara menjelaskan jika pesanan telah selesai, dan menoleh ke arah belakang mobil. Terlihat satu mobil yang menabrak menatap dengan cemas.


"Gimana ka Fandi temuin orang yang nabrak, Aku ambil pesanan ke mas nya!"


Heuuuumph! Dengan cekatan Clara membuka kaca mobil di samping Fandi. Melewati punggung Fandi. Dengan gercep menoleh akan sisi belakang baju Clara yang naik. Tak terasa gundukan itu mengenai dada Fandi.


"Stop Cla. Kamu lebih baik diam aja, biar ka Fandi selesaikan. Kamu tunggu di dalam!"


Fandi menghela nafas. Saat turun mengambil pesanan, setelah itu seorang pria menatapnya.


"Mas, saya minta maaf. Apa perlu saya bawa ke bengkel sekarang?" Fandi pun memberi pilihan selama sepuluh menit. Ia pun kini tak lagi mempermasalahkan, alasan tak sengaja. Lalu kembali masuk ke mobil. Hal utama Fandi adalah malas berdebat dan merelakan mobilnya ke gores dan penyok di bagian belakangan.


"Udah selesai ka ?"


"Heeeumph. Maunya belum Ya. Sekarang jemput si Kremi dimana Cla?"


"Eeeit. Ya elah kak. Mereka temen cowo aku paling baik, punya nama kak. Kenapa di panggil Kremi. Nih Ya. Clara jelasin nama mereka itu satu persatu biar kaka kenal. KEAN, REIN, MISEL. Mereka tuh cowok paling kocak dan Namanya sih yang paling oke. Itu namanya mereka. Kakak hafal kan sekarang?"


"Heum. Keren tapi gayanya kayak setan kunti nempel di tubuh pria Cla."


Hihiiii.. kakak bener bener deh, Ada aja sikapnya bikin aku ketawa. Masa selalu permasalahin ini itu terus, Aku jadi yakin kalau Oma jodohin Clara karna suka tipe cowok ngatur kaya kak Fandi yang selalu bawelin Cla.


"Suka suka deh Cla. Jadi yang bener ke kiri apa ke kanan rumahnya?"


"Bentar ka, Clara lupa soalnya gangnya banyak banget bikin Clara amnesia."


TUT .. TUT .. TUT .. TAT .. TIT .. TUT .. DERING TOMBOL PONSEL.


"Cla, bisa ga sih nada ponsel kamu di silent. Ga perlu ampe orang denger, Itu terlalu full nada tombolnya. Norak banget di dengarnya!"


"Aaiikh.. Ka Fandi Bawel deh. Ini tuh sengaja Clara bunyiin Seru aja, soalnya bikin orang yang denger jadi liatin Clara. Terbuktikan ka Fandi liatin Cla terus. Udah tunggu bentar Ya. Clara hubungi temen Cla dulu. Ngejawab pertanyaan ka Fandi bikin Cla lupa mau hubungi siapa tadi!" Berfikir keras menatap kaca mobil.


FANDI HANYA MEMUTAR BOLA MATA. MENDENGUS NAFAS KESAL DAN MENGETUK SETIR MOBIL DAN MENATAP ARAH JALAN.

__ADS_1


NgEeeuuung ... Sriiith!!


Fandi memutar mobil, ia menjalankan dan melaju dengan kecepatan tinggi. Clara yang tekejut menepuk punggung Fandi untuk berhenti.


"Ka, kenapa jalan tanpa Cla kasih tau, Clara belum tersambung sama temen Clara si Kean, Rein, Misel. Gimana sih ka Fandi nyebelin deh. Putar balik lagi ke arah sana!" menunjuk dengan sebal.


"Heuum. Turun dari mobil ka Fandi!"


"Owh. Jadi gini ka Fandi nyuruh Clara turun dari mobil, Jalan sendiri ke arah sana. Terus ngusir Clara. Cla tau ka Fandi kesel kan nganter Clara terus, Tapi... "


"Sssst.. Udah bawel. Noh liat Temen Kremi kamu udah di depan Jalan. Turun cepetan!"


Clara menoleh kesamping, ia salah sangka dan ternyata ka Fandi memutar mobil karna temennya udah di depan TK B. Alias Toko Kelontong Banjir. Entah apa nama kedai di namai itu, tapi emang Rame dan banyak pengunjung berjejer. Atau mungkin toko itu selalu ramai karna sering banjir. Hahaaaha.


PRUUUGH !!


Clara menutup pintu mobil, ia melambai tangan pada ketiga temannya itu yang lagi antri. Tapi si Misel lagi sibuk hubungi seseorang. Terbukti dia lagi bergerutu komat kamit kesel dan menghentak kaki.


"Lo kok di sini, Gimana sih katanya nunggu depan rumah?" tutur Clara.


