
"Hei culun, keluar lo sekarang!" ucap Elvira.
"Sialan, mentang mentang atasan gue. Seenaknya manggil gue kaya gitu." batin Sinta kesal.
"Cepetaan!!" teriaknya.
"Baik bu. Clara, gue tunggu lo di luar ya!"
Clara mengangguk, hingga di mana ia menepuk bahu Sinta untuk menurut saja. Setelah Sinta keluar, ia menatap bu Vira menutup pintu ruangan itu dengan kilat dan kasar.
BRUUUUGH!! PINTU TERTUTUP.
"Ya elah, baru aja jadi atasan udah songong." sebal Sinta.
Clara menatap Elvira yang maju memegang rambutnya dengan kasar.
"Bu, jangan seperti ini. Sakit!" pinta Clara.
"Oke, ga usah basa basi. Di saat kita berdua, gue tau dan paham banget. Lo masih inget gue kan, ga usah berlaga lupa. Lebih baik, lo undurkan diri dari kerjaan ini!"
"Tapi bu, saya butuh pekerjaan ini. Saya mohon jangan pecat saya!"
"Oke, tapi jangan pernah lo dekat dekat Fandi. Lo udah tau kan, siapa bos lo yang bawa lo masuk kerja ke sini. Dia emang Fandi, tapi lo jangan senang. Ingatan Fandi, ga akan pernah secuil pun mengingat lo. Ngerti lo!"
Clara terpental bahunya ke dasar tembok, kala Elvira mendorongnya. Ia begitu sedih, memang keadaan saat ini ia tak punya apapun. Keadaan ka Gilang dan ka Arumi yang berada di negri sebrang, mereka juga sedang kesulitan. Tidak mungkin ia memberi tau keadaannya saat ini, jika ia kembali bertemu dan lagi lagi harus berjuang sendiri.
__ADS_1
Clara menatap Elvira keluar, dengan gaya angkuh. Sementara Sinta segera masuk dan membantu Clara yang terdiam pucat pasi.
"Cla. Lo ga di apa apain kan. Kenapa dia?"
"Gak apa, tenang yan Sin, gue baik baik aja!"
Dalam batin Clara, ia mempunyai suatu rencana. Agar mas Fandi bisa mengingat dirinya.
"Mas, aku akan berjuang untuk mendapatkanmu lagi. Aku tidak bisa diam, karna sebagian milik Elvira, poisisinya adalah milik aku. Milik Oma dan ka Gilang yang telah di rebut paksa. Setidaknya, kamu harus tau siapa wanita masa lalu yang dulu pernah kamu cintai." benak Clara, ia menghapus air matanya yang tiba saja jatuh.
Sinta segera menyabarkan Clara. Hingga di mana mereka keluar menuju bus kantor pariwisata.
HELLO SEMUANYA. BUS KHUSUS OB DAN ENTRY DATA, SEMUANYA SEGERA MASUK. KALIAN DI PISAH YA!!
"Cla, ga adil. Gue ikut bus lo deh!"
"Uuuwh, gue salut ga tega gue. Andai gue punya wewenang, gue udah jambak itu bu Vira." bisiknya. Clara hanya senyum tertawa, membuat hal lucu dan tiba saja Clara kembali masuk ke dalam bus, begitupun Sinta.
Karna terlihat, seorang petugas telah meminta mereka masuk dan cepat mencari kursi. Sementara Clara terdiam, kala bus khusus petugas OB/ OG. Semua penuh tanpa sisa, Clara terdiam dan keluar kembali karna tak mendapat nomor kursi. Semua menggeleng tak ingin membagi kursi untuknya.
"Hei cantik, kenapa kamu turun?" tanya petugas bus.
"Saya, tidak punya nomor di bus ini. Karna saya baru dua hari."
"Haah, kok bisa?" bingung mencari data nama.
__ADS_1
EHEUUUM. "Ada apa ini?" tanya Fandi.
Clara menoleh, perasaan rindu dan berdebar. Membuat ia menahan dan wajahnya memerah kala menatap Fandi bergandeng dengan Elvira.
"Anu pak, dia eeh. Gadis ini tak mempunyai kursi." ungkap supir bus.
"Owh. Clara kamu di bus satu lagi saja. Ambil kursi saya, ini nomornya!"
Clara terdiam, ia menatap Elvira memasang wajah tajam. Hingga di mana, ia cukup terkejut kala Fandi kembali berbicara.
"Sayang, kita naik mobil pribadi saja. Biarkan Clara ambil kursi ku, lagi pula kita tak akan satu bus dengan karyawan lain kan?" menatap Vira.
"Heuuuh, ya sudahlah. Ayo honey, aku gerah dan mual ada di sini!" menatap sinis pada Clara.
Clara berterimakasih, hingga di mana ia menatap Fandi yang menatapnya dalam. Ada mata yang indah berbeda, tidak seperti biasanya kasar padanya.
"Bergabunglah, bersabarlah Clara!" bisik halus.
Clara terdiam, ia menatap Fandi pergi masuk kedalam mobil hitam. Sementara Elvira telah masuk dan duduk lebih dulu. Dengan gemetar, ia masuk kedalam bus dan mencari kursi. Meski semua memandang tatapan penuh sinis.
DI DALAM BUS.
"Clara, Heii kamu di sini juga. Sini sama aku!" teriak Sinta melambai tangan.
Tapi Clara masih terdiam di tengah bus, menatap semua orang yang duduk. Tapi pikirannya masih membayangkan bisikan Fandi tadi.
__ADS_1
"Cla, lo kenapa bengong. Ayo duduk!" pinta Sinta menarik, dan menatap secarik kertas nomor bangku di depan.
"Aaah, gue duduk sama lo deh. Mayan kita dapat di depan, ya gak?" Clara hanya senyum mengangguk. Sementara karyawan lain berbisik bisik aneh.