
'Janji sama aku, jangan lagi lukain diri sendiri Ryan!' memegang tangan Ryan yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
"Cla, jangan temui Fandi. Janjimu hanya ingin mengetahui kebenaran, kamu tau betapa buruknya mereka!"
"Ryan, jangan lagi pikirkan yang berat. Aku akan selalu di samping kamu. Jangan memikirkan hal lain, Aku tau, kamu orang terbaik yang gue kenal. Jadi kita udah semestinya melakukan hal yang bahagia bukan!"
"Oke, gue pegang janji Lo, dan gue mau selagi lo sama Gue, jangan pernah menerima pertemuan Fandi!" Clara senyum mengangguk, entah ia harus menurut, atau membuat Ryan tenang saat ini.
EHEEUUUM!!
Clara menatap bu Ratna masuk, ia langsung menoel bahu Clara dan memintanya menebus obat di sebrang apotek rumah sakit ini.
"Cla, tebus ini di sebrang Soho ya!"
"Mah, Naik jembatan layang itu sangat jauh. Kasian Clara, naik mobil aja Cla!" pinta Ryan.
"Eeh, gak ada. Lagi di service, udah olahraga sekalian. Cepat nih kertas resepnya, kamu cari sampai dapat. Pake uang kamu ya!" ketus bu Ratna.
Ryan yang menatap sang mama ia hanya menggeleng. Meraih tangan Clara agar bersabar, mungkin salahnya karna dia tak memikirkan bahaya apa yang ia lakukan. Sehingga Clara terus saja jadi bualan, kesalahan dirinya yang celaka.
"Hati hati ya Sayang!" senyum Ryan.
"Ya, sebentar ya. Kamu istirahat aja."
Clara pamit, tidak mungkin ia bicara gue dan elo di saat ada ibu mertua. Meski canggung, ada rasa tak percaya. Hatinya bimbang, jangan bertanya, jika hatinya masih ada sosok Fandi. Hanya saja orang dibelakangnya, membuat Clara tak sanggup untuk melukai hati Ryan dan keluarga Byakta.
Clara berjalan menuju jembatan gantung, naik tangga sudah berbelok lima kali, hingga sudah dua putaran di terik matahari. Ia menatap alu lalang kendaraan yang berlawanan dari atas. Clara sadar, dulu ia sangat mewah dan manja. Oma selalu saja membuat dirinya sebagai putri kesayangan. Kini setelah menjalani beberapa dekade kepergian ka Gilang dan Arumi. Membuat ia harus mandiri tanpa pangkuan pertolongan sang kakak. Karna ia tau, jika sang kakak sudah sangat sulit melewati keadaan karna membelanya.
Clara menepi turun di anak tangga, setelah sampai puncak paling bawah. Ia diam sebentar, lalu menghela nafas. Kala menatap apotek besar yang mungkin antriannya panjang. Hingga ia mencoba mengantri dalam barisan kedelapan.
Menatap jam, sungguh ia pasti akan kembali lelah mendapat ocehan bu Ratna. Meski ia ibu yang baik dan cerewet, tapi sikapnya saat ini padanya. Jelas memang salahnya yang belum bisa membalas ketulusan Ryan Byakta.
Satu jam Clara selesai, ia kembali berlalu kembali ke rumah sakit. Di mana Ryan dan bu Ratna pasti sudah menunggunya. Hingga tapak kakinya lelah, kala ia harus kembali naik tangga super emosi jika saat ini, dirinya sangat ingin duduk sebentar. Tapi kala itu, seseorang turun dengan terburu buru hingga membuat Clara minggir dan miring karna dua pria itu berjalan gandengan, seolah tak mau mengalah.
__ADS_1
BUUGH!! AUUW, HEIY EIKE JADI NABRAK DEH!!
"Sorry Ya, Girls. Lo gak apa apa kan?"
Clara menepuk celananya yang kotor, karna ia sedikit jatuh. Hingga ia menatap obat dalam plastik. Untungnya tidak pecah, dan tidak parah. Namun kala ia menatap dua pria itu, ia terkejut kala pria itu sangat mengenalnya.
"Astagatoge! Clara Seiyclar. Ini Lo kan bep?"
