Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Clara Pusing


__ADS_3

Ke'esokan harinya. Hal seperti biasa adalah Fandi berujung di ruangan fitnes. Terlihat Gilang menatap kaget saat bangun dari tidur dengan posisi masih menguap.


"Gila ni orang, mau olahraga kok bawa laptop sama selimut. Gue ada ide nih!" Gilang tersenyum miring.


"Ka, ngapain sih diri di situ sambil senyum manggut manggut?" tanya Clara.


Pasalnya Clara beranjak dari kamar memang tak ada Fandi. Sudah dua minggu Clara selalu melihat Fandi yang sibuk dan berakhir tidur di ruang olahraga. "Kok aku kasian ya, ka Fandi tidurnya ga nyenyak. Ka Gilang kapan pulang ke penang. Terus kamar aku plase di buka dong kak!" Merengek.


"Apaan sih Cla. Heiiy kamu tuh udah gede jangan lemot dan manja terus!" mencubit pipi Clara. Lalu gilang pergi dan berteriak.


"Mending kamu urus suami kamu tuh. Lebih kasian mengenaskan!" menunjuk.


Clara hanya pusing, ia bingung menatap Gilang yang berjalan meninggalkan. Lalu menatap ke arah samping dari bilik kaca transparan. Ia menatap Fandi yang tertidur di kursi panjang di balut selimut tanpa alas.


"Clara ada ide. Gimana kalau gudang aku bersihin. Terus jadiin kamar ka Fandi." berfikir sok pinter dengan senyum lebar.


Beberapa jam kemudian, Fandi yang sudah bangun. Ia mengucek mata dan menguap. Namun terkejut di balik kaca arah luar. Terlihat satu mobil merah menyala terparkir di pintu rumah. Fandi tak menghiraukan karna ia tak penasaran, ia tau jika itu teman Clara yang datang.


Fandi turun, ke arah dapur. Melepas kacamata dan memijit kening di area tengah hidung. Fandi melihat pesan. Ia terdiam dan meneguk air segelas dan meletakkannya kembali. Masih posisi dalam bersandar di area meja dapur yang tersambung alat memasak. Terlihat dengan gaya baju kaos putih ketat dan boxer yang Fandi kenakan. Ia terkejut akan seseorang yang sudah memperhatikannya.


"Hah.. Mas KC. Alias Mas Fandi oke juga kalau lepas kalau ga pake kacamata." lirih Fani.


"Heuuumh. Kalian mau minum, silahkan gelas di sebelah sana!" unjuk Fandi cuek.


"Yeeeeiiy. Jutek maritek amat sih, gengees deh Eeeiyke kalau pria pesuruh aja suka jual mehong. Orang kita mau ambil wadah buat makanan sarapan doang. Nyesel loh ketus ketus, nanti gak eikee bagi nih!" lirih Kean.


"Diem lo. Klo gue pikir dia ga pake kacamata Cool bego. Baru sadar gue liatnya, seriusan kalau dia senyum natap ponsel itu lesung tersembunyi bikin gue gerah." bisik kembali Fani mengipas jari tangan.


Tak jauh Fandi yang merasa kupingnya panas, akibat dua mahluk tak beraturan hadir. Membuatnya gerah. Lalu ia mengabaikan dan berlalu pergi.


"Uncle. Mau kemana?" tanya Danzel. Di tepi pintu Dapur. Sementara Fani masih melihat pria suami sahabatnya tanpa berkedip.


"Mmmmh.. masih pagi. Udah mandi belum handsome. Uncle mau berenang. Mau ikut?"


Danzel mengangguk, ia memegang erat Fandi dan berlalu ke ruangan belakang setelah mengambil dua handuk dari kamarnya.


Beberapa saat kemudian, Fani melirik lirik seseorang. "Eeeikh Cendol. Lo nyari siapa sih, nyari apaan dari tadi Eiike liatin kaya cacing kegerahan?" teriak Kean pada Fani.


"Nyari mangsa kali, biar bisa di pinjemin duit." ketus Misel. Pasalnya ia masih sebal dengan sikap Fani beberapa waktu lalu.


"Berisik lo, Cowok ga jadi. Gue lagi liat si Mas KC. Kemana dia, kok udah sejam kagak nongol. biasanya dia bulak balik aja."

__ADS_1


"Dih, nyari laki orang." gumam Misel.


"Pea nih si Cendol. Kita kesini bikin tugas dari dosen. Si Clara juga kemana sih, doi ke warung apa ke mall. Lama amat beli jas jus aja!" ujar Kean.


"Elu sih kagak tau diri, gak ada jus pagi pagi bikin si Clara bulak balik ke warung aja." tambah Rein.


Fani masih mengabaikan tiga cowok ga jadi yang debat vs berisik. Tak lama Arumi melewati dan menyapanya.


"Handsome momy udah berenangnya?"


"Yes. Tuh Dady datang nyuruh aku udahan. Tapi Uncle Fandi masih berenang. Aku tadi diajarin berenang ama Uncle loh Mom."


Fani yang mendengarpun, ia langsung gercep pura pura mencari toilet. Alhasil ia menatap ruangan belakang kolam yang baru di bangun amat indah. Terlihat sosok pria dengan celana ketat pendeknya, tubuh yang polos tanpa helaian baju. Fani menohok akan ketampanan Fandi yang tersembunyi, lalu melihat dengan mata yang jahat serta labil.


Fandi naik dan menggosok punggung, rambut dengan handuk kecil. Tak lama seseorang menepuk.


"EEEEIKH .. NGAPAIN LO DIBELAKANG SINI?"


