
"Aku ..."
Clara masih terperanjat kaget mendengar pertanyaan dari pria dibelakangnya, dan kali ini dia sangat membutuhkan pegangan tapi tak tahu kemana harus memegang sehingga Clara hanya mengepalkan tangannya.
"Kau harus mengatakan alasannya karena itu menjadi faktor penting dalam penentuan kita bersatu atau tidak!"
Pria itu menambahkan karena Clara belum menjawab pertanyaan darinya.
"Aku ingin kasih sayang dan perhatian. Tapi bukan berarti kembali adalah yang terbaik. Apa kamu lupa dengan semuanya Mas Fandi?" sendu Clara.
Clara yang sudah tersadar tidak lagi menunggu dan langsung mengutarakan jawabannya
"Kalau ingin kasih sayang dan perhatian, kembalilah! apa aku harus menebusmu dengan bersimpuh, bahkan sekalipun kamu menolak aku sudah menyiapkan pernikahan, Cla!"
Pria itu melepaskan tangannya dari dua gundukan yang tadi diremasnya dan sekarang dua tangannya memegang lengan Clara sambil matanya menatap pupil mata Clara.
"Iya, kamu benar mas Fandi. Aku ingin kasih sayang dan perhatian." Clara menganggukkan kepalanya dan menyatakan apa yang diinginkannya pada pria bernama Fandi yang kini posisinya sangat dekat dengan Clara.
Harum menusuk dari parfum maskulinnya sungguh membuat Clara terlena. Ini pertama kalinya dia sangat dekat dengan seorang pria yang pernah jadi suaminya, apalagi tanpa busana, membuat tubuh Clara merespon aneh untuknya. Jujur saja, rasa cintanya masih sama, hanya sebuah kekecewaan karna anaknya pernah jadi korban semasa dalam kandungan.
'Aku, apa Fandi lupa aku pernah hamil anaknya. atau ia masih belum ingat, tidak tentu saja. Cukup bagi dia untuk menemukanku. Jadi dia pasti sudah tau,"
Fandi hanya tersenyum menatap Clara.
"Kau pikir aku bisa memberikan yang seperti itu lagi, setelah apa yang terjadi. Sangat sulit bagi kita untuk kembali?"
Fandi menganggukkan kepalanya, ia tak percaya apa yang di pikirkan Clara begitu sangat keras kepala. Ia tau, perasaan Clara masih dominan membencinya. Tapi perjuangan dirinya mendapatkan kembali adalah yang utama untuk ia lakukan, membuktikan rasa bersalah khilafnya.
"Meski Gilang menjanjikan itu padamu. Kau bisa memberikan kasih sayang dan perhatian padaku, itu yang dikatakannya, karena itu aku memberanikan diri datang ke sini. Agar kita tak lagi berhubungan di masa depan. Tak ku sangka, mas Fandi seorang prof dan pria yang mapan tega melakukan ini!" Clara memberikan jawaban sesuai kata hatinya.
__ADS_1
"Cla, bukan begitu. Mas Fandi benar tulus, bersama adalah hal tepat bagi kita. Kemarin maaf! mas Fandi melakukannya karna terbawa."
Keinginannya untuk mendapatkan kasih sayang, sudah membuat Fandi menjadi buta dan berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkan impiannya itu, namun tidak untuk Clara kembalinya pria yang telah membuatnya hancur. Mustahil ia harus kembali bersatu. Setelah apa yang di alami bersama dalam waktu yang cukup menyakitkan.
Tapi kenapa Fandi betul betul ingin mendapatkan kasih sayangku? Kenapa ia berusaha keras seperti ini. Tidak seharusnya ia mencariku dari keluargaku setelah sekian lama aku berusaha melupakan.
"Apa yang harus mas Fandi lakukan untukmu?"
"Apa mas Fandi sudah cari tau, kenapa kita berpisah?"
"Maksudmu .., katakanlah Clara!"
"Aku tau, Vira saat ini mendekam dalam pengawasan. Tapi apa sipir akan jujur jika ia benar mendekam dan dihukum? Apa kamu tau, betapa aku sangat gila. Aku gila.. karna cinta pertamamu mas Fandi. Aku di fitnah, aku di hancurkan bukan aku saja, bahkan ka Gilang mendekam di penjara menggantikan aku. Temanku mencemooh pergi. Arumi dan Danzel berada dalam kesulitan, bahkan aku hamil dan keguguran ketika aku di masukan dalam rumah sakit jiwa. Apa kau tau mas?" tajam Clara menatap pria di depannya.
"Apa." sesak Fandi.
"Kamu cinta aku! tulus kamu bilang? Tapi kamu sendiri tak bisa menjelaskan dan mencari tau. Apa penyebab kerasnya aku."
"Jelas! karna kami bukan orang pintar, jelas kamu seorang Prof. Apa kamu lemah untuk mencari tau, apa orangmu juga menghianatimu dan berpihak pada Elvira. Wanita pertama yang sulit kamu lupakan, cinta pertamamu. Alibi, omong kosong. Jangan lagi dekat padaku. Anggap malam kemarin adalah malam terakhir kita bertemu!"
Sontak perkataan Clara, membuat Fandi jatuh tersungkur. Sesak rasanya apa yang ada dalam benak wanita yang ia cintai begitu sulit.
'Pria, suami macam apa aku ini.' benak Fandi masih lemas, membelenggu menatap Clara pergi dengan sebuah taksi.
Berjam jam Clara masih berada di perjalanan, masih dengan mode tangisan dan kesedihan mendalam. Supir enggan menanyakan untuk kesekian kalinya, karna jawaban Clara hanya meminta supir untuk memutar ibu kota.
"Mbak! mau ke mesjid terbesar saja. Maaf atau wihara, atau gereja gitu. Sebab maaf! kita sudah berputar sebanyak tujuh kali." ungkap supir yang khawatir.
"Turun di depan aja pak!" kesal Clara, karna ia juga bingung akan semua pertimbangan. Arah kemana saja, ia juga bingung untuk pulang ke rumah Arumi tidak mungkin, sudah pasti Fandi akan mencarinya lagi.
__ADS_1
Clara memberikan uang sebanyak sepuluh lembar, dengan santainya keluar tanpa menghiraukan supir untuk menunggu kembaliannya.
"Mbak."
"Hemph! apa lagi pak?"
"Kembaliannya,"
"Ambil saja."
"Mbak."
"Astaga, apalagi pak." menyingsringkan tisue kehidung.
"Sebut nama tuhan, sesuai kepercayaan! apapun masalahnya. Pasti ada jalan, percaya ya mbak semua ada hikmahnya." ungkap supir taksi dan berlalu.
Clara hanya mendengus nafas, ia berjalan sudah sekitar sebelas kilometer. Lalu menoleh dan berdiri menatap laut yang tepat berada di jembatan layang. Terlihat dibawahnya ada jalan lagi, namun matanya tertuju di ujung sudut sebuah lautan yang menyapu keindahan matanya.
To Be Continue!!
Hey! maafkan kisah Clara akan berakhir ya! Detik detik, semoga kalian tidak kecewa dengan endingnya.
Happy Reading All.
JANGAN LUPA MAMPIR KARYA BARU. TEKAN LOVE JADI BIRU.
~ BAD WIFE ~ Update setiap hari.
__ADS_1
Juga mampir di STORY HALWA DAN ZALWA.
Up Setiap Hari.