
Beberapa saat di dalam mobil sepasang insan saling diam. Terbukti setelah adegan Cipo* yang tak sengaja oleh Clara. Tapi di sengaja oleh Author membuat Fandi kaku diam, tapi dalam hatinya ingin merasakan lebih.
HAHAHAHA... MALU MALU KAYA DEDEMIT LOH FANDI !! BUBUH AUTHOR DI TEPUKI OLEH READERS.
Strrrriiith !!
Fandi berdecak kesal, terlihat ia Rem dadakan karna ulah Trio Kremi yang melambai agar mobilnya berhenti.
"Temen kamu ngapain berhentiin mobil Cla?"
"Eeeeuh .. Apa Ka. Bentar Clara turun dulu, Clara tanyain ya?"
"Ga usah turun. Buka aja kaca mobil, kamu lemot amat. Kalau tingkah kaya gitu bisa lulus ga tuh." lirih Fandi.
Clara yang kesal akan perkataan Fandi. Ia menurunkan kaca dan berteriak pada ketiga temennya itu.
"Woooy, kenapa main lambai tangan Aja. Lo lagi cari mangsa salah mobil ya?" tanya Clara.
"Eeeeeit dah. Ni cewe kalau bukan cantik beruang, Gue udah diskualifilasi jadi temen dari genk Tulip Tak kuncup." bubuh Kean.
"Diskualifikasi oncom." Rein membenarkan. berteriak pada telinga Kean.
"Berisik loh pada!" ucap Misel, menatap kedua teman disampingnya. Lalu menatap Clara.
"Gini Cla kita numpang ya. Sampe lampu merah depan doang kok. Mau jemput Fani."
Clara menurunkan kepala dari kaca mobil. Fandi yang melihat tingkah Clara yang udah jadi istrinya hanya menggelengkan kepala.
Pasalnya ia keluar kaca dengan menongolkan kepala dan setengah tubuhnya untuk meneriaki ketiga Kremi. Padahal harusnya ga perlu selebay itu, menatap aja sudah cukup tanpa keluar dari batas kaca pintu mobil. Pasalnya ketiga temennya itu hanya berapa cm mereka berdiri. Karna sisi mobil Fandi berhenti tepat di tiga Kremi berdiri.
"Ka, mereka mau jemput Fani. Boleh ga ikut?"
"Huuuuft .. bilang aja Nebeng. Kalau jemput pake kendaraaan sendiri."
"Eeeekh .. iya gitu sih. Boleh kan?"
Fandi hanya melirik untuk tiga Kremi itu masuk. Jika bukan karna teman baik Clara. Fandi udah pasti mencegahnya, tapi ia bukan tipe mengekang. Namun memantau kemanapun Clara pergi. Pasalnya Clara masih kurang dewasa dan selalu di bodohi temannya. Jadi Fandi mengawasi teman yang baik dan ga baik untuk Clara.
Beberapa saat hingga dua puluh menit. Suasana itu sepi dan runyam. Terlebih Kremi menatap Fandi tak berkedip. Pasalnya ia kemanapun selalu membuntuti Clara enggak pagi, siang , ampe gelap gulita terus aja di samping Clara.
__ADS_1
"Yyyeih .. bukan suami aja masih tetep kacung. Jadi bodyguard Clara terus." bisik Kean.
"Tapi kalau di pikir dia mirip Harrypotter ya?" bisik Rein pada Kean.
"Eeekh lu bisik bisik apa ghibah. Kedengeran lah bego!" tambah Misel.
Fandi hanya mendengus nafas ketika mendengar. Ia pun menimpali ghibahan tiga Kremi kala itu. Rem mendadak membuat seisi penumpang terjeduk oleh kursi di depannya. Terlebih Clara juga ikut kaget.
"Udah sampe nih Voldemort, Neytiri, Hellboy. Tuh lampu merah udah di depan Mata!" unjuk Fandi, pada ketiga teman Clara.
Pasalnya ketiga teman Clara itu yang terdiri dari tiga Pria dengan nama yang Cool dan Woke.
Tapi realita wajah meraka mirip Voldemort yang hidungnya, mancung enggak, pesek enggak tapi lubang idungnya sedikit sempit macam lidi. Yang satu mirip Neytiri di film Avatar. Karna hidung yang lebar dan kuping lancip caplang dan gigi ga beraturan terlihat. Sedangkan Misel yang gaya sok cool mirip Hellboy karna tampang sangar dan badan kekar tapi kepala kecil peringai sangar mirip debcolect lagi kepanasan.
Readers bisa cek google ya. kalau ga kebayang wajah mereka hahahaaa .. !!
"Eeits.. dah Clara. Harrypotter lo lagi PMS Ya, gue jadi takut Cyin." tutur Rein.
"Iyeee.. Gue jadi ga pingin numpang lagi sama mas KC lo Clara." tambah Kean.
