Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
MENGINGAT SEMUANYA


__ADS_3

"Cla! kamu benar enggak mau temui Fandi?"


"Enggak, untuk saat ini. Clara bukan dendam ka Arumi. Tapi sakit, antara Ryan dan Fandi sama aja. Dan akan selalu ada pria yang menyakitkan kedepannya. Semua hanya palsu!"


"Maaf, bukan ka Arumi mau ikut campur. Tidak bermaksud membela. Apa kamu yakin, kalau Fandi melakukan itu karna sengaja. Bukan karna dia saat itu amnesia, mengubah perusahaan Oma menjadi sriwijaya company. Ardie yang pernah kamu ceritain itu benar Fandi hilang ingatan karna kebakaran?"


"Ya ka Arumi benar. Tapi saat dia menalak Clara dan Cla di lempar Elvira kerumah sakit jiwa. Ka Gilang ditahan, dan keluarga kita berpecah tempat. Fandi sadar kak, jangan selalu belas kasian. Ingat dong itu!" kesal Clara. Membuat Arumi menghentikan pertanyaan.


Arumi terdiam, lalu mengajak Clara untuk istirahat dikamar. Hal itu pula ia meminta Gilang untuk meminta Fandi pergi dan jangan muncul sampai Clara benar benar memaafkan.


Clara dikamar, ia masih tertawa dan menangis. Begitu tega Fandi yang dulu ia kagumi, bisa berlaku buruk pada keluarganya. Seolah air dibalas air tuba. Fandi merusak usaha Oma Seiy dan keluarga kami terpecah menanggung fitnah yang bukan kami lakukan.


Belum lagi Clara kehilangan teman dan sahabat yang menjauh di saat ia berada di posisi paling rendah. Hingga saat ini Clara masih menyepi sendiri meski beberapa kali Misel dan Kean sering menghubunginya seolah mendekat untuk berkawan kembali.


"Pergi kalian semua, aku enggak butuh kalian bemuka manis. Aku benci kalian!!" teriak Clara membuang semua alat make up di meja riasnya.


Belum lagi, Clara juga mengingat perlakuan bu Ratna. Keluarga Byakta yakni Ryan yang ia anggap pria yang menolong tulus dan mencintainya. Endingnya sama saja menyakitkan hati dan harga dirinya sebagai wanita murahan.


Bunyi suara token rumah semakin nyaring, ibu dan Ryan seakan pura pura tuli dan tak mendengar suara itu. Clara saat itu khawatir jika tidak di isi pasti nanti malam akan gelap karena mati lampu sebab kehabisan token rumah.


"Bu, token listriknya tolong di isi, ya? dan ini daftar belanjaan bulanan di rumah ini. Jangan sampai ada yang terlupa." Aku memberikan selembar kertas yang bertuliskan bahan dapur dan kebutuhan rumah.


"Tiga juta? kamu mau belanja kebutuhan rumah atau mau jualan?" tanya ibu menyemburkan air teh yang baru saja ia teguk.


"Memang segitu biasanya, itu juga belum termasuk isi gas dan token. Jangan lupa lima tabung gas yang kosong itu di isi semua," lanjutku karna bu Ratna membuka warung kopi dan mie saat itu.


"Kamu aja yang beli sendiri, bukannya ini rumah kamu," ucap ibu berhasil menyulut api dalam dada ini.


"Bu, mas Ryan sudah mempercayakan uang belanja bulanan kepada ibu. Sekarang semuanya tanggung jawab ibu, atau akan ku adukan pada mas Ryan biar ibu tak akan di beri uang lagi sama dia. Aku gak mungkin bicara gini. Karna mas Ryan bilang semua harus lewat ibu, dan aku istrinya hanya cuma status yang bisa menyampaikan segala tagihan."


"Berani beraninya kamu mengatakan semua ini, kamu anggap mertuamu sendiri adalah parasit." Wajah ibu memerah dengan gigi yang bergesekan.

__ADS_1


'Kenapa Ibu mau marah. Seharusnya ibu itu lebih tau, coba saja ibu bersikap baik sedikit saja padaku, pasti akan kuhormati ibu. Tapi tidak, menurutku ibu adalah contoh ibu yang terburuk yang pernah kutemui.' batin.


"Aku gak mau tau Clara, pokoknya ibu gak akan belanja semua barang belanjaan ini atau di rumah ini gak akan lagi ada kata sarapan dan makan malam. Kalau sampai diputuskan listrik dan air untuk keperluan di rumah ini, pikirkan sendiri. Sekarang dia sedang tidak memegang uang sepeserpun akibat bayar denda pengeluaran kamu dari rumah sakit jiwa. Sebaiknya kamu pikirkan cari uang sendiri." ketus ibu Ratna.


