
"Bagaimana mungkin seorang Prasetyo Nugroho menjadi jodohku, apa dia mau menerima aku sebagai istrinya? Aku bukanlah wanita yang pantas untuk bersanding dengannya. Dan kenapa Ibu bertanya seperti itu?" batin Jenny sambil berpikir sejenak.
Ibu menyentuh pundak Jenny yang sedang terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Membuat Jenny tersentak kaget.
"Jen! Kalau kamu tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa, tapi coba kamu pikirkan pertanyaan Ibu tadi," pinta Bu Tatik sambil menyunggingkan seulas senyuman.
Jenny mengangguk dan masih menundukkan pandangannya.
"Ibu minta maaf ya, jika Ibu sudah membuat kamu merasa tidak nyaman," imbuh Bu Tatik.
"Nggak Bu, nggak ada yang perlu dimaafkan. Jenny akan memikirkannya nanti dan akan mengatakannya pada Ibu jika Jenny sudah punya jawabannya," balas Jenny lembut.
"Ya sudah kalau begitu. Oh iya, sebentar lagi Pak Mo akan datang menjemput Ibu. Rasanya sudah lama Ibu tidak kunjungan ke Rumah Makan," tutur Bu Tatik yang merindukan aktivitasnya seperti biasa.
"Baik, Bu," sahut Jenny.
"Atau kamu mau ikut bersama Ibu?" ajak Bu Tatik.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Saya di rumah saja, rasanya si baby ngajak tiduran terus," tolak Jenny.
"Ya sudah kalau begitu, istirahat saja jangan melakukan pekerjaan apapun lagi. Mulai besok Ibu akan cari orang untuk bantu-bantu dirumah, biar kamu nggak kecapean," tutur Bu Tatik.
"Nggak papa, Bu. Jenny masih bisa kok," sahutnya.
Bu Tatik hanya menggelengkan kepalanya. Lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Jenny yang masih selonjoran di atas karpet.
Perut Jenny yang semakin membesar, terkadang membuatnya sedikit malas untuk beraktivitas.
Setelah Pak Mo datang, Bu Tatik pun pergi bersamanya. Tinggal Jenny seorang diri di rumah.
Tangannya menekan tombol-tombol pada keyboard remote TV kemudian menyalakannya dan menonton salah satu acara pada salah satu stasiun TV swasta.
Lama kelamaan mata lelahnya membuat ia mengatupkan kedua kelopak matanya. Sampai waktu jam makan siang tiba Jenny masih tertidur pulas.
Pras pulang untuk menjemput Zylva, namun Zylva meminta ayahnya mengantarkannya ke rumah makan tempat cucu Pak Mo berada. Zylva ingin bermain lagi bersamanya.
__ADS_1
Ayahnya pun menuruti permintaan sang anak. Ntah mengapa setelah menurunkan Zylva, tangannya yang sedang mengemudi menggiringnya kembali pulang ke rumah.
Kebetulan Jenny lupa untuk mengunci pintu gerbang rumahnya. Sehingga Pras bisa masuk tanpa harus memanggil orang yang ada di dalam rumah.
Namun ketika Pras mencoba masuk ke dalam rumah, pintunya terkunci rapat. Lalu Pras mencoba masuk lewat pintu darurat. Meskipun terkunci, namun Pras tetap bisa membukanya. Karena hanya Pras yang tahu kodenya.
Akhirnya Pras berhasil masuk ke dalam rumah, lalu mengedarkan pandangannya menelisik setiap sisi ruangan.
Pras menghentikan langkahnya saat menuju ke kamar Jenny. Namun sayup terdengar suara berisik dari ruang TV. Pras mengalihkan perhatiannya.
Dengan sangat perlahan ia berjalan menuju ruang TV, matanya mengamati sekelilingnya. Tak ada siapapun di sana hanya layar raksasa itu yang menyala.
Ruangan yang diisi dengan satu buah sofa empuk berukuran besar dan lebar yang dapat menampung sekitar enam orang sekaligus. Serta satu buah rak kayu jati berwarna coklat berpadu dengan warna hitam yang mengapit layar monitor raksasa itu.
Pras mendekati layar itu, celingukan mencari remote TV yang biasa bertengger di atas meja. Saat Pras menoleh ternyata remote itu ada dalam genggaman tangan Jenny yang sedang tertidur pulas.
Naluri menggiring tubuhnya mendekati Jenny. Sambil melihat kakinya dia duduk di atas karpet yang terbentang tepat dibawah sofa yang menyokong tubuh Jenny.
__ADS_1
Bahkan disaat sedang tertidur pun kecantikan wanita berkulit kuning langsat itu tetap bersahaja membuat Pras tak henti-hentinya memandangi wajah polos dihadapannya.