Clara hanya terdiam, pasalnya ia menahan tawa saat Ka Fandi memerah dan kesal. Ketiga temannya memang lemes seperti itu, terlebih mereka memang penasaran akan gue yang tiba aja nerima pinangan sahabat kakak gue, terlebih dia anak dari kerabat Oma sampai sekarang gue ga tau. Tapi lepas dari itu ketiga teman aneh mereka sangat baik dan setia kawan. Juga bikin mood bete jadi naik bahagia tertawa lepas saat ngumpul bareng mereka. Alhasil Clara ga pernah sedih dan nangis saat berduka atau patah hati.
Satu Jam Kemudian.
Fandi dibuat tertegun Akan cafe Cooly. Kenapa harus pake Y. Untung aja itu huruf O ada dua, coba kalau satu. Mungkin Fandi bakal traveling ke arah Ono !!
Fandi duduk dan menarik kursi, sementara Clara memesan camilan dan minuman hangat. Fandi membuka laptop mengerjakan email data laporan yang Gilang berikan dan karyawan bertitle Spv memberikan laporan terakhir padanya. Sementara menunggu Clara yang lama memesan di kasir. Fandi membantu menyalakan laptop Clara dan membantunya menyambungkan Flashdisk dari tiga Kremi untuk Skripsi kuliah.
Begitu terbuka selama lima menit, Fandi terdiam akan walpaper Clara dengan foto Si Tino kekasih Clara yang pergi menghilang gitu aja tanpa kabar. Ada rasa kesal menatap foto di layar laptop itu. Entah kenapa rasanya membuat Fandi ingin menghapusnya tapi ga berani. Karna menurutnya itu hal yang mengganggu kedua panca indra penglihatannya.
"Ka, udah sampe mana. Biar Clara lihat. Nanti Clara minta bantuan pas di jejak bait yang ga ngerti ya?"
"Heuuump." hanya sepatah kata Fandi meng'iyakan. Membuat Clara terdiam bingung dengan expresi berubah mood Fandi yang membagongkan. Eeeiits membingungkan.
Dua jam berlalu. Fandi yang sudah mengerjakan tugas kantor. Lalu menatap Clara yang menguap sambil mengetik dengan mata sesedutan bagai ujung ubun ubun yang menunda hasrat dan menggebu gebu tapi tertahan pas di ujung tanduk. Akhirnya melecus juga dia tertidur di atas ketikan laptop.
Fandi hanya menggeleng, ia merapihkan dan meminta pelayan membantunya membawa barang barangnya. Pasalnya ia menggendong Clara yang mengantuk ala brides style tapi Clara yang sudah pulas ga akan sadar.
.
__ADS_1
.
.
Di depan rumah.
"Adek gue lo apain, udah lo bobolin tuh Fand?" teriak Gilang.
"Sembarangan loh. Adek lo kebiasaan ketiduran ga tau tempat." ketus Fandi.
Gilang masih mendekatkan cara, Agar mata sahabatnya itu bisa melupakan Elvira si wanita pirang penuh kelicikan. Terlebih ia terpergok beberapa waktu ketika adanya Clara yang di culik atas perintah Elvira untuk sebuah kunci Emas kepemilikan Fandi yang berubah menjadi nama Aris.
Setelah menyelimuti Clara. Fandi turun dan bergabung ke meja ruang tamu. Mereka membicarakan perihal kantor dan masalah intern. Sementara Arumi ikut bergabung hanya mengantar teh dan kopi, beberapa kue lapis untuk menemani sang suami yang memulai pekerjaan dari rumah.
"Dady. Danzel mengantuk. Temani aku bobo!"
Arumi memeluk dan mengajak Danzel ke kamar, Sementara Gilang dan Fandi serius hingga beberapa jam sampai lupa waktu menjelang dini hari.
Gilang yang udah tepar duluan, ia berlalu ke kamar. Sementara Fandi meneruskan di kamar dengan bersandar di kasur dan merebahkan setengah duduk menelentangkan kedua kakinya.
Sementara laptop berada di atas pahanya Beberapa saat.
Saat seriusnya Fandi. Tiba saja kaki Clara yang terbuka karna selimut. Ia merentangkan tangan dan melingkar ke pinggang Fandi. Namun satu kakinya menindih kaki Fandi hingga menyentuh pucuk kepemilikan, membuat Fandi tertegun tak fokus.
"Waaadauw.. Uuuuh." batin Fandi.
Clara yang masih setengah sadar, ia mengelus ngelus dengan dengkul. "Benda apa ini?" Clara menutup kembali mata dan pulas, hingga dengkuran kembali terdengar. Hal itu membuat Fandi goyah menahan rasa nikmat nanggung karna kepemilikannya di goyang. Meski dengan dengkul Clara yang mulus tapi berhenti begitu saja membuat linu sedap dan nanggung.
"Dasar Clara. kamu buat ka Fandi sulit setiap malam." Teriak ketidaksukaannya. Menyibak selimut menutupi tubuh Clara. Lalu beranjak keluar kesuatu tempat.
.
.
.
Fandi : Tega banget loe bikin gw kaya gini Tor😲
Author : Hahahaha.. seneng gw bikin hidup lo susah tiap malam. Hahahhaaa.
__ADS_1
Yuuks... koment Lanjut ga nih ! Buat Author semangat nulis lagi.