
Fandi datang, ia sangat beku membisu kala melihat undangan Clara. Ia begitu frustasi dan menyesal. Mengapa Clara mau di nikahi Putra dari rekan klien itu. Sungguh terlambat bagi Fandi untuk mempertahankan hubungan mereka. Lagi pula, ia yang masih menyangkal dirinya telah menalak tiga Cla. Sudah jadi bubur, meski keadaan ia tak sadar. Tapi surat cerai itu asli kala dari pengadilan. Sudah tak bisa untuk bersama kecuali sama sama menikah dan bisa kembali bersatu.
Fandi menahan air mata, sudah berapa lama ia harus meminta Clara menunggu, tapi di pikirannya Clara sengaja menikah hanya untuk kembali lagi padanya. Itulah mengapa ia memberanikan datang. "Elvira, sebentar lagi memang dia harus menanggung akibatnya!" batin.
Hingga tepat Fandi menjabat pada bu Ratna, pak Hardi dan mempelai pria. Lalu Clara menatap dan saling menatap, seluruh undangan tamu berjejer. Sehingga pandangan Ryan tak fokus pada Fandi yang berbisik pada Clara istrinya itu.
"Selamat Cla. Aku tau, kamu menikah agar bisa kembali padaku kan?" bisiknya.
"Jangan harap mas. Kamu tau aku, kita telah berakhir. Aku tidak sanggup orang di belakangmu terlalu banyak musuh dalam selimut." balas Clara dalam bisik.
Hingga di mana mereka bergantian mengucapkan dan mendapat ucapan selamat.
MALAM RESEPSI.
Dirinya yang berada di ruang ganti luas yang di penuhi belasan orang hilir mudik menoleh ketika suara Ryan terdengar. Tidak mudah mengabaikan lelaki itu ketika suaranya yang ngebass begitu merdu di kupingnya.
Ryan menelan ludah melihat Clara hanya memakai tank top yang membuat dada berukuran besarnya membuncah indah.
Clara santai saja, dia sudah terbiasa dilecehkan secara verbal maupun visual. Dia malah enteng makan sebuah kue kering dengan membaca sebuah majalah fashion.
Sampai kemudian Ryan. Mengambil selendang yanga berwarna gold dari manekin dan dengan kilat melemparkannya ke dada Clara. Clara pun hampir saja tersedak nasi.
"Tutupin! Malu maluin!" katanya tajam.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Clara menepis selendang yang suaminya sial, menyebutnya saja membuat Clara mual ke arah dirinya."
"Kita udah nikah, Istriku." Ryan sedang meledek Clara.
"Ya sudah perjanjian pascanikah or anything-lah pokoknya."
"Setor aja ke aku, nanti aku baca."
"Kita bahkan belum membicarakan soal tempat tinggal."
__ADS_1
"Gampang itu, sih."
"Kita LDR lho!" seru Clara. "Aku enggak mau pindah ke kota lain!"
"Terus aku yang harus pindah gitu?" seru Ryan mendelik.
Ryan memang berdomisili di negri asing di rumah Ibu Ratna semenjak mendirikan kafe bernama Mentari indah bersama sahabat karibnya. Sementara Clara, tentu saja domisili di ibu kota. Dia bekerja sebagai asisten pribadi Pak Fandi yang bekerja di kantor pusat.
Lagipula kehidupan Clara adalah di Ibukota. Dia tidak mau pindah sekalipun kota lain memberi kesan hangat.
"Apa salahnya?"
"Salahlah, di mana mana istri yang harus ikut suami bukan sebaliknya."
"Itu berlaku buat pasangan normal."
Ryan menipiskan bibirnya. Membuka mulut, tetapi tak mengucapkan sepatah katapun. Ah, sudah pasti lelaki ini keki.
Ryan yang sudah tampan dengan jas putih dengan dasi sewarna dengan gaun Clara. Ia tidak menyingkir saat Clara ganti baju. Lelaki itu malah terang terangan menatap prosesi ketika Clara dikelilingi beberapa orang yang mengurus rambut, mata dan bibirnya.
"Enggak berat ya?" tanya Ryan ketika Clara diberi bulu mata. Tapi Cla, tidak menjawabnya.
Ryan menghela napas, cukup tersinggung sebab di ruangan ini banyak orang. Masa pengantin saling mengacuhkan?
"Kalau sudah terbiasa enggak berat kok Pak," perias wajah Clara yang menjawab pertanyaan Ryan.
"Bapak pernah mendengar ucapan 'cantik itu luka?' Nah, barangkali ini prosesnya."
"Ribet," komentar Ryan.
Mungkin karena bosan menatap prosesi riasan yang tidak ada ujungnya, Ryan pergi tanpa pamit.
"Padahal jangan dijawab Mbak, biarin aja dia ngoceh." ungkap Clara.
__ADS_1
Mbak mbak perias terkekeh mendengar gerutuan Clara. "Tangannya saya cat ya Mbak?"
Clara mengangguk. Dia menyerahkan tangan lentiknya untuk di percantik. Kondisi ini membuat matanya mau tak mau melihat cincin sederhana yang harganya tak sesimpel bentuknya.
Ryan membawanya ke toko perhiasan asal New York tersebut. Clara jelas sudah menduganya sejak awal. Seorang Ryan tidak mungkin membawa dirinya ke toko perhiasan biasa biasa saja.
Ah, dia jadi ingat proses pembelian cincin ini yang begitu drama. Ryan yang mengkhawatirkan dirinya dan meminta untuk tinggal dan tak pernah kembali pada sosok Fandi meski dalam keadaan apapun.
'Berjanjilah, jika masa lalumu datang. Hempaskan dan tetap bersamaku Cla! Aku janji akan membuatmu bahagia selamanya. Jangan kembali padanya. Perlahan cintai aku, lupakan dia seutuhnya!!' ungkapan Ryan pada Clara.
Clara memijit keningnya, bukankah Ryan meminta menikah karna aku menolong agar ibunya bahagia dengan status menikah, dan Ryan berjanji setelah beberapa bulan kita berpisah. Agar aku bisa kembali pada ka Fandi.
"Auuwh," Clara memijit kening.
"Jangan melamun, singkirkan pikiran pria lain di otakmu saat ini, ini pesta dan hargai hari bahagiaku!" ketus Ryan dengan sepotong gulungan kertas yang membenturkan ke kening Clara.
"Tapi kita cuma nikah, .."
"Sssttt, .. Mmuuuuccch!" kecup kilat.
Clara terdiam, kala Ryan membuat dirinya malu. Apalagi saat bu Ratna mengetuk pintu.
iiish!! Kau, memalukan!! umpat Clara.
"Berisik, sekali lagi bicara atau sampai keceplosan. Kau tanggung akibatnya!" bisik Ryan.
EHEUUUUM!! RYAN, CLARA. AYO SAYANG, SEMUA TAMU SUDAH MENUNGGU!! UCAP LEMBUT IBU RATNA.
Clara mengikuti, hingga di mana Ryan memegang tangan Clara untuk di selipkan di tangannya untuk bergandengan.
Namun sebuah pesan berbunyi, kala ponsel Clara berdering tak berhenti. Ryan segera mengambil dan melihatnya.
"Apa ini?" lirih Ryan.
__ADS_1