Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
MAKAN MALAM


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Clara masih tidak ingin keluar rumah. Mertuanya bu Ratna selalu saja mengoceh, kala Clara selalu di kamar dan keluar rumah hanya memasak untuk anak angkatnya.


"Haah, punya menantu tidak bisa di andalkan, tidak tau balas budi. Sudah di tolong, masih saja tidak peka. Harusnya rumah tidak sebesar ini. Luas yang setengah Hektar, ia bisa membersihkan segala debu barang antik yang terlihat di meja. Lihat saja, anak angkat saja masih hanya dengan pengasuh." ocehnya.


Pembantu rumah tangga bernama bu Mar, hanya senyum menggeleng. Memang semakin tua, semakin ada saja di cari kesalahan menantu saat ini. Belum menikah di suruh cepat menikah, sudah menikah ada saja yang dibicarakan.


"Mungkin Non Clara gak enak badan bu, gak biasanya sering di kamar dan terlihat lesu. Apa Nyonya tau kalau terjadi sesuatu atau masalah gitu?" ungkap Bu Mar.


"Entahlah, peduli apa. Dia harusnya peka, pagi ke pasar. Jangan sampai dapur kosong, ini malah belanja online. Buang buang uang saja, kerjaannya hanya keluar kamar ambil makan dan masak seperlunya. Menyusahkan." gerutu Bu Ratna.


"Piye toh, kalau cuma bebersih dan ke pasar biar Mar aja lah nyonya. Kasian, siapa tau non Clara sedang hamil gitu?" alibi agar Nyonya Ratna berhenti mengoceh.


Sehingga bu Ratna, mencari kalender dan membulatkan anaknya yang menikah beberapa bulan itu.


DI KAMAR.


Clara menatap pesan singkat, Ryan meminta Clara untuk bersiap dari sore. Karna akan ada jamuan di sebuah gedung, hal itu membuat Ryan Byakta ingin memamerkan Clara istri cantiknya. Ia juga ingin membuat keluarga Bahrein dan Abas Assadel tau. Jika Clara adalah wanitanya, satu satunya wanita yang akan ia pertahankan dan cintai. Betapa bodoh dan akan menyesal pria yang membuat Clara jatuh dalam sengsara.


"Cla, sore ini berhias ke salon. Mas akan Sharelock tempat yang sudah mas booking untukmu!"


"Baik Mas." menurut Clara, langsung membalas pesan Ryan.


Ada rasa ingin menolak, tapi Clara takut Ryan akan menyakiti dirinya sendiri. Ia pun masih bungkam perlakuan Fandi beberapa saat lalu bertemu.


Semoga pertemuan klien, tidak akan lagi mempertemukannya dengan masa lalunya. Clara hanya takut, membuat kekacauan dan emosi Ryan yang mempunyai darah tinggi berlebih. Ketiak ia marah, akan melukai dirinya sendiri. Seolah jiwa Clara semakin terancam dan tidak tenang, jika Ryan melakukan kembali.


"Aku akan menuruti kamu mas, asalkan kamu tidak melukai dirimu. Semoga kamu bersabar, jika hatiku masih penuh dengan nama Fandi." batin Clara.


CLARA!! CLARA ...!! TERIAK IBU MERTUA.


Clara segera turun ke anak tangga, ia menutup kembali pintu kamar dan bergegas turun menghampiri bu Ratna.


"Eeeeh, eeeh! mau kemana kamu sore ini. Mau pergi lagi?"


"Ada apa ibu panggil Clara, Clara mau pergi ke salon. Butik langganan mas Ryan soalnya ..?"

__ADS_1


"Apaaa .., enak banget kamu ya! Mana uang salonnya mending ibu ambil. Ga usah kemana mana, kamu mending ke pasar. Stok dapur udah waktunya di beli. Gimana sih kamu, jadi menantu bisa bisanya enak aja. Kamu tau gak kalau semua peraturan di rumah ini ga boleh leha leha, seenaknya kamu tinggalin Emily, kamu pikir kamu siapa .. Hah?"


Bu Mar, mengajak anak kecil berusia lima tahun kedalam kamar. Menutup kupingnya agar tidak mendengar nenek yang sedang mengomel kerjaannya setiap hari.


"Ayo nona kecil, kita masuk ke kamar!" ungkap bu Mar pada Emily.


TLITH!! DERING PONSEL.


Clara mengangkat ponselnya, lalu dengan cepat ia segera berbicara membalas panggilan Ryan.


"Sayang, aku sudah sampai. Kamu dimana?"


