Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
bukan nasi goreng


__ADS_3

Dua porsi, satu gak pake acar. Yang satu full pake banget ya Abang !! cakap Clara pada pedagang nasgor.


Clara duduk berhadapan menatap Arumi. Lalu ia mendapati sosok wanita di hadapannya seolah rindu dengan seseorang. Ia pun mencoba untuk berbicara dengan hati - hati.


"Kaka inget ka Gilang Ya?"


Arumi senyum dan menggangguk. Senyum pilu menahan rindu setelah sekian Lama Gilang tak kembali selama satu setengah tahun.


"Kaka khawatir. Sahabat kaka Keiyra meminta datang ke singapure menemui Danzel. Tapi kaka ingin ke tokyo untuk melihat keadaan kakakmu Cla. Kaka ingin sekali membayar pinalti agar ka Gilang menyudahi pekerjaan keras di negeri sana!"


"Uuhuuuk... Pinalti.. Maksud kaka?" Clara menyeruput es jeruk dengan menahan asam dan sedikit terbatuk.


Arumi yang terpaut rindu. Ia keceplosan, sebenarnya ia tak ingin ada rasa di tutup tutupi. Mengingat keadaan adik iparnya sudah amat membaik dari sebelumnya.


"Nanti kita bicarakan lagi ya. Gimana soal kerjaan kamu, ga ada hambatan kan?"


"Bersyukur ka. Sampai detik ini masih lancar tapi.. Apa kakak ingin menyusul ka Gilang?"


"Heuuuumph. Rencananya seperti itu, tapi ka Arumi harus menjual tanah dan kebun milik bibi Rani. Peninggalan almarhum, yang memang sudah seharusnya di jual bukan?"


"Tapi kak. Cla rasa ga perlu sebegitunya deh.. karna.. "


Arumi menatap Clara. Lalu ia senyum dan bicara kembali.


"Kaka juga ga mau. Meski hasil dari sana sulit untuk pembagian hasil. Tapi setidaknya pegawai tani tak menganggur bukan. Kaka harus jual untuk membayar pinalti ka Gilang. Mungkin cukup." sendu sedih Arumi menutupi wajah dengan kedua tangannya.


Clara pun mengecek saldo tabungan selama ia bekerja. Belum lagi, ia pernah kedatangan wasiat selembar surat dari peninggalan Oma yang tersisa. Tapi itu tak dapat terjual jika tak ada tanda tangan dari Fandi, karna sebagian telah di sita yang sifatnya sementara.


"Mohoooon Maaaf ... Pesanan telah tiba. Tapi ini bukan sembarang nasi goreng. Ini adalah Goreng Nasi dengan rasa berbeda dari sebelumnya. Silahkaaan... selamat menikmati!"


Arumi langsung membuka mata dan menatap Clara. Mereka yang tadinya mellow, kini tertawa renyah seolah ada yang lucu.


"Huhuuu... Bapak ini. Nasi Goreng sama Goreng Nasi apa bedanya. Bentuknya aja sama." lirih Clara.

__ADS_1


Geleng kepala Clara dan Arumi. Hingga mereka menikmati santapan nasi goreng dengan mood yang naik.


"Ada kalanya penjual seperti ini patut di kembang biakan. Karna merubah mood kita menjadi kembali meski ga seratus persen. Hahaaa... Ya, kan. Kak?!"


"Dasar kamu nih. Udah kita terlanjut malem berada di luar. Kaka bayar dulu!"


"Ya ilaah.. Kita pulang cuma delapan langkah. Liat aja, rumah ketiga dari pangkalan si Abang. Udah keliatan kak. Kaya perawan aja takut malem malem lama di luar." gerutu Clara.


Arumi hanya menggeleng kepala dan tertawa. Lalu mereka kembali segera pulang ke rumah. Sesampai di kamar, Clara teringat tentang pinalti. Ia hanya berfikir jika sang kaka sedang kesulitan, maka ia membuka saldo tabungan pribadi yang lama ia simpan.


Clara membuka tabungan atas nama Fandi. Hal itu membuat ia rindu, karna sebuah kartu itu telah ia lihat sangat cukup. Dengan bermodal laptop, ia mengirim email untuk segera mengirim saldo ratusan pada rekening Arumi. Karna sifatnya ia masih menyimpan hak waris jika ia menggunakan saldo tabungan inves orang yang telah tiada. Belum lagi jika kematian saldo itu berlipat dan bertambah.


