Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Permintaan mustahil


__ADS_3

Tak Lama mereka bertiga saat masuk mobil. Terlintas seorang wanita yaitu Elvira, yang kembali saat Clara dari ruangan kantor. Karna hanya ada tiga Kremi. Rein, Kean dan Misel ikut menapaki jejak sebelum Clara.


Elvira membuat mereka Menghadang untuk tak bisa keluar dari kantor private sebagai kantor dan tempat tinggal Kremi.


"Kalian kenapa bengong. Ada apa sih?" tanya Clara.


"Kamu tunggu di sini dulu Cla. Si Rein lagi nyamperin si pirang tuh!"


Tak berselang lama. Kean ikut menimbrung selama beberapa puluh menit. Membuat Clara dan Misel saling menatap seru.


"Tuh dia udah balik. Apa sih yang mereka bicarain? Rein kenapa mbak pirang itu?" penasaran Misel.


"Gak ada apa apa kok. Yeiiy salah liat kali, udah yee eike cabut duluan!" ucap Kean.


"Clara. Kita ga bakal tinggalin kamu, kita selalu setia ada di pihak yang baik menuju keadilan dan keabadian. Dan .. "


"Nyuuks. Udah kaya keramat kuburan sama pengadilan aja lo ngomong. Udah langsung to the point!" ketus Misel sambil melepak pucuk jidat Rein.


"Berisik deh loh aaakh. Diem dulu lo kingkong! Owh ya Clara. Ada Wanita durjana nunggu di teras. Kamu yang tabah ya selesain semuanya. Eiiy males deh kalau dia kumat kamit. Ga jauh paling juga omongin pentolan pisang kamu."


Clara yang tadi serius, akhirnya ia tersenyum. Kelakuan tiga teman anehnya itu membuat kepala penatnya hilang, apalagi mood yang tak baik ketika Elvira menunggu membuat ia tak menghiraukan.


"Kamu nih Cla. Udah serius, malah cekikikan." tutur Kean.


"Udah sana kalian pulang. Bisa bisa aku sakit perut terus kalau kalian masih ngoceh."


Clara pun meminta ketiga temannya untuk pulang dengan selamat. Bagaimanapun tinggal dirumah adalah paling nyaman di banding kantor bukan.


"Thanks ya. Hati hati buat kalian."


"Always. Yeiy yang hati hati wajib pake banget okeey!" cetus Rein menyipit genit mata sebelah kiri dan melambai tangan.

__ADS_1


Ketiga teman Clara telah lebih dulu pamit dengan mobil yang di pinjamkan khusus oleh Clara. Namun Clara masih menatap jam ketika Fandi belum juga menjemputnya.


Ssssst.. Ssssst. Heiiy bisa kita bicara?


Clara tak menoleh dan mengabaikan untuk masuk mengambil tas di depan kantor redaksi. Tapi Elvira mencegahnya membuat Clara terkejut. Karna aksinya yang cekat lari dan menopang kedua tangan dengan lebar.


"Mbak ini kenapa, salah jalan?" tanya Clara.


"Kau yang tak tau diri. Kau sendiri kenapa tak berhenti tadi?"


"Aku. Tidak tau diri, memang mbak siapa aku menyuruh aku berhenti. Dan ingat satu hal, mbak ga bisa memerintahkan aku seenaknya. Apalagi tidak menyebut namaku dengan jelas!"


Pyuuuuh. Oooowkeeh, kalau gitu aku minta waktu bicara tanpa basa basi. Elvira menepuk tangan dan melirik sinis ketidaksukaan pada Clara. Hal itu Clara sadari ketika ia menatapnya dari ujung kaki Cla sampai ujung rambut dengan wajah mimik miring.


"Kamu uuuch. Apa yang mbak ingin katakan. Cepatlah aku tidak punya banyak waktu!" titah Clara.