"Clara. Ya ampun, udah lama kita ge pernah ketemu. Tapi kenapa kamu busuk sih, lecek kaya gini deh. Ga secling kaya dulu, gimana bisa sih?"
"Misel, dan Kamu Kean?" lirih Clara.
"Uuummmh, akhirnya setelah seabad lamanya. Kita ketemu juga, kangen deh gue. Sekarang lo tinggal dimana sih Cyin?" ungkap Kean.
"Gue harus buru buru, kasian laki gue butuh ini."
"Mas KC Lo sakit ya?" ungkap Kean.
"Gue, udah nikah lagi. Dan yang sakit saat ini bukan mas KC yang kalian kenal."
SRITTH!! AUUW, SYOK GUE. UNGKAP MISEL.
"Bego deh aah, jangan rem dadakan dong Mis!" sebal Kean.
"Lo gak apa kan Cla? Sorry ya!"
"Gak apa apa, gue bakal cerita next di waktu yang baik. Yang jelas, pas kalian tinggalin gue waktu itu. Gue ngerasa sepi, dan gue yakin untuk mutusin ga punya teman." diam Clara mengingat.
"Cla, kita ketemu lagi ya. Keadaan apapun, kita tetap my best friend. Gue janji ga akan ninggalin Lo lagi, tapi setelah kita tau kebenarannya. Kita cari kamu selama bertahun tahun tau gak? pindah alamat tuh bilang bilang dong. Kasih tau tetangga sebelah, biar kita ga keliling dunia cari lo Cla!" ungkap Kean.
"Hiikh, lebay loh!" ungkap Misel.
"Udahlah, kita tutup buku soal masa lalu. Lagian bukan salah kalian juga. Namanya rumor, mana mungkin bisa baik baik aja. Gue tau, semua karna .."
__ADS_1
"Mbak pirang Cla. Ngancem usaha kedua orangtua kita. Jadi kita benar benar kaya di lockdown tau gak." jelas Kean merembet masih banyak bicara.
Clara pun menepi, mengambil tas kecilnya. Tak lupa obat dari apotek. Hingga dimana, ia berpamitan pada Misel dan Kean. Setelah mereka bertukar Chat, Kean dan Misel bersedih. Ingin sekali mereka kembali berada di sisi Clara saat ini.
"Gue tunggu kabar Lo ya Cla! Nih kartu nama tempat kerja gue sama Kean. Kita bisa on time kok kalau buat kamu Cla." senyum Misel. Hingga mereka berpisah.
TAP .. TAP!!
Langkah Clara bergema di ruang rumah sakit, namun ibu Ratna telah memasang wajah kejam seperti ingin memakan sesuatu.
"Lama banget sih, gitu aja lama. Dasar menantu ga becus kamu Cla."
"Maaf Bu, Clara tadi antri. Dan sedikit bertemu teman lama."
"Owh, kamu ngerumpi dulu ya. Terus kamu abaikan kesehatan suami kamu yang sedang membutuhkan obat saat ini." membeberkan kantong plastik ke wajah Clara.
"Bukan begitu bu, Cla juga di antar sama teman Clara, kalau enggak. Mungkin Clara bisa makin lama sampai sini. Percaya sama Cla ya Bu!"
"Alasan aja, kamu itu .."
"Bu. Cukup, ini rumah sakit!' teriak pak Byakta. Lalu masuk ke kamar pasein, sementara Clara duduk dan menutup wajahnya karna sangat bersedih.
*AstagaNogeGueMauTogeJadinya!! lirih Kean.
Andai Oma Seiyen tau, cucu tersayang di perlakukan kaya gitu, pasti di atas akan murka kan? Kasian Clara, andai kita gak ninggalin Clara dulu, Kean. Ungkap Misel menatap Clara dari jauh masih menangis*.
Clara pun menghapus kesedihan air matanya yang jatuh. Mungkin ini adalah karma, karna saat itu ka Arumi mendapat perlakuan tidak baik. Dan aku yang tau, malah diam tak peduli.
"Cla." panggil seseorang.
SIAPA DIA YA??
To Be Continued!!
__ADS_1