
Vira terkejut karna Clara kembali ke posisi kerjanya, bahkan ia di umumkan kembali naik tingkat mengurus segala persentasi di samping Fandi.
"Honey, kamu serius. Benalu itu jadi naik jabatan?"
"Vira, ini kantor. Berlagalah semestinya dengan sopan!" ketus Fandi dan kembali jalan melewati dengan sikap menyebalkan.
"Kenapa, ada apa dengan semua ini." mengepal tangan.
DI KANTOR.
Semua anggota tim ini menatap dengan penuh perhatian ke arah Clara, bahkan ada yang menahan nafas mereka karena apa yang akan dikemukakan oleh Fandi berikutnya adalah sesuatu yang penting dan terlihat oleh Vira jika Fandi perhatian penuh.
Setelah itu, Fandi mengungkapkan trik dasar untuk melihat pergerakan saham hingga Clara dan kawan kawannya tidak salah pilih saat nanti memutuskan untuk membeli saham saham di lantai ruangan meeting.
Semua langsung mengangguk angguk mendengar penjelasan dari Fandi ini. Clara sendiri menyimpan dalam hati apa yang dikatakan oleh mas Fandi ini, apalagi sesudah itu. Fandi mulai membawa timnya untuk bertransaksi langsung di pasar saham.
Di satu jam pertama Clara masih takut takut untuk mengambil keputusan untuk membeli saham yang sedang melantai di pasar saham saat ini. Dia nampak terus mengamati pergerakan saham namun dia masih belum juga melakukan gerakan untuk membeli.
Tiba tiba Clara merasakan sentuhan di tangannya yang sedang memegang meja untuk menggeser touchcreen pada layar berwarna tadi. Clara terdiam, terus terang ia tak pandai. Ia menyesal kala saat masih mempunyai Oma, ia selalu saja bermain main.
"Apa yang kamu ragukan Clara?"
"Aku, aku hanya takut salah. Bagaimana jika aku membuat kesalahan?"
"Menurutmu, antara pasar kuning dan biru, mana yang akan naik dan turun sesuai table instingmu. Satu jam lagi, apa mereka akan bersaing atau saling menjatuhkan?"
Clara terdiam, ia bingung dan amat bingung. Yang jelas melihat grafik data, ia lebih memilih pasar biru yang terkenal aktif dalam kesaharian, juga pasar orang untuk daya beli yang tinggi. Sementara kuning, hanya sebuah ilusi yang ketika orang akan mencarinya untuk gaya bukan kebutuhan.
"Saya memilih pasar biru pak." jelas dan menatap.
__ADS_1
KLIK!!
Clara terdiam, kala sentuhan tangan Fandi membantunya mengklik. Hingga di mana, Vira kesal melihatnya. Andai bukan kantor, sudah pasti ia telah menjambak Clara untuk keluar dari kantornya.
Clara, kamu bisa bernafas saat ini. Tapi nanti, jangan harap kamu bisa membuat semuanya berjalan dengan mulus. Vira segera pergi dari ruangan meeting, ia pergi dan menatap lalu lalang seluruh karyawan berdiri diam. Bingung, entah ada apa lagi ia harus melihat sebuah keramaian.
"Kalian semua, kenapa berdiri di sana dengan ramai ramai?" teriaknya, namun mata Vira terdiam ketika melihat Aris.
"Aris. Kenapa dia bisa senormal ini, kenapa dia harus kembali?" terkejut Vira.
Aris yang telah kepalang melihat, ia segera menarik Vira dan membawanya pergi. Dari ruang keramaian itu, Vira berteriak untuk lepas tapi ia segera berlalu masuk keruangannya yang sepi dan tertutup dari kedap suara yang tak akan terdengar dari luar.
Untuk apa kamu datang? Vira menarik nafas. Lalu membuang wajah dan mengambil sebuah majalah berpura pura sibuk membaca.
Aris yang melirik tapi seolah acuh, ia hanya bersikap biasa saja. Ingin tertawa karna majalah itu terbalik saat Vira duduk di kursinya.
Ia takut masalah akan datang kembali, membuat dirinya semakin hancur tak bisa memiliki Fandi.
Siapa sangka, tampaknya Aris juga memiliki mata di samping wajahnya. Dia menahannya dengan pandangannya yang penuh arti.
"Kenapa kamu datang lagi, kamu pria gila kan?"
Aris melirik sinis ke arah Vira dan bergumam,"Permainan apa lagi ini, wanita penuh intrik." melingkarkan kedua tangan di tangan kursi yang Vira duduk dan saling menatap.
Aris memandang bayangan Vira dengan perasaan tertarik. Apakah wanita ini berpikir kalau dia sangat buruk dan mengancamnya. Meski Vira telah tega memanipulasi, membuatnya hampir gila dan trauma. Tapi kini ia bisa kembali dan baik baik saja.
"Aku adalah bos disini? Kenapa kamu takut?"
"Gila. Kamu telah gila, bukan kamu tapi Fandi." lirihnya.
__ADS_1
"Lalu apa lagi, masih ingin mengejar Fandi. Bukankah dia telah kembali ingatannya. Apa kamu merasa di bohongi, hal seperti ini saja kamu tidak tau Elvira. Hahaaa." gelagak Aris terbahak bahak menepuk di wajah Vira.
“Apa yang lo inginkan dari gue Aris, menguntit?” berbicara kasar secara gamblang.
"Menguntit .. mustahil,"
Aris memandang wajah mungil Vira. Dia merasakan kekesalan di dalam hatinya. Vira rela melakukan apapun demi Fandi, jelas jelas ia telah membuat sinyal untuk berkomitmen?
“Bicara sekali lagi, jika aku bukan pria itu, maka aku akan mengembalikanmu padanya. Tak akan mengganggu."
"Apa, dasar atasan sinting sepertimu tak ada guna?" lirih Vira acuh.
Vira berusaha melewati tubuh Aris, namun pria itu menyangga tangan hingga membentur halus tubuh Vira ke arah tembok, dengan berputar seolah sedang menarik.
"Aaach. Lepasin gak!" sinis Vira menatap.
Tak lama Aris mengecup ranum yang baru dilabuhkan. Vira terngiang ngiang di kepala akan kilatnya aksi Aris. Wajah Aris langsung memerah dan tersipu malu sambil menahan amarah.
"Lo dasar gak tahu malu, sudah cukup membuat gue tertekan Aris!” mendorong tubuh Aris.
"Hahaa, Elvira. Kembalilah, bukankah wanita baik harus bersanding dengan pria baik. Menurutmu, apa kamu wanita baik?" tawa Aris menatap senyum miring.
"Maksud lo, kalau gue wanita gak baik. Lo apanya. Bukannya ga beda jauh, lo lebih menjijikan. Semua karna lo yang udah hancurin Fandi. Gue cuma membantu dan meminta balasan agar Fandi kembali untuk percaya lalu menikah sama gue!"
"Hahaa, setelah Fandi ingat semua. Dia pasti akan buang lo Ra, lo tau. Cerminan jodoh lo adalah gue. Jadi jangan mengelak lagi!"
Mendengar hal itu Vira sangat kesal, ia lalu menatap arah pintu ketika seseorang mengetuk pintu.
Toook .. Took. "Vira, gue bawa berkas, boleh masuk sekarang?" suara pria yang ia cintai.
__ADS_1
Vira mendorong tubuh Aris, untuk keluar. Namun Aris melakukan hal tak terduga, membuat suatu hal yang merusak dan sia sia perjuangannya selama ini.