
"Braaaagh... " lemparan Vas bunga bermotif daun empat asal london. Aries menjatuhkan dengan kesal.
Dasar wanita ga tau di untung. Bahkan, dia masih saja bekerja menjadi manager rendah yang pernah udah gue bakar. Dasar wanita ga bisa move on. Perusahaan murahan yang di miliki Fandi, bekas ruangan itu aja udah gue jual. Dia masih bertahan cuma kenangan tanah itu milik Fandi. Vira.. Vira.. Lihat apa yang gue bakal lakuin buat lo menderita udah nyampakin perasaan gue !! picik Aries.
Sinta dan Clara telah berada di Hotel Zero. Setelah bertemu Klien, ia kembali ke kantor dan berpisah keruangan masing - masing. Clara berusaha menuju pantry sekedar ingin menyeduh coffe untuk merehatkan lelahnya.
Ceeeuurrrttt... suara kucuran dalam mesin kopi. Clara menuangkan gelas dan berbalik arah.
"Huuaaaah.. Astaga. Mas Ardie.. Maaaf.. Maaafkan saya!" pinta Clara. Coffe dalam gelas tumpah mengenai kemeja kerja Ardie. Clara mencoba mengambil tissue dan menyeka, dengan refleks, Ardie menepis.
"Gak apa- apa Mbak. Cuma sedikit, panas dan rasanya ga akan serumit masalah hidup saya. Saya juga salah udah mengagetkan mbak."
Tak lama, Ardie membuka kancing kemeja dan membuat Clara berteriak. Namun Ardie menutup mulutnya agar ia tak bersuara.
"Ssssst... Mbak. Saya pakai kaos dalaman kok. Tenang aja!" meminta Clara tak bersuara.
Clara mengkrenyitkan nafas dalam buaian pandangannya. Lalu ia menuang kembali air minum dan keluar dari ruangan pantry. Lalu meninggalkan tatapan Ardie yang menatapnya.
"Saya.. Permisi duluan ya!" ucap Clara. Dan Ardie hanya mendeheum.
Sehingga Clara kembali menoleh... ,, melihat Ardie yang mengucek kemeja itu dalam wastafel.
Clara duduk dan kembali bertugas. Tapi pikirannya masih mencerna akan suara deheuman Ardie yang mirip dengan Fandi suaminya yang telah tiada. Entah mengapa ia semakin rindu karna ia sampai kini tak bisa membongkar dan mengautopsi pada pihak rumah sakit. Bahkan memindahkan makam suaminya sendiri. Tapi di tolak mentah oleh Aries, yang notabane masih keluarga.
"Mas. Aku semakin rindu sama kamu. Tau gak, aku sekarang sudah bekerja. Tapi pria yang menolongku, meski wajahnya buruk. Tapi ia mirip dan ada kesamaan seperti kamu. Apa kamu damai dan melihatku mas di alam sana?" batin Clara menatap foto di dompetnya.
Permisi mbaaak... ini kopinya. Saya udah ganti, maaf tadi saya mau ambil sesuatu mengangetkan!!
"Mas Ardie. Padahal ga perlu serepot ini. Saya... mau ta .. ?"
Belum sempat Clara menanyakan sesuatu. Ardie telah pamit dan menutup pintu dengan kilat. Hal itu membuat Clara penasaran dengan sosok kepala kebersihan itu.
Clara mengikuti langkah Ardie. Lalu ia menengok ke ruangan yang mempunyai dua arah.
__ADS_1
"Ke kiri toilet pria.. Ke kanan.. Ruang staff khusus.. Aaakh, Cla ngapai juga sih gue penasaran. Lagi pula, tadi mau ngomong apa ya, kan jadi Lupa." gerutunya.
Clara melangkah kembali. Tapi saat beberapa langkah, ia terkejut karna teriakan hentakan pria yang tak jauh.
Gue minta cepat lo kirim data keluarga Seiy yang udah hancurin semuanya. Gue bakal bikin perhitungan. Satu minggu enggak dapet, gue bakal gantung lo !! teriaknya.
Clara terdiam, ia kembali melangkah dengungan suara di balik pintu staff. Lalu setelah terdengar suara ponsel yang di banting. Clara mengumpat di balik celah pintu seukuran tubuhnya. Clara tak berkutik, tapi matanya jelas menatap Mas Ardie yang membuka pintu dan berjalan kembali memakai kemeja kebersihan dengan cepat.
"Sebenarnya siapa Mas Ardie. Tampang baiknya. Kenapa dia beda saat memarahi orang di telepon?" benak Clara begidik seram.
