
"You Crazy, You Stupid boy!" umpat Clara.
"Kembalilah Cla, jangan seperti ini!" memeluk.
Clara yang tiba saja telah selesai acara resepsi, hingga seluruh tamu telah sepi. Kedua orang tua Ryan telah masuk ke dalam kamar hotelnya. Sementara Ryan, ia sedang menghubungi seseorang. Membuat dirinya berpisah dan pergi ke toilet, karna kunci card kamar harus menunggu Ryan kembali di ujung tepi balkon yang sedang menerima panggilan.
Clara di ujung lorong terhentak kaget, kala Fandi menariknya. Hingga ia masuk kedalam lift dan pintu itu tertutup kala mulutnya di tutup dengan menohok, ada rasa khawatir kala sebuah kaki melangkah terlihat, namun Clara akui pintu lift itu lebih cepat membawanya aman kala tertutup rapat. Mungkin saja Ryan mencarinya.
"Kenapa kamu melakukan pernikahan ini Cla? Jelaskan. Apa Gilang setuju?"
"Ka Gilang setuju atau tidak, sudah bukan urusan kaka. Apa yang harus di perebutkan dan di harapkan kak? Kita sudah bukan apa apa lagi?" tangis Clara pecah.
"Lalu kamu tetap ingin merajut dengan orang yang bukan kamu cintai, Cla pikirkan semuanya! Kita bisa mulai dari awal, membuat semua kembali lagi. Percaya kali ini dengan ka Fandi, bagaimana dengan wasiat Oma dan Gilang jika kaka bertemu nanti?"
"Aku sudah melihat ka Fandi yang bawel seperti dulu, syukurlah kaka sadar. Tapi satu hal, jangan lagi kembali. Sadar kak, aku telah menjadi milik orang lain. Aku istri Ryan Byakta!" kecam Clara melepas tangan Fandi, membuka pintu lift dan terlihat Ryan menatap mereka di dalam lift.
Clara menangis, ia menatap terkejut kala Ryan juga terkejut melihatnya. Hingga dengan kesal menahan, Ryan segera senyum dan merangkul peluk Clara di depan Fandi Assadel.
"Kamu berani menculik istriku, dia wanitaku. Jangan lagi berani menemuinya bung!" Ryan menepuk pundak Fandi dan berlalu.
Fandi hanya bisa terdiam dengan rasa sesal, ada banyak liku yang harusnya tak perlu ia sesali. Ia telah mengetahui semuanya, hanya saja mencoba untuk memikat Clara kembali, tidaklah mudah. Ada banyak cara untuk menebus rasa bersalahnya.
"Clara, aku tetap menunggu kamu. Jangan hapus kenangan kita!"
Detak Jarum jam yang tenang dapat terdengar di ruang kamar pengantin. Di dalam foto sudah terlihat jelas!!
"Cla, kamu sudah tidak bisa lagi, dan mengelak lagi?"
Clara menatap Ryan lalu berpura pura tenang.
__ADS_1
"Dari mana kamu mendapatkan ini, dan kenapa kamu tidak menolak berteriak?"
Sebenarnya, hati Clara sudah panik sejak lama. Selama beberapa Fandi membekapnya di lift, Dia sudah banyak bersembunyi. Ketika suasana sudah aman, barulah Dia berani untuk keluar persembunyian saat semua telah cukup untuk membalas kata. Tanpa sadar kala Ryan ikut memergokinya.
Karena Clara hanya mengetahui bahwa Fandi telah tau ia sejak kecil, yang ditabrak itu, tidak memiliki Ayah dan Ibu! Gadis kecil itu hanya memiliki saudara laki laki yang saat ini jauh. Tinggal bersama Gilang sang kakak, dan Oma yang kini telah tiada.
"Gue ga bermaksud Ryan. Gue ga sengaja, gue minta maaf. Gue sadar, jika benar sampai terjadi Bu Ratna lihat. Semua pasti kacau, jantung mama pasti kambuh." sesal Cla.
"Tau, tapi kau lakukan Cla!" Ryan menatap tajam.
"I'm sorry."
Ryan bertanya dengan dingin "Bajingan itu! Bisakah kamu mengaku bersalah dan jangan bertemu dan hindari dia Cla, ini hari bahagia aku tak bisa memarahi di depan orang lain, tapi aku kecewa. Apa kamu tau bagaimana Aku melihatmu di lift tadi?"