Aku mendekatkan mulut ketelinganya lalu tersenyum. Seketika mata ibu melotot dengan mimik wajah kaget. Aku mendengar Ryan pasti tak mempunyai uang pegangan lagi saat menebusku, betapa sakit aku saat ini.


"Cukup Bu! kalian ini berdebat apa sih. Bu apa gak cape?" tanya bapak mertuaku.


Saat itu Clara tau, hanya seorang bapak mertua yang baik. Namun terdiam bertekuk lutut pada wajah istrinya. Hal menyakitkan bagi Clara kembali terulang kala Anjani datang dan berbicara ia istri dari Ryan. Dan Ryan tak mengelaknya. Dan hal inilah yang membuat Clara sakit hati terhadap dua pria yang pernah ada dihatinya.


***


DI PENANG.


"Lebih baik lo pulang, jangan lagi kembali ke penang Fand. Gue bingung nyikapin, lo sahabat gue. Tapi semua berubah, saat lo nikahin adik gue." ungkap Gilang.


"Tapi gue gak akan berhenti kejar Clara. Please Gil!" memohon Fandi.


"Honey. Perlukah kita ajak Clara ke psikiater?"


"Aku tidak akan menyerah Cla." lirih Fandi.


BEBERAPA HARI KEMUDIAN.


Terlihat Clara sendirian dirumah, sebuh bel berbunyi hanya ada bucket bunga di pinggir pintu tanpa nama.


Tingnong! pagi hari kembali bucket bunga merah.


Tingnong! sore hari bucket bunga berwarna ungu.


Tingnong! malam hari bucket bunga berwarna biru muda.

__ADS_1


Clara segera menghubungi Arumi, entah penasaran atau mungkin salah antar dalam benak Clara saat ini.


"Ka, pesan bucket ya?" menelepon.


"Ya Cla. Ka Arumi enggak pesan sama sekali, ada apa ya?"


"Owh! gak apa apa, udah empat hari bucket kiriman sehari, kaya minum obat. Clara pikir ka Gilang sengaja membuat surprise." jelas Clara.


Cccrrrrrrt!! mengucur air kedalam pot satu persatu. Clara menyiram pot bunga anggrek satu persatu, menyemprotnya dengan air khusus.


"Permisi, paket!"


"Yah? Ada apa ya pak?"


"Paket untuk Clara Seiyclar."


"Ya, benar. Terimakasih yak pak."


Clara menandatangani, hingga ia duduk menatap kotak kecil itu yang terbungkus rapat dan rapih. Ia merasa aneh, karna kali ini ia baru saja tiba di penang satu pekan. Sangat mustahil jika memesan atas namaku dengan nomor ponsel yang tidak terdaftar.


Clara membuka kotak paket, mengguntingnya hingga terlihat sebuah benda pipih persegi empat. Ia buka lalu menatap foto kebersamaan dirinya bersama Oma Seiy. Foto saat ia lulus kuliah, dan Fandi menjadi alumni yang mengejutkan baginya.


"Ini adalah foto saat aku hadir, dan semua temanmu terkagum padaku. Tapi kamu yang polos begitu aku rindukan. Karna tingkah sebalmu membuat aku jatuh semakin cinta." bubuh Fandi.


"Ini adalah foto kedua, saat kamu memanggil Kremi setengah badan lewat jendela. Yang membuat aku semakin gila akan tingkah anehmu."


"Ini adalah foto ketiga, saat kamu berteriak kamu adalah wanitaku. Saat wanita pirang yang kamu sebut masih dihati Fandi Assadel. Maukah kamu mengembalikan semuanya, bersamaku lagi Cla!"


Masih banyak helaian foto kenangan dan terlihat cerita dibalik foto, yang saat ini mungkin Clara tidak ingin lihat. Clara masih ingat kala semuanya masih terbenam dihati. Hal kekecewaan yang masih belum ia maafkan dan melupakan adalah dimana dirinya hamil dan keguguran saat Elvira menarik paksa.


"Jika kita kembali, apa ka Fandi akan bisa merasakan, sakit pilu deritaku?" ungkap Clara.

__ADS_1


Braagh!! sebuah benda jatuh, Clara pun menoleh di sekitar halaman rumahnya.


To Be Continue!!


__ADS_2