Fani menjatuhkan kacamata Fandi. Pasalnya ia akan mendekati dan berusaha jika ia ga sengaja menemukan kacamata suami dari Clara. Pasalnya ia tau kalau Clara sahabatnya itu menikah dengan perjanjian sampai Tino kembali. Jadi ia sadar pria yang menikah pada Clara ga akan melakukan apapun. Terbesit ingin mendekati dan mencari tau sisi tersembunyi yang membuatnya penasaran.


"Fan, kok lo bengong?" ungkap Clara. Fani menjatuhkan kacamata karna terkejut.


"Eeekh. Itu yah, jadi pecah ni kacamata gimana ya. Gue tadi nemuin itu pas Eeuuum. Di toiileet .. " suara bas Fani sedikit berteriak dan gemetar.


"Ga usah di ganti. Anggap aja takdir nyuruh beli yang baru!" Ketus Fandi, ia melewati teman Clara dan notabane istrinya itu.


"Ciiieh .. sombongnya." lirih Clara menatap.


"Eeeekh. Ka soal ini Maaf Ya!" pinta Fani berteriak.


Heuumph. Hanya suara deheuman serak setelah berenang membuat Kedua wanita itu terdiam. Pasalnya Clara pun kedua kalinya menatap Fandi tanpa kacamata dan bergaya melebihi ketampanan sang kekasih. Hanya menelan saliva saat Fandi berjalan dengan cuek.


"Njir. gimana rasanya ya?" lirih Fani.


"Apanya, rasa apa ceu. Udah yuuuks kembali ngerjain tugas. Nape jadi ngejedog di sini sih. Lo lagi PMS kan Fani. Ga mungkin mau numpang berenang?" tanya Clara.


Fani hanya menepuk jidat, ia ga tahan dan tak membalas pertanyaan Clara, dengan kilat ia berjalan cepat menuju ruangan tiga cowok jadi jadian, yang lagi asik ngegayem di mulutnya dan ngerjain tugas kerjasama dari dosen perihal menyambut Sarjana.


"Terus aja. lo gerutuk kacang polong, Kalau belom keseleg belum berenti. Nih tugas masih kosong aja sih!" bubuh Fani. Ia kesal dan duduk karna makanan yang ia beli udah tersisa satu biji termasuk kue lapis kesukaannya.


"Lah, elo cendol ngapain dari tadi pergi ketoilet lama. Salah sendiri." Ungkap Misel. Clara hanya memutar mata dan mengambil camilan dan menyuguhi seluruh temannya itu. Otomatis mereka semua senang dan tersenyum lebar saat Clara datang dengan sebuah nampan.

__ADS_1


Beberapa jam Kemudian.


"Cla, hari ini sampai esok ka Fandi ga bisa anter kamu. Kamu kabarin ka Fandi kalau kemanapun Ya!"


"Ya, ka Fandi mau kemana?"


Fandi melirik Gilang. Kedua mata mereka aneh, terlebih Arumi yang mendeheum dan memang adik iparnya itu masih belum terlalu dewasa. Jika di jelaskan pun pasti banyak pertanyaan bikin pusing oleh dirinya sendiri.


"Udah ya. Kamu hati hati kalau keluar, Apalagi sama tiga Kremi ini. Ada tugas penting, nanti ka Fandi jelasin setelah pulang. Fani titip Clara ya!"


"Haaaah.. apa. Sa- Saya ka. Okeh .. oke pasti." senyum Fani saat di sapa. Karna ia yang tadinya sebal dengan si kacung, terpana beberapa ribu detik lalu.


Menjelang sore. Clara dan ke'empat temannya itu, ia mampir di mall favorite. Setelah berbelanja dan cuci mata. Mereka mampir ke sebuah resto samping box office alias bioskop. Dengan tawa renyah yang membuat semua mata pengunjung meliriknya. Tetap saja mereka mengabaikan.


Saat mengaduk ngaduk gelas jus, Fani tersedak menatap seseorang.


"Uhuuuuk.. Uhuuuk. Anjir gue ga salah liat kan." lirihnya.


"Kenapa lo cendol basi?" tanya Misel. Sedikit terganggu saat Fani berteriak kaget.


"Gue liat Mas KC. Pake baju batik ga pake kacamata, jalan di iringi satu wanita kaya asisten gitu. Sama dua pria kekar di belakangnya." bisiknya.


HAAAH .. "You serius, si Harry poter berubah jadi Gangster, Ceo, Manager. Bos bercampur aduk kalau disatuin jadi. BILLY ZANE. Si cowok saingan leonardo decaprio di film titanic?" ungkap Kean pada Fani menyambar.


"Apaan sih. Kalian ngomongin film Get Out Ya. kok berasa ada Jumpscare, bisik bisik ditelinga gue dong cyiiin!" tambah Rein.


Fani hanya membungkam mulut kedua cowo jadi jadian. Agar Clara ga mendengar, tapi sayang Clara menatapnya dengan memutar sedotan dan mengaduk ngaduk.


.


.


.


Author : Dua bab Full.


Kremi : Mau Ampe puluh ribuan juga, gw siap nongkrong di mall, biar elo capek ngetiknya Tor.


Author : Tar gw jadiin elo belut bogem baru tau rasa. Bukan kremi lagi, biar jadi mangsa Ular pyhton !!


Aaaiiikh.. Tega niyan deh, spesies Kremi jadi berubah. ( Tiga Kremi jawab bersamaan)

__ADS_1


Clara : Udah sih, jangan ribut pade. Laki gw lewat mana, Readers liat laki gw kagak? Kali aja Fani juling salah liat.


__ADS_2