Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Keberuntungan


__ADS_3

Clara duduk di tepi jalan Zebra Cross. Ia tak jauh menyusuri jalan dan lelah. Sudah puluhan kali ia melamar, niat untuk membantu ekonomi Ka Arumi yang berdagang. Terlebih ka Gilang merantau jauh menjadi supir pribadi di negeri sebrang.


Ia menghela nafas dan tiba saja tubuhnya tertubruk seseorang.


"Auuuuw.. Sakit." pekik Clara yang kesakitan.


"Maaf. Anda tidak apa- apa?" seseorang.


Lalu Pria itu menatap Clara dengan tatapan penuh. Clara yang menepuk lengan dan debu di bagian rok hitamnya. Ia pun menoleh dan menatap sosok pria itu dengan terkejut.


Mata itu mirip dengan sosok yang ia kenali. Tapi Cla sedikit mencoba menahan bau yang tak tertahan. Ada sedikit luka bakar di goresan pipi pria itu.


"Maaf. Saya terburu buru, kebetulan sekali saya harus mengganti kompresan dan perban luka di pipi wajah kiri saya. Maaf ya.. !"


Clara senyum. Ia merapihkan map coklat, tak lama pria itu duduk berada di meja sendiri. Jauh dari jangkauan makan siang karyawan sekitar yang mencemoohkannya.


Tak terasa perutnya bunyi. Ia memesan bakso dan es manis pada pedagang bapak paruh baya. Lalu setelah mendapat mangkuk, ia menatap seisi meja dan bangku terisi penuh.


Hanya seorang pria yang menabraknya dengan luka di bagian pipi wajah. Clara pun mau tak mau menghampiri dengan pelan dan sedikit ragu. Tapi keraguaanya di kalahkan dengan rasa lapar. Sehingga ia mencoba untuk mengabaikan dan fokus pada mangkuk makanan dan gelas minumannya.


Meski mustahil pria itu terkejut. Wanita yang ia tabrak mau duduk satu meja dengannya.


"Kamu serius. Tapi aku ...?"


"Gak apa- apa mas. Aku makan duluan!"


Clara dengan lahap menghabiskan makanan dengan cepat. Membuat pria itu terkejut dan bingung, lalu ia menatap map coklat wanita di depannya itu terjatuh ketika ia membayar makanan.


Pria itu menatap berkas dan nama. Ia lalu memanggilnya.

__ADS_1


"Mbak Clara... tunggu !!"


Clara merasa terpanggil. Ia segera menoleh dan menatap ke arah belakang. Lalu menghiraukan tatapan orang orang yang berbicara padanya.


"Map anda terjatuh. Kalau boleh tau, anda mau melamar kerja di tempat saya?"


Clara bingung, lalu menatap tampilan pria itu.


"Ga usah takut mbak. Saya orang baik - baik. Hanya saja saya cuma petugas kebersihan. Kebetulan di tempat saya bekerja membutuhkan Eo catering. Apa mbak mau daftar, ya masih baru sih. Paman saya yang merintisnya!"


Clara senyum. Ia memang sangat membutuhkan pekerjaan setelah puluhan melamar dan mengajukan interview selalu gagal. Entah kurang cocok atau ada saja hambatannya.


"Ya. Kapan saya boleh melamar?" tanya Clara.


"Boleh saya ambil lamaran kerja. Cantumkan nomor ponsel, lalu besok mulai bekerja di gedung biru, sebelah kantor pialang itu mbak!"


Clara tertegun. Ia berterimakasih, ia sadar jika penampilan buruk tidaklah sikap nya buruk juga. Ia berjabat tangan mengulurkan lebih duku pada pria itu.


"Oowh.. iya saya hampir lupa. Ardi nama saya mbak, saya senang bersih bersih. Tenang aja kalau mbak udah keterima. Panggil saya aja, saya bakal siap bantu. Terimakasih juga tadi udah benerin plaster di pipi saya mbak. Makasih udan ga jijik makan satu meja."


Clara tesenyum sempit. Ia awalnya memang jijik, tapi karna laparnya mengalahkan. Ia pun harus berpisah ketika Ardi pamit lebih dulu. Tatapan Clara benar benar tak bisa lepas, ia membuka dompet dan menatap foto Fandi yang ia rindu.


"Mas. Paman Abie bicara kamu telah di makamkan. Tapi mengapa aku tak di beri kabar, mengapa aku harus menemui kamu di tempat peristirahatan. Tanpa aku melihat fisik kondisimu. Hanya papan nama yang aku lihat saat itu.


Dan kamu tau Mas.. aku melihat pria baik yang berwajah rusak. Tapi mata itu dan gaya postur itu mirip denganmu. Mengapa aku harus di pertemukan dengan sebagian kecil kemiripan mu.. Aku rindu kamu Mas." lirihnya.


******


"Ka Arumi udah dapat kabar dari ka Gilang?"

__ADS_1


Arumi menggeleng. Lalu ia hanya mendapat surat saja, terlebih Danzel yang kini bersekolah dan tinggal di mansion Keiyra sang sahabatnya. Ia begitu terbantu untuk pendidikan sang anak. Meski ia menolak bantuan lebih, hingga ia menuruti untuk membawa Danzel dan menyekolahkan ia di tempat terbaik bersama Kaico sang kaka kelas. Anak sulung dari Keiyra sahabatnya.


"Ka. Aku sebentar lagi mau berangkat, udah jam delapan pagi ini. Cla berangkat dulu ya!" pamit Clara pada Arumi.


Clara kini telah sampai di gedung Zahwa Catering. Posisinya berada dalam tengah gedung, yang menjulang ketinggian. Normal pada gedung sebelumnya ia melamar bekerja.


Tak menunggu lama. Ia masuk dan menjawab beberapa pertanyaan dengan kilat. Jelas dan Fasih, juga seorang bernama Ardi masuk dan mengambil gelas kopi.


"Bos. Saya akan buatkan kembali!"


Ardie menatap Clara. Ia menyemangati Clara untuk tetap semangat. Hal itu memicu Clara terbawa senang dan bersemangat.


"Ardie..." teriak bos Verzo.


"Ya Bos. Ada yang bisa saya bantu?"


Bawa wanita ini pergi. Lalu beri intruksi pekerjaan apa yang harus ia lakukan. Dan kamu Clara kamu akan di bimbing Ardie!! titahnya.


Clara kebingungan. Pasalnya ia bekerja sebagai Eo. Tapi ia terkejut yang memerintahkannya adalah seorang petugas kebersihan dalam catering.


"Kenapa bengong. Ayo sini Cla!"


"Ya. Mas, aku masih bingung. Tapi terimakasih sudah membantu pekerjaan saya. Seolah hari ini sangat mulus meski lelah." ungkap Clara.


"Ya, baiklah.. Hati - hati. Tolong di tutup publish aja!" titah Clara yang masih senyum menatap pria yang notabane bukan dirinya.


"Mbaak ... Mbaak. Kok bengong sih. Ada masalah?!" tanya Ardie.


---bersambung---

__ADS_1


~Happy Reading ~


__ADS_2