
Sin, gue ga bisa datang ke cafe. Ada hal mendesak. Sorry ya! next gue bakal ceritain kok. Please .. jangan marah ya!! pesan suara Clara pada Sinta.
Clara terdiam sepi. Ia yang telah berganti pakaian, menatap rak dalam lemari. Dress kuning motif bunga sakura yang ia pilih. Lalu ia memakainya dan membalutkan blazer menyelempang untuk bagian tasnya.
Ia memakai sandal senada, kali ini bukan heels. Melainkan ceper dan sangat nyaman untuk ia kenakan.
Setelah sampai di meja nomor dua puluh tujuh, ruangan Louis RC. Ia di sambut beberapa tim pemain pianika dan biola. Clara terdiam, ia meremang kejapkan matanya. Menatap sekelilingnya yang telah kosong tak bersisa satu orang pun.
.
.
.
Jadi apa tujuan lo minta gue kemari? tanya Vanzo.
Fandi menghela nafas, masih memutar gelas berisi minuman beralkohol. Ia sedikit senyum miring menatap gelas bening berawarna emas. Tentu saja minuman semut di lidah yang biasa di sajikan di bar.
"Gue masih bingung. Apa benar gue ada hubungan lebih sama Vira. Tapi .. Uuuch, semenjak gue masukin karyawan bernama Clara. Entah kenapa gue kayak ga asing."
"Heuuuh. Udahlah, lo ga perlu memaksakan pikiran. Lagi pula elo berobat kan? Dengan sendirinya semua ingatan bakal perlahan muncul. Oke.. !"
Yaaa, benar saja. Tapi setiap minum obat pil yang di siapkan Vira. Buat gue sedikit pusing dan samar mata gue. Tapi bisa aja itu efek sampingnya. Tapi kenapa selalu sering?!
"Heii .. mulai deh bengong. Kenapa lagi sih Fan?"
"Gak. Gue .. cuma lagi mikit aja. Kenapa hati gue sakit ya. Tapi kalau liat Clara hati gue adem, entah kenapa gue terasa ingat kalau dia emang kekasih gue. Tapi kayak janggal."
Fandi menatap Vanzo. Lalu Vanzo menepuk bahu Fandi seolah ia terburu buru akan kekasih yang akan ia temui.
__ADS_1
"Udah. Gue bakal selalu ada, bantu lo pasti sob. Gue juga utang budi sama nyokap lo. Gimana nanti kita temuin nyokap lo di Bra ... ?"
"Gue belum bisa datang. Lo tau kan masalahnya .. selagi nyokap baik baik aja. Gue udah seneng, setahun gue udah jadi kacung Aris. Haaah .. bocah tengik itu. Kalau bukan masih darah dari bokap. Udah gue habisin dengan tangan gue!" mengepal jari.
"Eeeits .. Eeittiiieiish. Jangan emosi, inget harus kelapa dingin oke!"
"Ke-pa-la. Looo !" ketus Fandi. Kesal bicara kepala dingin tapi jadi kelapa dingin.
Vanzo senyum. Ia pun meminta Fandi berkonsultasi pada rekan dokter Sara. Hal itu membuat Fandi menatap secarik kartu nama. Lalu meletakkan kembali di dekat botol hijau bertulis 1545.
"Sob. Gue cabut dulu oke!"
"Heuuumh ..."
Sudah banyak dokter konsultasi. Ga ada yang bisa nyembuhin ingatan gue balik buat apa. Yang ada dokter itu malah lama dan memutar pertanyaan gajelas. Bukan rileks gue risih yang ada Zo!! benak Fandi sedikit melirik temannya yang telah menjauh pergi.
"Mas. Aku terlalu berharap .. tapi aku akan memutuskan ini untuk yang terakhir. Aku kira kamu telah mengingatku. Sudah enam bulan kamu mengacuhkan dan bersama dengan Elvira. Mungkin takdir kita hanya sesaat saja."
Fandi telah menghabiskan minuman. Sebuah jam yang melingkar di tangannya. Ia tersedak saat menatap jam sudah pukul sepuluh tiga puluh. Hal itu ia lupa akan pesan untuk Clara datang.
Siaaal .. gue keenakan di sini. Hampir lupa mau nemuin Clara. Gue harus tau siapa dia, gue ga bisa tinggal diem kalau semua yang gue alami emang karna dia dan keluarga busuknya!!
"Dimana wanita meja dua puluh tujuh itu?" tanya Fandi kepada pelayan. Setelah sampai menyetir dengan cepat.
"Mohon maaf. Saya cek sebentar. Tamu yang Tuan maksud itu, .. sudah menunggu hampir dua jam Tuan. Tapi mungkin lima belas menit lalu telah keluar dari pintu sebelah Kiri."
Oke. Thanks.
Halte dengan suasana sepi, Clara menatap percikan air hujan yang semakin deras. Ia mengenakan tas rampingnya. Tak membawa jas hujan maupun payung untuk berjaga jaga. Hal itu membuat ia ingin memesan taxsi. Tapi nihil, ponselnya lowbatt. Menunggu bus biru membuat ia lelah untuk menunggu yang hampir dua puluh menit.
__ADS_1
"Astaga. Aku sampai kapan menunggu di sini?" menatap suasana semakin sepi hanya dua atau tiga orang. Apalagi hanya ia sendiri pengunjung wanita.
Tak lama, Clara menatap bus mendekat. Mundur tiga langkah untuk tidak terlalu dekat. Karna sudah pasti penumpang dari dalam yang turun untuk keluar. Baru ia bisa masuk.
Triiiing .. pintu terbuka. Dua, tiga, empat orang keluar. Clara ingin masuk dengan langkah kaki kanan. Tiba saja bapak tua dan ibu paruh baya menabrak bahunya. Hingga ponselnya terjatuh kebawah. Hal itu membuat ia tak bisa naik saat itu juga. Karna ponselnya berada di bawah bus yang menyelinap dari lorong langkah dan pintu bus.
"Aku lain kali saja pak!" Triiing .. alhasil pintu itu tertutup rapat. Wajah sedih Clara membuat ia menuggu. Lalu menatap kiri dan kanan ia ingin turun dari langkah atas ke tepian lorong jalan bus.
Haaaap ...Biar aku ambilkan!!
Clara terdiam. Ia menatap Fandi yang tiba saja menyosngkan jaket hitam ke punggungnya. Lalu dengan santai dan tegas ia mengambil ponsel yang terjatuh, dengan kilat melompat. Lalu kembali naik ke atas dengan kaki tingginya.
"Sudah lama?" menepuk tangan setelah memberikan ponsel. Tapi Clara masih terdiam bisu akan pria yang pernah ada di hidupnya.
Kenapa kamu dekat dan kilat seperti ini. Perhatian ini sama seperti kaka yang mengurus perintilan dan peduli akan keselamatanku selama dua puluh empat jam. Baru saja aku mengatakan untuk menghapusnya, mengapa kamu datang seperti ini Mas?! batin Clara.
Ala style rambut pria yang basah. Membuat Clara menatap sisi lain. Tapi sayangnya hanya mereka berdua di halte itu dan saling menatap.
"Kenapa. Kok diam?" tanya Fandi.
.
.
.
Yuuks. Jejak, Author update dari jam dua siang. Mungkin meluncur satu bab, dua bab lagi menyusul di jam berbeda.
--- Happy Reading ---
__ADS_1