"Emang lo ga keder, jalan ke kost kita tuh meliuk banyak gang sempit. Kan gue udah Wa nunggu di TK B." bubuh Kean.


"Jieeeh. Sama aja dong." imbuh Clara.


Clara mengecek paket kuota. Bener saja kuotanya sekarat dan tercetak tulisan. Kuota anda sekarat tersisa 0 Mb. Silahkan Transfusi dari kuota tetangga. Atau Tethering Wifi dari Saudara jika punya. Wakakakakakakak.


Sial, Ni operator ngetawain gue pas habis Data. Benak Clara termanyun sebal. Menatap tajam pada temannya itu yang sedikit Melirik ke arah ponsel Clara. Tapi Clara sembunyikan di tengah keteknya dan menutup dengan jari lentiknya.


"Eeeekh. Ia nih, beneran deh pantes aja tadi gue Nelpon lo Misel, ga nyambung nyambung." teriaknya.


"Biasa aja kali, ga pake toa kalau ngomong!" Misel memegang kuping dan di tiup tiup.


Clara hanya menatap tiga temannya itu memutar mata kesal, ia menatap Misel seperti orang depresi masih menatap layar ponsel.


"Kenapa lo Misel. Ada masalah?" tanya Clara.


"Itu, Si Fani kan janjian. Dia bawa ongkos gue yang selembar lembarnya. Kesel tau gak akh. Dia bilang mau nukerin duit receh gue. Taunya dia main pergi gitu aja. Kan gue udah bilang itu selembar lembarnya." gerutu Misel muka melas pada Clara.


Clara pun memanyunkan ketika mendapat penjelasan. Ia ikut mengantri dan penasaran dengan toko kelontong yang antri berjejer di hadapannya itu.

__ADS_1


"Kean, sini gue cobain. Itu punya elo ya?"


"Punya Rein juga ini. Gue udah antri Ciien. Setengah jam lho. Elo kalau mau, ngantri gih!"


Clara dengan cepat mengambil kelontong dan Es kuwut milik Rein dan Kean. Lalu ia memberi tiga lembar uang kertas merah ke temannya itu.


"Udah Ya. Gue cabut duluan. Flashdisk nya gue coba copy dan cek dulu. Elo antri lagi gih. Byeeee... Cowok. Gue cabut duluan!"


Tiga temen Clara hanya menohok bengong. Pasalnya mereka menunggu makanan dan es minuman mereka itu belum sempat makan saat di kantin. Karna tanggal tua mereka mengantri dan menunggu, melihat mereka yang melirik kembali antrian panjang dari awal membuat wajah mereka lusuh dan depresi akut tingkat dewa.


"Gue capek bin pegel, si Clara songong amat mentang banyak duit. Main ambil gitu aja, kasian cacing perut gue udah meronta menari tarik usus besar, usus kecil gue nih." ucap Rein.


"Udah sini, uangnya gue pegang. Kita makan di Warteg aja. Jalan lima kilo anggap aja olahraga sore!" ucap Misel.


Misel yang mata duitan, melihat tiga lembar merah dari Clara, ditangan Kean langsung mengambilnya. Sementara Rein memanyunkan karna masih mau makan Di Kelontong Banjir. Alhasil mereka hanya mengekor karna tak sanggup mengantri kembali.


****


Clara masuk kedalam mobil. Ia terkejut melihat Fandi yang tertidur di setir mobil. Clara yang menyeruput Es Kuwut langsung terpana menatap wajah Fandi yang mulus dan putih. Bahkan ia saja kesal karna Wajah Fandi begitu licin. Terlihat wajah Fandi yang Cool saat melepas kacamatanya itu. Karna ini pertama kali Clara menatap Fandi tanpa memakai kacamata plusnya.


"Kok, gue baru nyadar kalau ka Fandi tuh ganteng ya." benak Clara mengintip lirik dari sebuah kaca mobil.


Clara mendekatkan wajahnya berusaha membangunkan Fandi. Tapi saat sejengkal ingin meneriaki ke kuping Fandi. Tiba saja Fandi dengan kilat bangun. Sehingga tatapan mereka saling menatap dengan bibir yang saling menyentuh dengan kepala yang sedikit miring.


"Eeeiiits.. Ga salah itu. Pengantin Cipo*an di dalam mobil. Mana tuh kaca mobil tereng bendereng lagi." tutur Kean.


.


.


.


Fandi : Kenapa jadi kaya gini. Kan jadi bikin gw On lagi kalau terus terusan di bikin Teransang.


Author : Ya anggap aja latihan, biar lo jadi cowo normal. Hahahaha kabur Cyiin.


Readers : Lah dia berantem🤔😂.


Lanjut Kagak Nih !!

__ADS_1


__ADS_2