Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
INGATAN CLARA


__ADS_3

Bimbangnya hati Clara, saat kejadian kebakaran toko. Membuat Clara bertemu Fandi dan ditenangi oleh Arumi.


"Sebentar lagi ka Gilang dalam perjalanan, kita pulang ya Cla!"


Sementara Clara berusaha berdiri, ia merengkuh dan menatap Fandi yang membuat rasa sakit hatinya semakin memuncak belum bisa melupakan.


"Kamu liat apa?" tanya Arumi.


"Aku ga mau lihat Fandi di dekat kita kak!" tajam Clara, sehingga Fandi memundurkan langkahnya. Lalu berkerumun untuk melihat kerugian toko kue Clara saat ini.


Di Rest Area Seaven!!


"Kamu masih belum lupain soal rumah sakit jiwa ya? bukannya Fandi juga ilang ingatan?"


"Bukan kak! Ada hal yang Clara ingat saat kisruh keluarga kita belum bangkrut. Saat toko Oma belum berpindah pada wanita pirang itu."


Clara menghela nafas, sehingga ia mengingat saat Arumi menyodorkan teh hangat lemon.


FLASHBACK DUA TAHUN LALU.


BERADA DI SWALAYAN.


Fandi menyuruh karyawan toko membungkus boneka yang ia pilih tadi. Sebenarnya Fandi memang sengaja membelinya untuk dia berikan kepada baby Ris, anak dari mantannya Elvira.


Meskipun sudah menjadi mantan dan Fandi sudah menikah, tetapi tak dapat dipungkiri kalau ia masih peduli pada wanita tersebut.


Tiap kali mantannya kenapa napa, Fandi selalu siap sedia untuknya. Segitu sayangnya ya dia pada wanita di masa lalunya? Itu benak Clara yang tau diri, kala Fandi masih mencintai wanita pirang itu.


Fandi seolah masih terjebak dalam segala kenangan mantan, meski Clara yakin atau tidak dia adalah anak dari Aries dahulu.


"Ini, Pak, belanjaan. Terima kasih sudah mampir di toko kami!"


Fandi menerima barangnya, menenteng dan berniat untuk membawanya pulang. Namun sebelum itu, dia pergi ke toko baju tempat di mana ia meninggalkan Clara.


'Aku istrimu, aku sedang hamil kemungkinan ka. Tapi kamu memilih Elvira dan berbohong bicara meeting.'


"Ke mana wanita itu? Ck. Meresahkan sekali dia."


Jelas-jelas di sini yang meresahkan adalah dia sendiri, bukannya menemani berbelanja, dia malah tega pergi mencari hadiah untuk anak mantannya.


Tak mau membuang waktu lebih lama di mall itu, Clara lantas melangkah untuk segera pergi.


Ia menghubungi tiga kremi dan Fana kala itu.

__ADS_1


Saat itu Clara sedang duduk santai di salah satu kursi tinggi. Siku tangan kanannya menumpu pada meja, sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk mengaduk minumannya.


"Kamu kenapa?"


Fana yang sejak tadi selalu menemani Clara berbelanja, kini mulai merasakan keanehan. Dia dapat melihat ada gelagat tak biasa dari Clara, seperti ada yang disembunyikan, dan temen baiknya itulah yang selalu mendengarkan curhatannya.


"Tidak apa apa." Clara menegakkan duduknya. Dia mengangkat gelasnya, kemudian mengarahkan sedotan itu ke bibirnya.


Perlahan Clara menyesap jus alpukat itu. Terasa dingin, manis, dan menyegarkan.


"Kalau wanita mengatakan 'tidak apa-apa', pasti artinya ada masalah."


Diletakkan minumannya kembali ke tempat semula. Kemudian Fana memandangi Clara yang duduk di hadapannya.


"Hem, kamu sangat berpengalaman ya soal cowok. Gue bingung sama ka Fandi?"


"Hahah, kenapa lagi sih Cla?" hingga Fana mendengarkan uneg uneg Clara.


Clara sebenarnya bingung ingin melakukan apalagi saat ini. Dia sudah lelah berjalan jalan di mall. Kalau dia pulang ke rumah, paling nanti akan ribut lagi dengan Fandi.


"Kenapa sampai sekarang kamu gak nikah?" Sampai pertanyaan absurd itu terlontar dari mulut Clara pada Fana.


Jarang sekali ada sesi obrolan panjang di antara mereka. Bahkan Fana merasa ini merupakan momentum yang langkah.


