
Clara di kamar ia tak menjawab panggilan dari Arumi. Ia memang mendapat pesan jika ka Arumi telah bertemu dengan sang kakak. Hal itu pun ia bicara melalui pesan, jika ia baik baik saja. Dan meminta mereka untuk tidak khawatir, karna Clara ingin sang kakak fokus pada Danzel putranya.
Dia bukan pria atau kakak yang aku kenal. Juga bukan pria yang manis yang selalu memperlakukan aku tak baik, apalagi membuat aku menangis. Haaah .. wanita pirang itu, benar benar membuat aku kembali sakit.
"Baiklah. Saatnya pameran, aku harus fokus pada kerjaku. Keuanganku sudah sangat sulit, tak ingin menyusahkan siapapun... Ayo Cla. Kamu semanga**t!"
Elvira masuk pada ruangan Fandi. Lalu ia mencari tas kecil segi empat dan mencari sesuatu. Ketika ia menemukan, ia tersenyum dan mengambil beberapa botol dan meletakkannya pada cangkir dan piring kecil tempat obat.
Sayang .. kamu dimana? Aku sudah meletakkan tiga butir obat. Jangan lupa di minum ya, aku akan meninjau pameran di hotel X !!
"Cla. Elo di panggil bu Vira tuh!" pinta Sinta.
"Tapi. Gue belum kelar urus nata semua ini Ta. Biar gue kesana setelah ini ya."
"Aaach .... Cari masalah, udah biarin gue aja oke!" titah Sinta.
Clara tersenyum. Ia mengucapkan terimakasih pada Sinta yang telah membantunya. Tapi satu hal, ia menatap ruangan pintu terbuka. Sudah pasti wanita pirang itu ada di dalam dengan sengaja. Hingga ia mengetuk pintu tak jadi saat mendengar hal yang tak terduga.
Okee.. thanks ya. Elo emang dokter yang gue andalkan. Gue bakal balas budi semua yang udah elo kerjakan buat gue Ton !! teriak nya dalam ponsel. Lalu menutup ponsel lipatnya.
"Permisi. Bu, ada yang bisa saya bantu. Tadi Sinta bilang .. "
"Nih ... Kerjain di lantai Dua belas. Pake seragam ini!" melemparkan baju dalam plastik.
Clara terdiam, ia menatap baju berwarna pink. Lalu menatapnya dengan jelas. Jika tak salah itu adalah seragam kebersihan petugas pantry di lantai dua belas yang berisi semua karyawan wanita.
"Ingat, satu bulan ini kamu bekerja di lantai dua belas. Jangan lupa, gelas gelas kamu susun tinggi terbalik menghadap kebawah Jangan salah .. dan Jangan sampai terjatuh!"
"Tapi .. "
"Heii .. cepat pergi. Ga perlu persetujuan bos Fandi. Kamu lupa, beberapa hari lalu udah ada pengumuman. Kalau aku punya wewenang termasuk mengatur kamu keluar. Aku masih berbelas kasih karna kamu masih di pertahankan di sini.. Ya, meski bukan pekerjaanmu sebelumnya seperti ini, tapi ini cukup bagus untuk kamu!"
Clara menderu nafas panjang. Ia malas untuk berdebat, lagi pula pekerjaannya belum mendapat gantinya. Tidak di keluarkan saja sudah sangat cukup untuk ia bertahan hidup. Tak ingin membebani, dan membuat ka Gilang berhutang karna dia yang manja. Ia harus kuat mental menghadapi Elvira. Belum lagi, ia sudah beruntung tak menatap langsung Elvira dan Fandi yang bermesraan secara tiba- tiba.
"Kenapa diam.. Cepat keluar Cla-ra!" teriaknya.
Sudah Dua jam, Sinta tak menemui Clara. Ia memutar ruangan karna sambutan acara akan berlangsung. Menghubungi Clara pun sulit tak terdengar suara sepatah katapun.
__ADS_1
Lo kemana sih Cla. Ga tau apa, bos Fandi dan Manager Vira udah datang. Klo dia nanya, apa yang harus gue jawab.