Terimakasih. Mohon di tunggu satu kali dua puluh empat jam. Maka pemindahan transferan berhasil. Mohon ikuti intruksi, jika saldo tetap dua puluh persen akan mengendap tak bisa di tarik. Ketik Yes jika lanjut.


"Yes. Berhasil juga." senyum Clara.


Clara lega. Hingga akhirnya ia merebahkan dirinya di atas kasur. Meski bayangan esok ia pasti akan bertemu Elvira, ia berharap itu hanya semu sampai ia kembali mencari pekerjaan baru.


*****


"Kaka. Sepagi ini ada apa?"


"Kaka mendapat transferan dari Fandi. Apa itu kamu Cla?"


Clara menghampiri dan memegang kedua tangan kaka iparnya itu.


"Kaka. Aku udah besar, mungkin itu cukup untuk membantu pinalti ka Gilang. Jangan jual tanah di lembang, bukankah kaka kasian melihat petani yang tiba tiba kehilangan pekerjaannya. Jangan pikirkan aku, aku masih cukup tabungan."


"Kaka tersentuh. Tapi kalau kaka kembali, kaka akan ganti semuanya ya. Kamu ga apa - apa di tinggal. Kamu benaran ga ada masalah kan Cla?"


Pertanyaan Arumi membuat Clara bingung. Ia sebenarnya ingin menceritakan Elvira. Tapi ia tak ingin membuat beban pikiran kaka iparnya itu. Alhasil ia mengalihkan dengan senyuman.


"Kaka. Kapan ambil penerbangan? Gaji aku dan sisa tabungan aku masih cukup kok. Lagi pula rumah ini milik kedua orangtua kaka. Jadi bagusnya kita ga sewa atau ngontrak kan?"

__ADS_1


"Baiklah. Kakak akan bersiap setelah mendapat telepon dari kakakmu. Kamu hati - hati ya bekerjanya!"


Clara pun pamit. Sehingga dalam perjalanan taxsi. Ia harus menukar dengan ojek online. Ia tak ingin Arumi khawatir jika ia selama ini memakai ojek online untuk bekerja. Arumi selalu khawatir akan keselamatan Clara yang tak pernah mengendarai roda dua.


*****


Kalian kenapa ga becus sih? Kalau gitu kita harus rapat pagi ini juga!! teriak Manager Vira. Lalu ia kembali pergi dan mengambil jas jaket tebalnya.


Clara yang baru menepi. Ia terbopoh bopoh masuk kedalam gedung. Menaiki lift lantai Tujuh. Di mana ia baru melihat group, jika hanya dirinya saja yang belum datang.


"Siiiet.. bener bener gila. Rapat dadakan, ini juga masih belum jam kantor. Gila ini sih, bel masuk jam kerja aja masih empat puluh menit lagi bukan?" tanya Seseorang pada Sinta. Sinta hanya menggeleng karna malas berkomentar jika itu adalah Bu Vira.


"Karyawan baru ini umurnya baru tiga hari, di perusahaan Kelas kakap. Apa jadinya, siapa dia.. apa wanita atau pria?" tanya Elvira menatap seluruh karyawan di meja yang menunduk.


Tooook... Tooook.


"Permisi maaf.. Bu. Saya terlamb... "


Belum Clara bicara terlambat dan menutup kembali pintu. Ia menatap Elvira yang sama juga terkejut dan berdiri menatapnya. Sehingga mereka menatap dengan tajam dan sorotan membuat para karyawan lain berdebar dan takut jika anak baru akan pergi mengajukan resign mendadak.


Hal itu membuat mereka semakin menumpuk dan bertambah dalam bekerja. Tetapi tidak ada bonus dan tambahan.


"El Vira... Ka- kamu di sini?"


Tatapan karyawan menatap aksi Clara. Tetapi apakah perlakuan Elvira akan baik atau pura pura baik. Atau tetap jahat secara terang terangan.


.


.


.


Thor Fandi di kemanain sih? Jawabanya adalah. Sering sering tunggu kisah Cla yanga bakal kasih kejutan crazy up seminggu tiga kali.

__ADS_1


Yuuuks. Ikutin lagi, kasih dukungannya. Author akan Crazy Up. 😉


---- Happy Reading*-----


__ADS_2