
"Cukup Fandi. Kamu ga bisa lakukan itu, karna aku sedang Hamil!"
Teriakan Itu membuat Clara dan Fandi menoleh. Karna ia tau persis apa yang ada di dekatnya. Ia tau persis suara siapa itu yang membuat dirinya naik darah ketika ucapan tak masuk akal.
Fandi memegang erat Clara. Meski Cla menatap suaminya penuh dengan curiga.
"Percaya sama Mas. Mas ga pernah menyentuh Elvira Cla. Mas hanya sayang sama kamu selamanya!"
"Jangan dengarkan bualan itu Cla. Kamu ga percaya, lihat saja nanti. Ini adalah bukti bukti saat kita wawancara ZSS. Kamu lupa lovely, saat kamu menyembunyikan identitasmu. Kita meramaikan semua acara, kamu minum dan mabuk."
Fandi menatap foto itu. Hal yang ia ingat adalah acara selama berlangsung. Ia tak pernah melihat Elvira. Tapi bagaimana bisa semua foto foto itu. Benar mirip dengannya. Mulai dari baju yang mirip sama persis saat ia kenakan.
"Say. Foto ini benar benar kamu, apa aku harus tidak percaya atau sebaliknya?" menatap sedih.
"Cla. Tunggu Mas!"
Sementara Elvira menatap Fandi yang mengejar Clara. Elvira pun kembali masuk kedalam mobil dan melajukan kecepatan mobilnya.
"Haaah. Dasar wanita manja, baru di gituin aja udah mellow. Hahahhahah."
Elvira menyetir dengan kecepatan cepat. Ia terbawa suasana akan senangnya. Tapi menatap Clara yang berlari di tengah jalan. Ia tak melihat Fandi, ia pun segera membuat mobil semakin kencang. Hal itupun ia bermaksud ingin mencelakai Clara dengan menyerempet membuat Clara terluka.
Sssssrrrth..... "Kamu harus musnah tikus kecil. Kamu menghalangi jalanku!" ungkap Elvira.
Fandi yang mengejar Clara dengan mobilnya. Ia melaju dengan cepat membuat mobil Elvira jatuh berlawanan arah. Sementara Mobil yang di kenakan Fandi membuat ia jatuh pada pohon tebing dan mengelurakan Asap.
Clara menatap nanar dan bergetar kala itu. Ia langsung melemas saat berdiri seolah mematung. Begitu terasa angin mobil yang melewatinya bagai angin yang hampir menyentuh kulitnya. Ia menatap adegan mobil putih itu ingin dekat dengannya. Namun mobil biru doop segera melucur menguat mobil itu tersungkur di lawan arah.
__ADS_1
"Maaaas... " teriak Clara histeris.
Ambulance telah tiba di rumah sakit. Clara masih kebingungan karna Fandi masih di rawat di UGD. Sementara Elvira ditangani dalam operasi ruangan sebelah dalam keadaan koma.
Clara masih tidak tau apa yang terjadi. Yang ia tau adalah ia menangis karna kecewa pada suaminya.
"Maafin aku Mas say. Andai aku tidak bersikap kekanak kanakan, mungkin kamu ga akan berada diruang operasi seperti ini."
Tak lama Kean. Rein dan Misel tiba saja datang. Ia membawa seutai bunga dan buah untuk Clara.
"Eeeekh wedus. Lo ngapain bawa kembang kemboja. Banyak banget lagi di keranjangin?" tanya Misel yang menenteng buah.
"Dari pada gak bawa apa apa. Gue bawa deh keranjang telor emak gue tadi. Dari pada Rein ga bawa apa apa." cetug Kean.
"Enak aja gue ga bawa apa apa. Gue bawa darah dan jiwa untuk membawa Clara menjadi kuat dan tabah. Ada pundak gue untuk bisa Clara sandarin. Iyeeee Gaaak... ?" membuka mata sebelah.
Pasalnya saat Rein bicara memperagakan. Dia menutup mata seolah sedang membayangkan hal buruk dan mencari kesempatan.
Tak lama. Clara menatap Misel dan Kean. Ia memeluk mereka sehingga mereka sedikit bingung tak tahan akan kesedihan Clara.
"Udah sini. Ayo Cla cerita sama gue. Ayo minum dulu deh kamu Cla. Eiiiy pusing liat kamu kaya gini, jadi ikut bombay nih mata ngucur kaya keran bocor."
"Idung lo tuh bocor. Tiap hari juga yang lo miliki bocor Kean." balas Misel.
"Kalian masih mau berdebat apa mau nemenin gue sih. Mis. Keai?" seseguk Clara.
"Aduuh. Miss Keiy. Udah kaya kunti di tayangan jam Saraw gue aja." begidik Misel.
__ADS_1
"Ceritain Cla. Kenapa mas mu bisa seperti ini?" sambar Rein sok pahlawan. Sehingga Misel bergeser dan pindah posisi duduk disamping Clara.
Alhasil Clara ikut menceritakan semuanya. Hingga detail sebelum mobil saling menyilang.
"Cla. Gue gak yakin klo mas pentol loh itu ngelakuin itu." bubuh Kean.
"Tapi kan mabuk cungs." tambah Rein memanas.
"Pea loh. Udah tau kondisi kaya gini, malah nambahin beban Clara." bisik Misel mencubit Rein.
"Auuuw. Biasa Aaa-aja dong cubitnya. Ganas lo Mis." ketus Rein.
Clara hanya bisa menutup mata. Yang ada di pikirannya adalah hal buruk terjadi. Sehingga kala itu beberapa polisi datang untuk mengintrogasi kecelakaan menyilang beberapa jam lalu.
"Ibu Clara. Dimana yang bernama ibu Clara?"
Clara yang baru dua langkah. Ia memutar tubuhnya dan mendapati sang dokter keluar.
"Saya Dok. Bagaimana keadaan suami saya?" tanya Clara melemas.
Sementara wajah dokter sangat tidak baik. Tepat bersamaan polisi meminta Clara untuk ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.
"Begini bu. Kondisi suami ibu saat ini." dokter terdiam.
"Ibu Clara. Kami memberikan waktu selama lima belas menit. Mohon untuk bekerjasama!" ucap Polisi wanita.
----bersambung---
__ADS_1
Yukss. Tinggalin jejak kira kira bakal kenapa ya sama Mas KC. Terus nih Polisi pake dateng di time ga tepat lagi. Udah tau Clara lagi panik hanya luka di kening yang tertempel perban.
Semoga Terhibur Ya.