Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Perasaan Yang Tumbuh


__ADS_3

SEMINGGU KEMUDIAN.


"Cla, ayo udah sampe depan Rumah!"


Clara yang berwajah bantal, ia harus melirik dan rasanya ingin benar masih tidur. Ia kesal akan Fandi yang berbohong padanya ke pelabuhan. Alih alih keluar pintu tanpa menoleh kebelakang. Membiarkan Fandi menurunkan segala hal yang ada di dalam mobil.


"Clara, kamu udah pulang. Syukurlah ka Arumi ikut senang. Gimana asik perjalanannya?"


"Ka Arumi kenapa tanya aku, ga asik buat aku. Selalu aja penghuni pria di sini alasan, bilangnya liburan taunya mengaudit karyawan ZS, meting kesana, meting kesini. Mengecek dan mencari siapa yang salah pada karyawan yang saling menuduh karna kehilangan."


Arumi membiarkan Clara yang lelah masuk ke kamar dan menggerutu sepanjang langkah. Ia melihat Fandi tersenyum. Tak lama Gilang memberi selamat karna aksi cepatnya perusahaan Furniture berjalan dengan lancar.


"Gue salut ama lo, kayaknya Clara nurut sama Lo."


"Lo, berlebihan Gil. Gue cuma melakukan Trik kecil. Adek lo masih manja, masih hobi main aja. Ga berfikir baik dan matang soal Furniture tugasnya."


"Kasian Clara. Selalu di ajak serius mau liburan, taunya di bokisin Fandi." benak Arumi.


 


TOOK .. TOOK.. Permisi selamat Siang !!


Gilang, Fandi dan Arumi menoleh arah pintu. Ia terkejut menatap Pak Rt datang dengan beberapa orang. Lalu mempersilahkan untuk masuk dan berbicara di ruang tamu.


Perdebatan, masukan dari warga membuat Fandi melepas kancing kerah bajunya. Ia segera menatap dan mengetuk bolpen untuk berfikir dan menarik nafas.


"Pak, kami memang berdua dengan Clara pergi. Tapi kami menjalankan tugas pekerjaan. Ga lebih," jelas Fandi.


"Aaakh.. itu kan kata Anda. Saya Pak Rt, Dan Pak Rw hanya menjalankan perintah. Jika warga resah akan status nak Fandi gitu loh. Kapan kalian berdua akan menikah?"


Uhuuuk..Uhuuuuk. Fandi terbatuk, ia kesal tinggal di komplek Mawar yang penuh intrik dan kepo. Seperti nya warga di sini terlalu jahat dan mengambil kesimpulan.


"Apa ga berlebihan, bapak dan warga ini terlalu ikut campur pada urusan orang lain. Apa hanya pada saya saja sikap anda memaksa seperti ini?" bubuh Fandi.


"Maaf, saya hanya menjalankan perintah. Jika kalian pindah pun mungkin sama. lihat foto ini. ini sudah tersebar di komplek kami. Dari itu saya kemari menanyakan kejelasan."


Fandi menatap amplop coklat, terisi beberapa lembar foto yang mengejutkan.


Gila, ini sih foto pas gue bopong Clara yang lagi datang bulan, dan ini wah Gila sih. Kalian pake kamera apa, ada penyusup Ya. kok bisa ada foto seperti ini??


"Jelaskan, nak Fandi ga mengelak. Kalau gitu keresahan Warga sudah jadi tanggung jawab saya. Sebaiknya nak fandi dan Clara menikah. lebih cepat lebih baik!"


Gilang terdiam, kedekatan Fandi memang menganggap adik. Tapi ia berharap Clara mendapat perlindungan seperti sosok Fandi. Gilang hanya menonton perdebatan Fandi dan Pak Rt. Sementara Arumi bergumam bingung bagaimana mengatasinya.


 

__ADS_1


***


Lain hal di kediaman Puan. Sosok ayah Fandi yang tinggal bersama Aris, adik angkat Fandi.


"Sudah kau cari di mana alamat mereka tinggal?"


"Sudah Puan, saya telah mendengar jika mereka tinggal satu atap dengan gadis penerus Seiyen. Apa yang harus saya lakukan sudah saya kerjakan!"


Seorang pesuruh itu meninggalkan ruangan, ia mendapat perintah dan memberi laporan. lalu menutup pintu membiarkan Pria paruh baya itu kembali duduk di kursi kebesaran.


BRUUUGH.. SUARA PINTU DIBUKA PAKSA.


"Pah. Berikan kunci emas itu padaku!"


Seseorang masuk dan membuat kursi berputar menatap anak bungsunya. Nafasnya menjadi berubah dan mengeras ketika sang anak meminta hal yang tidak mungkin.


"Apa maksdmu Aris, bahkan kamu tidak menikah dengan Elvira. Kamu tidak bisa menggunakan kekuasaan hak yang bukan semestinya. Kunci emas itu Milik ... PLUGH.. Aaaaakh... Nak Hentikan!"


