Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
KEDIAMAN PENANG


__ADS_3

Di balkon kamar, Clara membuka kacamata bacanya. Lalu menutup album foto. Ada rasa tak percaya lagi semuanya. Ia tidak ingin membuat sang mama di alam berbeda menitikan air mata. Saat ini ia telah berada di penang bersama kakak ipar dan menunggu ka Gilang.


"Cla, apa ada masalah. Semenjak kamu menangis kakak khawatir?" tanya Arumi.


"Tidak kak, kakak tau. Mama menikah dua kali, dan kali ini bukan karna mama tidak sayang. Mungkin papa berhak bahagia tapi bukan dengan mama, tapi kenapa aku juga mengalaminya?"


"Cla kamu berhak bahagia, itu bukan garis takdir. Semua pasti ada kebaikan yang kelak kamu dapat. Jangan menyesali takdir yang di berikan padanya, kamu menyesal."


"Tapi kak, semenjak semuanya terjadi. Cla enggak sanggup."


"Apa kamu pikir kaka menikah yang pertama dengan kakakmu Gilang?" jelas Arumi membuat Clara diam.


Arumi mendengar arti kata sang mama, membuat ia curiga dan kembali memeluk adik iparnya yang sedang duduk di bangku.


"Maaf jika Kakak lancang sayang. Katakan semuanya, apa yang terjadi. Kamu selalu bicara baik baik saja?"


Clara senyum, ia sebenarnya tak ingin menggores luka lama. Tapi karna keingintauan Arumi ia pun segera menceritakan sedikit saja.


"Apa Fandi datang lagi?"


"Tidak begitu, tapi Clara takut kak."


"Terus, apa lagi. Kenapa kita tidak bersama?" tanya Fandi. Tiba saja datang di ruang halaman rumah milik Arumi.


"Untuk apa kamu kemari? Kak Arumi memberi tau ya?" tatap Clara tiba saja berdiri. Tapi Arumi hanya menggeleng. Entah rasa tak percaya lagi, bagi Clara semua pria akan sama saja.


"Cla. Masuklah ke kamar! Fandi jangan kejar Clara. Dia butuh istirahat, aku bukan lancang. Tapi dengan cara membuntuti adalah hal yang tidak nyaman bagi Clara saat ini!"


Dengan cepat, Arumi menahan Fandi masuk. Sehingga tak butuh lama, Gilang dan Danzel tiba. Hal itu pun membuat Arumi mengrenyitkan dahi. Entah mengapa Arumi lelah dengan pria yang tiba saja datang.


"Sayang. Aku pulang!"


"Momy. Aku dan papi juga pulang." ungkap Danzel.


"Mas, Clara sudah sampai dari semalam. Dia sedang .." terdiam.


"Masuklah! biar aku bicara pada Fandi." jelas Gilang.


Tanpa menunggu lama, setelah Arumi dan Danzel masuk. Gilang menarik Fandi ketepi halaman belakang. Yang mungkin akan terlihat dari jendela kamar Clara tanpa sengaja. Itupun jika ia sedang ada.

__ADS_1


BUGH!! PUKULAN MENDARAT PADA FANDI.


"Brow! gue minta maaf. Ijinin gue bicara dengan Clara!"


"Meski lo sahabat gue Fandi! jika udah menyangkut membuat hati adik gue menderita. Go! persahabatan kita putus."


Gil! Tunggu gue Gil! Dengerin penjelasan gue dulu Gil!! teriak Fandi.


KE ESOKAN HARINYA DI KEDIAMAN GILANG.


Tiba dipagi hari Clara bersiap pergi ke gedung XB dari semalam entah kenapa hati sangat sakit, meski sebuah kerinduan ia simpan. Ketika Fandi mengutarakan perasaan, ia merasa bahagia melupakan kesedihan akan putus asanya dan pergi jauh. Sahabat karib ka Gilang kini entah status berubah atau tidak merasa konyol, karna ia merasa nyaman dan aman, jika dekat dengan Fandi saat itu, meski status kami telah merubah dengan banyak ujian.


Ia pun melihat jam delapan, kini penuh tanya janjian dan alasan apa pada Arumi ia akan pergi berjalan jalan. Dengan nafas panjang Clara meminta ijin. Karena ia sadar ka Gilang sudah membatas, maka hal terbaik adalah menjadi wanita tegas.


