
"Cla. Tunggu kaka sebentar jangan menjauh!"
"Ka Fandi, aku tau kaka akan kembali sama si pirang itu. Tapi bisa gak tunggu kita resmi pisah. Cla ga sanggup, baru aja Cla mau nemuin kaka untuk di hibur tapi malah tambah sedih bikin mood Cla tambah ancur!"
Fandi menarik Tubuh mungil Clara kala itu, wajahnya yang sedikit pencahayaan di tepi air mancur dan kerlip lampu. Fandi mendekat dan berusaha menaikan wajah Clara.
"Kaka ga da hubungan apapun dengan dia. Justru kaka bimbang karna menyerahkan kamu dengan kekasihmu. Tapi ka Fandi rasa untuk meminta hal lain, kamu akan kembali bukan?"
Clara menatap Fandi. Maksud dari perkataannya membuat Clara sedikit moodnya senyum. Ia bertanya satu hal membuat Fandi tertegun.
"Jika Cla meminta status kita tak berhenti. Jika Cla merobek perjanjian yang Cla buat. Apa kaka akan tetap tinggal. Mengingat senyuman kaka bukan untuk Clara?"
Fandi terdiam. Ada rona mata berbinar membuat hatinya tersenyum. Tapi satu hal ia mencari Bundanya belum kembali membuatnya bersedih. "Clara. Ka Fandi gak tau apa yang sekarang kita jalani adalah benar. Tapi membuat keputusan status kita berakhir membuat hati ka Fandi tak rela."
"Apa semua karna wanita pirang itu masih di hati kaka. Apa kaka masih anggap Cla sebagai adik?" tanya detail Clara.
Fandi pun memeluk Clara. Sosok pelukannya membuat Fandi terobati akan kerinduan sang Bunda. Ia mengecup pucuk rambut Clara dan memintanya pulang bersama.
Ketika Fandi meregang erat tangan Clara. Saat itu ia menghubungi Rein yang masih mematung di pintu ruangannya.
Hal itu membuat Clara dan Fandi membulat melihat aksi cacing Kremi, bagai tiduran mencari celah lubang pintu untuk pulang kerumahnya.
"Ngapain kamu di sini Rein?"
"Yeiiy. Kalian udah balik. Gara gara Mas Yeiy nih mata eike jadi ketiduran karna bimbang. Eikee ditinggal si Misel sama Kean. Udah gitu mbak pirang yang mas Yeiy suruh anter pergi ketakutan. Genges kesel deh Aakh ... " menginjak kaki dengan frustasi.
"Ooowh." balas Clara dengan Fandi bersamaan.
Fandi mengambil kunci mobil, setelah masuk mengambil tasnya. Lalu ia mengantar Rein tepat dipelataran gang kostnya.
"Lusa kalian sarjana kan. Jagain Clara gw ya Kremi!"
"Yes. Aciiiip deh, ada fulus eikee bisa makan dan bisa kuat juga tenaga jagain Clara. Rebees pokoknya. Udaah yaa makasih loh udah dianterin."
Heuuumph .. Serak suara Fandi membuat Clara dan Rein menatap Fandi.
"Cepat Turun Kremi!"
Fandi berteriak karna tak sanggup melihat wajah ilfill Rein yang sok cantik padahal dia punya pedang dibawahnya. Hahaaahaa ....
.
.
.
"Udah sampai Cla. Kita bersih bersih dulu ya. Ka Fandi bakal buatin nasi goreng. Kita makan dulu. Kamu pasti laparkan?"
"Mmmh .." terdengar suara nyaring perut Clara. Ia pun malu menutup wajahnya. Tapi Fandi membuka jari tangan Clara dan memegang erat wajahnya berusaha mendekati.
"Astaga. Gokil deh, kenapa seperti ini membuat Aku deg degkan sih." batin Clara menutup mata.
Fandi berusaha menyentuh bibir Clara dengan jemari halusnya. Ia mendekatkan dan berusaha membuka ranumnya untuk saling bertautan.