"Cukup aku bersabar. Kau harusnya diam dikamar, jangan ungkit dia lagi di hadapanku. aku membencinya Pah!"


Aris mencekik dan membuat dada seorang Ayah sakit. Tak lama pria paruh baya itu tergeletak pingsan. Aris meminta pengawalnya membereskan dan menguncinya. Seorang pelayan tua pun ikut merapihkan dan membantu pria tua itu di dalam tak mendapat akses udara sedetikpun.


"Kau cari wanita itu, bawa dia kemari. Apapun keadaaanya!"


Pengawal itu mencari keberadaan, atas perintah Tuan Aris.


DI RUMAH SEIYEN.


Clara akhirnya menyetujui pernikahan bersama Fandi. Dalam beberapa menit mereka lelah, akhirnya mereka mengalah dan membuat pernyataan jika mereka akan segera menikah.


Setelah seluruh warga dan pak Rt pulang, ke alam nya masing masing.


"Ka, aku rasa pernikahan kita tak perlu mewah bukan?"


"Terserah kamu aja Cla. amewah atau sederhana tak ada yang spesial diantara kita. Lagi pula kita hanya menikah bohongan Cla."


Clara mendecik kesal, perkataan Fandi memang benar tapi ia juga kesal jika harus menikah pura pura. Jauh dari lubuk hatinya ia menyukai sosok Fandi dari hari ke hari, hanya saja pria itu masih menyimpan dalam pada wanita pirang yang statusnya masih jelas tunangannya.


"Kak, jika aku meminta kakak untuk menikahiku asli bagaimana?"


Fandi terdiam saat melangkah, ia berusaha mencerna dan berfikir pendengarannya salah. Tapi ada satu hal, ia berbalik badan menatap Clara.


"Cla, kamu sakit?"


Clara menepis tangan Fandi yang menempelkan telapak tangannya ke kening dan bokongnya.

__ADS_1


"Dasar ka Fandi idiot, ga peka banget sih. Aaaaakh!! udahlah ga da seriusnya bicara sama kakak."


"Cla, tunggu tadi ka Fandi denger kamu bilang.."


"Gak ada... aku ga bilang apa apa. Mungkin ka Fandi halusinasi aja." teriak Clara.


Fandi hanya memanyunkan bibirnya, ia kembali melangkah ke kamar dan menempelkan earphone dan menunjuk layar ponsel sentuhnya. Fandi menatap sebuah kamera. Ia melihat sisi ruangannya terlihat seseorang yang mengejutkan.


Lalu menatap perlahan dan membesarkan gambar sosok pria dengan jubah seperti memata matai kediamannya. Tapi hembusan itu ia beranjak dan mengintai arah kamar Clara.


"Siapa dia, ada apa dengan kamar Clara?" benak Fandi. Ia pun melangkah dan mendekati karna takut terjadi sesuatu.


***


Dari hari ke minggu, Fandi dan Clara menyiapkan berkas untuk pernikahan.


Sementara Fandi yang mengantar Clara ke suatu tempat. Ia menatap sebuah ruko dengan gaya korea. Clara hanya bisa menatap Fandi dan bertanya.


"Kenapa kak, rumah makan Korean?"


Restoran bergaya korea ketika makan. Setiap ruangan di sekat dengan pintu yang di dorong kesamping, pelayan yang memakai baju adat menjadi tradisi berbeda dari restoran lainnya.


"Di sana makanan paling enak adalah mie udang lidah."


Clara terdiam, mie udang lidah apa maksudnya. mendengarnya saja aneh. Tapi ia mengekor ketika Fandi keluar mobil dan masuk ke sebuah restoran saji. Ia memesan dan ketika Clara masuk tempat itu memang sangat berbeda. Tapi saat Clara dan Fandi ingin masuk.


"Ada apa kak, kok diam?"


Clara terkejut saat seorang wanita keluar, dengan seorang pria yang memaksanya. Tapi Clara menatap dengan sebuah buku menu. Melirik Fandi yang serius menatapnya.


"Cla. Kita pulang!"


"Hoooah, kita udah pesen loh. Ga jadi makan nih kak?"


"Cla, Ayo. Ka Fandi udah meminta delivery mengantar. Kita pulang sekarang!"


Clara tau, jika Fandi berusaha menghindar dari wanita pirang yang bernama Elvira. Sehingga aksi makan bersama batal kembali.


Beberapa menit kemudian, Clara menatap Fandi dengan wajah cool saat penuh amarah. Jelas cemburu terlihat ketika wanita pirang itu keluar begitu saja. Elvira dan Aris keluar dan saling berpandangan menatap Fandi.


"Andai aku dicintai dan di cemburui seperti itu, di perebutkan seperti itu. Sudah pasti aku bahagia." lirih Clara.


Striiiith... Rem mendadak. Membuat Clara jatuh tak imbang. Menatap beberapa Mobil telah penuh mengelilinginya.


"Ada apa ini kak?" panik Clara.

__ADS_1


__ADS_2