
Fandi segera membawa Clara ke rumah sakit. Sedangkan Franstino yang menatap Clara di gendong, ikut terkejut dan bucket bunga pun jatuh dari tangannya kala itu. Tak lama, ia mengikuti Clara yang masih tak sadar dengan mengendarai mobilnya.
Di Rumah Sakit.
Fandi mengabarkan Gilang, lalu ia mengurus segala administrasi setelah keluar dari ruangan dokter. Tak lama ia beranjak keruangan dimana Clara ditempatkan ruangan vvip.
Fandi menatap Tino yang memegang tangan Clara dan menciuminya. Ia mengurungkan untuk masuk dan mengepal tangan kala itu.
"Eeeiiiiy. Mas KC cembukur kayaknya yeaah?" tutur Kean.
"Iyes, gw yakin bakal terjadi pertarungan sengit antara Lion dan Tiger." bubuh Rein.
"Gw sih gak yakin, Gimana kita tarohan Si Clara bakal pilih Harrypoter apa Hari hari, Eeekh Haliando syarief mantan pacarnya prilly!"
"Gak pake H kali nyuks, Aliando itu mah." Rein membenarkan.
Fandi melirik dan menatap tiga pria aneh yang sedang berbisik tetangga kala itu.
"Kremi, kalian bisa diam! Jangan keceplosan soal pernikahan saya dengan Clara. Biar Cla yang menjelaskan!"
Fandi pun pergi begitu saja dengan raut kesal, sementara tiga Kremi berdiri dengan gemetar. Pasalnya mereka baru pertama kali melihat wajah dan suara gagah Fandi yang terbilang selalu ayu dan sabar. Tapi saat ini ia melihat dengan suara yang luar biasa, benar saja suara deheuman Fandi terlihat seksi dan pria banget.
"Kok gw, berasa naik roller coaster ya?" tanya Misel. Bayangkan saja dengan gaya tubuh besar kaki kecil, kakinya bergerak gerak gemetar seperti ingin keluar sesuatu yang mengalir.
"Yaah kan, gw rembes. Gw cabut duluan ke toilet Ya!" Misel berteriak. Sementara Kean dan Rein duduk melemas di depan ruang kamar anggrek 034 Clara kala itu.
Mereka berdua melihat Misel yang cekikitan berjalan seperti ingin mengompol karna diancam oleh Mas KC. Tapi mereka hanya melemas dan duduk kembali berfikir.
Sekembalinya Misel, ia menaikan tali celana karet yang enggak kelihatan kedodoran. Alhasil membuat mata Kean dan Rein kesal vs sebal.
"Lho, ngompol ya. Beli kolor di samping warteg ya. Yang ruko serbu. Alias serba sepuluh ribuan?" balas Kean.
"Enak aja sepuluh ribuan, gw beli 75an tau. Meski gw dp sepuluh ribu sih, kan mayan. Tetangga gw nyuuks yang jualan. Baik dia mah." balas Misel.
"Najis tralalala, dasar lo pantes jadi begal tukang ngutang Mis!"
Misel pun melirik dan memutar mata sebal, lalu ia berbisik pada kedua temannya itu.
"Gw, ada ide. Kita kerjain tuh si Mas KC. Sebel gw, liat tadi berasaa jantung gw mo lepas. Bagus jantung gw bukan buatan cina. Bisa bongkar pasang yang ada."
"Alaah, cina juga males bikinin lo jantung. Cos ga tega sama pengeluarannya. Bentuk lo lebih ancur dari jantung buatan merk mereka." balas Kean.
"Sembarang lo nyuuks, gini juga hasil buatan bapa gw di madura."
Tak lama, Franstino keluar. Ia tersenyum pada ketiga teman Clara yang baik itu. Lalu ia juga menanyakan pasal Fana dan Fani kenapa tidak datang. Lalu menanyakan kakak dari Clara kemana, karna ia ingin berbicara hal penting.
"Weeuw. Bujug buneng, udah balik dari negeri sakura. Mo minang Clara ya Frans?" Misel.
"Yaah. Sayang marinang binti rangginang. Kakanya lagi liburan, gw liat statusnya tuh." gaya Rein yang menonjolkan lidah kedalam mulut sebelah. Sehingga menampakan bibir menyon.
__ADS_1
"Oncom. Lo bisa ga, biar Frans tanya Clara langsung. Ga inget tadi Mas KC bilang apa?" ketus Misel.
Uuuuupsss ... !!
Franstino menatap dengan kebingungan, lalu ia segera meninggalkan dan menuju ruangan administrasi. Tapi begitu terkejut ketika tiba di sana, tagihan semua sudah lunas yang di bubuhi tanda tangan bertulis Fandi Assadel.
"Fandi Assadel, siapa dia sebenarnya. Kenapa nama dan wajahnya tidak asing. Apa aku sebelumnya pernah bertemu. Biar ku tanya Clara nanti setelah sembuh!" lirih Franstino.
.....
Dengan gaya Cool. Fana dan Fani tertegun akan pria yang dengan setelan batik mewah, dengan setelan branded mewah, di iringi dua pengawal dan satu wanita seksi bagai sekertaris. Terlihat ditangannya sebuah map dan jinjing sebuah tablet di sebelah tangannya lagi.
"Gw bilang apa kan, itu Mas Harrypotter. Sebenarnya dia siapa sih?" tutur Fani.
