Pernikahan Kedua

Pernikahan Kedua
Kembalilah


__ADS_3

"Paman abas, jadi yang datang paman?" lirih Clara.


"Selamat datang Clara, kamu pikir Fandi akan menemuimu, begini saja. Tanpa basa basi, paman tidak akan membuat kalian bersatu. Tau kenapa? Paman pikir kamu tidak perlu bertanya bukan. Paman harap, jauhi Fandi. Ardie yang kamu pikir memang benar adanya dia suami mu. Tapi, sebagian ingatannya tidak akan ingat kamu atau pun keluarga Seiyen."


"Paman, Cla tau sejak Fandi menikahi Clara, saat itu paman tidak menyetujui. Cla tau, dari raut wajah paman dan keluarga tiri mas Fandi tak menyukai, tapi apa kebahagiaan kami merepotkan kalian?" ketus Clara.


"Heei, lihatlah. Gadis manja keluarga Seiyen, tidak tau diri bukan. Jika kamu masih bersama Fandi akan selalu sulit. Apa kamu tidak bisa melepas demi kebahagiaan Fandi?"


Clara terdiam, ia mencoba mencerna. Jika saja ia selalu berkorban, tapi bukankah tidak adil. Selama ini ia telah banyak mengalah dan menuruti dari belah pihak. Tidak keluarga tiri Fandi, juga ancaman Elvira.


"Paman, Clara tidak akan melepas semua milik Clara. Jadi jangan lagi meminta Clara untuk diam dan hilang dari pandangan Fandi, meski Clara kehilangan Fandi, tapi Cla yakin. Sisa hati Clara di hidup Fandi, masih ada meski serpihan. Lagi pula, milik Vira adalah milik keluarga Clara!"


Clara melewati paman Abas, sehingga membuat ia berlari cepat. Namun tak di sangka, kala ia bertemu pria asing, memohon untuk masuk kedalam mobil.


"Nona, ikutlah dengan kami!"


"Anda, meminta padaku untuk masuk? Maaf! mungkin anda salah orang, saya tidak ingin berurusan dengan anda!"


"Saya mohon nona, ikutlah!"


Clara masuk, dengan tanpa pilihan. Meski ragu ingin kabur. Tapi tetap saja, membuat dirinya tak bisa berkutik. Entah dari mana, ia harus menyembunyikan sakit hatinya pada perkataan keluarga Fandi.


"Mas Fandi, tidak kah aku bisa mengenal kamu seperti, kakak yang aku rindukan. Aku benci situasi ini, tidak kah kamu tau, aku kehilangan bayi kita saat kamu pergi!" batin Clara.

__ADS_1


Setibanya, Clara cukup terkejut. Kala dirinya benar benar bertemu Fandi. Ia duduk masih termangu akan tatapan wajah pria yang tak asing, meski balutan perban menutupi pipi sebelah kiri. Clara berusaha menahan untuk tidak terbuai perasaan.


"Maaf pak, apa yang harus saya kerjakan!" menunduk menutupi wajah.


"Cla, maaf!"


Clara terkejut, kala pria itu memeluknya erat. Memasang wajah sedih dan meminta maaf.


"Cla, bersikaplah biasa saja. Selama ini kamu telah banyak menderita. Bantu ingatan mas Fandi untuk mengingat semua kisah kita!"


"Apa, apa bapak salah orang?"


"Cla, jangan menghindar!"


"Tapi bagaimana dengan Vira? kita juga bukan siapa siapa kan. Jadi ingat atau tidak, kita tak bisa seperti dulu kan!"


Clara merasa kaku dan bingung, entah ia harus bahagia atau sedih. Rasanya aneh dan canggung, ketika semuanya harus di mulai dari awal.


"Mas tapi Vira bagaimana?"


"Jangan pikirkan itu, mas akan membawamu ke sebuah kantor, tidak jauh dari mall. Kita cari kebenaran semuanya. Mas ga yakin jika Vira istri mas." Clara hanya mengangguk, hingga di mana ia menepi meminta untuk menunggu di dalam mobil.


"Mas Fandi, aku tunggu di sini saja ya!"

__ADS_1


"Baiklah, tunggu di sini sebentar ya!"


Clara menatap Fandi pergi begitu saja, hingga di mana ia menatap sebuah butik yang tak jauh dari tempat itu. Clara turun, meminta supir untuk menunggu sebentar.


Ia masuk ke dalam butik untuk melihat lihat, bagaimana dulu ia pernah kuliah. Mampir bersenang senang bersama Fana, Fani dan ketiga teman pria yang gemoy. Yakni, Misel dan Kean, Rean.


"Astaga, syal ini. Bagaimana kabar mereka ya? Semenjak kejadian itu. Mereka tak muncul lagi menjadi temanku?" lirih Clara.


Tapi tatapan Clara berubah tegang, kala ia melihat siapa di depannya, meski di balik punggung terlihat ia sudah tau itu siapa.


Clara pergi masuk ke dalam taxsi. Matanya membulat sempurna kesal, karna dirinya harus bertemu Vira. Wanita yang ia harus hindari, dari berbagai banyaknya kepenatan. Clara sadar, jika menjauh dari Fandi saat ini. Adalah hal yang tepat.


"Mungkin aku harus tak bertemu, agar Vira tau. Jika aku tidak mengejar mas Fandi. Meski dalam batinku, aku masih selalu mengingat dan masih menempel rasa sayang itu, di sini." benak Clara.


Clara pun mendapat pesan, jika Sinta akan membantunya mencari rekaman kebakaran yang hilang. Ia mengatakan, jika seseorang mencari tau dan membantu Sinta menemukan di mana bukti itu bisa ia dapatkan.


"Thanks Sin. Aku bakal kesana sekarang, Tunggu aku!" balas pesan Sinta.


"Pak, kita ke alamat rumah ini ya!" pinta Clara.


Clara menatap cemas, kala Vira keluar dari butik. Lalu menatap mobil yang ia tau, itu adalah milik Fandi. Clara mendengus nafas lega, kala dirinya lebih cepat tau, apalagi jika Vira tau ia berada dalam mobil mas Fandi.


"Mas Fandi, maaf aku pergi tanpa pamit." benak dari jendela kaca.

__ADS_1


Hingga taxsi jalan, Clara cukup terkejut kala seseorang memberhentikan.


"Astaga, kenapa berhenti mendadak pak?" teriak Clara pada supir Taksi.


__ADS_2