Jam pulang Clara merapihkan map. Lalu Sinta menghampiri untuk pulang bersama meski sampai depan lobby. Karna arah mereka pulang tak sejalan.
"Cla. Kamu gimana deket sama Mas Ardie, dia ga marah marahin kamu kan?"
"Mas Ardie. Maksud kamu kepala kebersihan Ta?" tanya balik Clara.
"Yeuuuh.. ilah. Pake amnesia juga lagi, udah ketularan kepala kebersihan... "
"Eekh.. cowo gue udah jemput tuh. Japri aja, tar gue masuki group karyawan ya. Yang jelas Mas Ardie tuh misterius dan introvert.. Gue aja ngira, kalau kamu orang bawaaan dia. Udah pasti deket dong." goda Sinta tersenyum kecil dengan lirikan.
Clara terdiam. Ia menatap Sinta yang sudah masuk kedalam mobil. Ia memijit mijit kepalanya karna pusing dengan banyak kejanggalan dan pertanyaan Sinta. Clara pun berdecak bibir sekedar malas untuk berfikir.
"Sudahlah.. Tugas aku sekarang bantu ka Arumi cari uang. Supaya ka Gilang bebas dari hutang dan bunga. Jadi mereka bisa kembali bersama, gimana kabarnya ya kakak aku?"
Tiiiing... pesan Keiiyra. Dalam ponsel Arumi.
Arumi duduk di taman belakang. Ada rasa sedih ia menatap album foto Danzel dan Gilang. Ia merenung mungkin telah lama berada di sana. Hal itu membuat Clara merasa bersalah dan menghampiri kakak iparnya itu.
"Ka Arumi kangen ya?"
"Eeekh.. Kamu udah pulang Cla. Udah makan, biar kakak siapin ya?"
"Ka. Kita makan malam di depan yuuks. Nasi goreng pinggir jalan. Lagian udah lama kan ga hirup udara segar. Jangan jadikan aku anak kecil lagi... Cla dulu manja. Tapi Cla siap untuk berbagi apapun!"
__ADS_1
Arumi tersenyum. Di masa sulit Clara ia mengerti banyak perubahan pada adik iparnya itu. Hanya saja Arumi harus menunggu entah berapa tahun lagi agar Gilang pulang dan bebas dari tuntutan tak bersalah.
Clara tak mengetahui mengapa Gilang harus menggantikan kesalahan yang memang adiknya adalah korban tapi jadi tersangka.
Sayang. Percayakan, aku ga akan pernah berbagi kasih. Tolong jaga Clara selama aku ga ada. Clara ga bersalah atas kecelakaan itu. Hanya saja Fandi kritis, kita ga punya saksi saat ini. Satu satunya cara, aku harus membayar hutang untuk membayar pada jaksa dan keluarga Elvira.
Tapi kenapa kamu harus jauh merantau. Aku takut sayang. Tangis Arumi pecah.
"Kak... Kok bengong?" tanya Clara.
"Kaka mandi dulu ya. Ayo kamu juga harus bersiap!" titah Arumi.
Uuuuuuuuaaawwkh.. tempat ternyaman memang kasur empukku. Setelah sekian lama akhirnya lelah penat terbayar juga.
Clara mencatat tanggal kalender. Lalu melingkar hitungan catatan hutang, untuk ia harus mencapai target dalam kantor tempat bekerjanya saat itu.
Tak lama, ia tak sadar jika notif pesan Chat Sinta telah masuk. Group C Sweet telah di tambahkan padanya.
"Catering Sweet nama groupnya. Lucu juga, makasih ya Sinta. Kamu baik sekali udah bikin aku ga sendirian."
Clara pun menatap nomor kontak gambar pada sebuah group. Setelah membaca banyak ratusan chat. Satu persatu ia scrool, tapi matanya membelalak kaget saat seseorang mengunggah foto dengan caption.
Guuyss.. Nenek sihir came back. Tau gak, tadi aku liat dia datang menemui bos Venzo. Ulaaallaaaa ... Yuuuks. Siap siap besok moodboster turun.. Kenceng'ngin stamina Saya... Say semua okeee.. !!!
*****
Percakapan itu membuat Clara terhenti. Ia tak menyangka jika wanita yang menjadi manager Eo adalah Elvira Ratuliu.
"Aku ga salah liat kan. Setelah menghindar atas semuanya. Kenapa aku terjebak, setelah bertahun tahun menjauhi. Mengapa takdir mempertemukan kami lagi?" batin Clara melemas.
---- bersambung ---
Next.. Up double ga nih? 😉
__ADS_1