Sambutan acara jamuan akhir tahun. Fandi menjabat tangan pada klien setia dan orang terpenting. Ia sudah bertahun tahun selalu memesan dan segala hal keperluan pada EO Can'Fa. Tak pernah sedikitpun ia kecewa akan kurangnya rasa jamuan, dan perintilan dekor dan MC yang benar - benar perfect untuk bisnisnya.
Sayang .. aku ketoilet dulu ya!! ucap Fandi pada Elvira. Elvira pun tersenyum dan menemani klien mereka dan menghandlenya.
"Pak. Euum ma- maksud saya. Bos, apa bapak melihat Clara?" tanya Sinta menunduk.
"Cla-ra?" menggeleng kepala. Ia ingat jika Elvira berkata dia adalah wanita benalu dalam hubungannya saat itu.
"Tidak.. Coba cari di belakang acara!"
"Baik. Terimakasih bos." balas Sinta rasa khawatir mencari Clara.
*Mohon maaf pak, lantai tujuh toilet ini sedang tidak berfungsi. Satu satunya, toilet yang bersih ada di lantai dua belas. Lift tombol tujuh kebawah, delapan, sembilan hingga sebelas sedang tak baik saluran air. Hanya lantai dua belas saja!! titah karyawan kebersihan.
Fandi menaikan alis. Ia tak mempermasalahkan jika harus pergi ke lantai dua belas.
"Cepat selesaikan. Dalam acara penting, tidak boleh ada masalah sedikitpun di saat ini. Mengerti kalian!" titah Fandi pada karyawan yang baru ia lihat wajahnya dengan sorot tajam.
*****
Clara yang membersihkan gelas. Menjinjit kakinya, ia mencoba membersihkan sela debu, hingga merekatkan agar gelas ramping itu tertata dengan rapih.
Namun keseimbangannya membuat ia terjatuh dan ...
"Aaaaaakgh .... " teriak Clara.
Clara menutup mata, dan terkejut ia membuka mata tubuhnya telah di topang oleh tangan kokoh seseorang. Jelas menatap dengan sendu, Clara menatap mata dan wajah indah yang ia rindukan.
"Tidak apa - apa. Berhati hatilah!"
"Pak. Owh.. maaf. Saya ceroboh!" membenarkan posisi untuk berdiri.
.
.
__ADS_1
.
Apa sikap wanita ini benar benar benalu dalam hidupku? Entah mengapa wajah dan sikap lembutnya aku seperti tidak asing. Uuuch ...
Mengapa aku harus bertemu hal cinta yang menyakitkan. Ketika aku mencintaimu dengan jelas dan yakin, derita itu di mulai ketika aku melihat papan nisanmu mas. Tapi kamu jelas masih ada dan sengaja tak mengenaliku.. kamu jahat sekali Mas?
****
"Cla. Lo di sini ?" tanya Sinta mengagetkan lamunan Fandi dan Clara yang saling menatap. Sinta pun yang tadinya maju menjadi mundur kembali saat seorang pria membalikan wajah dan menatapnya.
Siaal.. ada pak bos lagi. Gue harus alasan apa, gue kira itu cemceman Clara. Haaaah.. bego .. bego kamu sinta. Gerutunya. Sehingga pria yang nyatanya bosnya itu ia melewatinya, ketika mendapat panggilan.
****
"Elo ga salah.. kok pake baju ini sih Cla .. ?" tanya Sinta.
Clara menggeleng kepala. Ia bicara jika ia telah berganti tugas di lantai dua belas dengan seragam ini mulai detik ini.
"Haaah .. serius lo. Coba lo terus terang, gue tunggu nanti sore. Kita ketemu di cafe bawah ya. Lo harus cerita semuanya, inget gue temen lo, gue bisa bantu sesuai kapasitas, kemampuan gue Cla. Yaa .. inget jangan Lupa!"
Sinta berlari kecil ketika mendapat mandat dari pesan di ponselnya.
Jam delapan malam, apartment Louis lantai dua puluh tujuh. Ruang RC, meja makan no tujuh belas.
.
.
.
Clara menatap pesan di layar ponselnya. Ia tak tau siapa yang meminta dirinya datang nanti malam.
****
Yuuuks, siapa yang ingin menemui Clara. Ada yang tau?? Jejak terus ya, biar Author semangat nulisnya!!
--- Happy Reading ---
__ADS_1