
Clara menimang surat undangan Misel. Di pagi hari ia telah rapih dan sekembalinya Mas Ryan akan kepulihan yang semakin membaik. Clara ingat untuk membuat kejutan, ia pamit pergi untuk mengecek sebuah toko untuk usaha barunya. Meski begitu sedikit nakal untuk menemui Misel yang sedang bekerja sebagai jasa sedot perabot rumah tangga.
Namun tak di sangka, Ryan telah pulang bersama ibu mertuanya dengan wajah tatapan sinis.
"Lho, kata ibu mas Ryan besok pulangnya?"
"Halah, udahlah kamu emang gak peka jadi istri. Bawa suami kamu ke kamar sekarang!"
Clara menurut dan mendorong Ryan dengan kursi roda ke kamar. Menutup rapat pintu kamar dan terdengar suara ponselnya.
"Siapa yang menghubungi kamu Cla? Kamu sedang ada janji?" tanya Ryan.
"Nggak tahu, Mas. Sebentar aku cek dulu." Clara membuka pesan yang baru saja masuk.
Setelah ia baca, ia cukup terkejut lantaran ada berita penting. Misel memintanya datang. Namun yang membuatnya terkejut, ia sangat bingung untuk bicara hal baru tentang Misel pada Ryan suaminya itu.
Melihat raut wajah Clara yang tiba tiba berubah, Ryan menggerakan kursi rodanya, dan menggeser tubuhnya. Setelah itu ia mengambil ponsel milik Clara dan membaca pesan yang baru saja masuk. Ryan mengernyitkan keningnya setelah membaca pesan tersebut.
"Misel, siapa dia Cla?"
"Dia sahabat kuliahku, yang sedikit ke gemoy meliuk mas. Kemarin saat di apotek kami kembali bertemu tak sengaja, aku akan mengenalkannya padamu esok. Niatnya aku ingin membeli sesuatu surprise saat kamu pulang Tapi ..?"
"Untuk apa dia bertemu saat ini?"
"Aku juga tidak tahu, Mas. Karena setahuku Misel orangnya tidak seperti itu jika tidak penting," jawab Clara.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Mas?" tanya Clara.
"Sini, biar aku saja yang mengurusnya." Ryan merebut ponsel milik Clara, lalu membalas pesan tersebut.
"Aku tidak mau kamu pergi saat ini!"
Setelah itu, Ryan kembali meletakkan benda pipih tersebut. Rasanya Ryan ingin selalu bersama dengan Clara, ia tahu jika ini salah. Namun entah kenapa, Ryan merasa seperti orang yang jatuh cinta. Clara sangat berbeda dengan wanita lain. Maka dari itu, ia akan menunggu sampai Clara bisa jatuh cinta padanya.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, di lain tempat, saat ini Misel dan Kean sedang berada di kantin. Misel memperlihatkan balasan pesan yang ia kirim untuk Clara. Entah rencana apa yang sedang mereka berdua lakukan, yang jelas rasa penasaran keduanya belum juga terbalas.
"Aku semakin yakin kalau itu benar benar Cla," ucap Misel.
"Seyakin itu sih, bisa aje lakinya cemburuan. Lo tau kan kita mau bantu Clara dari mertua jehong?" Kean menatap Misel.
Misel mengangguk. "Buktinya dia menolak ajakan kamu kan, karena dia takut suaminya tuh Mis." lirih Kean.
Hingga tak lama, Misel mengirimkan foto Elvira wanita berambut pirang berjalan dengan seorang pria. Misel langsung memotret dan video demi mengirimkan pada Clara. Jika ia ingin mengembalikan milik perusahaan Oma Seiyen kembali yang telah di rebut oleh mbak pirang bernama Elvira Ratuliu.
Lihat deh! Kita udah dapat bukti si Elvira nih. Dia jadi cewek BO kayaknya. Lihat aja keluar gandengan dengan cowok beda?! ungkap Kean. Pasalnya mereka memang telah lama membuntuti keberadaan Elvira dan mencari tau mas KC alias Fandi.
Misel merasa Clara cocok dengan pria bernama Fandi. Pria yang di anggap kacung dahulu, yang bisa membuat hati Clara tersenyum dan berwarna hidupnya setelah kepergian Oma Seiyen.
"Tapi di sini dia bilang sudah dibooking sama orang, mungkin memang kenyataannya seperti itu. Wajahnya aja kali yang mirip sama bu Vira." ujar Kean. Sejujurnya ia juga penasaran dengan wanita yang pernah mengancam keluarganya.
"Coba kamu cek lemari milik bu Vira setelah keluar dari pantry ini. Mumpung jam masih istirahat kan, ada yang berbeda apa nggak," saran Misel. Karna mereka bekerja di mana Elvira mendirikan perusahaan furniture milik Clara dahulu.
