Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
RUMAH SAKIT


__ADS_3

Clara merasa dirinya harus bangkit, kala menunggu beberapa saat di rumah sakit. Masih menatap tatapan liar mertuanya seperti memandang dan memecah ke arah sorot matanya yang sendu. Clara memundurkan langkahnya dan pergi ke arah toilet, tanpa memperhatikan tatapan lain hanya fokus menunggu Ryan selesai di cek dalam ruang UGD. Meski begitu kala ia berjalan, bayangan dan pikirannya tidak singkron.


"Semoga kamu gak apa apa Ryan, jika kamu terjadi sesuatu aku harus apa. Bagaimana aku bisa menjelaskan tentang kita?" benak Clara.


SEMENTARA DI BERBEDA TEMPAT.


"Tuan Fandi sudah datang!”


Wajah kusam resepsionis itu dalam sekejap jadi bersemangat, dengan segera dia mengoleskan blush ke pipinya.


Fandi segera masuk ke dalam club setelah begitu turun dari mobilnya. Pakaian yang dikenakan asistennya begitu mencolok hingga mengundang perhatian Fandi.


Sambil mengernyitkan dahinya, Fandi bertanya ke resepsionis, “Kamu yang pesan ya?” Resepsionis itu pun buru-buru menjelaskan,


“Bukan, Tuan, dia datang nyari Tuan. Kalau Tuan gak kenal dia, aku nanti suruh dia pergi.”


Resepsionis itu terlihat tegang karena takut memberikan kesan buruk untuk Fandi. Terlihat dari belakang adalah keluarga Abas, yakni paman Fandi yang kini duduk saling berhadapan.


"Bagaimana, sudah menyingkirkan Aris, apa masih belum juga kamu dapatkan keinginanmu Fandi?"


"Paman, bukan dia jadi masalahnya. Masalah sebesarku adalah, Clara menikah dan tak ingin kembali padaku!"


Hhhh! hanya bedecih kesal, paman Abas memang tak menyukai Clara si anak manja itu. Alhasil ia menyumpatkan rasa ketidaksukaan pada wanita yang pernah di nikahi Fandi.


"Kau Pria Fandi, untuk apa memaksa. Masih banyak Clara yang lain. Ingatlah, menjadi orang kejam saat ini. Adalah dirimu akan disegani, kala mengingat namamu!" bisik Abas lalu menepuk bahu Fandi dan pergi.


Fandi adalah orang yang sangat disegani, bukan hanya dia menjabat sebagai ketua komunitas, ayahnya juga pemain saham kawakan. Ada begitu banyak wanita yang ngefans padanya, termasuk resepsionis itu. Tapi Fandi begitu menginginkan Clara.

__ADS_1


Abas hanya mengangguk dan kemudian menoleh ke Fandi. Saat itu juga Fandi mendongakkan kepalanya dan mereka berdua saling bertatapan, kala Abas merentangkan tangan pergi. Mungkin sang paman lelah karna keras kepalanya Fandi saat ini.


Abas bisa menyadari kalau Fandi bukan orang biasa. Di balik sorotan matanya yang lembut seolah tersembunyi sebilah pedang yang tajam.


Fandi memiliki ketenangan, kemuliaan dan hawa membunuh disertai sedikit keangkuhan, namun ia pandai menjadi pria lugu di depan Clara. Berbeda dengan Aris yang cukup jelas terlihat kejam, tapi ia mempunyai sisi lembut jika di lawan.


Fandi berjalan menghampiri Aris sementara si resepsionis dan temannya diam diam melirik sosok gagah Fandi dari belakang. Meski kesepakatan mereka, sebagai adik kakak tidak seibu yang selalu bersiteru, adalah hal yang membuat Aris takut akan sebuah kunci emas dari sang ayah.


"Kau menurut, atau ku bongkar jika kau sebenarnya anak angkat! Kau tau, setelah ini apalagi yang terjadi!" ancam Fandi.


“Waaah! Tuan Fandi keren banget!”


“Mau banget deh jadi istrinya!” ucap beberapa wanita tak jauh dari meja mereka.


“Tu ..Tuan Assadel!”


Penerus keluarga Wu Assadel Bahrein yang terhormat bisa bisanya jadi supir rendahan di Jakarta! Kau anak asli yang tidak tau diri, mengapa bisa melakukan ini padaku? Aris bergumam.


