Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
PERNIKAHAN HANCUR


__ADS_3

Fani dan Rain sudah menjalin kasih selama satu tahun, karena tak ingin mendapatkan gunjingan terus menerus dari tetangga, akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, selain itu ia juga tak ingin dalam hubungan mereka dibilang seperti cicilan motor yang gak lunas lunas.


"Baiklah, Bu. Ayo, kita masuk." Rain melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah Fani.


Di sana juga sudah nampak Tomy dan juga Lita menyambut kedatangan calon menantunya. Saat kedatangan Rain dan keluarga, rumah yang tadi terdengar ada suara musik kini mendadak sepi hanya ada bisikan dari rombongan kedua keluarga.


Namun, tiba tiba terdengar suara seorang wanita membuat mereka menajamkan pendengarannya.


"Ahk! Sakit, Samsul! Bisakah kau pelan pelan melepaskan itumu!"


Suara itu bersumber dari kamar pengantin, tentu saja mereka semua tahu siapa pemilik suara itu.


Tomy mengusap tengkuknya, dan ingin segera melangkah menuju kamar pengantin, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, susulan suara lelaki membuat ia terhenti.


"Ini sudah pelan, Fan. Tadi aku sudah melepaskan sedikit tapi kau banyak gerak jadi masuk kembali."


"Ahk, Sam. Ngeluarinnya yang benar dong! Itu akan merusak milikku yang berharga!"


"Milikmu aja yang gak mau lepas dari milikku!"


"Tapi ini sungguh membuatku tak nyaman, segera lepaskan, Sam. Akh!"


Suara saling melempar kalimat membuat Rain memanas, tanpa ada komando ia bergegas masuk ke dalam kamar pengantin. Di saat itu juga, karena mendengar dobrakan pintu posisi Fani dan juga Samsudin sangat intim. Di mana Sam kini berada di atas tubuh Fani.


"Apa apaan ini?" tanya Rain dengan nada tinggi.


Sam yang tadi bersitatap dengan Fani, kini menoleh ke arah Rain. Hal itu sontak membuat Rain semakin meradang pasalnya pipi Sam terdapat gambar bibir Fani.


"Dasar murahan! Selama ini aku bahkan mengikuti ucapanmu dengan tidak menyentuhmu sama sekali kecuali pegangan tangan. Tapi apa sekarang yang kau lakukan, Fani?" Rain menatap Fani dengan horor.


Namun, ucapan Rain tak juga mengubah posisi Samsudin dan juga Fani yang syok. Hingga kedua keluarga ikut melihat kejadian itu.

__ADS_1


"Fani!" pekik Tomy dan Lita, ia adalah kedua orangtua Fani.


Kini Fani baru tersadar dengan posisinya, lalu mendorong tubuh Sam, membuat badan tegap itu terpental ke dinding.


"Mah, Pah, Rain! Ini semua tidak seperti yang kalian pikirkan. Tadi kancing baju Samsudin tersangkut dengan kebayaku, dia melepaskan kancingnya dan saat Rain masuk kami terkejut." Fani berlari menarik kebaya mencoba memberikan penjelasan dengan nada gugup.


"Alasan, kau! Aku kira kau gadis baik baik, nyatanya aku salah. Jika apa yang kau katakan itu benar, lihatlah wajah lelaki itu!" Perintah Rain dengan nada tinggi.


"Rain, itu tadi hanya ...."


"Hanya apa? Kesalahan atau ketidaksengajaan, alasan klasik Fan!"


Rain menarik napasnya dalam dalam, setelah ada jeda beberapa detik ia melanjutkan kalimatnya, "aku batalkan acara ini!"


Keluarga Fani nampak syok dengan ucapan Rain. Mereka sudah tidak bisa berkata kata lagi untuk membela sang putri, meskipun sang putri sudah memberikan penjelasan. Namun, keadaan yang menjadi bukti kongkrit.


"Tidak, Rain! Aku mencintaimu kita sudah merencanakan ini semua," tolak Fani.


"Tidak, Rain!" tolak Fani lagi.


Rain menghentikan langkahnya, lalu memutar balik tubuhnya dan berkata, "Kau harus mengembalikan uang yang sudah aku berikan dan sebagai kompensasi kau harus mengganti tiga kali lipat!"


"Apa?" ucap Rain dan keluarga serempak.


Seketika itu juga tubuh tua Tomy ambruk.


"Ayah!" entah mengapa, Fani duduk tersungkur.


Clara yang masih memegang nampan akibat melihat semua pernikahan teman baiknya itu batal. Membuat sesak dan bingung untuk membantu apalagi. Clara juga tak tau persis, apa yang terjadi antara Fani dan Samsudin. Jika saja ia tau dan tak meninggalkan Fani di kamar, mungkin bisa jadi saksi agar pernikahan itu tidak batal. Dan mungkin jika tadi Clara tak ambil nampan untuk beberapa buah, tidak mungkin kesalahpahaman terjadi.


"Hallo, ambulance. Tolong segera datang kebukit anggrek. Ya benar, pesan atas nama Clara!"

__ADS_1


Hal itu membuat Clara meminta Fana mengambil kursi roda. Meminta Fani untuk bersabar, menyiapkan segalanya agar semuanya tetap tenang.


"Fani, bantu ayahmu ke roda ini. Tante siapkan baju ya!" hal itu membuat Fani dan ibunya masih mode menangis terbantu.


"Fan, gue minta tolong ya. Umumin kalau resepsi ini batal." pinta Clara.


"Ya. Lo hati hati ya Cla. Dan lo Fani yang sabar, gue bakal nyusul nanti."


Clara tidak percaya dengan musibah yang baru saja terjadi pada temannya itu, impian berumah tangga kini sudah lenyap, sang ayah yang beberapa saat yang lalu memberikan nasehat, kini berada di ranjang rumah sakit, serangan jantung dadakan membuatnya harus dirawat secara intensif.


Clara masih melihat Fani yang duduk di ranjang pasein. Menemani sang ibu yang masih menangis disamping Fani. Sementara Clara menghubungi kak Arumi jika ia terlambat pulang.


Clara yang mampir ketoilet, ia mengantri. Dan tak sadar tangannya di tarik oleh seseorang. Sehingga membuat Clara bersitatap pada pria itu.


"Fandi, mau apa lagi sih? Tadi di nikahan, sekarang ikutin juga. Pergi gak!"


"Jangan berteriak, ini rumah sakit Cla. Aku temani kamu pulang!"


"Enggak, gak akan pernah."


"I Miss You Clara, maukah kamu menikah denganku?" bertengkuk duduk dan memberikan satu kotak cincin, memperlihatkan pada Clara.


Hal itu membuat tatapan beberapa yang hilir melewati jalan sedikit terganggu. Clara yang malu, dengan tatapan aneh orang lain. Membuat Clara berteriak Fandi untuk menghentikan.


"Pergi gak! Diri, jangan gila kamu lakuin ķaya gini terus!"


"Enggak mau, sebelum ambil ini!" senyum melirik satu kotak cincin.


Banyak tatapan tajam, membuat Clara mau tidak mau mengambil kotak cincin. Lalu bergeser menarik tangan Fandi kesuatu tempat.


"Apa mau kamu sih?" kesal Clara.

__ADS_1


To Be Continue!!


__ADS_2