Tliith.. Tliith. Ponsel Fandi berdering.
Clara membuka mata dan menatap wajah Fandi yang amat dekat kala itu. Menarik nafas dan Fandi membalikan ponselnya, karna Elvira berusaha menganggu dalam keadaan tidak tepat. Ia mematikan ponsel dengan sekejap lalu menempelkan ranumnya dengan kepemilikan Clara yang tipis dan indah memesona itu.
"Ka, siapa tau penting. Angkat dulu!" ucap Clara dengan perasaan berdebar.
__ADS_1
"Tidak penting. Ada hal yang sangat penting saat ini. Bolehkah kaka melanjutkannya?" tanya Fandi setelah mengecup kilat.
Clara tersenyum dan kembali menutup mata. Ia membiarkan Fandi mengexsplore segala yang bertautan dengan lidah dan bibir yang menyatu. Membuat kecupan sangat romantis dan penuh cinta selama beberapa menit.
"Terimakasih." ucap Fandi setelah selesai dan mengakhiri. Clara masih tersenyum malu dan menempelkan jarinya ke dalam bawah bibirnya.
.
.
.
Ke esokan harinya.
Clara masih teringat bahagia kejadian semalam Fandi sangat romantis membuat ia sebagai ratu dengan perhatiannya. Tapi ia teringat akan dimana hal Fandi tak menyentuhnya lebih, padahal ia telah sah resmi bukan status bohongan lagi. Bahkan semalam telah merobek perjanjian itu dan saling berjanji.
"Sudah bangun Cla. Apa yang kamu pikirkan?"
Fandi masih dalam handuk piyama. Lalu ia memeluk Clara dari belakang. Meski ia amat tergoda, tapi Fandi berusaha menahannya agar Clara bisa sarjana dengan lancar. Ia tak mau membuat kesulitan Clara kelak dalam berjalan nantinya.
"Kak. Kenapa semalam kaka ga melakukan hal lebih?"
"Astaga. Bocah manja ini. Kamu begitu terang terangan ya. Kalau kaka lakukan, bagaimana besok acara kelulusan mu Cla?"
"Memang ada apa. Kenapa dengan besok, apa hubungannya sih?" tanya Clara.
Fandi pun memberikan kecupan di jejak leher dan menurun segalanya. Ia gemas akan kepolosan Clara, ia lalu memberikan sebuah tanda dan semakin kebawah membuat Clara mendesah meski dalam posisi berdiri dan memeluk dari belakang. Sehingga Clara makin bergetar hebat dan lemas ketika sesuatu mulai terasa menonjol dibalik tubuhnya dan tak sadar ia tak memakai satu helaian pun. Apalagi saat kedua gundukan Fandi mengusap lembut.
"Kak. Aku takut." lirih Clara.
"Heuumph. Bukannya kamu berusaha membuat Kaka On dan kamu yang memulainya kan?"
Fandi pun memegang erat Clara. Ia membuat kembali tanda indah merah di jejak tubuh Clara. sudah berapa kali Cla melemas.
Fandi berusaha sabar untuk memberikan edukasi dan pelajaran soal memenuhi kebutuhan biologisnya mengingat kepolosan dan pertamakalinya Clara melakukan.
"Kaka ga akan menyentuhnya sekarang. Kita akan pergi berlibur. Honeymoon setelah kamu lulus Ya. Tapi kamu harus melepaskan tuntas pekerjaan lain untuk menuntuskan hasrat kakak yang sudah On dari tadi saat ini!"
Clara hanya bermodal keberanian. Tangan Fandi seolah mengajak Clara dan mengajarkannya.
Meski dengan halus dan membuat aksi Clara takut akan sesuatu pedang yang masih dibalik helaian pakaian. Ia pun berusaha untuk merengkuh dan membuat Fandi kembali rileks. Terjadilah sesuatu moment dimana Clara dan Fandi meng- exspresikan kegiatan di pagi hari untuk pertama kalinya.