Kean mengangguk. "Kamu benar, kalau Bu Vira benar benar melakukan itu, otomatis dia punya uang banyak. Terus kita bisa mudah jatuhkan mereka, lalu kita bisa buktikan sama Clara. Supaya dia bisa kembali kaya dulu. Ye kan?" canda cerdas Kean pada Misel seperti detektif.
Tiba-tiba saja ponsel Kean berdering, saat ia cek terdapat nama Clara di layar ponselnya. Kean tersenyum, jika Clara mengirim pesan, itu sudah dipastikan ada sesuatu yang akan Kean dapatkan. Terlebih Kean mengharapkan bertemu Fandi dan bisa kembali mengejar Clara.
'Hei, Jangan lagi mencari kebenaran untuk Clara. Ingat dia telah menjadi istri Ryan Byakta saat ini. Pahami jika masih ingin berteman pada Clara. Dasar cacing kremi, jangan dekati Clara jika punya maksud tertentu!'
Pesan suara dari nomor Clara. Membuat hati Kean dan Misel senyum getir. Betapa seramnya suara pria yang mungkin itu adalah suara suami kedua bagi Clara saat ini.
"Astaga, gak nyangka ya. Clara udah jatuh ketimpa tangga pula. Doi udah dapetin mertua jehong. Suaminya samanya nih, kita harus apa Mis?" ungkap Kean menatap.
***
Seminggu telah berlalu, selama seminggu ini Ryan sibuk dengan kantor dan juga bisnisnya. Sementara itu, Clara memilih fokus untuk mengurus putri angkat selama Ryan tidak membutuhkan dirinya.
"Mas waktunya bayar listrik sama air, susu untuk Emily juga sudah habis," ucap Clara sembari menyuapi makan. Terlihat bu Ratna masih marah karna Clara belum bisa memberikan cucu untuk keluarga Byakta.
__ADS_1
Dengan raut sedih, Emily meminta untuk diam di rumah. Bersama eyang Ratna, sementara Clara pamit untuk pergi membeli kebutuhan bahan yang habis.
"Bu, Clara pamit kepasar sebentar ya. Titip Emily!"
"Heuumph, jangan lupa belikan kebutuhan yang ibu pesan juga nih. Pakai uang kamu aja, masih banyak sisa dari Ryan kan?"
Clara terdiam, padahal tabungan ia telah menipis. Mas Ryan belum memberikan jatah nafkahnya, tanpa bu Ratna tau. Jika ia memang belum bisa menyerahkan hak batinnya pada Ryan. Karna ia masih belum bisa jatuh cinta pada Ryan.
"Baik bu. Akan Clara belikan, segera Cla cepat pulang."
"Ya, jelas. Dua jam cepat kembali, itu cukup untuk kamu pergi Clara!"
Astaga! Dua jam saja itu ia baru datang ke satu toko, bagaimana jika di kasir ramai. Clara pun segera pergi lebih cepat. Malas untuk berdebat pada ibu mertuanya saat ini.
HINGGA BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
Clara yang kembali menunggu taksi untuk pulang, selepas dari toko kebutuhan rumah. Ia segera di tarik oleh seorang pria. Masuk kedalam mobil hitam. Suasana saat itu jalanan sepi, sehingga Clara berteriak dan menatap wajah pria itu dengan jelas.
"Cla. Apa kabarmu?"
"Say, kenapa kamu bisa senekad ini. Jangan lagi mendekatiku. Pergilah, aku harus segera pulang!"
Fandi pun menarik Clara untuk diam, ia memakaikan pelindung dan pergi dari lokasi saat ini. Hingga setengah jam berlalu, Fandi menepi di balik pohon besar. Sebuah Villa dengan bangunan kuno.
"Pergilah, aku harus pulang!"
Fandi menarik dan mendorong tubuh Clara hingga jatuh pada pelukannya, dan memohon agar Clara kembali dan bercerai pada pernikahannya bersama Ryan.
"Jangan gila, aku bahkan belum menjadi istri sempurna. Biarkan kita berjalan masing masing. Sudah cukup kamu buat aku, ka Gilang dan Mbak Arumi sengsara. Jangan lagi egois Please!" menangis Clara.
Namun kala itu hujan deras, Masih menatap Clara dalam mobil. Ia memakaikan jaket, dan menatap wajah Clara amat dekat. Hingga Fandi kembali memegang ranum Clara tanpa penolakan.
"Apa yang kamu lakukan, enyahlah!" teriak Clara.
__ADS_1
"Diamlah sejenak Cla!"
To Be Continue!!