
"Kamu ga bisa seenaknya seperti ini Kak. Melakukan semaunya demi kita kembali, aku harus menjadi yang kedua!"
"Cla, katakanlah Mas, jangan Ka. Sama seperti kita telah menikah dulu, kamu panggil sebutan berubah. Sayang, atau mas kan!"
"Tapi itu dulu, setidaknya kita pernah menikah karna janji Oma terselesaikan Kak?" lirih Clara.
"Ka Fandi, ka Gilang di luar telah cukup sulit. Kenapa ingatan kaka sudah ingat. Tidak mengungkap saja. Kenapa harus sembunyi lagi. Kenapa ka, sebegitukah kaka mencintai Clara tapi harus dengan cara seperti ini padaku. Huhuuu?" ungkap Clara.
Fandi masih menatap Clara menangis, ia memeluknya dengan membungkuk. Ia masih sedikit sakit akan kepala yang benar benar membuatnya semakin sakit. Andai ia tidak tau, dan tak sempat mengejar Clara yang masuk taxsi. Dan meminta supir untuk berkompromi jika Vira tau aku tidak ada di sana. Beruntung aku bisa masuk kedalam taksi dan memeluk Clara.
Clara, mas Fandi tak akan membuat kamu menangis lagi. Meskipun kamu menginginkan semuanya agar milikmu kembali, apapun kamu menyebut kita seperti pertama berkata. Ka Fandi atau Mas Fandi, apapun itu kaka terima. Mohon bersabarlah, untuk tetap bersama tanpa meninggalkan kaka mohon!! Lirihnya.
"Lalu di mana Gilang berada?"
"Di penang, sudah lama ka Arumi dan Danzel di sana. Mereka telah menjual banyak aset, demi menebus ka Gilang. Karna tuduhan aku yang menyebabkan kaka tiada, keluarga kaka menuntut dan mengambil semua. Ka Gilang kerja paksa demi menggantikan aku yang depresi karna kehilangan ... Huhuuu." menyentuh perut.
Fandi mendengarkan, betapa pilunya ia melihat Clara yang sedih, belum lagi bayinya yang tak bersalah. Fandi menutup wajah dengan wajah merah dan tangisan.
"Semua pasti ulah Elvira dan Aris. Ka Fandi akan mencoba mencari tau Cla. Bersabarlah agar semuanya kembali seperti semula!"
__ADS_1
"Jika saja Clara sanggup, mungkin Cla ingin tinggal bersama ka Arumi. Tapi Clara tak sanggup membebani mereka yang telah sulit, belum lagi semua teman Clara hilang. Karna menganggap Clara wanita bermasalah yang berhadapan dengan hukum. Semua lenyap meninggal Clara. Apa ka Fandi puas, semuanya lenyap. Kaka lebih memilih Elvira saat setahun lebih Clara berusaha membuka diri untuk berbaur!"
"Cla, sayang. Semuanya tidak seperti itu. Ka Fandi murni kecelakaan. Menyelamatkan kamu karna mobil Vira yang ingin menabrakmu. Jadi apapun orang katakan, itu ga benar. Berhentilah merasa bersalah!"
"Tapi kenyataannya ga seperti itu kan. Kalau Vira mau ka Fandi kembali. Kenapa harus keluarga Clara ikut menanggung. Kenapa ka .. apa kesalahan Clara sama mereka?" ketusnya masih mode menangis.
Fandi menghapus tangisan di wajah Clara. Ada rasa tak percaya dan ikut sakit. Betapa tidak ia harus hancur dengan nasib Clara. Terlebih sahabatnya Gilang ikut menanggung beban demi adik semata wayangnya.
"Gil, gue gagal lindungi lo semua. Terutama janji gue sama lo dan Oma. Gue akan balikin semuanya. Tuduhan pada Clara, akan gue hapus namanya terutama keluarga gue yang udah bikin kalian sulit." batin Fandi mengepal tangan.
"Cla, tinggalah di sebuah rumah dekat kantor. Tetaplah seperti biasanya. Ka Fandi akan sedikit memutar waktu untuk tetap baik dan acuh padamu. Bersabarlah!"
"Kenapa? tidak perlu, lebih baik kita akhiri saja ka. Hidup Cla telah sulit!"
Clara tak sanggup, ia tak punya pilihan lain. Menurut dan bersandar adalah hal yang terbaik baginya. Ia juga lelah, karna di rumah kecil kontrakan. Ia harus segera pergi karna kesulitan. Entah mengapa, ia berharap dan bergantung kembali pada ka Fandi. "Semoga Vira tidak pernah tau, jika aku dan ka Fandi kembali dekat. Semoga alam menerima kita untuk baik baik saja!" batin Clara.
DI BERBEDA TEMPAT.
Elvira merasa kesal, ia menghubungi Fandi tak juga di angkat. Supir yang ia temui, bicara jika Fandi sedang tak ada bersamanya karna pergi dengan klien. Sementara di kantor tak ada Klien penting yang datang.
__ADS_1
Elvira menghubungi paman Abas, dengan seketika ia kesal dan murka di ruangan kerjanya.
"Arrggh!! Kemana sih, pernikahan kan akan di gelar sebentar lagi. Fandi kemana sih?" benak Elvira.
Elvira meminta seseorang untuk mencari keberadaan Fandi. Karna sebuah ponselnya terdetek gps. Belum lagi, ia menaruh sebuah alat kamera pada gesper Fandi.
"Hei, Sonya. Lo beneran kan, ga booingin gue soal alat yang gue beli tempo lalu. Kok ga fungsi?" tanya Vira.
"Bener kok, udah tersambung. Kecuali kalau dia ga aktifin bisa jadi ga kelacak." balas telepon Vira.
Elvira menutup panggilan, namun suara ponselnya berdetek kala sebuah layar yang memampang senyuman di balik kepanikannya. Elvira mengscrool alamat yang di tunjukan keberadaan Fandi yang mungkin ada di sana.
"Pak, antar saya ke lokasi ini!" titah Vira saat melangkah dari ruangan kantor.
****
HEI HEI, SORY YA. BELUM BISA UP GENCAR DI EPISODE CLARA. TAPI SEBISA MUNGKIN AKAN TERUS UP, OTOR NULIS DI DUA PF YANG MEMANG DI SEBELAH UP LIMA BAB SETIAP HARI KARNA DI HARUSKAN. OTOR NGEJAR KESEMPATAN REKOMENDASI DAN PASTINYA CERITA YANG BERBEDA MAKIN GREGET.
instagram @ny.fadli_
__ADS_1
Intip semua cerita di sana ya!!
Terus jangan bosen ikutin kisah Clara ya!! Otor juga rangkum dan mulai baca dari awal nih. Karna emang di rombak alur kisahnya.