Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Bab 70


__ADS_3

Satu bulan kemudia setelah kejadian yang tak bisa terlupakan begitu saja oleh Ridy. Mama dan Sarah sang istri yang masih berada dalam penjara atas laporan Rudy waktu itu. Kini Rudy sudah mulai bisa menerima keadaan, dengan adanya Queen dan nasehat dari tantenya Ratna membuat hatinya sedikit demi sedikit faham menerima apa yang berlaku.


Rudy pun sering mengunjungi Queen jika ada waktu, kedekatan mereka kini sudah semakin dekat. Bahkan terkadang Adinda juga Viky mengijinkan Queen bermalam di rumah Ratna bersama Rudy.


Alex dan Nindy yang sudah menikah yang baru saja pulang dari honeymoon, mereka pergi juga atas ijin Viky tentunya. Kehidupan yang di jalani mereka semua sudah mulai membaik, hubungan Viky, Rudy dan Adinda pun sudah tak seperti dulu.


Tetap ada jarak di antara mereka, tetapi tidak menjadikan itu sebuah masalah karena Rudy sudah menyadari jika Adinda tidak lagi bisa di gapai olehnya.


Usia kehamilan Adinda pun sudah masuk waktu melahirkan. Viky juga kini menjadi suami siaga untuk Adinda, karena ingin sekali ada disisi istrinya saat melahirkan.


''Sayang kamu mau kemana,'' tanya Viky yang melihat Adinda pergi ke arah pintu keluar.


''Mau jalan-jalan di belakang mas, boleh yah?''


''Tunggu mas temani,'' jawab Viky yang kemudian berlari menghampiri Adinda.


Sedangkan Queen saat ini sedang bersama Rudy di rumah tante Ratna, Devan dan Lisa serta Mama, Papa sedang pergi keluar rumah.


Hanya Adinda, Viky dan para pekerja di rumah itu. Viky berjalan menyejajarkan dirinya dengan Adinda, melihat perut buncit Adinda yang sudah sangat besar saat ini. Viky begitu menikmati hari harinya memperhatikan dan selalu mengambil moment-moment indah kehamilan Adinda.


''Sayang sudah yah? Mas enggak tega liat kamu jalan lama-lama begini,'' ucap Viky.


''Justru kalau saat kita hamil besar seperti Adinda saat ini, harus banyakin olah raga jalan kaki mas,'' jawab Adinda sambi terua berjalan.


''Kenapa?'' tanya Viky yang tidak tahu menau dengan apa yang di ucapkan Adinda.


''Banyak manfaatnya, buat mempermudah persalinan nanti.''


Adinda tidak ingin Viky panik dengan apa yang sedang di rasakan saat ini, karena sebenarnya Adinda sudah mulai merasakan kontrasi kecil pada perutnya.


Adinda yang sudah pernah melahirkan tidak begitu panik saat ini. Banyak yang sudah di ketahuinya tanda-tanda orang melahirkan.


''Sayang sepertinya kau menahan sakit,'' tanya Viky yang dari tadi memperhatikan expreai wajah Adinda.


''Sedikit mas, tapi enggak apa-apa kok, sebentar lagi jalan-jalannya yah?''


''Kita kerumah sakit yah, biar aku bilang sama bibi untuk mempersiapkan semuanya,'' ucap Viky yang sudah mulain panik.


''Adinda enggak apa-apa mas, udah jangan panik gitu.''


Viky menganggu tak bisa menjawab penolakan Adinda. Tanoa sadar tangan Adinda mencengkran lengan Viky, Adinda sudah mulai merasakan kontraksi yang lebih kuat.


Menarik nafas pelan pelan agar tetap tenang dan menahan rasa sakitnya. ''Mas sepertinya memang harus kerumah sakit sekarang,'' ucap Adinda sambil memperlihatkan giginya.


Viky mulai panik dan bertanya, ''apa kau ingin melahirlan?''

__ADS_1


''Kita pergi periksa dulu yah? Adinda tidak bisa jelaskan?'' jawabnya, karena tak ingin menambah kepanikan Viky.


Mereka berduapun masuk kedalam rumah dan meminta salah satu asisten rumah tangganya menyiapkan segala keperluan yang akan di bawa, akan tetapi Adinda memang sudah mempersiapkannya semua di dalam tas yang sudah di taruhnya di sofa kamar.


Tanpa menunggu lama Viky melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dalam perjalanan menuju rumah sakit Viky terus memperhatikam wajah Adinda yang seakan menahan sakit.


''Apa sakit?'' tanya Viky singkat.


Adinda menanggapinya dengan seyuman, tetapi tangannya mencengkeram kuat baju Viky sampai tubuhnya sedikit condong ke arah Adinda.


Nafas Adinda sudah mulai tak beraturan, ''Mas apa boleh lebih cepat sedikit, Adinda sudah tak tahan lagi.''


Viky membulatkan mata mendengan perkataan Adinda, ''Sayang apa kamu sudah mau melahirkan?''


''Sepertinya begitu mas,'' jawab Adinda terbata bata.


Viky melajukan mobil dengan meninggikan kecepatanya, selang waktu lima belas menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit tempat Adinda biasa periksa kandungan.


Viky dengan cepat membuka pintu mobilnya berlari memutar dan membuka pintu di mana Adinda duduk. ''Mas tak bisa berjalan lagi,'' ucap Adinda yang sudah merasa sedikit basah mengalir di kakinya.