"Mas aku masih di rumah, sebab ibu .."


SRETH! Ponsel Clara di rebut, lalu ibu Ratna mengoceh.


"Ryan, kamu bisa ajarin istri kamu gak. Jangan buang buang uang aja. Ini malah kerjaan di kamar aja lalu sekarang bisa bisanya mau ke salon. Kamu tau gak kalau ..?" terputus perkataan, karna Ryan menjelaskan.


"Bu, dengarkan Ryan. Hari ini acara penting, jangan mengomel. Ryan suruh Clara bersiap, Ryan sudah sampai. Karna ibu mengomel saja, Ryan akan telat ke acara penting!"


Bilang kek dari tadi, punya mantu kaya gagu. Susah di ajak ngomongnya!! gerutu bu Ratna kesal.


Clara hanya tersenyum getir, ia berusaha untuk bersabar kala mendengar ocehan Bu Ratna setiap hari.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


Setelah malam dimulai, Clara tampil anggun dengan sebuah gaun berwarna maroon menyala. Dengan warna senada yang membalut dasi jas dasi suaminya. Terlihat mereka berjalan di altar karpet merah. Menyambut, bertemu para klien penting.


Clara memegang erat tangan Ryan, senyum menampilkan wajah terindahnya malam ini. Ada kegugupan yang membuat Clara terdiam, kala Paman Abas dan Fandi berada di ujung berpura pura tak melihatnya sedang mengambil gelas ramping. Ryan adalah saingan ketat perusahaan nomor tiga di ibu kota.


"Sayang, duduklah! Jangan pergi ke mana mana. Mas akan bertemu klien sebentar."


"Mas aku ikut, aku sedikit gugup. Acara ini begitu ramai. Aku mau ke toilet, boleh?"


"Mau mas temani?" senyum Ryan.

__ADS_1


"Mas, toilet wanita. Jangan buat aku malu seperti anak sekolah dong." senyum Clara menatap Ryan yang memang selalu baik padanya. Hanya saja emosi dan cemburu berlebihnya membuat Clara tidak tahan.


"Ok be careful dear!" kecup Ryan kilat di pipi sang istri.


Clara berpisah, kala Ryan menyambut beberapa klien asing. Clara memang tak fasih akan bahasa Eropa dan Swedia. Ryan memang sangat fasih, sehingga kegugupan banyak istri negri asing berkumpul. Setelah masuk kedalam toilet. Clara menepuk pipinya, ia kembali keluar kembali ke meja nomornya. Akan tetapi suara seseorang membuat ia tercengang!


Suara gitar dan alunan suara yang khas, suara yang tak asing membuat ia menoleh ke satu sudut. Clara segera berahli menatap ruangan tembok dengan bersusah payah, meski ragu tapi ia penasaran.


"Mbak, di samping ada acara apa ya?" tanya Clara pada petugas kebersihan.


"Oh, itu Bu. Rekan tamu juga, biasa suka bergabung dan ikut menyumbangkan lagu. Ruang sebelah itu biasa di lakukan untuk seseorang menyanyi tanpa terlihat tamu di depan. Mungkin memeriahkan."


"Oke. Makasih infonya mbak." ungkap Cla.


Clara pun terdiam, kala menatap dering ponsel Ryan yang semakin menghubunginya.


"Ya mas, aku sedang menuju meja kita. Aku baru keluar dari toilet." menjawab panggilan.


Clara yang tadinya melewati dinding sebelah ruangan vocal. Langkahnya terhenti, di saat pintu terbuka dan suara yang ia kenal sedang mengambil alih mic.


...'Oh ini kisah sedihku! Ku meninggalkan Dia. Betapa bodohnya Aku! Dan kini aku menyesal melepas keindahan. Dan itu kamu ..'...


***


Clara berlari menghapus kesedihan, seolah mengabaikan tatapan Fandi yang menyanyi vocal, menatap wajahnya yang melihat. Karna saat itu Fandi menunjuk pada beberapa orang disana, jika ia adalah wanitanya.


"Sayang, kenapa lama sekali?" tanya Ryan.


"Maaf mas, tadi tas ku tertinggal, maaf ya!" senyum menatap Ryan.


Clara masih mendengarkan suara Fandi, seolah ia bernyanyi mengutarakan isi hatinya. Tidak mudah bagi Clara, ia menikah dengan Ryan, tapi sangat bodoh untuk bisa mengatakan aku bahagia.


Tak lama, Ryan dan Clara menatap seseorang tepat di hadapannya.


To Be Continue!!

__ADS_1


__ADS_2