Perbedaan status yang luar biasa itu membuat Aris sama sekali tidak percaya dengan apa yang dia rasakan, sekian lama mengancam ternyata dirinya hanya anak pungut tanpa ikatan darah. Cukup tau, jika Fandi membongkarnya. Bukan hanya kehilangan Elvira, tapi aset yang ia miliki saat ini.


"Siiet! tidak ada yang baik selain menjadi kacungnya!" deru Aris mengepal tangan.


***


KEMBALI PADA KELUARGA RYAN BYAKTA.


Dengar dengar Clara dulunya sempat tidur seranjang dengan Ryan, hubungan di antara kedua orang itu bisa dibilang sangat dekat. Lalu kenapa saat ini menikah, hari malam bahagia Tuan Ryan mengeluarkan busa, apa ia di racuni?? itu adalah kata obrolan para suster yang ia dengar berkali kali.

__ADS_1


“Eh, ngomong ngomong kenapa rasanya si tukang kurir itu keliatannya makin ganteng ya, setelah kita tau. Dia salah satu anak pengusaha dari keluarha Byakta, tidak jauh beda dengan keluarga Bahrein?”


“Dasar bucin!” ujar resepsionis kepada temannya, meski begitu dia terus menerus ghibah.


Saat itu juga Clara ingin mengatakan sesuatu ke Fandi, agar segera jauh pergi dari pandangannya. Kini ia yakin, jika Ryan tak selamat. Maka keluarga Byakta akan membuat perhitungan padanya. Clara cukup tau, siapa keluarga yang di bicarakan para suster tadi.


Clara tidak suka membuang-buang waktu, dia ingin segera pulang dan mengganti bajunya.


Diam diam ia mengeluh, sayang sekali dia tidak berhasil mengajak Ryan ngobrol dengannya. Bagi Clara ini adalah kesempatan yang sangat langka. Namun begitu terkejut kala Ryan melakukan hal mengerikan di depan matanya, hanya sebuah kecemburuan.


Clara menekan tombol di kuncinya dan gullwing doors mobil itu terbuka, terlihat seperti sepasang sayap yang membentang lebar.


Hingga detik ini akhirnya Clara baru mengerti kenapa saat itu Ryan bilang ambil mobil, dan bukan beli mobil. Rupanya dia adalah pemilik mobil super mewah itu! Lalu mengatakan pernikahan pura pura, ternyata selalu benar jika ia serius. Tapi Clara sangat takut, akan Ryan yang cemburu berlebih dan emosi jika dirinya salah. Akan menyakiti dirinya seperti ini.


Dia sungguh tidak mengira kesempatannya menggaet pria kaya terlewatkan begitu saja. Meski begitu setidaknya dia masih tahu batasan. Orang seperti Ryan saja bahkan begitu tunduk padanya, mana mungkin dia punya hak untuk menggoda Fandi. Hal inilah membuat Clara semakin bingung, ia tak mungkin kembali pada Fandi dan menyerah akan pernikahannya pada Ryan yang baru seumur jagung.


Dia merasa sangat bersalah ketika mengingat bagaimana dia meremehkan Ryan barusan. Tapi dia juga mengejek dirinya sendiri, orang yang begitu hebat seperti Ryan pasti malas berurusan dengan orang yang bukan siapa siapa.


Mobil pun menyala seiring dengan pintunya perlahan menutup. Clara ingin segera kembali pulang sekedar berganti pakaian. Dan kembali lagi ke rumah sakit.


Body Line berwarna putih keperakan berpadu dengan interior perak keabuan yang lux sangat cocok dengan Ryan yang muda dan tampan. Suara mesin yang bergemuruh membuat orang tergila gila. Clara begitu melihat, indahnya mobil milik Ryan saat ini memang mempesona.


Seketika itu juga pakaian yang dikenakan Ryan terlihat seolah seperti baju zirah emas berkilauan, kala mereka bertemu.


“Gila ganteng banget! Aku mau nikah sama dia!” itu adalah ingatan Clara saat berjalan dengan Ryan.


Ryan pandai menyembunyikan identitas, sama seperti ka Fandi yang dahulu menjadi supirnya.

__ADS_1


"Clara, tunggu!! Kamu harus bisa bertanggung jawab apa yang akan terjadi pada anakku!" teriaknya.


Hal itu membuat Clara terkejut, lalu menahan sakit kala sebuah rambutnya terjambak begitu saja, saat menarik gagang pintu mobil.


__ADS_2