
"Menurut Ibu, apa yang harus Jenny lakukan? Apakah Ibu tidak menerima Jenny sebagai menantu Ibu?" tanya Jenny perlahan dengan suara sedikit parau.
"Kenapa Kamu balik tanya pada Ibu? Ibu hanya tidak ingin kamu merasa terpaksa menjadi istrinya Pras. Apalagi dengan status Pras. Duda beranak satu. Apa kamu bisa menerima itu?" tandas Bu Tatik.
"Bagaimana dengan status Jenny sendiri, Bu? Justru Jenny lebih buruk dari Mas Pras. Jenny memiliki satu anak, tapi status Jenny--." Ucapan Jenny terhenti. Dia malah merasa kasihan pada dirinya sendiri.
Bu Tatik jadi merasa tidak enak hati, telah melontarkan pertanyaan yang tidak seharusnya ia tanyakan kepada Jenny.
"Jen, Maafkan Ibu. Ibu tidak bermaksud menyinggung perasaan Kamu. Ibu hanya tidak ingin Kamu menyesal setelah membuat keputusan. Dan yang paling penting Kamu ketahui, bahwa Ibu sangat bersyukur sekali Kamu mau menerima Pras dan Zylva menjadi bagian dari hidup Kamu. Ibu sangat bahagia," papar Bu Tatik dengan mata yang sudah mulai menggembung menahan air mata yang siap membanjiri pipinya.
"Insya Allah, Bu. Mas Pras saja bisa menerima Jenny yang seperti ini, kenapa Jenny tidak bisa menerima Mas Pras yang jauh lebih baik dari Jenny dengan status yang jelas pula," terang Jenny kepada Bu Tatik.
"Syukurlah jika kamu bisa berkeyakinan seperti itu, Ibu ikut senang mendengarnya. Ibu hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaan kalian. Apalagi sekarang sudah tambah lagi cucu Nenek, ya kan sayang," ucap Bu Tatik sambil mengelus pipi lembut sang bayi yang masih menyusu.
"Bu... terima kasih untuk semuanya, jika tidak ada Ibu--," ucapan Jenny terhenti.
"Sudah jangan pernah berkata seperti itu lagi, Ibu sudah menganggap kamu seperti anak Ibu sendiri. Dan Ibu rasa, Ibu juga sudah mengenal kamu," sela Bu Tatik.
Jenny terpukau dengan ucapan Bu Tatik. Kebahagiaan yang bertubi-tubi yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Udah selesai mimik tutuna, kan. Sini sama Nenek lagi ya..," sembari mengambil dari pangkuan Jenny "Apa kalian sudah mempersiapkan nama untuk bayi tampan Nenek ini?" imbuh Bu Tatik.
"Untuk nama, Jenny serahkan sepenuhnya pada Mas Pras saja, Bu."
"Ibu boleh kasih saran?" tanya Bu Tatik.
"Ya boleh dong, Bu. Menurut Ibu siapa nama yang tepat untuk bayi tampan ini?" tanya Jenny sambil tersenyum.
"Boleh Ibu beri dia nama Adam?" usul Bu Tatik.
"Hanya satu kata?" tanya Jenny.
Setelah beberapa jam akhirnya Pras dan Zylva tiba di ruangan. Zylva histeris melihat dedek bayi yang ada di pangkuan sang Nenek.
"Dedek bayi...!!!" ucap Zylva sambil berlari begitu ia masuk ke dalam ruangan.
"Zylva, cuci tangan dulu ya sebelum pegang dedek bayinya," titah sang Ayah dengan lembut.
Zylva segera berlari menuju kamar mandi. Dengan segera ia sudah kembali.
__ADS_1
Dengan gemasnya dia berkali-kali menciumi pipi bayi mungil yang semburat kemerahan. Sang bayi pun menggeliat membuat Zylva semakin ingin mencolek pipi dedek bayinya.
"Yah, nama dedek bayinya siapa?" tanya Zylva sambil terus mengelus pipi lembut sang bayi.
"Mm..,"
"Adam!" sela Bu Tatik mendahului Pras.
"Adam?" ucap Zylva.
Pras hanya melongo, lalu menoleh ke arah Jenny. Jenny hanya bisa tersenyum sambil mengangguk.
"Kamu yang kasih nama itu?" tanya Pras lirih kepada Jenny.
Jenny menggelengkan kepalanya lalu ibu jarinya menunjuk ke arah Ibu.
"Ibu?" tanya Pras lagi. Jenny kembali mengangguk. Pras pun hanya bisa pasrah.
Bersambung...
__ADS_1
Ikuti terus kisah Pras... Di episode Terakhir 😍😍😍