Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
DI TUDUH


__ADS_3

"Auuw. Bu, Clara benar tidak tau. Soal ini kami tadi benar sedang berbicara hal serius, namun mas Ryan salah paham!"


"Benarkah, kamu jangan bohongi kami Clara. Kamu tau, Ryan anak kami satu satunya penerus. Jika ada hal yang kami tidak tau, bicaralah!"


"Cepat kamu beri tau kami!" kesal bu Ratna menatap Clara, yang tadi menarik rambutnya.


Clara memaklumi, ia pun kembali menceritakan dari mana Fandi datang tanpa ia tau, lalu dengan tak sengaja mas Ryan datang dan kami bicara serius di kamar. "Seperti itu bu, pak. Aku mengatakan sejujurnya. Tapi mas Ryan, melukai dirinya. Clara juga ga sangka, tapi benar benar Clara ga tau kenapa mas Ryan bersikap seperti tadi."


Bu Ratna dan pak Byakta segera saling menatap, ia duduk lemas dan tau apa artinya. Sementara Clara masih diam dengan kebingungan. Hingga di mana Clara masih menunggu dan sedikit mengantuk, ia pamit untuk sekedar ke kantin membeli coffe cup.


"Ibu mau nitip, Pak. Clara mau ke belakang dulu."


"Tidak nak, kami tetap menunggu di sini saja!"


Sementara Bu Ratna, masih acuh tak ingin melihat Clara. Mungkin seorang ibu yang sedang kecewa, hal itu pun membuat Clara diam dan memaklumi.


Setelah beberapa langkah ia menuruni anak tangga, Clara mencoba mengambil dompet di mobilnya. Ia segera menuju parkir sebelum ke kantin. Clara menyalakan mobil, masuk setengah badan dan mengorek dashboard untuk mengambil ponsel dan dompetnya.


Namun ia melihat seseorang yang sedang bersiteru, mungkin ia adalah pasangan suami istri. Clara menunda keluar kala pasangan itu, menghadang mobilnya yang mungkin, akan memindahkan parkir mobil di lantai beda blok, agar kelak kedua mertuanya tidak terlalu jauh berjalan, dan lebih dekat dengan kantin.


Clara ingin menyalakan klakson indahnya, namun alih alih ia terhenti menatap pemandangan yang mungkin tak ingin ia lihat. Sepasang yang sedang berkelahi, membuka pintu dan saling berkata kasar membuat Clara menutup telinganya.


"Astaga, apa tidak bisa mereka tidak berkelahi di umum seperti ini, gila ini kan area rumah sakit?" benak Clara.


Tiba tiba saja Pria itu menyusul wanita di sisi arah pintu.


"Lepaskan aku!" Di hempaskan tangan itu kasar. Lalu mendelikkan mata padanya.


"Kamu ini tidak bisa seenaknya Ra, mobil ini sudah menjadi milikku!"


Kulipat kedua tanganku di dada, tertawa keras mendengar ucapannya. Apa ia baru saja membuat lelucon? Mobil ini miliknya? Kata siapa!


"Kamu ini pura pura lupa ya Mas! Jelas jelas mobil ini aku beli dengan jerih payahku sendiri. Sudahlah, lebih baik kamu minggir sekarang. Urus saja itu selingkuhanmu. Aku tidak butuh kamu lagi, dasar pembohong!" Wanita itu mendorong tubuh pria di depannya.


"Rara, berikan kunci mobilnya padaku!" ujar Pria itu seraya merebut kunci mobil ini dari tanganku.

__ADS_1


Wanita yang Clara lihat, dari kaca mobil terlihat memekik kesal, urat urat lehernya menegang akibat perbuatan pria di hadapannya.


Belum cukup kah kamu menghianatiku? Dan kini kamu berencana mengambil hartaku. Haaah kamu gila mas!! teriak wanita itu.


"Lepaskan!"


"Berikan!"


"Aku bilang lepas!" teriak menggelegar.


"Jangan gila kamu Rara, aku ini suamimu! Aku berhak atas mobil ini!"


"Ini mobilku, kalau kamu mau! Beli saja sendiri, jangan mengambil yang bukan milikmu!"


"Halah omong kosong, sama suami sendiri pelit. Dasar, istri tidak tahu diri!" makinya kasar.


Emosi. Pria itu mendorong sampai punggung membentur mobil. Wanita yang tidak terima pun lantas melayangkan tamparan di pipinya.


Sebelum aku menikah dengan mu aku bekerja keras untuk mewujudkan mimpiku membeli mobil, dan kini ia mengklaim bahwa mobil ini miliknya.


Plak!


"Beraninya kamu menamparku?" sungutnya marah. Wajahnya dipenuhi kilatan amarah.


"Kau pantas mendapatkan tamparan itu!" tuding Wanita itu sambil menunjuk wajahnya. Aku tidak terima kamu berbuat kasar. Kamu pikir, kamu siapa?


"Sudah cukup, jangan bertingkah seperti anak kecil Rara. Aku tidak selingkuh!"


"Semua bukti sudah jelas, dan kamu masih bisa mengelak! Hebat ya kamu, Mas! Kamu mengakuinya tadi, tapi sekarang?"


"Bukan begitu maksudku!"


"Minggir!"


"Rara!"

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!"


"Keterlaluan kamu Rara, harusnya kamu bahagia. Sebentar lagi suamimu ini akan punya anak, tapi apa? Kamu malah ngamuk tidak jelas!" omelnya.


"Stop! Aku capek berdebat sama kamu. Lebih baik kamu minggir."


"Aku tidak akan menyingkir sampai kamu kembalikan kunci mobil itu padaku!"


"Ini mobilku, milikku, sadar Mas!"


Plak!! Tamparan keras membuat pria itu mendorong wanita, dan dengan kasar merampas kunci mobil dalam genggaman tangan. Meski wanita itu masih menahan sekeras mungkin. Alhasil, Clara yang melihat pemandangan dari depan kaca mobilnya. Melihat wanita di perlakukan kasar, membuat! dirinya meredam emosi tak tertahan.


"Cukup, kalian tidak bisakah melihat. Ini rumah sakit, you crazy!" ungkap Clara kesal menghampiri kedua pasangan itu.


"Mbak, ga usah ikut campur. Ini urusan saya sama istri saya!" ucap pria itu dengan ketus.


"Saya tau, tapi bukan di sini. Pak security .. tolong ada buat keonaran!!"teriak Clara bergema.


Hingga di mana dua security datang, dan pria tadi kesal menyumpah serapah. Membuat perkataan amarah tak terkendali.


"Kau, wanita. Lihat nanti, aku akan balas. Dan kamu Ra, kita akan ketemu di rumah!" ancamnya dan pergi.


"Mbak gak apa apa?" tanya Clara. Meraih tangan wanita itu untuk bangun.


"Makasih ya mbak, kalau enggak. Mungkin suami saya, mbak berani sekali. Pria tadi itu suami saya sedang sakit jiwa, saya akui tapi hal seperti ini mungkin membahayakan mbak. Karna menolong saya tadi,"


"Is oke, gak apa. Hanya saja ini tempat umum, hargai. Saya pergi dulu ya!"


"Mbak, tukar chat. Nama saya Rara, kelak saya mau balas budi. Kalau terjadi sesuatu, kabarin saya!"


Clara memberikan kartu nama, lalu pamit kala melihat sebuah panggilan dan pesan dari mama mertuanya.


"Astaga, mas Ryan." teriak menahan tangisan histeris kala menatap layar ponselnya.


YEEAY UP LAGI, AYO KIRA KIRA ADA APA DENGAN RYAN YA?

__ADS_1


__ADS_2