Saat aku sarapan dan bersiap siap sahabatku


Arti memanggil berkunjung kerumah, entah dari mana asalnya ia tiba saja sudah dihadapanku. Arti adalah teman baik saat dahulu aku di penang, meski kini kami kembali akrab. Setelah sekian lama tak bertemu. Hanya dia teman yang mudah menghiburku.


"Cla. Siang nanti ikut ke mall, ketoko mama aku yuuk!"


"Ehm, tapi sebelumnya aku tidak janji sebab aku mau pergi." balas Clara.


"Aku mau ikut janjian sama ka Arumi. Arti maaf ya!" Clara pun berbisik namun Arti malah menjawab dengan nada keras.


"Waaah, kamu janjiaan sembunyi ya Cla, kamu melupakan sahabat kecil mu ini." Arti merajuk.


"Pelankan suaramu Arti, nanti kakak ku denger. Bukan gitu maksud aku, enggak ada yang disembunyiin kok, cuma ada urusan penting aja, menyangkut pekerjaan baru bener deh!"


"Masa?" balas Arti tak percaya, namun Clara membalas.


"Kita kan memang sering tak bertemu karna jam dahulu sekolah kita berbeda. Lagi pula kamu sahabat kecil paling the best, mana mungkin bisa melupakanmu sayang." senyum Arti menatap Clara.


"Aku juga menerima ajakannya. Karna mungkin dengan ini aku bisa lupa kesedihan Arti. Please lain waktu aku akan go dengan mu!"


Arti pun memeluk dan tak lama mereka berpisah.


"Baiklah aku datang di time yang tidak tepat, belum lagi ka Arumi sibuk juga." bubuh Arti pergi.


Sementara Clara tersenyum hangat saat Arti pamit berlalu.

__ADS_1


Tiba pukul sepuluh kurang sepuluh menit aku pamit untuk pergi dengan ka Arumi, meski penuh tanya kemana, aku pun tidak tau. Aku kilas menjawab.


"Jadi kalian pergi kemana?" tanya Gilang.


"Honey! aku ajak Clara jalan sebentar. Sekaligus ke pak Beni." jelasnya.


"Benarkah sayang, kenapa hanya kamu yang antar?" tanya Gilang yang tidak tau, dan memanggil Danzel untuk mengawasi bibi dan ibunya.


"Mas. Percaya dong sama aku!"


"Kebetulan Danzel searah mom. Aku ikut kalian saja. Oke papi sekarang tenangkan?"


Mendengar hal itu, Clara dan Arumi saling menatap. Entah mengapa tidak ada privasi bagi dua wanita dirumah ini. Hal itu membuat Arumi dan Clara saling senyum.


"No problem. Danzel bodyguard kita Cla." cetus Arumi sehigga Clara terkeukeh tawa.


Tak lama Gilang mendapat telepon. Lalu menarik istrinya agar ikut acaranya.


"Cla. Kamu diantar Danzel dulu ya!" hal itu membuat mereka tak bisa menolak perintah.


"Papi aku harus pergi juga, dah bye kak Clara!" berlari Danzel.


Danzel!! teriak Gilang. Tak lama Fandi kembali datang. Membuat mata mereka kembali geram. Danzel pernah memberikan bukti, jika kesalahan ka Fandi bukan pyur kesalahannya. Jika Fandi pernah amnesia adalah hal kebenarannya. Tapi saat ini. Papi Gilang dan momi percaya penuh akan penjelasan Clara.


"Aku kenapa Ya?" diam Clara saat menunggu.


"Hai! Cla, udah siap. Kamu pakai jaket ini sama helmnya!"


"Pake motor ninja, Please! aku bakal pegal ini?" batin Clara terhipnotis gaya fashion Fandi.


"Hanya sedikit, lagi pula jenjang kakimu itu sangat tinggi Cla, masa mau jadi model internasional banyak ngeluh." cibir Fandi.


"Siapa yang mengijikan kamu pergi dengan adikku?" ketus Gilang.


"Honey. Aku memang mau ajak Clara ke pak Beni. Tapi aku tidak tau soal Fandi." jelas Arumi.


Clara yang ingin menghindar, langsung di tarik oleh cekatan tangan Fandi.


"Aku mohon, maafkan aku Clara!!" simpuh Fandi sehingga membuat semua menatap.

__ADS_1


To Be Continue!!


__ADS_2