Bukti kuat sudah terlihat dengan jelas dimata semua Ryan, tidak ada celah untuk mengelak lagi bagi Clara yang menunduk.
Clara mengerutkan kening dan menjawab. "Jika Aku mengaku, memangnya kenapa? Bisakah kamu masih memberikan hukuman atas nama keadilan? Kamu Jangan terlalu berani! Bukankah Kamu hanya ingin kita menikah pura pura? "Ryan, kita tidak sungguhan kan?" jelas Clara.
"Lima puluh juta untuk sampah ini? Mereka hanya manusia yang tidak berguna, bagaimana bisa bernilai, kamu ingat wanita pirang itu melempar uang saat kamu di masukan kedalam rumah sakit jiwa. Dan kamu masih ingin kembali Clara Seinclar?" tegas Ryan.
Ryan tidak peduli, langsung menuju meja kopi, mengambil sebotol anggur Lafite tahun lama, dan menimbangnya ke kiri kekanan.
Setelah mendengar kenyataan ini, Ryan buru buru memarahi dirinya sendiri, ia sangat menyukai Clara. Tapi ia masih saja mengira pernikahan ini adalah palsu. Clara yang menyadari Ryan sedikit menahan emosi, ia berdiri dan memeluk Ryan menahan gelas kecil itu.
"Lepaskan! Aku tidak bisa kehilangan anggur merah yang berharga ini, Jika sampai rusak satu gorespun, Kamu tidak akan sanggup membayar nya saat ini!"
"Tidak sanggup membayar, tapi aku sanggup menahan cacianmu Ryan. Kamu benar aku bodoh, jadi berikan aku waktu!"
Ryan mencibir "Seharusnya Kamu yang tidak mampu membayar, cukup katakan tidak pernah mencintaiku, kamu hanya peduli dengan mamaku!"
__ADS_1
Ketika semua diam tidak bereaksi, Ryan membanting Botol Anggur itu dan menghancurkannya di kepalanya.
Trang!
Botol dan kacanya pecah.
"Arrrrrgh, Ryan. Tidaaak!!" teriak Clara menahan luka merah. Hingga goresan tangannya terdapat luka.
Ryan jatuh berguling guling di lantai. Darah yang mengalir dari dahinya bercampur dengan anggur merah. Terus mengalir hingga menutupi seluruh pipinya.
"Hal ini tampak menakutkan bagimu! cukup seperti ini saja Cla, kamu bisa kembali padanya. Aku akan mendukungmu!"
"Ryan, tidak seperti ini. Kamu jangan gila, melukai demi menutupi perasaan sebenarnya!"
"Kamu dasar kuda lumpur, rumput liar! Kenapa melakukan hal bodoh seperti ini lagi!" ungkap Clara kesal dan panik.
Clara mengutuk dengan marah sambil memegangi kepalan Ryan, yang mengeluarkan darah! Lalu tangan satunya menghubungi receptionis dan meminta bantuan segera menghubungi dokter.
"Akan kuhajar kamu hingga seperti anjing sekarat Fandi, jika berani melukai wanitaku lagi!" Ryan mengambil sebotol anggur merah lagi dan melemparkannya ke lantai.
"Cukup Ryan, aku minta maaf. Jangan lagi melukai dirimu seperti ini! Aku salah padamu, aku mohon lukamu harus sembuh. Aku janji akan menghindar, dan mendengar kata katamu!" sedih Clara menahan kain yang menutupi luka Ryan saat ini, masih mode menangis histeris.
TOOOK!! TOOK!!
"Bu, Bukan main ada apa ini?" teriak suara menggema dari arah pintu.
Tuan Byakta dan Bu Ratna datang, melihat pemandangan kamar pengantin penuh merah. Melihat anak laki lakinya terkapar di lantai dengan noda merah.
"Clara, apa apaan ini. Ayah, cepat hubungi dokter kita!" ungkap bu Ratna. Sementara Clara masih gugup memandang kali ini apa yang terjadi, Clara tak mungkin jujur di saat tidak tepat.
__ADS_1
Hingga di mana, Clara menatap busa mulut Ryan memutih keluar. Sehingga membuat kepanikan satu ruangan yang melihatnya.
Tidak !! "Tidaaaak Ryan Byakta. Bangun, jangan buat aku kacau dan gila seperti ini!" Ryan!!! teriaknya.