
Clara kini berada dalam sebuah kantor. Sudah beberapa bulan dari sejak kebakaran ia kembali mandiri. Tentu saja karna Fani, membuat ia bekerja dikantor. Selain menjauhi Fandi dan masa lalu pahitnya.
Fani : Seingatku pak Victor tidak punya janji temu pagi ini.
Clara : Mungkin kau salah atau lupa.
Fani : Aku tidak akan lupa soal jadwal, apalagi salah. Apa pak Vick membuat janji sendiri ya? Tapi biasanya dia akan memintaku untuk mengisinya dalam jadwal.
Fani : Entahlah Clara. Kau yang lebih memahaminya. Kau sekretaris barunya.
Clara : Hmmm. Lalu bagaimana? Kenapa dia hanya meminta membuatkan satu minuman?
Fani : Dia hanya mau teh atau kopi buatanmu, Clara. Apa karena dia takut aku meracuninya, setelah selesai memarahiku? Hi hi hi.
Clara : Hahaha. Kau bisa saja Fani. Dia tidak mungkin seperti itu.
Fani : Siapa tau?
Clara : Jika seperti itu. Berarti the Boss yang takut padamu. Ha ha ha ha
Fani : Hahaha.
"Ya sudah kalau begitu, Fani. Aku sudah selesai bersiap. Sebentar lagi ke kantor setelah singgah ke apotek.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu bekerja Cla!"
"Terima Kasih atas perhatianmu. Kau juga, terimakasih sudah membantuku!"
"Siap. Dia pasti akan suka hasil revisiku kali ini."
"Kau seperti sedang mencarikan mangsa saja, aku pyur bekerja loh!" sindir Clara pada Fani.
Clara bekerja diperusahaan Vick. Hingga dimana ia sebenarnya penasaran, punggung bosnya itu terlihat mirip misterius saat kebakaran terjadi. Tapi ia segera menyingkirkan jauh jauh untuk tidak menuduh.
SEMENTARA DI BUTIK.
“Tidak ada yang terjadi? Kau yakin?” ucap dengan mulut yang menganga.
“Tidak ada Garry! Apa yang kau harapkan?” Clara mendelik ke arah Gerry.
“Aku pikir kalian telah melewati malam yang panas dan menggairahkan. Ha ha ha ...”
Clara memukul lengan Gerry pelan.
“Kau ini!”
“Jadi apa yang terjadi dengan dressku? Kau tidak membawanya?” mengerucutkan wajahnya, merasa bersalah.
“Maaf, Gerry. Aku tidak sengaja membuat bagian belahannya sobek. Kau tidak akan menggunakannya pada peragaan busana musim ini kan?”
__ADS_1
“Jika kukatakan ini apa kau akan merasa buruk?”
Clara menatap Gerry.
“Iya! Aku akan menggunakannya di peragaan busana musim ini!”
Clara menggigit bibir bawahnya. “Maafkan aku ....” Wajahnya nampak merasa bersalah.
“Tapi kau tau sisi positifnya? Aku jadi tau model dress tersebut akan membuat sobek di bagian belahan.” Garry mengangguk sambil memicingkan matanya.
“Sebenarnya dari awal aku sudah memikirkan hal ini akan terjadi. Potongannya seperti kurang pas. Ha ha ha ... hmmm ....” Tawa Gerry seketika berhenti melihat wajah Clara yang kini menatapnya tajam.
“Jadi kau sudah tau hal itu akan terjadi dan kau tetap memberikannya padaku, Gerryyyyy?”
“Ehm, Bukankah akan lebih seru untuk malam pertamamu, kau itu telah hadir di acara party kantor Vick ternama Cla?”
“GERRY!!!! Jadi kau memang sengaja??!!”
“Hahaha. Ampun! Aku pikir kau menyukainya Clara.”
“Haiiisshh!!! Itu hanya pikiranmu! Dasar kejam! Aku ragu kau ini temanku atau bukan!”
“Hahaha.“ Gerry tertawa melihat wajah kesal Clara.
“Baiklah, maaf, maaf. Dress itu Free untukmu, dan bawa ke sini biar aku memperbaikinya.” Gerry tersenyum sambil memainkan alisnya naik turun berulang ulang.
Clara mencibirkan bibirnya. “Kau sedang merayuku?”
“Kau pikir aku penggemar diskon sepertimu, huh?”
Gerry menggeleng. “No, you dont. Tapi kau penggemar Efisiensi waktu. Kau tidak perlu lagi berlama lama di boutique hanya untuk memilih dress. Hah!”
Clara tersenyum tipis sambil melirik ke arah Gerry.
“Iya kan? Ayolah, aku tau kau menyukainya.” Gerry menyundul lengan Clara.
Clara melepaskan tawanya. “Ya, ya, ya. Terima Kasih, Gerry. Tapi aku akan mengatakannya bagus jika belahannya sedikit di kurangi.”
Gerry memegang ke dua pipinya dengan ekspresi terkejut.
“Apa?? Kau mau yang lebih seksi dari itu.”
“Ish! Maksudku ditutup sedikit!”
“Tadi kau bilang dikurangi.”
“Gerry!”
“Hahaha. Iya, iya, Kau takut the Boss Vick semakin menginginkanmu, ya?” Gerry menjepit bibir menggoda Clara.
__ADS_1
“Ok this talk is Over! Aku pergi dulu. Besok aku bawa dressnya. Dan ingat, aku ini bekerja pyur demi mengalahkan Elvira Ratuliu. Kau tau kan wanita pirang itu?" cetus Clara.
“Oh Come on! Kau sudah mau pergi? Baiklah aku mengerti Clara."
Clara berdiri, mengambil tasnya.
“Bye, Gerry.”
Clara tiba di Star Group. Ia berjalan cepat menuju Lift sambil memeriksa checklist di handphonenya.
Brukkk!
Tubuhnya menabrak seseorang.
“Ouch!”
Pria yang ditabrak Clara, memegangnya di lengan.
“Kau tidak apa-apa?”
“Eh?” Clara mendongak.
Pria itu mengerucutkan keningnya menatap wajah Clara. “Hei, sepertinya aku mengenalmu?”
“Heuh?” Clara balik menatap bingung, wajahnya nampak familiar.
Mereka saling menatap sejenak. Pria itu belum melepaskan pegangan tangannya di kedua lengan Clara.
“Aaah, aku ingat!”
“Aaah, aku ingat!”
ucap mereka berdua bersamaan.
“Cinderella!” ucap Pria itu sambil tersenyum, lalu melepaskan pegangan tangannya.
“Cinderella?”
“Aku yang memasangkan sepatu untukmu!”
“Aaahhh Ya! saat acara kantor sepatu saya terjatuh dari tangga. Anda yang bersama the boss kan? Bos besar pak Vick?" ungkap Clara.
"Ya! kenalkan saya.. "
Belum sempat membalas pernyataan Clara. Seseorang menghentikanya.
Tunggu!! lirih suara pria, membuat mereka menoleh.
-- Bersambung --
__ADS_1
Sambil nunggu update terbaru, yuks Dukung mampir karya new otor, judulnya BAD WIFE. Up setiap hari tiga episode.