"Sebenarnya aku memang gak ada niatan buat nikah. Tau sendiri, cowok ga semua pandai bilang mau berkomitmen."


Clara tak terkejut lagi soal ini, karena ia memang pernah mendengar kabar dari Kavindra bahwa Rafi paling anti menjalin hubungan serius bernama pernikahan.


"Apa yang membuatmu gak mau nikah?"


"Tumben lo mau tau banget, udah kita bahas lagi soal mas KC ya! lagian kenapa sih, kamu ga minta penjelasan. Dan ketemu sama mbak pirang si Elvira itu!"


Ungkapan Fana, membuat ide bagi Clara. Hingga dimana ia terkejut akan sebuah masalah yang rumit. Dari perusahaan oma yang berpindah. Fandi yang kembali terang terangan pada Elvira. Belum lagi, ia dinyatakan hamil dan belum sempat mengungkapkan pada Fandi kala itu.


LAMUNAN ITU MEMBUAT ARUMI TERDIAM. KALA ADIK IPARNYA MENCERITAKAN SEMUANYA.


"Cla stop. Lebih baik jangan dibahas lagi." Arumi mencoba menghentikan Clara, agar tak terlalu membahas mengenai masa lalunya.


"Tapi aku ingin kamu tahu, kak. Jarang sekali aku menceritakan kisahku ke orang lain. Sepertinya kamu perempuan pertama yang tahu tentang kisah kelamku. Aku terlanjur sakit sama Fandi."


Cara Clara mengungkapkan semuanya, benar-benar menunjukkan betapa beratnya dia memendam hal ini sendirian.


Mendengar cerita tentang masa lalu Clara membuat Arumi mendapatkan sedikit petunjuk.

__ADS_1


"Berarti Fandi menjadi playboy semata mata sebagai pelarian, hilang ingatan saat itu apakah rekayasa? Namun lama kelamaan kebablasan, begitu?" ungkap Arumi pada adik iparnya itu.


"Tapi salah satu alasan terbesar kaka, ingin kamu sembuh adalah kamu Cla." tambah Arumi, ia meminta Clara ke psikiater karna trauma beratnya.


"Ha..?"


Tak peduli bagaimana sikap Fandi selama ini kepadanya, tapi Clara tak bisa menghilangkan lelaki itu dari dalam hatinya, meski rasa sakit itu benar benar terasa.


"Cla, kamu sudah menikah. Kakak serahkan semuanya, jika kamu mau menerima Fandi lagi atau tidak. Kakak dan Gilang ga akan ikut campur."


"Justru karna aku sudah menikah, aku ga mau kembali lagi kak." menatap Arumi.


"Lalu kenapa kalau kamu sudah menikah?"


Clara tak menjawab. Dia lantas berdiri. "Aku mau pulang sekarang kak."


"Kalau begitu biar aku yang antar. Ka Arumi, biar Fandi yang antar Clara."


"Tidak. Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."


Tanpa memaksa, Fandi membiarkan Clara pergi. Perempuan itu bergegas memesan taksi dengan menggunakan aplikasi di ponselnya.


Tak butuh waktu lama, mobil itu datang menjemputnya. Clara segera merebahkan diri di kursi belakang.


Sementara Arumi menatap Fandi, ia meminta Fandi untuk bersabar. Jika mau meluluhkan Clara yang masih remuk, maka ia harus berjuang jika ketulusan dan khilaf salahnya dahulu.


"Sudah banyak penderitaan Clara! aku harap kamu sabar Fand!"


"Ya kak, makasih ka Arumi. Ah iy! itu mobil Gilang datang, tapi mobil satu lagi. Siapa pria itu?" tanya Fandi, yang Arumi juga bingung.


"Tidak tau! kamu lebih baik kejar taksi Clara. Moge mu pasti bisa mengejarnya kan? mungkin itu klien Gilang." jelas Arumi.


Fandi senyum, ia segera pamit dan melambai pada Gilang yang berusaha menghampiri. Tapi pria tinggi berjenggot, Fandi merasa tak asing pernah melihatnya. Hingga tak peduli, ia segera bergegas pergi dan mengejar Clara.


To Be Continue!!


MAMPIR YUKS! KARYA NEW.


~ BAD WIFE ~


~ Story Halwa dan Zalwa ~


Kisah Clara mau author kejar biar cepat end Semoga besok bisa tiap hari meluncur dua sampai tiga bab ya!!

__ADS_1


Makasih Buat Suportnya.


__ADS_2