"Gw enggak tau, coba gw tanya tante sepupu gw. Ka Sadiya kan pernah jadi bagian keluarga Seiyen." balas Fana.
Fani menohok, ia pun terdiam dan penasaran berusaha mengikuti. Mereka yang awalnya ingin menjenguk Clara terdiam mengikuti sosok suami sementara dari sahabatnya itu.
"Fana, gw bakal rebut hati mas Harrypoter. Kalau dia benaran orang penting. Toh si Franstino udah balik, otomatis si Clara bakal di gugat dong. Kan mereka cuma nikah dengan sebuah perjanjian kan?"
"Elo, belum juga apa apa. Udah main tag aja, gw ga yakin mas Harrypotter bakal naksir lo. Yang pasti dia bakal lirik gw, secara body lo rata. Gw berisi yeei kan." sombong Fana. Fani pun langsung menatap dan memicik sebal pada Fana. Karna mulai detik ini mereka jadi bersaing secara terang terangan.
....
"Beb, kamu gak apa apakan, kenapa bisa seperti ini?" tanya Frans.
"Aku gak apa Frans. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, kalau aku.. "
"Yeiiy, kalian pada saling bercumbu mesra atau bertegur sapa antara rindu dan kangen kan?" tanya Kean.
"Apa bedanya bego, Rindu sama Kangen."Misel.
"Udeh lo pade ga usah debat. Kasih tuh pisang. Monyet!"
"Eeekh .. lo ngatain gw monyet Rein." ketus Misel dan Kean menatap tajam.
"Bukan, maksud gw pisang kecil bantet kaya lo itu, kan suka di makan sama monyet. Jadi namanya pisang monyeeet." ketus Rein.
"Wah, mulai songong. Sekarang berani ngatain kita kecil bantet Rein?" Misel dan Kean menaikan kerah tangan kemeja kupu kupu.
Franstino dan clara hanya memijit kening dan menarik nafas. Lalu ia melerai dan untuk mereka tenang jangan berisik.
"Sorry ya Clara, ini buah hasil patungan. Habis kita mau jenguk duit kita kan belum menggunung. Maklum lah duit kita masih ditanam di alam semesta." senyum Misel.
"Bilang aja sih kere, duit pas pas an. Mis lo banyak gaya cara ngomong!" bubuh Kean.
Sementara Misel ingin mencakar mulut Kean kala itu.
"Udah udah jangan ribut lagi, padahal kalian datang aja aku dah seneng. Thanks ya." senyum Clara.
__ADS_1
"Yeiiy kenapa sih, kok bisa sakit. Apa yang di rasain sih Cla?" Rein.
"Gak apa, paling cuma salah makan. Gw mual pusing dari semalam." Clara memijit keningnya.
"Eiiiiiiy ... Serius Cla. Jangan jangan kamu hamil lagi." ketus Kean.
"Hamil, apa maksudnya. Cla jelasin apa maksud mereka?" tanya Franstino.
Si Misel pun ngedumel, menjewer telinga Kean. Mereka keluar dan membuat suasana tenang Clara yang menjelaskan di dalam sana.
.
.
.
Beberapa hari kemudian.
Clara sudah sampai rumah, ia tak melihat Fandi sudah dua hari ini, selepas mengantarnya dan menjelaskan pada Frans. Clara selalu di temani teman dan kekasihnya itu.
"Ka Fandi. Aku ga tau kenapa selalu rindu. Apa aku bisa menggeser wanita pirang yang selalu kaka tunggu." batin Clara.
Tak lama, Franstino membuatkan jahe. Dibantu Fana dan Fani serta tiga Kremi yang menemani hari Clara. Hal itu membuat Fani senang, pasalnya Fandi mengirim pesan padanya untuk menjaga, mengawasi Clara beberapa hari.
Menjelang malam suara pantopel tiba saja berbunyi. Hal itu membuat tiga Kremi yang bertanding game sedikit merinding.
"Mata gw pegel, main game Free Fire berasa seepet cuuut, berasa burik nih mata ga bisa melek?" ucap Kean.
"Jangan lebay, kita lagi mabar. Ga tiap hari kan kita jagain Clara bonus wifi. Anggap aja mabar wooiy!" teriak Misel ke kuping Kean.
"Ribut aja lo, game gitu aja masih ngegerutu. Mending lo berahli ke permainan PoU. Seru tau!" bubuh Rein. Pasalnya ia sedang memainkan game tersebut.
"Alaah, paling jago dan seru lo. Jago mencet Tayiie. Ga usah koment lo, diem aja lo sono deket kloset mainin Pou, biar berasa nyata!" ketus Misel.
Disaat mereka berdebat, tak lama seseorang sedang menatap mereka dengan gaya yang lelah. Ia bertanya bagaimana keadaan Clara.
Tapi Si Kremi tertegun dan bertanya. Menatap menaikan wajah mereka yang kurang ganteng dengan pede.
"Eeeihy." Pekik mereka terperanjat.
"Kok Mas KC rapih banget, kaya pria menawan di meja bundar orang penting?" tutur Rein.
Fandi terdiam, ia lalu meminta Kremi diam, ia berganti baju di dalam mobil. Sementara Misel tertegun, terlebih Fani yang mengintip dibalik pintu menatap Fandi.
"Sebenarnya apa yang di sembunyiin mas Harry potter ya?" tanya Fani menoleh kewajah Fana.
.
.
__ADS_1
.
Hayooo sampai sini ada yang tau, kelanjutannya?