Viky memangkat tubuh Adinda dan membawanya. ''Suster tolong istri saya mau melahirkan.'' Viky teriak meminta bantuan dengan menggendong tubuh Adinda.


Dua orang suster datang menghampiringa, kemudia Viky membaringkan tubuh Adinda. Adinda di bawa kedua suster itu keruang persalinan. ''Tuan istri tuan sudah akan melahirkan, kami harus membawanya ke ruang persalinan.'' Salah satu suster berkata karena melihat cairan yang sudah keluar membasahi kakinya.


Viky mengangguk dan mengikitu kemara arah suster itu membawa Adinda, Viky ingat belum menghubungi keluarganya. Kemudian mengambil telepon genggamnya menghubungi Kakaknya Devan via SMS.


''Baiklah Anda di ijinkan ikut masuk,'' ucap dokter yang menangangi Persalinan Adinda.


Ting satu pesan masuk di handpone Devan, kemudian mengambilnya dan membuka pesan masuk itu.


''Viky''


''Mah, Pah Adinda di rumah sakit saat ini mau melahirkan,'' ucap Devan langsung berdiri dari duduknya.


''Apa!'' Kedua orang tua Devan terkejut, pasalnya tadi saat meninggalkan rumah Adinda tidak mengeluh dan tidak ada tanda-tanda mau melahirkan.


''Ayo Dev kita cepat kesana,'' Mia yang mulai panik karena menantu kesayanganya mau melahirkan,


Sedangkan di pikiran Mia, apa Viky bisa mendampinginya karena tidak ada pengalaman sama sekali. Mia takut jika Viky malah akan membuat suasana tambah rumit.


Devan pun menghubungi Rudy agar membawa Queen ke rumah sakit dimana Adinda melahirkan. Rudy yang baru menerima kabar dari Devan memberi tahu Ratna dan Nindy, merekapun dengan bergegas menuju rumah sakit.


Viky yang berada dalam ruangan ikut merasakan sakit yang Adinda rasakan, Adinda mencengkram erat tangan Viky sampai kuku-kunya menancap di kulit.


Vikypun menahan rasa sakit yang Adinda berikan, dalam hati mendoakan yang terbaik untuk istrinya. ''Sayang kamu pasti bisa, sedikit lagi,'' ucap Viky berusaha memberikan kekuatan.

__ADS_1


''Tarik nafas lalu buang, ikuti ya mba Adinda,'' perintah Dokter wanita yang menangani Adinda.


Adinda mengikuti setiap arahan dari Dokter tersebut. ''Emmm ... '' sekuat tenaga Adinda mengeluarkan tenaganya dan tangisan bayi terdengar oleh Viky dan Adinda.


''Owee ... Owee ... ''


Perasaha bahagia haru dan sedih Viky rasakan saat ini melihat bayi yang masih berlumuran darah di angkat oleh salah satu suster.


Viky mengecup Kening Istrinya dan menangis. ''Trimakasih sayany kau sudah menyempurnakan hidupku.''


Viky menyusap keringat Adinda, Adinda terseyum dan tiba-tiba. ''Uhh dok ... sakit ...''


Dokterpun memeriksa keadaan Adinda, ''sayang ada apa, Dok kenapa dengan istrisaya.'' Viky sudah mulai panik perasaannya takut dan tak bisa lagi di gambarkan dengan kata.


''Tuan tenanglah,'' ucap dokter menenangkan Viky.


''Mba Adinda sepertinya ... ,'' Belum selesai ucapan sanga Dokter Adinda sudah tak tahan dan mengesan mengikuti apa yang dirasakan.


Untuk kedua kalinya tangisan bayi terdengar oleh kedua pasangan suami istri itu. Viky tambah menangis haru mengetahui bahwa istrinya melahirkan anak kembar.


Sebuah kado istiwewa yang tak pernah terpikir bahkan di ketahui, karena setiap kali pemeriksaan dokter hanya menyebutkan bayinya laki-laki.


''Selamat Tuan, banyi kedua Anda perempuan.''


Vity tak henti hentinya menangis haru melupakan kesakitan yang di rasakan. Adindi sudah di bawa keruangan rawat inap sedangkan kedua anaknya atas permintaan Viky di rawat diruangan yang sama.


Keluarga besar yang baru saja datang menghampiri Viky yang masih menangis di ruang ruangan, menunggu suster yang sedang menangangi Adinda.


''Viky kenapa tanganmu nak, lalu kenapa kau menangis?'' tanya Mia kawatir.


''Tidak apa-apa mah, ini hanya luka kecil tidak sebanding sengan apa yang Adinda perjuangkan,''


''Apa kau melihatnya,'' tanya Devan di jawab anggukan oleh Viky dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.


''Kak, Mah, Pah, Queen sayang, Bunda melahirkan satu jagoan kecil, dan satu prinsen seperti Queen.''


''Apa!!'' ucap mereka serempak.


kemudian mereka masuk keruangan Adind dengan sangat atusias setelah di ijinkan oleh Dokter.


''Bunda'' Queen memanggil Adinda yang dalam gendongan Viky saat ini.


Lalu turung dan menghampiri dua bayi yang ada di bok bayi. Mereka semua sangat bahagia di tambah dengan dua bayi yang tak pernah di duga.


Kado istimewa yang sangat di sambut dengan suka cita. Tangisan haru yang tak bisa di utarakan, kebahagian yang tak bisa di ucapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


...The End...


...Trimakasih banyak sudah membaca karya dari Emy pernikahan kedua...


__ADS_2