Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
PENOLONGKU


__ADS_3

"Ibu Ratna drop lagi, sekarang di ICU," kata Ryan memberitahu Clara.


"Kenapa lo bisa di sini, Udah lama kenapa lo kembali ke sini. Lo buntutin gue. Pergi Ryan, ga perlu ikut campur?" tanya Clara.


"Tapi mama gue pengen ketemu, masih inget kan perjanjiannya. Udah ketemu siapa dia dan itu benar Fandi. Sekarang waktunya kembali!"


"Gue belum bisa Ryan, dan lo tau dari mana alamat gue saat ini?"


"Panjang, semua berkat Misel dan Kean."


Sial, umpat Clara. Ryan menariknya dan berhenti di suatu tempat. Clara tak jadi naik taksi. Kala Ryan membuat dirinya pindah kemobilnya. Meski Clara menolak, tapi jelas pria penolongnya itu benar benar datang mencarinya.


Tak jadi membeli minuman, Ryan bergegas masuk mobil. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan di atas normal. Clara sampai memejamkan mata karena ketakutan.


Di depan lobby rumah sakit, kala mereka berlarian menuju ruang ICU, Ryan melirik Clara.


"Nikah sama gue, Cla!"


Clara menoleh, napasnya tersengal. Mereka masih berlari menyusuri lorong. Sampai tiba tiba Ryan menarik pinggang Clara dan menguncinya ke dinding lorong. Berhenti dalam ruangan gelap.


"Apa sih, Ryan?" seru Clara kesal.


"Nikah sama gue ... please. Kalau lo mau gue sujud di kaki lo, gue bersedia melakukannya, Cla!"


"Ga semudah itu, Lamaran macam apa ini Ryan?" Mereka bahkan masih tersengal setelah berlarian di sepanjang lorong.


"Gue mohon Cla, please! Lo tahu gue enggak pernah memohon sama orang, tapi kali ini gue rela memohon sama lo. Gue ... cuma punya nyokap. Gue enggak mau kehilangan dia, dan gue sayang dan semakin sayang semenjak gue tolong lo dari maut!" bujuk Ryan dengan suara lirih.


Clara tercenung. Ini adalah kali pertama dirinya melihat Ryan begitu frustrasi. Padahal selama ini, Ryan selalu mencerminkan lelaki metropolitan yang percaya diri, narsistik dan sombong. Meski ia penolong baginya, tapi sosok pria model Ryan mungkin langka. Ia berani mengatakan hal serius dengan gentle tanpa kesan romantis.

__ADS_1


"Please ....!!"


Entah dorongan setan mana, Clara malah mengangguk. Bukan. Dia bukan menyetujui pernikahan ini untuk membuat Ryan bahagia. Dan, bukan karena fisik lelaki ini juga sempurna alasan paling liar di kepalanya.


Satu satunya alasan masuk akal kenapa Clara mau dinikahi Ryan adalah untuk balas budi.


Jika keloyalannya menjadi asisten pribadi Pak Hardi tidak mampu membayar jasa Pak Fandi Assadel untuk dirinya, maka Clara siap memberikan hidupnya untuk mengurus Ryan Byakta putra semata wayang Hardi Byakta.


"Okay," sahut Clara singkat tetapi begitu melegakan bagi Ryan.


"Thanks, lo terima gue Cla."


"Tunggu, bukan gitu. Maksud gue Ryan, .."


"Kita temuin mama sekarang!" senyum Ryan bahagia.


Clara merutug kesalahannya. Maksud ia tadi adalah bayangan ingin bertemu mamanya. Bukan menerima pernikahan. Hingga Clara mengigit jari kebingungan. Entah bagaimana lagi ia menjelaskan pada sosok pria bernama Ryan.


BERBERAPA HARI KEMUDIAN


Akad pernikahan yang Clara anggap sebagai bentuk budi pun digelar secara sederhana. Ini memang jauh dari ekspektasi pernikahan putra tunggal seorang pengusaha ternama, tetapi memang seperti inilah faktanya.


Kondisi Ibu Ratna yang tidak menentu jelas menjadi alasan utama.