.
.
.
"Eeikh. Yeiy kenapa sih dari tadi melamun aja. Habis kenapa sih, cerita dong Cla?"tanya Rein.
Tak lama Kean dan Misel ikut hadir. Tapi Rein masih memicik sebal dan memiringkan tubuhnya seolah tak mau melihat kearah Misel dan Kean.
"Ga usah tampak ancur kaya gitu Rein. Muka udah jelek abiiz malah ditambah. Masih marah soal kemarin?"
"Ga usah nanya deh lo Aakh ... "
Clara pun melerai. Tak lama Fana dan Fani bergabung. Ia memesan makanan dan minuman di kantin.
"Clara. Dan elo nyuuks kita ke mall yuuks. Ini hari terakhir kita bukan. Udah beli kebaya buat besok?"
__ADS_1
Clara pun menjawab dia udah tinggal ambil. So sore ini dia ditunggu oleh Fandi untuk kesuatu tempat.
"Kean, Rein, Misel. Elo disuruh laki gw nemenin Gw. Katanya baju pesanan kalian juga udah ada buat besok!"
Tiga Kremi berbinar binar. Membuat Fana dan Fani tercengang kala itu.
"Gw gak salah denger Clara. Laki gw, elo bukannya nikah diatas kertas. Sesuai perjanjian lo bilang kan?"
Clara tersenyum. Dia berkata, semua udah berakhir dan happy ending. Nanti juga lo tau. Udah yaa. Kita cabut duluuuan. Nanti kita ketemuan di butik ya!!
Tiga Kremi menyeruput jus melon dengan cepat. Melambai liuk dan mendadah goodbye pada Fana dan Fani dengan senyum lebar.
"Daaah. Eiike tinggal yeee. Sorry kami ada urusan penting untuk masa depan." sementara Fana dan Fani terdiam dan mencoba mencari tau.
Fana menghubungi kakak sepupunya.
"Ka Sadiya yakin. Masa ga bisa sih buat hubungan mereka hancur. What apa mereka makin dekat bakal jadi honeymoon?"
Fana menutup ponsel dan berbicara pada Fani. Hingga mereka yang mengetahui desis identitas Fandi. Ia berusaha membuat hubungan mereka kandas dan mengambil hati Fandi untuk jadi pasangan hidupnya.
.
.
.
ButikQue S.
**FANDI BERADA DI BUTIK KAWANNYA.
Ia menampakan perlahan agar Clara mengerti siapa dia dengan perlahan**.
"Eeitdah. Mirip kecubung loh Mis pake kemeja gitu." lirih Kean.
"Lah dari pada elo. Kaya kecambah kecebur di air sumur." balas Misel.
"Hahahhaha. Keleleuleup dong eike. Eekh apa ngambang ya?" tanya Rein berfikir lain.
Fandi dan Clara hanya menggeleng. Pasalnya meski tiga pria itu aneh, teman Clara. Tapi dia sangat setia dan membantu dalam menjaga Clara. Bahkan ia tak menyukai Fana dan Fani kedua teman Clara yang seperti tidak baik pada istrinya. benak Fandi berfikir.
"Ka. Terimakasih Ya." lirih Clara menatap kaca didalam ruangan ganti.
"Heuuumph. Terimakasihnya nanti setelah kelulusan. Kamu harus melakukan suatu hal untuk kakak!"
Clara tersenyum, Lalu meminta untuk mengubah nama panggilan saat ini dan seterusnya.
"Gimana kalau Say ?" tanya Clara.
"Kalau gitu. Kaka panggil kamu Yang. Gimana?"
Mereka pun sepakat dan saling tersenyum.
.
.
.
Fandi : Thanks ya Tor udah merubah takdir gw ga mumet lagi.
__ADS_1
Author : Iyee jangan seneng dulu lo Fandi. Tergantung mood Author gimana nanti kedepannya. Siap siap aja kuatin jantung tetep nempel ga copot Yaa !!