"Heeeuh. Sombong sekali, oke aku langsung saja. Begini kita harus bertemu Bunda Fandi. Dengan begitu, kita akan tau siapa menantu yang terbaik. Karna aku mengingkan Fandi juga menikahiku!"


"Apa menantu? Kau. Untuk apa aku harus merasakan madu suamiku adalah wanita sepertimu?" ketus Clara.


Clara menatap wajah Elvira yang berlalu pergi.


Ia masuk kedalam kantor dan melemas. Kakinya begitu begetar, jika ia takuti adalah asetnya kini adalah agar sang kaka yang berada di penang tidak bermasalah akan ekonomi. Bagaimanapun ia tak bisa jika ka Arumi dan Gilang kesusahan. Lalu ia tak mungkin menyerahkan usaha Almarhum Oma Seiyen jatuh di tangan Elvira begitu saja.


Clara masih terdiam, apa yang masih di rahasiakan suaminya. Mengapa ia sampai kini belum juga memberitau akan sosok Bunda.


"Mas Fandi. Apa yang akan kamu lakukan jika Elvira berbuat licik seperti itu. Apa kamu akan menerima permintaannya. Aku tak ingin di madu tapi aku juga tak ingin ka Arumi dan Ka Gilang menjadi dampak karna masalah kita."


Clara hanya menunduk dan memegang hati di dadanya. Ada rasa sesak yang membuat ia ingin pergi begitu saja.


******

__ADS_1


Di house Private. Kediaman Aris dan Elvira kala itu mereka masih berdebat akan sesuatu yang tak masuk akal. Mereka saling marah, namun tak bisa berbuat apa apa, ia harus mencari bukti agar Fandi bisa mudah ia kendalikan. Aris pun tersenyum karna Bunda Fandi adalah ibu tirinya yang akan ia libatkan untuk mengancam.


"Aku ga mau tau. Kau dan aku bukanlah apa apa, jangan sentuh aku lagi Aris. Kita tidak sejalan!" menyibak selimut putih dan bergegas ke kamar mandi.


"Asalkan kau buat ambisi untuk mengambilnya. Aku akan melepasmu El." senyum Aris. Elvira pun berlalu dan pergi begitu saja setelah menata pakaian di tubuhnya.


Tak lama Fandi telah tiba menjemput Clara. Ia begitu memeluk dengan Erat ketika tau istrinya membengkak di pelupuk matanya.


"Yank. Kamu kenapa?" tanya Fandi.


"Mas. Tadi Elvira datang, ia memintamu untuk membacanya. Tapi aku tau apa isinya, karna tadi dia memintaku untuk... "


"Sssst. Semua akan baik baik saja, Mas tidak akan menduakanmu. Sekalipun kita kehilangan apa apa. Mas tak ingin kehilanganmu Clara!"


Clara tersenyum. Ia memeluk Erat Fandi kala itu, tapi hatinya begitu bergetar dan bertanya kembali.


"Say. Tapi gimana dengan Ka Arumi dan Ka Gilang. Mereka pasti akan kesulitan jika semuanya..."


Fandi pun mematahkan segala perkataan Clara. Fandi membuat pelukan Erat kala itu.


"Mas akan memikirkannya. Tugasmu adalah selalu bahagia sayang. Jangan tinggalkan dan ragu akan kasih sayang Mas untuk kamu!"


"Cukup Fandi. Kamu ga bisa lakukan itu, karna aku sedang Hamil!"


Teriakan Itu membuat Clara dan Fandi menoleh. Karna ia tau persis apa yang ada di dekatnya. Ia tau persis suara siapa itu yang membuat dirinya naik darah ketika ucapan tak masuk akal.


-----bersambung----


Haiy Haiiy masih menunggu gak kelanjutan Clara?


Yuuuks jejak komentnya.

__ADS_1


Mohon maaf jika update masih belum stabil. Terus nantikan kisah Clara ya. Apa yang akan terjadi jangan unfavorite.


Happy Reading All.


__ADS_2