Tatkala Ryan yang sialannya begitu tampan dengan jas putih serta mengucapkan akad, sebuah janji sakral di depan penghulu, perasaan Clara biasa saja. Mungkin karena mereka tidak punya perasaan apapun. Malah bisa dibilang bermusuhan.


Sejujurnya Clara ingin menangis, dia merasa istimewa dan cantik. Semua orang menatapnya penuh rasa kagum. Padahal dulu kala ... ia berpikir punya pacar saja terlalu muluk.


Memangnya lelaki mana yang mau menerima perempuan bekas Ceo Fandi Assadel. Apa tanggapannya jika tahu Clara sudah pernah menikah. 'Dia ... bukan perempuan baik baik.'

__ADS_1


Namun, lihatlah. Sekarang, dia hadir sebagai pengantin dengan mempelai pria adalah Ryan si putra tunggal pengusaha ternama di atas Fandi saat ini. Entah apakah Clara masih punya muka, ketika bertemu dengan Fandi. Lagi pula, surat cerai talak tiga itu telah tertulis dari pengadilan. Meski Fandi menyangkalnya, tapi soal hati. Hanya dirinya yang tau, ia berharap tak bertemu Fandi adalah terbaik. Semua demi Elvira bahagia juga, meski Fandi mengelak dan semua karna Elvira. Tetap saja, Clara masih kecewa.


Jika saat akad Clara hanya diam tak berekspresi sekarang, tatkala acara sungkem adat dilakukan, Clara menangis keras di pelukan Ibu Ratna. Bahkan, ia tak memberi tau ka Gilang dengan apa yang terjadi padanya.


Ryan yang sedang memeluk ayahnya juga sampai menoleh tidak menyangka perempuan yang sedari tadi diam saja kini menangis keras.


"Mamah makasih udah terima aku apa adanya," lirih Clara terisak isak.


"Kalau bukan karena kamu perempuannya, mungkin Mamah enggak akan sengotot ini maksa Ryan nikahin kamu Cla. Kamu perempuan baik, Mamah bisa menyadarinya waktu pertama kali kami melihatmu." Clara menangis lagi.


Ibu Ratna merangkum rahang Clara dan mengusap air di pelupuk mata menantunya yang dibingkai indah dengan make up.


"Jangan nangis lagi, nanti make up-nya luntur!" kata Ibu Ratna menakut nakuti Clara.


Clara terkekeh karena dia tahu ucapan itu omong kosong. Make up nya tidak akan luntur. Kalaupun luntur, ada MUA yang akan menanganinya.


MC kemudian meminta Ryan dan Clara berganti sungkeman. Lagi lagi Cla menangis. Di mana sosok ka Gilang hanya bisa berdialog dengan expresi dalam sebuah video. Clara terdiam, kala Gilang meminta penjelasan. Tapi hari bahagia, Gilang lebih paham akan kondisi dan arti bagi adiknya dengan pernikahan keduanya itu.


'Cla, selamat berbahagia. Jangan sia siakan. Bahagialah selalu. Saat ini dan selamanya!' itu adalah kata terngiang ka Gilang pada Clara beberapa jam lalu.


"Terima kasih Bapak sudah baik sama saya," bisik Clara kala dagunya menumpu di bahu gagah Pak Hardi.


"Tiga tahun lalu, kalau bapak enggak nyelametin saya, mungkin saya bakal jadi wanita malang dengan penuh arang." jelas Clara.


"Semua sudah suratan takdir nak!"


Clara terpaksa mengakhiri pelukan sebab MC sudah memintanya. Masih bersimpuh, Clara menatap sepasang mata Pak Hardi yang berkaca kaca. Akan anak semata wayangnya Ryan telah menikah dengannya.


Bibirnya yang dipoles lipstik nude, begitu saja berucap lirih. Setelah itu, Ryan dan Clara saling menatap satu sama lain mengecup kening. Mereka memperlihatkan buku nikah dan cincin pernikahan pada hadirin tamu. Namun tak di sangka sosok pria berbaju batik tiba dan datang dengan sebuah bucket.

__ADS_1


Hello guys. Ada yang tau siapa ya yang datang?


__ADS_2