Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Batal Ngomong


__ADS_3

"Ya Tuhan, apa dia sedang memujiku?" batin Jenny yang masih fokus pada gelasnya.


Pras pun semakin bersemangat untuk memuji Jenny. Dia berharap dari obrolannya malam ini membawanya pada sebuah pernyataan yang akan menjadi sejarah baru dalam hidupnya.


"Jen, sudah tau jenis kelamin bayi kamu?" tanya Pras.


"Sebenarnya dokter ingin mengatakannya pada saya, namun saya tidak ingin tahu lebih awal. Biarlah itu menjadi sebuah kejutan untuk saya. Karena bagi saya baik dia laki - laki maupun perempuan, dia tetap anak saya. Dan saya sangat menyayanginya, ya meskipun saya tidak pernah tahu pasti siapa ayah biologisnya," tutur Jenny mengelus-elus perutnya.


"Maaf! Saya tidak bermaksud membuka luka kamu kembali. Tapi saya yakin, jika dia perempuan akan secantik ibunya," puji Pras kembali.


Seerrrr, seolah darah dalam tubuhnya mengaliri seluruh wajah cantik yang sudah tidak lagi dapat bersembunyi dari pipi yang memerah.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak eh Mas."


Jenny bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menggiring tubuhnya ke dapur. Namun Pras menyambar tangan Jenny yang membuatnya terhenti.


Jenny menoleh lalu melihat pergelangan tangannya yang masih dilingkari oleh tangan Pras.


Pras langsung melepaskannya sembari berkata, "Maaf!"


"Hmmm, Jen. Boleh kita bicara sebentar?" ajak Pras dengan lembut.


Nafas Jenny semakin memburu, jantungnya memompa darah dalam tubuhnya mengalir lebih cepat dari 120 /80 mmHg.


Jenny kembali ke posisi semula. Pandangannya tunduk kebawah sambil mengusap-usap punggung tangannya yang lembut.

__ADS_1


Pras juga merasakan debaran jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Tapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada saat ini.


"Mm, saya ingin menyatakan sesuatu. Meskipun waktunya kurang tepat, tapi saya ingin...," ucapan Pras terbata - bata.


"Tapi saya harap kamu jangan marah," ujarnya lagi.


Jenny yang masih belum stabil aliran darah dalam tubuhnya hanya mengangguk mendengar ucapan Pras.


"Se benarnya...." Pras tampak gugup untuk melanjutkan kata-katanya. Sesekali ia memegang ujung hidungnya.


"Duh Pras, yang kamu hadapi hanya seorang Jenny bukan istri pimpinan sebuah negara," monolog Pras dalam batinnya.


"Sebenarnya apa sih yang ingin dikatakannya? nggak lihat apa aku udah panas dingin begini," cibir Jenny dalam hatinya.


Akhirnya Jenny memberanikan diri untuk berkata sesuatu kepada Pras.


Pras hanya menyeringai lebar. Bingung bagaimana cara mengutarakan maksudnya. Tapi disini lain ia merasa senang karena akhirnya Jenny mulai terbiasa memanggilnya Mas.


"Ya sudah kalau nggak jadi ngomong, saya dah nggak tahan," rintih Jenny.


Pras langsung panik mendengar rintihan Jenny.


"Jen.. nggak tahan gimana?" tanya Pras.


"Saya kebelet pipiiis...," sahutnya sambil bergerak cepat menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Apa??!!" pekik Pras sembari menepuk jidatnya.


"Dasar Patrick, nggak ada sopan-sopannya. Tapi syukurlah aku jadi punya waktu lagi untuk menyusun kata-kata yang tepat untuk diucapkan nanti," gumam Pras pelan.


Dia pun tersenyum nakal sambil meneguk kopinya yang hampir dingin.


Setelah beberapa menit Jenny keluar dari kamar mandi dan dilihatnya Pras masih duduk seperti sebelumnya.


"Apa aku harus kembali lagi duduk di sebelahnya? Kalau nggak jadi ngomong juga" gumamnya lirih sambil mendengus.


Pras menyadari kehadiran Jenny dibelakangnya, kemudian dia menoleh. Mau tak mau Jenny kembali mendekati Pras.


"Mas, ngomongnya besok saja ya. Saya ke kamar duluan," terang Jenny.


Pras hanya melongo melihat Jenny yang langsung meninggalkannya tanpa menunggu jawaban darinya.


Bersambung...


Segini dulu ya 😊


besok kita lanjut lagi 😍


jangan bosan untuk selalu memberikan dukungannya.


Oh iya, baca juga yukk karya keren temen aku dan jangan lupa untuk meninggalkan JEJAK juga di 👇👇

__ADS_1



__ADS_2