
Dua bulan kemudian
'DeJavu', mungkin itu yang saat ini tengah dirasakan oleh Pras dan Bu Tatik. Perasaan yang pernah mereka berdua rasakan detik-detik menantikan kehadiran bayi imut yang kini sudah berusia enam tahun.
Ibu yang sedang duduk di kursi tunggu di depan pintu kamar bedah terlihat begitu cemas.
Sedangkan Pras ikut masuk ke dalam ruangan untuk memberikan semangat kepada Jenny. Jenny saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati di atas meja operasi.
Tangan kanan Pras menggenggam erat tangan Jenny, sedangkan tangan kirinya mengelus dengan lembut kening Jenny.
"Sabar ya sayang, kamu pasti kuat. Baby boy pasti akan lahir dengan sehat. Mas akan selalu ada disisi Kamu," ucap Pras menyemangati Jenny.
"Makasih ya, Mas," balas Jenny.
Beberapa menit kemudian air mata Jenny mengalir bak banjir yang tak pernah bisa terbendung saat mendengar suara tangisan bayi yang selama ini ada di dalam perutnya kini ia dapat melihat bahkan menyentuhnya.
"Alhamdulillah, bayi laki-laki Ibu sehat sempurna, dengan berat badan 3,4kg panjang 61,5cm," ucap Dokter yang melakukan operasi pada Jenny sembari menyunggingkan senyum indah.
Setelah sang bayi dibersihkan, Pras segera mengadzaninya sebelum diberikan kepada ibunya.
__ADS_1
Setelah Jenny selesai dibereskan kembali, ia dipindahkan ke ruang perawatan. Bu Tatik begitu antusias ingin melihat dan menggendong bayi laki-laki imut yang kini hadir di tengah-tengah mereka.
"Duh, cucu Nenek! Pras gantian dong, Ibu juga mau gendong bayinya," rengek Ibu sambil menyodorkan kedua tangannya.
Lalu Pras pun memberikan bayinya kepada Ibunya.
Bahagianya Ibu sambil menggadang-gadang sang bayi yang baru berusia beberapa jam.
"Mas, lihat! Aku belum pernah melihat Ibu sebahagia itu," tutur Jenny yang juga sangat bahagia.
Namun seketika ekspresi wajah cantiknya berubah menjadi sedih. Jenny terdiam sejenak lalu ia bertanya kepada Pras, "Mas, apa kamu benar-benar bisa menerimanya dengan lapang dada?"
Pras kembali menggenggam tangan Jenny dengan kedua tangannya.
"Terima kasih, ya Mas. Aku sangat bersyukur sekali memiliki Kamu, Ibu, Zylva dan juga si Baby," pungkas Jenny kagum.
suara tangisan bayinya kembali terdengar. Ibu segera memberikannya kepada Jenny.
"Jen, sepertinya dia haus," terang Bu Tatik sambil memindahkan bayinya ke tangan Jenny.
__ADS_1
"Duh..anak Mama, haus ya. Kacian naa," timang Jenny sambil memberikan ASI eksklusif perdana pada sang putra.
"Tuh..bener, kan. Dia haus," tukas Ibu sambil tersenyum.
"Bu, Pras minta tolong agar Ibu tetap menemani Jenny disini. Pras mau jemput Zylva. Pasti dia sangat senang sekali melihat dedek bayinya," kata Pras.
"Iya, Ibu akan terus disini bersama Jenny," sahut Bu Tatik.
"Ya sudah kalau begitu, makasih ya, Bu. Jen, Mas pergi dulu," pamit Pras sambil berlalu.
Dalam sekejap Pras sudah hilang dari pandangan. Tinggal Jenny, bayi dan Ibu yang ada dalam ruangan.
Tiba-tiba saja Ibu bertanya, "Jen, boleh Ibu bertanya sesuatu kepada kamu?"
Jantung Jenny berdegup dag dig dug, menanti pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh calon Ibu mertuanya.
"Bo- boleh dong, Bu. Ibu ingin bertanya apa?" sahut Jenny dengan suara terbata.
"Kamu benar-benar menerima Pras menjadi suami Kamu? Tidak mau pikir-pikir dulu?" tanya Bu Tatik serius.
__ADS_1
Jenny hanya menghela napas pelan. Dia berpikir kenapa Bu Tatik bertanya seperti itu, ada apa sebenarnya.
Bersambung....