
"Kamu ini gimana sih Clara, baru beberapa jam jadi menantu udah berkeliaran lama. Kamu tau, Ryan saat ini sedang membutuhkanmu. Tugas kamu itu sudah seharusnya ..?"
"Bu, udahlah. Ini rumah sakit, stop marah marahnya!" pinta pak Byakta.
"Maafin Clara bu, tadi ada sedikit masalah di parkiran. Soal mas Ryan gimana, udah membaikan?"
"Kamu harus tanggung jawab, Ryan butuh golongan darah AB+ stok darah kosong di rumah sakit ini, pak Byakta udah cari informasi. Tapi belum ada kabar, kamu tau Ryan seperti apa kan?" tegas bu Ratna.
"Bu, udah neken Claranya. Bukan kesalahan Clara semuanya, ibu harus bijak. Ingat ini rumah sakit, Clara sudah lama tinggal bersama kita, sudah ia pasti tau!"
Clara merasa lelah akan perdebatan, kedua mertuanya entah membela atau menyalahkan. Baginya memang Ryan kini kritis, karna ulahnya. Jika saja ia tak bertemu Fandi, dan memancing emosi. Mungkin saat ini, Ryan tidak akan berakhir di ruang rumah sakit. Entah setelah ini, jika Ryan siuman ia harus apa.
Tak lama dokter keluar. Saat Clara berada di balik punggung sang mertua. Clara harus merasakan jika raut wajah dokter seperti beban untuk mengatakan.
"Bagaimana dengan anak saya Dok?" tanya bu Ratna.
"Keluarga pasein, saat ini pasein telah melewati masa kritisnya. Untuk darah yang banyak keluar, sudah cukup untuk pasein memulihkan. Hanya saja, pasein tidak boleh mengalami syok. Karna ketersediaan golongan darah langka, di rumah sakit kami sangat terbatas. Jika saja pasein sedikit lambat, kami tidak tau. Kami harap keluarga bisa bekerja sama untuk membuat suasana pasein selalu tenang dan bahagia!" jelas dokter.
"Makasih ya dok, saya juga perlu tekanin sama menantu saya ini nih! Supaya tidak bebanin anak laki laki saya. Kamu ingat dan dengarkan Clara?" sinis bu Ratna.
Clara hanya menunduk, sementara pak Byaktla meminta Clara untuk lebih bersabar menghadapi ibu mertuanya. Ia tau, mungkin karna anak satu satunya hampir celaka karnanya, itu sudah kecerobohannya yang telah tau siapa Ryan Byakta.
"Baik Bu, Pak. Clara akan selalu ingat." deru batin Clara yang menyanyat hati.
Saat itu pun, Clara mengekor kala ibu mertua ikut keruangan dokter. Sementara pak Byakta mendonorkan darahnya untuk sewaktu waktu Ryan anaknya kembali membutuhkan.
__ADS_1
"Cla, kamu harus bersyukur karena keluarga kami mau menampung wanita sepertimu, bahkan kamu tidak diharapkan oleh keluargamu karna skandal kan, kamu tahu kenapa?" tanya bu Ratna. Clara hanya diam. Dia terus berdiri mengikuti ibu mertua yang masih saja menyalahkannya.
"Tahu kenapa Hah?" Bu Ratna menjambak rambutnya. Kembali emosi menatap Clara.
Clara menggeleng dan menggigit bibirnya dengan sangat keras. Clara berusaha tidak menangis karena ia tidak suka, semakin Clara menangis semakin membuat ia menderita.
"Tidak tahu, Bu." Clara menjawab dengan berbohong. Clara memang tidak pernah tahu asal usul keluarganya, yakni kepergian Gilang dan ka Arumi yang mendadak. Yang mana ia ingat hanya dirinya di lempar oleh Elvira ke rumah sakit jiwa, dan di sampingnya adalah Fandi yang masih berstatus suaminya kala itu.
"Pembohong! Kamu memang pembohong Clara Seiyclar," ucap bu Ratna duduk tepat di hadapan Clara dan mencengkram dagu Clara dengan sangat erat.
