Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
kenyataan pahit


__ADS_3

Clara tersungkur lemas. Ia sempat di salahkan saat insiden suami tercinta. Pasalnya, ia tak rela jika ia korban tapi tertuduh. Namun di saat time yang tepat, Ka Arumi dan Gilang menguatkan serta membela habis - habisan.


Di saat itu pula, perusahaan di sita sampai kebenaran terungkap. Sementara ia masih menatap Fandi yang koma dengan alat bantu selang di mana mana.


Keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Clara yang semakin banyak berfikir dewasa, ia harus merelakan Fandi di jemput oleh paman Abie Assadel. Clara sempat tak percaya jika di saat ia sedih, ia harus merelakan


surat perjanjian dari Aris dan Abie Assadel.


Clara tak mengerti keutungan mereka apa untuk memanipulasi keadaan yang sebenarnya. Tapi ia menandatangani surat perceraian tanpa persetujuan Fandi sadar dari koma.


"Mas. Demi pengobatanmu, aku akan merelakanmu. Demi orang yang Cla sayangi. Clara akan menjadi kuat. Aku percaya sama kamu mas. Semoga waktu bisa menjawab apa yang terjadi." batin Clara.


Clara hanya menangis pilu. Ia menyaksikan sederetan mobil yang menjemput kepergian mantan suaminya. Arumi memeluk Clara sang adik dari suaminya, begitupun Gilang sebagai kakak. Ia hanya bisa menguatkan untuk dirinya bersabar.


Di kamar rumah kecil. Clara mengurung diri, ia hanya menatap foto pernikahannya dengan derai air mata. Pernikahan wasiat Oma, entah mengapa di saat benar benar perjanjian yang ia inginkan. Menjadi derita dan kesedihan yang tak ingin ia lepas begitu saja.


Tak ada teman seceria dahulu. Di saat ia jaya, semua teman tak pernah absen membuat ia tersenyum. Fana dan Fani tak terlihat ketika masalah datang menyalahkan Clara sebagai pembunuh tragedi kecelakaan. Hingga mereka menjaga jarak, terlebih tiga Trio yang datang, tapi sedikit.


"Mas. Mengapa di saat seperti ini. Aku sulit dan tak rela kita berpisah. Apa kita akan bertemu lagi?" lirih Clara.


Arumi dan Gilang membawa Clara ke kota Bandung. Rumah sederhana peninggalan Arumi dahulu, ia melewati dengan berkebun dan membuka rumah makan sederhana untuk bertahan hidup.


Hingga lepas dua tahun kemudian. Clara yang mulai beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan baru. Ia mulai berdamai dalam keadaan suasana baru.


Arumi sadar akan masalah batin adik iparnya. Ia keguguran di saat ia tak tau, kesedihan mendalam dan mogok makan. Membuat Clara kurang asupan gizi. Jika ia tau adik iparnya mengandung, mungkin ia akan lebih extra menjaga. Tapi sudah jadi bubur, ia hanya bisa menyemangati.


Clara menghentak lampiran map coklat di meja makan. Setelah pamit ia menyusuri coretan pulpen dengan merenung untuk menata hidupnya dari awal. Berdoa segalanya agar di permudah.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu ya ka Arumi!"


"Hati - hati Cla!" balasnya.


Di ruang tunggu receptionist. Clara mengisi form dan menelusuri bangku nomor. Lalu menunggu namanya di panggil. Hal itu membuat ia di sapa dan mengenal teman baru.


"Rara. Kamu siapa, ngelamar sebagai apa?"


"Admint. Namaku Cla." senyum tak yakin.


Tak lama, Rara menyemangati. Jika ia pasti akan keterima, dari puluhan seleksi karyawan. Ia sudah pasti akan keterima bersama dengannya.


"Kamu pede banget Ra." ungkap Clara.


"Kita paling oke Cla. Dari segi paras, udah pasti ketauankan smart. Aku juga ngelamar bagian gudang. Ga jauh beda lah, sama kaya kamu Cla. Bagian ngitung- ngitung." balasnya.


"Kamu tau peraturan di sini?"


"Sa-saya akan mempelajarinya pak. Tapi saya telah membaca seluruh syarat tanpa terkecuali


.. "


"Apa...?" tanya Spv. Ia tertawa ketika Clara terdiam bingung menunjuk tulisan nomor sembilan.


"Ooooh... makan malam setelah keterima bekerja. Bagaimana?"


"Maaf pak. Untuk yang satu itu, saya mengundurkan diri. Saya niat untuk bekerja." nada kecil Clara sedikit gemetar.

__ADS_1


"Haaaah.. dasar wanita sok jual mahal. Biodatamu undah pernah menikahkan. Bagaimana tawaran kerja di sini sulit loh.. ?" sinis menaikan alis Pak Andreas.


Clara terkalut emosi. Ia berbicara lantang dan keluar membawa tasnya. Mengambil map coklat lamarannya yang masih menempel di tangan Spv.


"Permisi pak. Saya pamit, terimakasih tapi tawaran anda saya tidak berminat. Berada di bawah pimpinan mesum, saya rasa bos anda juga sama!"


"Siaaal.. wanita murahan. Bisa bisa mengatakan itu, kau akan kesulitan bekerja Heiiiii.... " teriak Andreas.


Clara menutup pintu keras. Tak lama menatap Rara yang terkejut akan Cla, yang keluar dengan cepat seperti orang kesetanan.


"Kenapa dia kok kaya gitu sih? pikir Rara. Permisi pak. Saya Rara.. nomor urut 56." sapanya.


*****


Clara duduk di tepi jalan Zebra Cross. Ia tak jauh menyusuri jalan dan lelah. Sudah puluhan kali ia melamar, niat untuk membantu ekonomi Ka Arumi yang berdagang. Terlebih ka Gilang merantau jauh menjadi supir pribadi di negeri sebrang.


Ia menghela nafas dan tiba saja tubuhnya tertubruk seseorang.


"Auuuuw.. Sakit." pekik Clara yang kesakitan.


Lalu Pria itu menatap Clara dengan tatapan penuh.


---bersambung---


Hai hai masih ikutin kisah Clara kan. Author akan coba update dua hari perbab.


Author minta dukungannya ya. Jejak terus di kolom komentar jika suka !!

__ADS_1


~ Happy Reading ~


__ADS_2