"Kamu itu anak yang tidak pernah diharapkan lahir. Tidak ada yang mengharapkan kamu hidup, seharusnya kamu mati dari bayi. Memang Oma Seiyen dan kakakmu Gilang tidak memberitau?" ucap Bu Ratna.
Kali ini Clara tidak mampu menahan tangisnya. Ia yakin, jika itu bukan alasan sebenarnya. Mengapa ia tak bertemu kedua orangtua aslinya hingga kini. Clara hanya berusaha tak mendengar, pernyataan ibu Ratna. Ia hanya berharap, kehidupannya kembali manis seperti awal.
Mendengar hal itu, Clara mau tidak mau terdiam pucat. Ia sadar, dilema di saat menerima pinangan Ryan karna debat ibunya yang memaksa menikah dengan wanita pilihan sang ibu. Alhasil demi karna aku, dan Ryan mau membantu aku kembali bersama Fandi, ia harus merelakan banyak hal. Tapi setelah semua terungkap, harusnya aku tidak perlu kembali dengan Fandi atau pun menerima pinangan Ryan.
"Tapi kesalahan dan khilaf. Berhak atas kesempatan kedua Clara," itu adalah bisikan Fandi yang selalu Clara ingat. Tapi ia tidak boleh egois dengan Ryan saat ini.
***
BERBEDA HAL DENGAN ELVIRA.
"Biarkan dia istirahat Aris, dia demam tinggi, apa kamu tidak melihatnya?" tanya Dokter Vincent, Aris menaikkan bahunya, dia tidak tahu, tidak juga peduli dan dasar tubuh wanita itu saja begitu lemah dan bodoh. Aris merasa kesal akan semua kebohongan licik Elvira.
"Kenapa aku harus mengkhawatirkannya, dia hanya wanita tidak tau diri. Nyawanya tidak berarti bagiku," ucap Aris dengan santai.
__ADS_1
"Kalau tidak berarti, kamu tidak akan memanggilku," ucap Vincent. Aris menarik sebelah sudut bibirnya. Meski mereka berteman. Aris tidak suka seseorang mencampuri urusannya.
"Bukankah kamu harus berterimakasih pada Fandi, dia kakakmu. Bukankah kamu telah menerima dan mendapatkan wanitamu kembali?" ungkap dokter, yang mana ia juga sahabat baik Aris dan Fandi.
"Itu bukan urusanmu Vincent, dia tidak sadarkan diri di kamarku, bukan aku peduli dengannya. Lagi pula Fandi sialan itu, bisa berkuasa seperti dulu. Arrrgggh!!!" kesal Aris.
Vincent tertawa, begitu hafalnya Vincent dengan Fandi. Meski Aris tidak pernah peduli seseorang mati di depan matanya. Hanya karena kekasihnya sakit demam seperti ini, ia malah ingin mengeceknya. 'Dasar kakak adik yang tidak pernah akur, hanya karna mencintai satu wanita yang sama. Kali ini mereka berdua mencampakan bersamaan juga.' batin dokter.
"Demamnya akan turun, dia belum makan, perutnya kosong, tadi aku sudah menyuntiknya, sakitnya akan membaik," ucap Vincent dengan santai dan keluar dari kamar Aris.
Aris berdiri, melihat wanita yang tidur di ranjangnya yaitu Elvira, wanita ini begitu cantik, Aris mengakui kalau Elvira tidak seperti wanita yang ditemuinya selama ini. Dia begitu lembut, dia sangat penurut hanya saja mudah sekali ia di tipu, namun rasa cintanya membuat ia redup.
"Bangunlah Elvira, aku tau kamu sedang berbohongkan. Lebih baik, kau cari Clara! Hanya dia wanita yang bisa memuluskan rencana kita!"
"Aris, tapi aku benar sakit. Aku sangat sakit, aku mohon. Jangan saat ini!" pinta Elvira.
BUUUGH!!
***
WAH, ARIS KENAPA NIH
by the way, semoga Clara bisa sabar ya. Up setiap hari tunggu setiap bada isya. Hanya saja reveiw yang sedikit lama.
Be Continue!!
__ADS_1